RENCANA NENEK PART 2

1775 Kata
Rencana Nenek Part 2 Hari ini Via sedang berada di aula kampus, hari spesial yang di nanti oleh Via akhirnya tiba juga, selama 2 tahun setengah Via bisa menyelesaikan perkuliahannya juga. Setidaknya sekarang Via bisa merasa sedikit bebas untuk menikmati dunia tanpa harus fokus belajar dan belajar. Tampak mama yang sedang melambai dari arah kursi tamu, mama sudah datang ke Amsterdam 2 hari yang lalu untuk menghadiri wisuda Via dan juga membantu anak gadisnya ini untuk pulang ke Jakarta. Banyak mata yang terpukau dengan kecantikan Via, dengan rambut yang di sanggul sederhana oleh mama, Juga kebaya modern berwarna Merah Maron di tambah kain batik sebagai roknya Via sangat anggun dan cantik. Dia berjalan memasuki aula bersama rekan – rekan seangkatannya yang juga lulus di tahun yang sama. Tampak Saddam yang berjalan ke arah Via menggunakan setelan kemeja berwarna putih dan celana bahan berwarna Biru tua sangat terlihat tampan dengan jas senada dengan celananya. Saddam juga lulus di tahun yang sama dengan Via, walaupun terlihat menikmati masa kuliah Saddam tetap tidak lupa dengan perkuliahannya hampir semua nilai sempurna. Via melambai dan mengeluarkan senyum terbaiknya. Sudah lama ia rasa tak pernah berhubungan dengan Saddam terakhir pertemuan mereka di kafe dengan Andrian dan Sarah yang mungkin kurang mengenakan, semenjak itu Via tidak pernah lagi bertemu atau berkomunikasi, ada rasa kangen dan ingin memeluk Saddam, Cuma ia berusaha menahan rasa rindunya, ia tidak ingin malu di lihat ratusan pasang mata yang di aula kampus. Via duduk di barisan yang sudah di siapkan begitu juga Saddam, acara pun sudah di mulai dengan penyambutan dan di lanjuti dengan penyerahan ijazah dan pelantikan wisudawan. Sekitar 3 jam Via, mama dan mahasiswa mengikuti acara itu. Via yang mulai beranjak hendak meninggalkan acara berjalan menuju arah dimana mamanya duduk dan mengajaknya keluar bersama. “ Selamat ya gadis cantik ku, apa yang kamu cita – cita kan akhirnya terwujud” sambil memeluk anaknya. “Thankyou mom. Semua ini berkat doa mama dan nenek, kalo tidak ada kalian berdua mungkin aku tidak akan seperti sekarang” “Anak mama sekarang sudah dewasa, mama bangga sama kamu Via” Dari arah depan terlihat keluarga Alexander dan Saddam menghampiri Via dan mamanya. “Vi!!” “ma Saddam dan om Alex” Via menunjuk ke arah Saddam “Saddam selamat ya, tante dari tadi enggak sadar kalau kamu juga lulus di tahun ini” “terima kasih tan, selamat juga buat tante anaknya sudah lulus” sambil melirik ke arah Via dan tersenyum. “Sadd selamat ya, eh ada om Alex, apa kabar om” “Hai kemala.... Via, selamat ya, sudah lama banget ya kita tidak bertemu, kabar om ya begini seperti kamu lihat” “Oh ya, bagaimana kalau kita makan malam bersama sambil merayakan kelulusan mereka berdua?” “ide bagus, bagaimana Vi, Sadd, apa kalian setuju?” tanya mama sambil melirik Via dan Saddam. “Saddam sih ayo saja, lagian aku juga tidak ada rencana, bagaimana Vi” “ ayo, ide yang bagus” Mama Via dan keluarga Alexander langsung menuju ke arah parkir mobil Alex ayahnya Saddam, sedangkan Saddam dan Via memilih mengikuti mobil dengan motornya Saddam. Mereka pun berpisah di parkiran dan menuju ke restoran yang sudah di sepakati bersama oleh mereka. Selama berada di motor Via dan Saddam lebih banyak diam, entah mengapa hubungan persahabatan mereka yang tadinya saling terbuka menjadi dingin dan seperti bingung untuk mengutarakan hal – hal yang mengganjal di hati. “Vi, ku dengar besok kau ikut kembali dengan mama mu?” Saddam memilih memulai pembicaraan yang hening hampir 10 menitan. “Iya Sadd, aku rindu Nenek dan negara ku” “Kau akan kembali ke sini ?” “Sepertinya tidak dalam waktu dekat. Aku berencana untuk buka sekolah tari di Jakarta” “Vi, aku ....” Saddam menepi sambil mematikan motornya. “Loh kok berhenti? Ada apa Sadd?” “Vi, ada yang ingin aku sampaikan kepada mu, sebenarnya aku dan Sarah tidak ada hubungan, ya kami hanya berteman mungkin Sarah menyukai ku tapi aku tidak” Via yang bingung dan merasa tidak ingin membahas masalah yang menurutnya sudah ia kubur. “Sadd tapi kau menciumnya di kantin, dan aku melihatnya, kau mencium dia tapi kau bilang itu hanya berteman?!” “Vi kau salah, saat itu Sarah memanggil ku untuk membantu dia berjalan, karena kakinya keram, dan tiba – tiba tanpa ku duga dia mencium ku” “Tapi tunggu Vi, berarti saat itu kau sebenarnya melihat ku lebih dulu tapi berpura – pura tak melihat ku kan? Terus kau marah itu jangan bilang karena kau cemburu???” “Hah !!! Aku marah? Enak saja! Aku Cuma lagi males aja saat itu” Via menahan pipinya yang mulai merah menahan malu, karena semua yang di ucapi Saddam benar, hanya saja dirinya terlalu gengsi untuk mengutarakan ketertarikannya pada Saddam. “Ha.. Ha.. Ha.. Vi aku mau ngomong serius sama kamu” tiba – tiba Saddam merubah mimik wajahnya yang tadinya tertawa menjadi serius sambil menatap mata Via, dan itu membuat Via sedikit merasa takut. “Vi... Aku mencintai mu” kuping Via yang tadinya normal sekarang seperti budek. “Kenapa Sa..” Belum sempat Via menyelesaikan kalimatnya, bibirnya sudah terlebih dahulu di lumat Saddam, awalnya Via merasa kaget dan hendak menarik dirinya, tapi Saddam seakan tidak memberi ruang untuk Via melepas ciuman itu. Saddam terus menyentuh bibir Via di lumatnya dengan lembut bibir bawah Via, Via yang mulai tidak bisa mengontrol dirinya mulai mengikuti mencium Saddam, Saddam yang tahu mulai memasukkan lidahnya ke dalam mulut Via mereka saling memperdalam ciuman dan saliva mereka tercampur satu sama lain. Entah mengapa Via tiba – tiba seakan tersadar dan mendorong dirinya untuk menghentikan Ciuman yang sedari tadi di nikmatinya. Sesaat suasana terasa canggung. Saddam mulai menginjak gas motornya untuk menuju restoran. Sesampainya di restoran mereka langsung menuju meja yang sudah ada keluarga Saddam dan mama Via. Selama makan Via dan Saddam hanya diam dan sesekali tertawa mendengarkan lelucon dari tuan Alexander ayah Saddam. **** Keesokan hari Mama dan Via sudah berada di bandara internasional Schiphol menuju bandara internasional Soekarno Hatta. Harini mereka berangkat untuk pulang ke Jakarta. Pesawat yang akan di tumpangi Via dan mama sudah siap, orang – orang tampak mulai berjalan memasuki kabin pesawat termasuk Via dan mama. Entah mengapa Via merasa sedikit ada rasa sedih meninggalkan Belanda. Hampir 8 tahun dirinya hidup di negara ini, dan banyak kisah yang indah di dalamnya. Salah satunya kisah dirinya dengan Saddam dan ciuman pertama nya dengan Tama. Sulit untuk di lupakan oleh Via tentang kehadiran Tama yang sebenarnya Andrian pemuda yang paling dia benci selama berada di bangku sekolah dasar. Pesawat mulai melaju dan terbang. Via tak luput meneteskan air matanya. ‘Selamat tinggal kenangan’. Sekitar 14 jam berada di dalam pesawat membuat Via sangat lelah. Sekitar pukul 10 pagi waktu Indonesia, Via dan mama sudah bergegas keluar menuju pintu kedatangan internasional. Via yang lela tak banyak bicara pada mama, hanya saja saat mengambil bagasi mama bilang bahwa ada yang akan menjemput mereka, tapi Via tidak begitu meladeni obrolannya dengan mama. Sekitar kurang dari 5 menit terlihat sosok pria dengan pakaian kasual dan kaca mata hitam mendekati Via dan mama. “ eh Ndri sudah sampai, nunggu lama enggak ?” ‘Eh dia kok mirip Tama ya, tapii kok bisa kenal mama ya? Matanya g kelihatan lagi, Tama bukan yaa’ Via yang memperhatikan sosok pemuda yang ia rasa tidak asing tapi ragu. “ Enggak tan, kita jalan sekarang tan?” ‘ Suaaaraaanyaaaa suaraa Tamaa, tapi kok dia enggak mengenal ku yaa! Apa mirip aduhhh sumpahh siapaa diaaa!!!’ Via yanh berusaha tampak tenang tapi di hatinya seperti menggeliat ingin tahu siapa pemuda yang begitu akrab dengan mamanya. “Vi ayo, jangan diam saja!” mama yang mengagetkan Via dan mengalihkan Andrian yang akhirnya menatap Via di balik kaca mata hitamnya. “Iya ma, sabar donk! Aku kena jetlag nih” bohong Via, sambil berjalan mengikuti mama dan Andrian. Mama dan Andrian seperti sangat akrab, mengobrol tanpa menghiraukan Via, sepanjang jalan Via hanya berjalan dan diam seperti orang yang enggak di anggap oleh mama dan sosok pemuda yang membuat dirinya penasaran. Saat berada di mobil pun Via hanya banyak menatap keluar jendela, tanpa ia sadari Andrian menatap dia dari balik kaca spion mobilnya. Via dan Mama sudah sampai di dalam perumahan mereka, Via yang baru pertama kali melihat rumah yang baru di beli mama sekitar 2 tahun lalu terpukau dengan suasana asri, banyak pohon – pohon besar yang membuat suasana dingin, perumahan yang masuk dalam kategori perumahan mewah dengan fasilitas lengkap di dalamnya. “Bagaimana Via? Rumah baru kita, kamu suka?” “Suka ma, Via enggak sangka rumah yang mama beli ini mewah banget untuk kita bertiga” Andrian yang menyimak obrolan antara ibu dan anak, merasa lucu dengan ekspresi yang di buat Via di wajahnya. Sudah hampir 8 tahun hidup di luar negeri tapi ketika baru pertama lihat perumahan barunya seperti orang yang sebelumnya tinggal di pelosok hutan, ekspresi yang sangat lugu. Membuat Andrian semakin tertarik dengan Via, banyak hal yang ingin dia ketahui dari gadis ini. Sesampainya di halaman rumah nenek sudah menyambut kedatangan mereka. Via langsung bergegas keluar mobil dan berlari manja sambil membentangkan tangan ingin memeluk nenek yang sangat dia rindukan. “Neneeeekkkkkk” “Alhamdulillah akhirnya kalian sampai, dari tadi nenek sudah enggak sabar menunggu kamu sampai” sambil memeluk cucu ke sayangannya. Mereka pun masuk ke dalam rumah, Via yang masih lendotan dengan nenek di sofa tamu membuat Andrian sedikit sirik, jika saja dia Nenek Via pasti dia akan mendapatkan pelukan hangat itu juga. “Tan , Nek , Saya pamit ya harus jemput kakek di lapangan golf” “Loh, enggak makan siang dulu nak” tanya nenek. “Lain waktu saja nek, kasian kalau kakek menunggu lama” “Hati – hati ya nak” “Iya nek, saya pamit ya” Andrian keluar menuju ke dalam mobil dan tidak butuh waktu lama sudah menginjak kan pedal gasnya meninggalkan kediaman Via. Via yang sedari tadi penasaran dengan sosok Pemuda itu, jika ia Tama mengapa pemuda itu seperti tidak mengenal Via. “Nek dia siapa sih? Kok kayaknya akrab banget” “Dia itu cucunya kakek Anwar sahabat baik kakek mu, dan sekarang mereka juga tetangga sebelah kita” “Oh, kok aku baru tahu ya kakek Anwar punya cucu, apa dia memiliki saudara lelaki lagi nek atau kembaran gitu?” “Enggak ada dia itu cucu satu – satunya, kenapa kamu tanya? Ganteng yaa” “Ah enggak, hanya saja wajahnya seperti aku kenal, tapi mungkin sekedar mirip saja” “sudah sekarang kamu mandi habis itu kita makan siang bersama” “okrraaayyy nekk”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN