Bukan hanya Clarisa yang menginap di rumah pengantin baru itu, adiknya Seila juga ikut menginap, perintah dari ibunda tercinta Anandita.
Dengan cuek, Seila menggeret kopernya masuk ke rumah, dan menaruhnya begitu saja di samping sofa.
“Kenapa kamu juga ikutan tidur di sini sih?” gerutu Anandita, tanpa menghiraukan adiknya yang cuek duduk di sofa, begitu ia menaruh kopernya begitu saja.
Anandita sambil berlalu ke dapur ingin memastikan bik Siti menyiapkan makan malam untuk mereka.
“Tentu saja kamu tahu, kenapa kami di suruh bunda untuk menginap di sini, mereka curiga dengan sikap kalian, suami istri kok tidak tidur sekamar,” balas Seila cepat.
Spontan Anandita menoleh berbalik kearah Seila, menatap sinis ke arahn Seila. “Cuma gosip, memangnya kamu dengar apa tentang kami?”
Anandita mendapati raut wajah Seila mengisyaratkan ia tahu rahasia antara ia dan Daniel.
“Aku saja curiga sama kamu, kenapa bisa secepat itu memutuskan menikah sama laki-laki yang baru kamu kenal, apalagi bunda dan ayah yang begitu protektif dengan kita bertiga, tapi keburu mereka senang saja dapat menantu dokter apalagi ayah kenal dengan orangtua suamimu. Tapi karena sepulangnya kamu dari Papua, bik Siti lapor ke bunda, kalau kalian tidak tidur sekamar, yah pastilah mereka curiga, bakalan kamu yang di salahin! Sebenarnya kamu ada rahasia apa sih?
Sampai Clarisa di utus menginap disini, seharusnya kan dia ikut ayah dan bunda bepergian, dan juga bik Siti yang harus bantu-bantu kamu di sini, seharusnya gak penting, kamu bisa cari pembantu lain.” ucap Seila panjang lebar.
“Aku tidak ada rahasia apapun, dan gak merencanakan sesuatu. Daniel baik banget, yah walaupun aku belum kenal banget tentang dia dan keluarganya, sejauh ini kita baik-baik saja,” Anandita berusaha mengahindari tatapan Seila yang menatapnya dengan menyipitkan matanya terlihat mencurigai dirinya.
“Kamu yakin gak mau cerita ke aku? Gak ada yang kamu sembunyiin?” tanya Seila serius sambil melangkah menjajari Anandita dan mentapanya penuh intimidasi.
Anandita berdecak kesal dan bergeser menjauhi Seila. “Sudah aku katakan tidak ada yang aku sembunyikan, dan gak ada yang aku rencanakan seperti yang kamu pikirkan Seila. Aku dan Daniel baik-baik saja.”
“Baik-baik saja?” Seila mendengus semakin curiga. “Tidak seperti pasangan pengantin baru yang Bahagia. Terdengar seperti pengantin baru yang akan bercerai beberapa bulan lagi.”
Anandita hendak membela diri namun pintu ruangan praktek Daniel mendadak terbuka. Daniel muncul dan tangannya langsung terangkat lalu tersenyum sekilas kepada Seila.
“Hai, Seil!” sapa Daniel seakan mereka sering berjumpa. Sambil melangkah menghampiri Anandita, Daniel bertanya, “Kalian datang barengan?”
“Kami bertemu di depan. Sopir mengantar dia kemari.” Anandita berusaha tidak menggubah ekspresi santainya Ketika Daniel menyentuh pundaknya, biar Seila tidak curiga.
“Aku merasa tidak enak, karena kita tidak menyiapkan kamar kosong untuk adikmu.”
Setengah terkejut Anandita menatap Daniel yang terlihat tidak berdosa. Entah karena laki-laki itu merasa bersalah atau memang dia bermuka dua setelah apa yang dia lakukan selama ini. Sudah jelas Daniel melarang Anandita untuk tidak mengubah isi rumah.
“Biarkan saja ia tidur sekamar dengan Clarisa.” Sambil menatap kesal kearah Seila.
“Katakan saja apa yang kalian butuhkan, nanti aku akan siapkan. Aku ingin kalian merasa nyaman selama inggal di sini. Dan lagi, kalian harus sering-sering berkunjung, kasian kakakmu kesepian.” Daniel mengatakannya sambil mengeratkan pegangannya di Pundak Anandita. Lagi-lagi Anandita menoleh kepada Daniel untuk melihat maksud di balik itu.
“Apa makan malamnya sudah siap?” Tanya Daniel kemudian.
Dahi Anandita berkerut makin dalam. Dengan wajah Daniel sangat dekat dengan wajahnya, Anandita berpikir keras. “Aku baru saja ma uke dapur. Sepertinya mereka sedang menyiapkannya,” kata Anandita sambil menunjuk kea rah ruang makan.
“Aku akan lihat apakah sudah siap, sekaligus menyapa Clarisa,” ucap Seila, cepat-cepat meninggalkan mereka.
Dengan pikiran masih mengganjal, Anandita merasakan tangan Daniel tidak terlepas dari pundaknya. “Apa kamu mau makan Bersama kami?”
Daniel menatap istrinya heran. Laki-laki itu melepaskan tangannya perlahan, lalu membuka mulut. “Aku akan berusaha makan bersamamu dan adik-adikmu. Sarapan dan juga makan malam.”
Terkejut dengan jawaban Daniel, Anandita spontan melontarkan isi pikirannya. “Aku pikir kamu gak mau makan bersamaku.”
“Kamu terlalu banyak berpikir,” ucap Daniel cepat. Ia melangkah ke meja makan, meninggalkan Anandita yang masih bengong.
**
“Berapa kali aku harus bilang ke kamu sih, untuk tidur di ranjang?!” Daniel berkacak pinggang di ujung kaki Anandita.
Anandita tidak menggubris dan tetap saja membelitkan selimutnya kesekitar tubuh.
“sepertinya kamu memang ingin aku membopongmu setiap malam ke Kasur ya.” Daniel berucap pasrah sambil melangkah ke kamar mandi.
Mendengar itu, Anandita otomatis bangkit duduk, lalu berteriak sebelum Daniel menghilang dari pandangannya. “Aku tidak pernah suruh kamu, untuk gendong aku. Kamu meyakiti hatiku saat kamu mengatakan aku tidak pantas tidur di ranjang sialan ini.
Tiba-tiba Daniel berbalik. Hanya mengenakan celana. Anandita tersentak kaget, membiarkan matanya terkontaminasi melihat pemandangan indah di hadapannya, tubuh atletis Daniel yang sangat menggoda, ia lupa kalau lagi marah-marah.
“Kamu sudah tidur di ranjang beberapa malam ini.” Nada suara Daniel terdengar sedikit naik.
“Itu bukan keinginanku. Kamu sendiri yang mengangkatku,” balas Anandita tidak mau kalah, mereka sama-sama berteriak.
Daniel memandang Anandita dalam diam selama beberapa detik. Anandita memperhatikan Daniel mendesah Panjang sebelum berkata, “Tidak ada bedanya. Aku akan mengganti ranjangnya setelah kita berpisah jika itu memang yang kamu dengar. Dasar keras kepala.”
Entah kenapa, apay ag di ucapkan Daniel selalu membuat hati Anandita perih seperti disayat pisau yang tajam. Emosi yang di pendam di dalam hatinya tidak mampu lagi Anandita tahan. Air matanya tumpah begitu saja.
Daniel terlihat merasa bersalah Ketika melihat Anandita menumpahkan air matanya. Anandita yakin, Daniel tidak merasakan kalau ucapannya sangat menyakiti hati Anaandita, dan sekarang ia menyadari ia mulai ada peraasaan dengan suami bohongannya. Ia membiarkan hatinya larut menjalani perannya sebagai istri. Meski mereka baru sebulan menjalani rumah tangga Bersama Daniel, Anandita sadar cinta Daniel sangat besar untuk Rini. Anandita dengan bodohnya mengizinkan perasaan Sukanya kepada Daniel tumbuh dan berkembang. Berharap satu tahun ke depan Daniel akan menjadi miliknya.
Setelah mengelap air matanya yang jatuh di wajahnya, Anandita berdiri. Tangannya mengambil ponsel dan bergegas melewati Daniel yang berdiri terpaku. Semakin lama melihat wajah Daniel, Anandita semakin sakit hati dan kesal.
Sejujurnya Anandita berharap Daniel menariknya dan memeluknya sambil bertanya kenapa dia menangis, tapi Daniel diam dan cuek saja. Amarah Anandita memuncak. Ketika tangannya sudah menggapai gagang pintu, suara Daniel mengagetkannya.
“Kamu mau kemana malam-malam begini?”
“Kamu gaak perlu tahu, lagian bukan urusanmu juga!” jawab Anandita judes. Ia melangkah keluar sambil menutup pintu kamarnya dengan keras, tanpa memedulikan kedua adiknya yang mungkin tersentak kaget mendengar pintu di banting dari kamar mereka. Dengan masih mengenakan piyama, Anandita menuruni tangga. Dengan tergesa-gesa ia tidak memakai sendal, langsung mengambil kunci mobil yang tergantung di gantungan kunci.
Tanpa memikirkan ke mana ia akan pergi, Anandita bergegas membuka pintu rumah dan menguncinya Kembali. Berlari dengan cepat menuju mobil dan keluar pagar. Air matanya turun dengan sangat teras.
Anandita tidak tahu kemana ia akan pergi. Ia melajukan mobil tanpa tujuan yang pasti. Emosinya mulai reda, karena berusaha berkonsentrasi dengan jalanan yang di guyur dengan hujan lebat. Bandung memang setiap malam selalu di guyur hujan akhir-akhir ini. Suasana hatinya sangat mendukung dengan cuaca malam Bandung.
Setelah beberapa saat mendengar suara gluduk, Anandita tersadar untuk segera menentukan kemana ia akan pergi. Malam semakin larut, cuaca semakin mendukung untuk tidur nyenyak, tidak terasa rasa kantuk mulai menyergapinya. Dia tidak mungkin Kembali pulang kerumah Daniel, dia masih sakit hati, ia harus mencari hotel pikirnya, agar ia bisa tenang melampiaskan rasa sedihnya di sana.
Anandite melajukan mobilnya menebus lebatnya hujan, tanpa sadar ia menginjak rem gas dengan kencang karena matanya mulai mengantuk. Anandite mengucek matanya yang terasa perih akibat dari tadi tidak berhenti menangis, bisa di pastikan matanya bengkak dan merah saat ini. Seperkian detik ia kehilangan fokusnya, ia merasakan mobilnya oleng . mobil itu tidak terkendali dalam kecepatan tinggi dan karena jalanan licin akibat hujan lebat. Dengan sadar ia teriak dengan kencangnya.
Aku pasti akan mati!
Kedua tangannya menutup telinganya dan ia memejamkan matanya bersamaan Ketika mobilnya berguling menghantam sesuatu. Ia berteriak sekencang mungkin. Pada saat itu yang ada di bayangannya wajah Daniel yang menciumnya di altar.
Sabuk pengaman yang mengikat erat tubuhnya menahan Anandita, namun akhirnya ia merasakan dorongan kuat di sisi pintu mobilnya. Kepalanya berputar kemudian entakan keras entah dari mana membuat segalanya menjadi gelap…..setelah teriakan terakhirnya, ia merasakan benturan yang kuat di kepalanya.