Kembalinya Mantan Tunangan Suamiku

1762 Kata
Selamat membaca reader. ** Sudah delapan bulan usia kandungan Anandita. Perutnya sudah sangat besar. Calon bayinya berjenis kelamin laki-laki. Daniel sangat posesif terhadap Anandita, apalagi sekarang kandungannya sudah sangat besar. Hari ini ia pergi ingin menemui suaminya selesai tadi ia sempat kontrol kehamilannya, ia di temani bunda dan ibu mertuanya kerumah sakit di mana suaminya praktek. Oh ya, Anandita tidak cek kandungan di rumah sakit dimana Daniel praktek, karena rumah sakit nya terlalu jauh. Hari ini ia mau membuat kejutan untuk suaminya, karena biasanya Daniel masih sempat untuk menemaninya cek kandungan, tapi akhir-akhir ini suaminya sangat sibuk sampai tidak bisa menemaninya. Ibu mertuanya hanya mengantarkan Anandita dan besannya sampai depan ruangan Daniel, ia ingin menemui suaminya yang juga dokter senior di rumah sakit itu, ayahnya Daniel juga pemilik rumah sakit itu. Ia dan bundanya masuk keruangan Daniel, seperti biasanya bundanya dengan takjub melihat-lihat piagam penghargaan yang di pajang di ruangan itu, ia bangga memiliki menantu seorang dokter yang pintar. Sudah beberapa kali Anandita mendatangi ruangan Daniel, ia sudah terbiasa mengecek apa saja yang ada di meja kerja suaminya. Bahkan ia sering membuka laci kerja Daniel, Ia memastikan apakah masih tersimpan foto suaminya dan mantan tunangannya itu, kali ini dia juga memeriksa laci itu. Ia tidak pernah menanyakan perihal foto Daniel dan Rini di simpan di mana, karena ia tidak mau kalau pura-pura hilang ingatan, bisa-bisa ia ketahuan. Kini ia mulai menarik laci paling bawah meja Daniel, begitu terkejutnya ia melihat ada foto yang dulu pernah di pajang Daniel saat mereka belum menikah. Jantungnya hampir saja berhenti melihatnya. Kenapa sudah beberapa bulan, kali ini hal yang tidak ingin dia lihat muncul begitu saja. “Dita mau makan apa, nak?” Suara bunda mengagetkan Anandita sehingga ia cepat-cepat menutup laci agar bunda tidak melihat foto tersebut. Untung saja bunda hanya berdiri di tempat ia melihat piagam yang terpajang. “Bunda rasa Daniel akan lama sayang. Sebaiknya kita duluan saja, makan siang dulu.” Bunda sambil menunjuk perut buncit Anandita. “Ingat kata ibu mertuamu tadi, orang hamil jangan terlalu lama berada di rumah sakit, di sini banyak biang penyakit.” Anandita tidak membantah ucapan bundanya dan langsung keluar Bersama. Setelah menutup pintu ia berkata, “Bunda ke lobi saja duluan, nanti aku nyusul, aku mau cari suster dulu, mau kasih pesan kalau kita kesini.” Anggukan bunda tanda ia setuju. “Sekalian kita jemput Clarisa di sekolahnya,” kata bunda. Anandita terdiam, memandangi pintu yang tertutup. Pikirannya masih di dalam ruangan itu, persis ke laci Daniel. mengapa Daniel masih menyimpan foto itu? Semenjak ia lupa ingatan akibat kecelakaan, Daniel belum pernah mengungkit masalah ini. Mereka seperti pasangan yang saling encintai meski tidak pernah saling mengucapkan kata cinta. Apakah Daniel sengaja menyembunyikan masa lalunya? Apakah karena aku sedang mengandung maka berencana akan menunggu sampai bayi ini lahir dan mencoba membuat diriku ingat akan perjanjian itu? Anandita berderap ke ruangan di mana ada suster di sana. “Dokter Rini!” Refleks Anandita berputar mencari asal suara itu. Terlihat suster tadi menghentikan seorang Wanita sederhana tidak terlalu mencolok yang di kenalnya mirip seperti di foto yang ia lihat. Wanita itu tidak memakai jas dokternya, kalau saja tidak di panggil gelar dokter, tadi Anandita tidak tahu kalau ia dokter Rini, mantan tunangan Daniel. Anandita duduk di kursi tunggu pasien, tidak jauh dari ruang suster itu. Ia pura-pura duduk sambil memainkan ponselnya, padahal ia ingin mendengar percakapan mereka. “Dokter Daniel sedang melakukan operasi besar Bersama Dokter rio dan Dokter jemy. Apa Dokter Rini akan pergi keluar lagi Bersama Dokter Daniel seperti kemarin?” Masih menguping, Anandita tidak mungkin salah dengar. Daniel pergi keluar Bersama mantan tunangannya kemarin siang. Ia memegangi dadanya yang bergemuruh. Perutnya melilit. “Kami tidak berniat keluar hari ini. Aku hanya ingin memberikan Map ini padanya. Bisa tolong letakkan di ruangan Dokter Daniel. dan tolong sampaikan kalau aku sudah mampir, sekarang aku harus Kembali ke rumah sakit sejahtera.” Suara Rini sangat tegas, jauh lebih dewasa dari pada Anandita. Dengan kesederhanaan yang ia punya, sudah di pastikan itu yang Daniel suka. Ia suka dengan Wanita dewasa dan juga sedehana. “Kenapa tidak kerja disini lagi dok?” suster itu terdengar sangat kepo. Pasti para pekerja yang kenal dengan dirinya, sudah sangat menggosipkan dirinya. Tunangan yang pergi kini Kembali. Dan istri yang hamil besar layaknya orang bodoh. Bisa saja Daniel berselingkuh di belakangnya. “Suster tahu sendiri, susah untuk Kembali bekerja dirumah sakit ini. Untung saja Dokter Daniel merekomdasikan k uke rumah sakit satunya. Yang penting sama-sama masih di naungan anak rumah sakit ini. Hati Anandita merasa sakit. Rumah sakit tempat ia cek kandungan ternyata tempat Dokter Rini bekerja. Pantas saja Daniel menyuruhnya pindah tempat cek kandungan, di rumah sakit ini. Dengan alasan Daniel bisa lebih mudah menemaninya. Ketika Anandita cek kandungan kalau Daniel tidak bisa menemani seperti sekarang, akhir-akhir ini ia sangat sibuk, sehingga tidak bisa menemani nya. Ternyata ia tahu alasan sebenarnya sekarang. Ia tidak ingin Rini bertemu dengan Anandita. Daniel terbukti menutupi kehadiran Rini. Dan ia baru saja dengar, kalau suaminya yang merekomendasikan sendiri kalau dokter rini bisa bekerja di rumah sakit keluarganya yang lain. Asal tidak dekat dengan Daniel praktek. Ponselnya tiba-tiba berdering. “Kemana saja kamu? Bunda sudah tunggu kamu lama. Bunda sudah di mobil, sekarang di depan loby.” Anandita berdiri dari duduknya dan berjalan agak cepat meninggalkan suster dan Dokter rini yang masih mengobrol, sambil berbisik “iya bun, ini aku lagi jalan ke loby, tunggu yah.” “Cepat! Lama banget sih, emang ketemu Daniel? Clarisa pasti sudah tunggu kita.” Bunda mengomel, tidak di hiraukan Anadita.ia masih berpikir tentang kejadian tadi. “Kamu kenapa? Kok pucet? Lapar yah? Kasian cucu bunda, pastil apar ini.” Sambil mengelus perut buncit Anandita. ** “Tadi aku operasi besar sayang, begitu detak jantung ibu dan bayinya stabil. Aku benar-benar lega. Operasi kali ini sukses besar. Awalnya aku gugup begitu melihat kondisi mereka, aku membayangkan kamu.” Suaminya bicara Panjang lebar, menceritakan kegiatannya di rumah sakit. Tapi Anandita tidak memperdulikan dengan cerita Daniel. Tidak ada satupun acara televisi yang jadi fokusnya Anandita, di otanya masih menerka-nerka kebohongan yang di lakukan Daniel dan kedatangan Rini tadi di rumah sakit. Ia bersandar santai di Kasur dengan selimut di badannya. Daniel masih mondar-mandir di depan Anandita habis selesai mandi, ia santai saja tidak memakai apapun di depan Anandita, mereka sudah terbiasa sekarang. Layaknya pasangan suami istri yang normal. Daniel sudah dengan celana pendeknya, ia memandangi Anandita yang fokus ke televisi, tapi seperti tahu, istrinya sedang bengong. “Kamu gak dengerin aku yah? Dari tadi aku perhatiin kamu diam saja? Biasanya kamu excited nanyain kegiatan ku di rumah sakit.” Sambil merebahkan tidurnya di samping Anandita, kemudia menarik Anandita ke dalam pelukannya. Daniel masih bertanya. “Kamu masih belum jawab pertanyaanku, kamu dari tadi gak dengerin aku ngomong, kamu kenapa sayang? Ada masalah?” Karena Anandita berusaha mengelak, Daniel berhenti bicara. Daniel menuntun kepala Anandita agar bersandar di bahunya dan menatapnya sambil mengelus perut buncitnya. “Gak ada masalah apa-apa kok.” Jawab Anandita dingin. “Gak ada masalah dengan bayi kita kan? Aku tadi telpon Om herman begitu selesai operasi.” Ucap Daniel sambil mengecup perut Anandita. Spontan Anandita bangun dengan kesal. “Kamu sudah menghubungi dokter kandunganku, lalu ngapain masih tanya lagi sama aku?” kesal Anandita. Gerakan tangan Daniel yang mengelus-elus perut Anandita seketika berhenti. Ia merasakan perut Anandita menegang. Sambil memandangi istrinya yang terlihat bingung. Tidak biasanya Anandita bicara judes dengannya, yang ia tahu istrinya seorang yang manja dan juga lembut. Hal itu juga yang Ananditaa pikir. Kenapa ia jadi marah sekarang. Hormone hamilnya membuat ia gampang emosi, apalagi tadi siang ia melihat dan mendengar mantan tunangan suaminya ada di rumah sakit itu. Akhirnya Anandita meneliti wajah tampan suaminya, seperti biasa saja. Seperti tidak ada yang di sembunyikan, seperti tidak ada rahasia apapun di antara mereka berdua. “bad mood?” kening Daniel mengkerut. “Kamu menerima paket apa hari ini?” tanya Anandita penuh selidik. Daniel makin mengernyit, tidak paham apa yang di tanyakan istrinya. “Tadi saat aku periksa kandungan, aku di temani mamahmu dan juga bunda, lalu aku sekalian ajak mereka kesini, rencananya aku mau makan siang bareng kamu, karena kamu masih operasi yah gak jadi, mamah akhirnya nunggu papah di ruangannya, aku sama bunda pergi ke sekolah Clarisa.” “Kamu kesal karena aku gak bisa nemenin kamu periksa kandungan?” Daniel bergerak lembut membawa Anandita dalam pelukannya, Anandita terpaksa membiarkan Daniel menyentuhnya. “Aku kan sudah bilang, kamu pindah saja untuk jadwal periksa kandungannya ke rumah sakit tempat aku praktek. Aku kan masih menyusul kamu, kalau aku mendadak ada operasi saat bentrok dengan jadwal konsultasimu.” Anandita menghentikan sentuhan Daniel dari tubuhnya, yang sedari tadi sudah menggerayanginya di mana mana. Tangannya menagkup wajah Daniel. “Apa kamu ingat, apa yang buat kita bertengkar hari itu?” tanya Anandita kesal. Rahang Daniel mengeras mendengar ucapan istrinya. “Aku gak mau kamu ingat-ingat kejadian na-as itu, menyakitkan ku Ketika kamu hampir buat aku gila,” geram Daniel. “Aku merasa gimana gitu.” Ucap Anandita. “Sekarang gak usah di bahas hal itu, atau kamu ingat sesuatu?” tanya Daniel sedikit marah Wajah penuh selidik Daniel membuat hati Anandita teriris. Sebenarnya apa yang di rencanakan suaminya itu. Sudah delapan bulan lamanya Anandita terlena dengan perlakuan Daniel terhadapnya, seperti seorang suami yang benar-benar mencintai istri dan calon bayinya. Dengan kejadian kemarin saat Anandita melihat mantan tunangannya berkeliaran di rumah sakit tempat Daniel praktek membuat ia tahu, kalau suaminya membohonginya. Seakan tidak terjadi sesuatu di sana. Anandita pikir suaminya sudah melupakan mantan tunangannya. “Aku tidak inga tapa-apa.” Dengan membelakangi Daniel yang memeluk erat tubuhnya, Anandita berusaha menahan air matanya yang akan jatuh. Hampir saja ia terisak. “Kamu terlalu banyak berpikir, kasihan sama bayi kita di dalam sini,” sambil mengelus perut Anandita. “Aku tidak suka itu, jangan menerka-nerka,” sahut Daniel sambil menciumi leher Anandita sementara tangannya sudah berjelajah kemana-mana dengan sensual. “Aku sedang tidak ingin,” bohong Anaandita, sebenarnya sedang b*******h juga. “Kamu yakin?” bisik Daniel yang menggodanya di tempat favoritnya. “Kamu mau aku berhenti?” Anandita merasakan pelukan Daniel merenggang. Namun hanya sekejap. Setelahnya Daniel menciuminya Kembali dengan gairah yang lebih besar. Ia begitu mendambakan tubuh istrinya itu, yang dipikirnya sangat seksi dengan kehamilan besarnya. Pertahanan Anandita roboh juga, ia tidak sanggup dengan sentuhan sensual suaminya, ia sama halnya dengan Daniel selalu mendambakan setiap sentuhan, cumbuan yang suaminya lakukan, dengan sama-sama bergairahnya. Kini Anandita berpikir, kalau Daniel mencintainya, padahal ia berbadan besar dengan perut yang membuncit. Sekarang Anandita benar-benar jatuh cinta pada suaminya. Ia berharap suaminya sama halnya dengan Anandita.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN