Ranjang Keramat Bikin Kesal

2241 Kata
Anandita melihat Daniel membawa anaknya, laki-laki itu pergi besama tunangannya, ia pergi menjauh sambil menggendong bayi yang baru saja di lahirkan Anandita. Daniel masuk ke mobil sebagai supirnya, sedangkan Rini masuk ke mobil duduk di samping kemudi, dengan menggendong anaknya yang tadi sempat di gendong Daniel. Mereka pergi meninggalkan Anandita yang meraung-raung ia ingin menggapai anaknya yang di bawa kabur oleh Daniel dan tunangannya. Anandita yang tidur sambil terisak-isak. Terdengar suara seseorang memanggilnya. “Dita..Dita…!” sambil mengguncang-guncang Pundak Anandita. Ia termenung masih terkaget dengan mimpi yang barusan di alaminya, dengan jantung yang berdetak dengan cepat Ia menggeliat dalam tidurnya. “Dita! Bangun! Kamu kenapa tidur di kamarku?” Kalimat itu terdengar membingungkan, dengan perlahan Anandita membuka matanya dengan susah payah. Nyawanya masih tersangkut di alam mimpi sedikit. Tangan Daniel masih mengguncang pundaknya. “Dita!” Suara Daniel terdengar tidak sabar. Dengan posisi miring, ia melihat sela-sela gorden yang terbuka, bulan purnama bersinar sangat terang. Ia berpaling dan menatap Daniel. “Kamu baru pulang?” Anndita bertanya sambil mengucek-ucek matanya. “Aku tadi bermipi aneh, dan menakutkan. kamu menculik anakku dan pergi Bersama tunanganmu….” “Sudahlah jangan di pikirkan, hanya mimpi, tidak akan terjadi apa-apa di antara kita…ucap Daniel cepat tidak perduli dengan mimpi Anandita. “Kenapa kamu tidur disini?” potong Daniel tidak sabaran. Anandita mengerjap bingung. “ke-kenapa?” jawab Anandita bingung dengan pertanyaan Daniel. karena masih merasa ngantuk, ia memastikan dirinya mendengar ucapan Daniel dengan benar. “Kenapa kamu tidur di ranjangku?” tanya Daniel menunjuk Kasur yang di tempati Anandita tidur. “Ta-tapi….”Anandita belum mneyelesaikan pertanyaannya Daniel Kembali memotong dengan tidak sabar. “Bik Siti sudah tidur di kamarnya. Kamu tidak perlu takut ketahuan kalau kita tidak tidur sekamar.” Akhirnya Anandita paham. Ia tidak menyangka Daniel dengan teganya menyuruhnya pergi dari kamar ini dan membangunkannya di tengah malam seperti ini, hanya untuk menyuruh Anandita pindah kamar. Ia piker setlah bulan madu mereka akan selalu tidur berdua, walaupun tidak melakukan hal-hal yang di inginkan Anandita. Namun ia keliru. Tentu saja Daniel marah kalau dirinya tidur di ranjang ini. Seharusnya yang tidur di Kasur ini kan Syahrini dan Daniel. Betapa bodohnya ia terlena dengan kenangan beberapa waktu lalu di Raja Ampat. Betapa bodohnya ia mengharapkan laki-laki yang tidak menginginkannya. Tanpa banyak kata, Anandita bangkit. Ia tidak ingin melihat wajah Daniel, jadi ia menunduk dalam diam sambil memakai sandal rumahnya yang berada di bawah Kasur. Hatinya sangat sakit di perlakukan seperti saat ini. Ia mengambil ponsel yang terletak di atas nakas yang ada di amping tempat tidurnya, lalu melewati Daniel yang masih berkacak pinggang memandangi Anandita. Suara Daniel menggema memenuhi ruangan yang temarang itu Ketika Anandita sudah menyentuh gagang pintu. “Kamu bisa menggunakan lemari dan kamar mandiku. Tapi aku harap kamu tidak tidur di ranjang ini lagi. Pembantumu tidak akan mengetahui kita tidur terpisah kalau kamu selalu berhati-hati.” Suara Daniel terdengar tenang, seperti biasa tidak ada beban pada ucapannya. Anandita rasanya ingin berteriak, matanya sudah berkaca-kaca hatinya sakit saat mendengar ucapan Daniel barusan. Dia tidak mengok dan perlahan membuka pintu kamar. “Terimakasih makan malamnya, lain kali kamu tidak usah menyiapkannya untuk ku, dan tidak usah lagi menungguku pulang,” ucap Daniel cepat-cepat. Anandita emosi, membuat mulutnya harus bicara. Dengan tegas “tidak akan aku lakukan lagi.” Ia lansung menutup pintu dengan membantingnya. Ia berdiri beberapa saat setelah pintu tertutup, ia menangis, air matanya turun begitu saja. Setelah puas air matanya jatuh, ia berjalan ke kamarnya. ** Brak! “Clarisa datang menginap selama sebulan.” Anandita menerjang masuk keruang praktek Daniel. Suster yang berdiri di dekat pintu untuk memberikan stetoskop untuk Daniel memeriksa pasiennya, tak sengaja menjatuhkannya, karena kaget. Pasien lansia yang mau di periksa pun ikut terkejut. Melihat daniel memakai jas dokternya, sempat membuat Anandita terpesona. Begitu gagahnya ternyata suaminya bila sedang tugas. Namun begitu Daniel berbalik, melangkah menghampiri Anandita, dan menyeretnya ke luar ruangan praktek. Anandita tahu ia dalam masalah. Sebelum Daniel keluar, ia meminta maaf pada pasiennya, karena ada sedikit gangguan karena istrinya main nyelonong saja masuk, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, sambil menyeret Anandita keluar. “Jangan coba-coba lagi masuk tanpa ketuk pintu seperti tadi. Kamu mengagetkan pasienku seperti tadi. Rata-rata mereka punya Riwayat jantung. Apa kamu mau tiba-tiba mereka mati mendadak di sini karena ulahmu seperti tadi?” kesal Daniel sambil melepaskan tangan Anandita dengan kasar yang tadi di genggam kuat olehnya. Sambil berkacak pinggang Daniel menunggu apa yang akan di bicarakan istrinya itu. “Maaf, aku tidak bermaksud begitu tadi, aku panik. Clarisa akan tinggal di sini selama satu bulan mulai hari ini.” Anandita yang terdengar ngos-ngosan saat berbicara. Ia bahkan masih berpakaian lengkap dari kantornya, tanpa mengganti pakaian rumahnya dahulu. “Lalu masalahnya apa?” tanya Daniel kesal. Rasanya Anandita ingin memukul kepala Daniel. kenapa sih ini Dokter gak bisa mikir? Ini kan situasi genting. “Pasti orangtuaku tahu tentang ketidak beresan rumah tangga kita.” “Lalu?” jawab Daniel santai. Anandita meremas tangannya dengan gemas. Bisa-bisanya ini orang gak ngerti yah, apa pura-pura gak ngerti sih, katanya dokter tapi gak pintar. Tiba-tiba ponselnya berdering. Seakan bisa meramalkan sesuatu yang akan terjadi. Anandita menjawab, sambil menloudspeaker ponselnya. “Clarisa akan tinggal Bersama kalian sampai ayah dan bunda pulang dari Singapore.” Suara lantang bunda terdengar jelas oleh Anandita dan Daniel. telunjuk Anandita memberi isyarat agar Daniel diam dan mendengarkan mereka berbicara. “Kenapa tiba-tiba Clarisa harus tinggal disini? Biasanya juga di bawa kemana-mana, kalau ayah bunda pergi.” Karena merasa menantunya tidak ada di dekat Anandita untuk mendengarkan, Bunda tanpa malu-malu mengeluarkan unek-uneknya. “Bunda sudah curiga begitu melihat rumah kalian. Maka itu bunda kirim bik Siti kesana. Apa kata mertuamu kalau mereka tahu kamu tidak tidur sekamar? Bik Siti laporan sama bunda, semenjak kalian pulang dari bulan madu, kamu selalu tidur di kamar lain, yang kamarnya kamu isi dengan perabotan baru. Apa-apaan itu?” “Bun…. Tidak semestinya bunda ikut campur masalah rumah tanggaku.” “’Ehh… ya ampun, ini anak ya! Pasti kamu kan yang maksa buat pisah kamar tidur.” Bunda terdengar marah. “Sudah untung Daniel mau sama kamu. Dokter, ganteng, dari keluarga baik-baik, apa kurangnya coba? Bunda lihat Daniel selalu sabar sama kamu.” “Bun…. Anandita ingin mematikan loudspeaker karena tidak ingin Daniel jadi besar kepala karena di sanjung bundanya. Namun tangan Daniel menahan gerakannya. “Ayah dan bunda akan liburan. Jaga Clarisa baik-baik. Jangan sampai bunda dengar berita yang bikin malu lagi ya. Apa kata mertuamu nanti kalau sampai tahu kamu begitu kejam sama anak mereka? Masa suami istri tidurnya beda kamar!” “Bun….” Anandita mau membela diri, namun bunda sudah memutuskan smabungan teleponnya. Anandita melongo memandangi layar ponsel di genggamannya. “Kamu tinggal pindah ke kamarku, apa susahnya?” Kalimat yang di ucapkan Daniel sangat santai, sampai membuat Anandita mendongak menatapnya. Rasanya ia ingin memukul kepala Daniel dengan ponselnya, memangnya gara-gara siapa bundanya marah sekarang, apa laki-laki itu lupa kalau dia yang tidak boleh membiarkan dirinya tidur di keranjang keramat miliknya. Dan mengusir Anandita yang sudah sangat terlelap. Bisa-bisanya ia berbicara begit santainya, seperti tidak ada dosa. “Aku tidak akan tidur di ranjangmu itu,” ucap Anandita, ia masih menyimpan dendam pada Daniel. ia bahkan mencoba menghindari Daniel semenjak kejadian malam itu. Dagunya terangkat angkuh, menunggu reaksi Daniel. “Terserah.” Daniel mengangkat bahunya acuh, sambil berlalu menuju ke ruang prakteknya karena pasien nya sudah menunggu dari tadi. Dengan spontan Anandita menahan lengan Daniel. “Kak Dita, baru pulang kantor?” Clarisa muncul dari tangga di belakangnya ada bik Siti. Melihat pakaian tidur yang di pakai adiknya, Anandita menyimpulkan kalau adiknya sudah ada dari tadi, sebelum dirinya tiba. Daniel membalas senyum manis Clarisa dengan tulus. Rupanya laki-laki itu masih ada sopan santun dengan tamunya. “Maaf, aku tidak tahu kamu datang. Dita baru saja memberitahuku kalau kamu akan menginap di sini. Seila tidak ikut?” tanya Daniel basa-basi. Anandita mencibir melihat perlakuan beda Daniel. “Kak Seila ada acara di kampusnya.” Jawab Clarisa polos. Anandita paham, Clarisa tidakk tahu tujuan bunda mengirimnya ke sini. Seila bisa bersekongkol dengannya, namun beda dengan Clarisa yang tidak dapat berbohong dengan siapapun. “Sudah makan?” tanya Daniel sangat perhatian. “Aku akan Kembali kerja. Kamu bisa makan dengan kakakmu. Tidak usah menungguku. Aku sudah makan malam sebelum pulang kerumah.” “Aku juga sudah makan malam Bersama orang-orang di kantor,” sambung Anandita cepat. Bibir Claris langsung melengkung. Ia memegang perutnya, lalu bergelayut manja pada Anandita. “Padahal aku sudah menunggumu. Aku pikir kitab isa makan Bersama.” Anandita segera merangkul Pundak Clarisa . membiarkan adik manjanya itu memeluknya. “Ya sudah aku temani kamu makan, kamu manja banget sih, aku masih bisa kalau makan sedikit lagi. Sebegitu kangennya kamu sama kakak? Padahal loh aku baru tiga minggu pindah rumah. Bagaimana kalau mala mini kita tidur berdua?” Rayu Anandita. Clarisa menjauh dari dekapan Anandita dan memandang kakaknya dan Daniel bergantian. Ia menatap keduanya seakan apa yang di ucapkannya adalah berita umum. “Kata bunda kalian tidak boleh tidur terpisah. Mana bisa kakak tidur denganku?” Tawa Bik Siti dan senyum geli Daniel membuat Anandita merasa kalah. Rupanya bunda sudah mempersiapkan segalannya dengan baik. “Aku tidak akan membangunkanmu malam ini,” ucap Daniel masih tersenyum. Karena terkejut dengan omongan Daniel, Anandita menoleh untuk memastikan Daniel tidak bercanda. Daniel malah menepuk pundaknya perlahan. “Aku tahu jadwal praktekku selalu selesai tengah malam. Kamu sampai harus tidur di kamar lain agar tidak terganggu. Mulai malam ini aku akan pelan-pelan saat masuk ke kamar.” Ucap Daniel penuh perhatian. Dasar tukang bohong dan pintar memanipulasi keadaan, pikir Anandita. Bik Siti tesenyum mendengar ucapan majikannya. Pasti berita ini akan sampai di telinga bundanya. Sedangkan Clarisa tampak mengaggumi sosok kakak iparnya, yang perhatian sekali dengan kakaknya. Tanpa menunggu reaksi istrinya, Daniel bergegas masuk ke ruang praktek. Clarisa langsung memeluk kakaknya erat sementara Bik Siti melangkah ke dapur. “Kak, aku juga mau nanti punya suami seperti kakak iparku, Daniel baik banget ya.” Clarisa mengeratkan tangannya di sekeliling Pundak Anandita. Sangking baiknya aku mau cakar-cakar mukanya, jambak rambutnya karena udaj bikin aku sakit hati, batin Anandita. Selesai menemani Clarisa makan malam, Anandita menemani adiknya menonton tv di ruang keluarga, kakak- adik itu asik bercengkrama hingga lupa waktu, tidak kerasa waktu sudah larut. “Kak aku sudah ngantuk, tidur yuk.” Ajak Clarisa. “Ya sudah ayo, kamu yakin berani tidur sendiri?” tanya Anandita lagi, siapa tahu adiknya itu berubah pikiran. “Berani dong, kan aku sudah besar, ih..kakak…” Sambil beranjak mereka menuju tangga, dimana kamar ada di lantai dua rumah itu. Kamar yang di tempati Clarisa bersebelahan dengan kamar utama. Anandita mengantar adiknya sampai di depan kamarnya, mereka masuk ke kamar masing-masing. Anandita sangat malas untuk tidur di ranjang keramat suaminya itu. Ia hanya menatap sinis Kasur king size itu. “Aku masih kesal sama Daniel, kenapa juga dia suruh aku tidur dikamar ini,mau tidur dimana coba? Bagaimana kalau……” Anandita mengomel, masih berpikir, dan kemudian… “Kamu ngapain di sana?” Daniel berhenti melangkah begitu melihat Anandita terbaring di lantai saping tempat tidur. Anandita tidak bisa tidur, karena ini pertama kalinya ia tidur di lantai beralaskan bed cover. “Ya, mau tidur lah, memang mau ngapain lagi?!” kesal anandite, sambil berbali ke sisi lain. “Kamu tadi bilang gak akan ganggu aku kan?!” “Kenapa kamu tidak tidur di ranjang?” tanya Daniel kebingungan sambil menunjuk tempat tidur yang masih licin. Anandita mempertahankan posisinya, menutup kedua matanya, dan berusaha tidur. “Tentu saja aku tidak akan sudi tidur di ranjangmu yang keramat itu!” “Please Dita, gak usah konyol deh!” Mau tidak mau, Anandita terpaksa bangun dan duduk, lalu mendelik pada Daniel. “Aku hanya mengikuti tingkah konyolmu, dan lagi siapa yang sudi tidur di ranjang ini?” Anandita menunjuk ranjang tanpa melihatnya. “Besok aku harus ngantor. Jadi tolong gak usah ganggu aku sekarang.” Cepat-cepat Anandita berbaring Kembali dan menarik selimut tebalnya sampai menutupi wajahnya. Matanya memejam, berharap Daniel menutup mulutnya dan pergi meninggalkannya. “Maafkan aku,” ucap Daniel pelan. Tubuh Anandita menegang. Matanya Kembali terbuka, ia masih di dalam selimutnya. “Aku gak akan nyuruh kamu untuk ke dua kalinya, kamu boleh tidur di ranjang, aku juga capek buat berdebat. Aku mau mandi, kamu bisa naik ke Kasur,” lanjut Daniel. Suara langkah kaki Daniel menjauh, terdengar pintu kamar mandi di buka. Andita terlalu sakit hati atas perlakuan yang di ukir oleh Daniel di hatinya,membuat ia menendang selimut sebagai pelampiasannya. Ia tidak akan sudi tidur di Kasur itu. Anandita berbaring menyamping, berharap rasa kantuk tiba dan ia mau tidur sepulas-pulasnya. Merasakan hangat pada tubuhnya, membuat Anandita refleks menempelkan punguggungnya. Ia menggeliat sambil bergumam. Mengetahui tidak ada cahaya masuk, ia berpikir hari masih gelap, masih Panjang waktunya untuk bersantai di alam mimpi. Sedetik kemudia ia tersadar, semalam kan aku tidur di lantai. Bagaimana sekarang aku ada di Kasur tidur dengan Daniel? Tangannya meraba-raba seprai, berniat berbalik untuk memastikan Daniel lah yang ada di belakang punggungnya. Namun gerakannya terhenti Ketika lengan Daniel melingkar di pinggangnya. “Belum pagi,” bisik Daniel di telinga Anandita. “Kalau mau protes, nanti saja kalau matahari sudah naik.” Bisik Daniel yang makin mengeratkan pelukannya. Anandita menghela napas Panjang. Pasrah denga napa yang di lakukan suaminya. Dan setelah merasakan napas Daniel mulai melambat dan teratur, ia pun merasakan kenyamanan. Anandita Kembali terlelap dalam pelukkan Daniel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN