Pagi yang cerah dengan suasana sejuk membuat Via ingin berolahraga, tapi karena kondisi dirinya yang masih belum beradaptasi mengurungkan niatnya untuk berolahraga. Tapi Via masih bisa menikmati suasana dengan berjalan santai tanpa harus memforsir dirinya. Berjalan kaki dengan santai sambil menikmati udara pagi sedikit membuat Via merasa lebih baik, apalagi pemandangan taman dan pohon – pohon yang tertata rapi sangat menyejukkan mata memandang, suara burung – burung liar berkicau membuat pagi ini menjadi lebih sempurna.
Via berkeliling kawasan perumahannya, menikmati pemandangan yang disuguhkan, banyak rumah – rumah besar mewah dengan arsitektur yang berbeda – beda. Via terlalu menikmati suasana sampai ia tak sadar sedari tadi ada yang memperhatikannya. Cukup mulai merasa lelah Via pun kembali ke rumah. Sesampainya dirumah tampak nenek yang sudah bangun dan sedang asyik menyirami tanaman.
“Nek sudah bangun” Sapa Via sambil merangkul tubuh renta neneknya.
“Sudah tua pun masih saja lendotan terus sama nenek, kalau nenek sudah tidak ada kamu bakal manja sama siapa hayo?!”
“Ish nek, kok ngomongnya gitu sih! Via mau nenek selamanya selalu ada buat Via”
“Via, nenek sudah tua, umur siapa yang tau ya kan, ya sudah hayo sekarang kamu mandi abis itu turun sarapan, ada yang mau nenek bahas bersama kamu juga mama”
“oke nek, aku mandi habis itu langsung turun ya” Via melepaskan pelukannya dan langsung menuju ke lantai 2 kamarnya. Sesampainya di kamar Via membuka jendela besar yang menghadap ke salah satu rumah untuk mengganti sirkulasi udara di kamarnya, dan bukannya langsung beranjak ke kamar mandi Via malah menyalakan musik dan sambil menari di dalam kamar yang hanya menggunakan pakaian dalam tanpa berpikir kalau sedari tadi angin mengibaskan gorden putih yang pasti dengan mudah dari rumah seberang dapat melihat apa yang di lakukan Via saat ini. Benar saja sedari tadi Andrian menikmati pemandangan indah di depannya. Via terlalu menyatu dengan alunan musik sehingga dia tidak berpikir jika sedari tadi gordennya sudah tertiup angin. Andrian yang merasa beruntung bisa melihat pemandangan indah di depan matanya. P******a Via terlihat dengan jelas berdiri tegak dan sesekali ikut bergoyang dikarenakan gerakan – gerakan yang Via buat. Andrian mulai merasa bagian bawahnya mulai mengeras dan ingin keluar dari balik celana pendeknya.
“Gila gadis ini, untung saja aku sudah merenovasi kamar ku menghadap kamarnya, rasanya ingin sekali ku remas d**a nya, p****g nya yang berwarna merah muda mengkilat itu ingin sekali ku gigit” otak Andrian sudah mulai terbawa suasana tidak bisa membuat dirinya berpikir jernih, langsung di ambilnya kursi dan duduk sambil menghadap ke arah pemandangan indah itu, celana pendeknya yang tadi melekat di tubuhnya sudah terlepas entah dari kapan. Digerakkannya tangannya maju mundur sambil memegang K******n nya.
“Kau buat aku menjadi gila Via, ahhhh ... Ahhhhh,kau harus bertanggung jawab!” Sambil mengerang menikmati gerakan maju mundur yang ia buat, tatapan matanya tetap tertuju pada Via yang menari erotis seksi dan panas di mata Andrian. Sosok Andrian yang selama ini dingin tak pernah melakukan hal aneh, sekedar melihat film P***o saja ia tak pernah, wanita yang berpenampilan seksi dengan belahan yang hampir memperlihatkan isi dalam nya saja Andrian tidak pernah tergoda, tapi semenjak kehadiran Via lagi di hidupnya yang dewasa, pikirannya selalu mengarah ingin memiliki tubuh Via, ingin rasanya selalu dalam dekapan gadis ini.
*****
Setelah selesai mandi dan berpakaian Via langsung menuju ruang makan. Mama dan nenek yang terlihat tampak serius di wajahnya, membuat Via sedikit ingin tahu.
“Lama yaa nunggu aku, kok pada serius banget” canda Via sambil menarik kursi makan yang berada di antara nenek dan mama.
“ Vi, nenek mu ada yang ingin dia ceritakan padamu, dan mama harap kamu bisa mencerna dan berpikir sebelum mengucapkan apa pun ya nak”
“Memang nya mau cerita apa?”
“Sudah sekarang kita makan dulu habis selesai makan kita baru bahas di ruang keluarga”
Mama Via dan nenek memilih untuk makan sarapan yang sudah tersedia di meja, tampak tak ada hal yang mengkhawatirkan membuat Via sangat menikmati sarapannya. Setelah selesai menghabiskan sarapan mereka langsung beranjak ke ruang keluarga seperti yang di katakan nenek tadi. Ada hal yang harus dia bahas pada Via.
“Vi, ada hal yang harus nenek ceritakan pada mu, sini duduk di sebelah nenek” Via yang tadinya melendot pada mamanya akhirnya pindah posisi di sebelah nenek.
“Nenek mau membahas apa? Keknya serius banget”
“Vi almarhum kakek pernah menitipkan wasiat pada nenek, jika kelak cucunya perempuan dan cucu sahabatnya anak laki – laki kelak mereka dewasa mereka akan di satukan dengan pernikahan, dan cucu kakek mu adalah kau anak perempuan Via, dan cucu sahabatnya anak laki – laki, kakek mu sangat berpesan untuk jangan pernah di langgar keinginan satu – satunya ini, dan karena ibu mu hanya memiliki dirimu jadi kau yang harus mengabulkan keinginan terakhir kakek mu”
“Apaa !!! Perjodohan!!!!! Menikah!!!!! Nekkk usia ku saja baru 20 ! Aku masih ingin mengejar masa muda dan cita – cita ku! Hal konyol apa yang membuat aku harus menangung janji aneh kakek !!! Tidak aku tidak mau!”
“Via kecil kan suara mu, kau sedang bicara dengan nenek mu! Mama tidak pernah mendidik kamu seperti ini” ucap mama marah
“Tapi ma, ini konyol!!! Mama sudah tau kan aku masih punya cita – cita yang harus aku wujudkan ma, bukan menikah di usia muda seperti ini!”
“Via menikah bukan membuat mu tak bisa mengejar mimpi mu, dan ini juga bukan kemauan mama dan nenek, ini wasiat terakhir kakek mu”
“Enggak ma ! Via enggak mau di jodohkan!” Via hendak berlari ke kamarnya tapi baru berjalan 2 langkah ia di kejutkan dengan teriakkan mama.
“Ibuuuuuu... Via nenek pingsan! Ini semua karena ucapan mu yang kasar!” setelah memarahi anaknya mama langsung mengambil ponsel dan menghubungi salah satu rumah sakit terdekat untuk mengantarkan ambulans ke rumahnya.
“nekk, bangun nek , nekkk maafi Via nek, nekk bangun nekkk” Via berusaha membangunkan neneknya yang sudah berada di ambulans dan hendak di bawa ke rumah sakit Aliyah. Salah satu rumah sakit yang di kelola keluarga Kakek Anwar.
Nenek sudah di bawa oleh perawat dan tidak boleh di lebih dari 1 orang yang menjaganya. Mama yang sedari tadi melihat anaknya tak henti – hentinya menangis menyesali perlakuannya terhadap neneknya.
“Via sekarang kau lebih baik pulang, sudah ada cucu kakek Anwar yang sudah menunggu mu di mobilnya dan siap mengantarkan mu pulang”
“Tapi ma, Via mau disini tunggu nenek”
“Via, sekarang kau pulang, istirahat dan pikirkan keinginan terakhir nenek mu!”
“Mama berharap kali ini kau bisa mengambil keputusan bijak! Mama tak akan memaksa mu, tapi keputusan mu bisa membuat nenek lebih baik atau lebih buruk itu semua sesuai keputusan mu, dan mama harap kau tidak egois dengan cita – cita mu yang masih bisa kau raih. Sedangkan kesehatan nenek tergantung pada keputusan mu”
“Tapi ma”
“Sekarang kau pulang dan pikirkan semua ucapan mama barusan ini” Via mengiyakan ucapan mama nya tanpa membantah sedikitpun dan berjalan lunglai ke arah mobil yang sudah terparkir di depan pintu masuk rumah sakit.
Dirinya tak bisa berpikir jernih, selama perjalanan pulang saja ia tak menatap lelaki yang mengantarnya. Pikirannya kosong dan tersirat ketakutan akan kehilangan nenek kesayangannya. Rumah sakit Aliyah yang tak begitu jauh dari perumahan Via hanya membutuhkan sekitar 10 menit saja untuk sampai di kediaman Via. Via yang langsung keluar dari dalam mobil tanpa melirik sedikit pun ke arah lelaki yang mengantarnya pulang.