Sudah di surga kah? Kenapa tidak seperti yang di bayangkan yah.
Mata anandita terbuka. Pandangannya kabur. Samar-samar ia mendengar ramainya suara di sekitarnya. Ia pasti sudah mati. Ia berusaha mengerjap beberapa kali, ingin memastikan cahaya yang ada di sekitarnya. Cahaya itu berubah menjadi gambar bergerak dan lambat laun Anandita menyadari itu layar televisi yang menyala.
Suara di dekatnya mulai terdengar jelas. Ternyata ia masih di dunia, buka di surga yang di pikirkannya. Suara itu makin jelas terdengar dan ia mencerna suara itu.
“… dan menurut hasil yang saya terima, istri anda sedang mengandung. Kandungannya masih sangat muda dan syukurnya masih sempat tertolong, kandungannya kuat. Ia bisa bertahan Ketika terjadi kecelakaan itu. Jadi saya tidak akan memberkan obat-obatan yang dapat membahayakan kandungannya. Lalu menurut hasil pemeriksaan…..”
Dengan spontan Anadita menyentuh perutnya yang datar. Matanya bergerak menengok ke arah suara itu, ia melihat Daniel dan kedua adiknya yang berada di belakang Daniel menyimak dokter tua yang sedang menjelaskan hasil pemeriksaannya. Pasti kabar kehamilannya mengejutkan nya, sama seperti Anandita yang terkejut di rahimnya ada bayi yang tidak di sangka kehadirannya. Entah berapa lama ia sudah berada di kamar rawat inap itu, namun yang pasti sebelum mengalami kecelakaan, ia menyadari perasaannya terhadap suaminya sudah mulai tumbuh, tanpa di sangka ada cinta di hatinya untuk Daniel. Ia tidak siap untuk kehilangan suaminya, apalagi ada janin di dalam rahimnya, anak Daniel.
Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka lebar dan suara yang ia kenali langsung menyerbu masuk. Bunda dan ayah. Keduanya menangis sambil nenatap bingung pada semua orang yang ada di ruangan itu.
“Mana anakku? Apakah sudah sadar?” tanya bunda panik.
“Masih belum siuman,” bisik Daniel. Pada saat yang sama mata Anandita terbuka bertatapan dengan mata orangtuanya. Sontak keduanya bergegas menghampiri sisi tempat tidur.
“Dita sudah bangun.” Bunda berseru sambil menangis histeris. Ia memeluk Anandita yang juga berusaha merangkul bundanya dengan tangan yang lemah.
“Bagaimana keadaanmu, sayang? Apa yang terjadi? Mana yang sakit?” tanya ayah antara sedih dan gusar.
“Apa anak saya baik-baik saja dok? Apa ada luka yang serius?” tanya ayah tak sabaran.
Dokter senior itu tidak menggubris apa yang di katakana ayah. Ia menghampiri Anandita dan Kembali memeriksa denyut nadinya.
“Dita, kenapa kamu diam saja sayang? Ini bunda, nak.” Bunda bergeser dari Anandita agar dokter dapat memeriksa keadaan Anandita, namun tetap menggenggam tangan Anandita dan mengelusnya.
“Sepertinya dia masih shock,” kata dokter.
“Dita, lihat, ini bunda dan ayah. itu adikmu Seila dan Clarisa,” sambil menunjuk pada kedua anaknya yang menatapnya dengan sendu dalam isak tangisan mereka.
Di sisi lain ada Daniel di samping kedua adiknya.
“Itu Daniel, suamimu. Jawab bunda, nak.” Bunda tidak sabaran untuk mendengar suara Anandita.
Anandita dengan susah payah mengeluarkan suaranya. Pandangannya terpaku pada Daniel. Dia siapa?”
Dua kata itu mengejutkan semua orang. Berbarengan dengan itu, pintu terbuka menambah rasa terkejut mereka.orangtua Daniel masuk tergesa-gesa. Meski belum akrab dengan mertuanya, Anandita merasa keduaa mertuanya itu kini sangat mengkhawatirkannya.
“Kami langsung datang setelah mendengar berita mengejukan ini. Bagaimana kondisinya?” tanya ibu Daniel pada bunda yang Kembali menangis.
Sang dokter menenangkan mereka. “Tidak ada yang mengkhawatirkan, dia hanya shock dan lukanya tidak terlalu parah, kita harus bersyukur dan lagi kandungannya selamat.”
“Kandungan!?” serentak ke empat orangtua itu menatap sang dokter untuk memastikan kalau mereka tidak salah dengar.
“Kandungannya masih sangat muda. Yang menjadi perhatian saya efek benturan di kepala.” Dokter itu menatap Anandita, lalu menunjuk kepada kedua orangtuanya.
“Dita ingat ini siapa?” tanya dokter itu lembut. Semua memperhatikan Anandita dengan cemas.
Anggukan pelan membuat kepala Anandita sedikit pusing. “Ayah dan bunda,” bisik Anandita pelan, karena ia susah sekali untuk berbicara tenggorokannya terasa kering.
Dokter itu menunjuk kepada kedua adiknya. Tanpa menunggu pertanyaan dokter, Anandita menjawab, masih dengan berbisik. Clarisa ddan seila.”
“Lalu ini siapa?” tanya dokter dengan senyum ramah. Menunjuk Daniel yang terlihat sangat letih. “Tidak usah dipaksakan,”’ sambung dokter itu.
Sorot tajam Daniel seakan sedang membaca gelaagatnya. Anandita beralih menatap dokter di sampingnya dengan jantung berdebar. “Sa-saya tidak tahu,” bisik Anandita.
Desahan sedih terdengar semerbak seruangan. Anandita melihat bunda berpelukan dengan ibu mertuanya, sementara papah jemi ayahnya Daniel bertanya, “Dita lupa ini siapa?”
Anandita mengangguk lemah sambil menggigit bibir. Ia takut ketahuan kalau dirinya brpura-pura lupa ingatan. Di sisi lain, ia tidak ingin kehilangan bayi yang ada dalam kandungannya.
“Saya rasa Anandita mengalami traumatic amnesia. Saya akan melakukan rangkaian pemeriksaan lebih lanjut dan berkonsultasi dengan dokter lain. Sebaiknya sekarang kita biarkan dia istirahat. Saya akan jelaskan lebih lanjut di luar,” ucap dokter itu.
Kecupan kedua orangtuanya, ibu mertuanya dan juga kedua adiknya pada dahi Anandit, sebelum mereka keluar mengikuti saran dokter tadi, membuat Anandita sedikit lega. Tetapi Daniel masih bergeming di tempatnya.
Perlahan tangan Daniel terulur menangkup tangan Anandita. Laki-laki itu menunduk, mengunci mata Anandita agar menatapnya. Anandita merasa gelisah. “Kamu benar-benar tidak ingat aku?” tanya Daniel sungguh-sungguh.
Anandita menatap wajah suaminya dengan rasa takut. Ia menelan ludah. Tatapan Daniel seakan memberitahunya bahwa laki-laki itu tahu apa yang sedang ia lakukan. Belum sempat Anandita bicara, Daniel mencium keningnya. “Jangan takut,” bisik Daniel di atas keningnya. Jantung Anandita berdebar kencang, takut ia ketahuan berbohong. Ia terkejut mendengar suara lembut Daniel. “Nanti aku datang lagi. Sekarang kamu istirahat dulu ya.”
Daniel menarik selimut sampai menutupi d**a Anandita, menepuk sekilas tangan Anandita, kemudian berlalu. Anandita tidak menyangka Daniel berlaku lembut padanya. Kepalanya Kembali pusing dan ia menarik napas Panjang sambil memejamkan mata.
**
Hanya empat hari Anandita dirawat di rumah sakit. Jika orangtuanya pulang, kedua adiknya akan bergantian datang. Kedua mertuanya juga menjenguk berkali-kali untuk memastikan dirinya baik-baik saja. Yang paling membingungkan, Daniel terlihat biasa saja. Tidak marah, tidak juga khawatir.
Laki-laki itu mampir di antara jadwal kerjanya yang padat untuk menanyakan kabar Anandita. Juga menanyakan makanan apa yang di inginkannya. Mengecek selang infus serta obat-obatan yang ia minum.
Setiap kali Daniel datang, Anandita berharap laki-laki itu melupakan perjanjian pernikahan kontrak mereka. Begitupun Ketika sudah pulang kerumah, ia tetap berharap Daniel melupakan perjanjian mereka. Ia tidak sanggup membayangkan kalau ia harus berpisah dengan Daniel dengan adanya kehamilan di luar skenario mereka.
**
Anandita Kembali kerumahnya, Bunda, ibu mertuanya dan juga kedua adiknya masih di ruang keluarga, mereka menjemput Anandita tadi di rumah sakit, mereka sangat gembira mendengar kabar Anandita sudah boleh pulang, kini mereka heboh membicarakan Kesehatan dan kehamilan Anandita, dan juga khawatir dengan amnesianya.
Dengan pikiran campur aduk, Anandita refleks membuka pintu kamar yang kemarin di tempat adiknya.
“Itu bukan kamar kita.”
Daniel menarik pelan tangan Anandita dan menggiringnya ke kamar utama. Anandita membiarkan Daniel menggandengnya.
“A-aku pikir…” desah Anandita.
Setelah pintu kamar di buka, Daniel menyuruh Anandita masuk duluan. Lalu ia menutup pintu dan berpaling kepada Anandita. “Tidak apa-apa. Semua bisa di mulai lagi. Ingat kata dokter, kamu harus rileks dan tidak memaksakan diri untuk mengingat segalanya.”
Membuat Anandita mendesah, masih berpikir tentang kejadian beberapa hari yang lalu, kalau ia bertengkar dengan Daniel.
“Ada yang mau kamu katakan?” tanya Daniel.
Cepat-cepat Anandita menggeleng. “Tidak aku pikir kamu yang akan bicara sesuatu.”
“kamu terlihat sedang berpikir keras,” balas Daniel.
Kedua tangan Daniel terulur, meraih wajah Anandita dan mencium bibir Anandita perlahan. Ciuman yang lembut dan singkat, namun mengejutkan. Sampai membuat tubuh Anandita bergetar.
Apa maksud ciuman itu?
Anandita mengerjap, mencari jawaban pertanyaannya di mata Daniel yang memandangnyaa hangat.
“Jangan dipaksakan mengingat-ngingat. Tidak baik untuk bayi kita,” ucap Daniel, memeluk Anandita. “Istirahatlah. Aku akan Kembali ke rumah sakit. Bunda dan mamah akan menemanimu.”
Anandita makin tercengang, namun melepaskan tangan Daniel untuk melangkah ke lemari pakaian, ia mengambil selimut tebal dan membentangkannya di lantai. “Aku akan tidur sebentar, kamu tidak perlu khawatir.”
Sambil mengeryit, Daniel melangkah mendekati Anandita. “Apa yang kamu lakukan?”
Sadar ia melakukan kesalahan, tidur di lantai seperti malam sebelum ia kecelakaan. Ia diam mmatung sambil berpikir, apa yang akan Daniel katakan, aku pasti ketahuan.
“Sepertinya kamu spontan melakukannya.” Daniel mengangkat selimut tersebut sambil berkata pelan, “Saat malam kamu mengalami kecelakaan, kita bertengkar karena kamu memaksa tidur di lantai. Kamu lihat sendiri, ingatanmu akan segera pulih dengan berjalannya waktu. Sekarang aku ingn kamu istirahat dan jangan banyak pikiran.”
Daniel menuntun Anandita ketempat tidur. Sambil merebahkan tubuhnya, Anandita menarik napas lega, bersyukur Daniel tidak mengetahui kebohongannya. “Aku hanya mengikuti perasaanku.”
“Jangan terlalu dipikirkan.” Daniel menunduk untuk mengecup kening Anandita. Membuat perasaan Anandita tidak menentu. “Aku akan Kembali saat makan malam.”
Begitu Anandita mengangguk, Daniel melepaskan tangannya dan berjalan keluar.
Setelah daun pintu menutup, Anandita menghela napas Panjang. Ini kebohongan terberat yang pernah ia lakukan. Ia mmukul dahinya dan menatap langit-langit kamranya. Tangannya yang lain mengelus perlahan perutnya. Aku harap semua berjalan baik-baik saja demi bayi ini, doa Anandita. Yang tidak lama kemudian jatuh terlelap.
**
Anandita berguling-guling dengan gelisah. Ia sudah mencoba sekian kali untuk mencoba tidur, tapi tidak bisa. Memang ia banyak sekali menghabiskan waktunya di rumah. Terlalu lama istirahat, karena dirinya yang habis dari kecelakaan di tambah ia juga sedang hamil muda.
Kalau adk-adiknya masih tinggal dengannya, bisa saja ia tidak kesepian seperti sekarang. Karena mengikuti saran dokter dan juga Daniel, keluarganya akhirnya memutuskan untuk tidak lagi tinggal Bersama mereka.
Orangtuanya sudah tidak mengkhawatirkannya rumah tangganya lagi, mereka sudah yakin kalau rumah tangga anaknya baik-baik saja, karena Anandita bisa hamil dengan Daniel. ia berpikir kalau dirinya sangat nekat melakukan hal bodoh, untuk brpura-pura hilang ingatan membohongi semua orang.
Pintu kamar terbuka, Daniel masuk dengan mengenakan jas dokternya. Ia baru selesai praktek.
“Sudah selesai prakteknya?”
“kok belum tidur?”
Tanya mereka berbarengan. Tanpa menghiraukan pertanyaan Anandita, Daniel berjalan menuju kamar mandi. Anandita duduk menyandarkan tubuhnya di sandaran Kasur.
“Biasanya kamu selesai praktek tengah malam, ini tumben cepet banget?” tanya Anandita yang mengeraskan suaranya agar terdengar oleh Daniel yang barusan masuk kekamar mandi.
Suara pancuran air terdengar, menandakan suaminya langsung mandi. Baru beberapa menit Anandita menyadari kebodohannya, kan dia lagi hilang ingatan, keceplosankan ia memukul jidatnya. Dia tinggal menunggu Daniel menyadari kebodohannya, kalau ia spontan ingat jadwal praktek Daniel.
“Jadwal praktek di rumah aku kurangi, aku mau punya banyak waktu untukmu.” Daniel muncul hanya dengan menggunakan handuk yang di lilitkan di pinggangnya. Rambutnya yang basah dan acak-acakan membuat Anandita mengingat malam panas mereka di Raja Ampat.
Anandita terpesona menatap suaminya yang terlihat seksi. Ia menelan salivanya tanpa berkedip.
“Aku sudah bilang, jangan di paksa untuk mengingat.” Setelah mengatakan itu, Daniel masuk lagi ke kamar mandi ia memakai pakaiannya disana.
Kalau bukan karena bayinya, ia tidak akan mau bertahan ia mengusap lembut perutnya yang masih datar. Mungkin kepura-puraan ku hilang ingatan ini bisa membuat Daniel luluh, dan aku bersyukur atas hadirnya janin yang aku kandung sekarang, ia yang membuat Daniel bisa hangat terhadapku kini.
Hatinya berdebar memikirkan bagaimana ia bisa terpikat oleh pesona Daniel yang kaku itu dan bagaimana kini ia merasa Bahagia akan memiliki bayi yang ia kandung kini.
“’Ada apa?”
Suara Daniel terdengar khawatir melihat Anandita yang bengong, hingga membuat Anandita mendongak. Ia menatap Daniel yang berdiri di sampingnya hanya mengenakan celana boxer.
“Pusing? Ingat sesuatu?” Daniel duduk di samping Anandita dan meghadaapkan Anandita ke hadapannya sambil menangkup wajah Anandita. “Mual? Mau sesuatu?”
Anandita mendengar pertanyaan suaminya, hingga membuat dirinya tertawa. Daniel melepaskan tangannya dan menatap bingung istrinya. Dengan manjanya, Anandita memegang tangan Daniel dan meletakkannya di wajahnya agar Daniel menyentuhnya.
“Aku hanya tidak bisa tidur, beberapa hari ini kesibukkan ku hanya istirahat, tidur tidak ada kegiatan yang aku kerjakan, kamu sangat khawatir. Aku hanya ingin tertawa.”
Wajah Daniel terlihat serius. “Aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu dan terutama pada bayi kita.”
Seketika membuat Anandita merasa Bahagia, kalau ternyata Daniel mengkhawatirkannya.
“Tapi saat di rumah sakit, kamu biasa ajah, gak kelihatan khawatir sama aku.”
Daniel bergerak mengajak Anandita berbaring, dengan Daniel di atasnya. Anandita membiarkan Daniel mengajaknya berbaring dan mengikuti apa yang suaminya lakukan.
Daniel menyangga berat tubuhnya agar tidak menimpa istrinya. Anandita tersenyum Daniel begitu posesif terhadap dirinya, ia tersenyum melihat wajah Daniel tepat di depan wajahnya.
“Wajahku memang tidak berekspresi. Orang tidak ada yang tahu apa yang aku rasakan. Yang kurasa ada disini , di dalam d**a ku.” Bisik Daniel di atas wajah Anandita.
Anandita mendesah pelan. “Apa yang kamu rasakan saat itu? Dan bayi ini…”
“Terimakasih.” Daniel memotong dengan cepat perkataan Anandita, alu dengan penuh gairah menempelkan bibirnya di bibir Anandita. Memberikan ciuman lama dan Panjang.
Anandita merasakan gejolak enak di dalam di rinya, Anandita membalas ciuman Daniel dengan sama bergairahnya.. ia mencengkram erat lengan Daniel, seakan Daniel tidak boleh berhenti.
Ternyata pura-pura hilang ingatan tidak terlalu buruk, kalau bisa membuat rumah tangganya akan utuh dan untuk kebaikan bayinya juga. Semoga Daniel bisa melupakan masa lalunya dan menjalani rumah tangga normal layaknya pasangan suami istri pada umumnya.