Daniel dengan sigap membawa Anandita ke kamar mereka, berat tubuh Anandita sudah tidak di hiraukannya, Daniel membopongnya langsung ke shower, Anandita langsung di turunkannya setelah kemudian ia menyalakan keran air, Anandita yang bergelayut di lengan Daniel dengan mengangkat satu kakinya yang terluka. Ia menatap wajah Daniel dengan sendu. “ini sakit sekali, bagaimana aku mandi?”
“Aku yang mandiin kamu, gak usah malu yah, kamu pegang aku saja, aku basah juga gak apa-apa.” Jawab Daniel santai.
Anandita yang merasa malu, membuat pipinya merona, ia jadi teringat kejadian malam kemarin. Apa Daniel akan melakukan hal seperti kemarin malam, kaki ku kan lagi sakit begini? Anandita berbicara sendiri dalam hatinya.
Daniel yang memperhatikan wajah Anandita, seolah bisa membaca pikirannya. “Gak usah mikir yang aneh-aneh, aku bantu kamu karena kamu lagi luka.”
“Siapa juga yang mikir aneh-aneh, kamu ge-er banget sih.” Jawab Anandita kesal.
“Kamu keberatan gak, kalau aku mandiin kamu? Sekarang aku buka yah bikini kamu.”
“ya sudah, jangan ambil kesempatan yah!” ucap Anandita kesal.
“iyah,” jawab Daniel cepat sambil memutar bola matanya, seolah-olah dia tidak perduli dengan ucapan Anandita.
Dengan Gerakan perlahan Daniel membuka ikatan bikini yang menutupi p******* Anandita. Sebenarnya Daniel agak tegang dengan hal yang dia lakukan, biarlah kegilaan ini dia rasa sendiri.
Anandita yang menahan napasnya, hampir membuat ia mendesah, karena pikirannya yang tidak-tidak. Ia dan Daniel kan manusia normal, dalam keadaan seperti sekarang ini membuat mereka jadi terangsang. Dengan cepat Daniel menarik bra dari lengan Anandita, kini ia menunduk akan melepaskan yang masih tersisa di bagian bawah tubuh Anandita.
Dengan menelan salivanya, Daniel harus rela menahan rasa yang bergejolak dalam dirinya. Dengan buru-buru pula ia melepaskan pakaian dalam Anandita yang terakhir, sekarang Wanita itu polos, tidak ada sehelai benang pun. Daniel buru-buru mengambil sabun dan menggosokan dengan lembut ke tubuh Anandita. Anandita dengan jantung yang memburu mau tidak mau, pasrah dengan apa yang di lakukan laki-laki itu. Mereka berdua sama-sama tegang dengan saling diam dengan pikiran masing-masing. Dengan cepat Daniel memandikan Anandita, ia yang hanya pakai celana boxer ikut basah. Anandita yang menggigit bibir bawahnya berusaha menahan gejolak yang terjadi akibat sentuhan tangan Daniel pada tubuhnya.
Daniel benar, ia hanya membantu Anandita mandi dan membersihkan kakinya yang terluka yang masih terkena sisa pasir. Sudah selesai membilas badan Anandita, Daniel langsung membungkus badannya dengan handuk yang tersampir pada gantungan handuk dekat shower, kemudian membopong Anandita ke ranjang.
“Kamu bisa pakai baju sendiri kan?” selesai Daniel menaruh Anandita di ranjangnya, ia membawakan pakaian Anandita.
“Iya.” Jawab Anandita cepat. Ia malu menatap Daniel.
“Ya sudah, aku mandi dulu, yah. Nanti setelah aku selesai mandi, aku obati lagi kakimu.” Ucap Daniel sambil berlalu ke shower.
Ya ampun, aku bisa gila kalau begini, laki-laki itu memandikan ku, melihat tubuhku lagi, bikin aku salah tingkah kan. Anandita bicara sendiri dalam pikirannya. Selesai Anandita berpakaian ia tiduran dengan kaki yang sakit. Ia masih menunggu Daniel yang membersihkan dirinya di shower.
Di dalam shower Daniel merasa lega, ia bisa mengontrol dirinya saat tadi memandikan Anandita. Untung saja dirinya bisa mempertahankan gejolak kelelakian dirinya saat melihat Anandita tanpa sehelai benang pun, ia tidak mau mengakuinya di depan Anandita. Dia belum tau perasaan apa yang ia rasakan pada Anandita sekarang, bagian bawah tubuhnya sudah mengeras saat mulai melucuti bikini yang gadis itu tadi pakai, untung saja ia bisa mengontrol diri.
Perlengkapan pertolongan pertama dijajar rapi di samping kaki Anandita. Selesai berpakaian Daniel langsung menyiapkan peralatan dokternya yang selalu dia bawa. Pertolongan pertama untuk bila ada kejadian seperti tidak terduga macam sekarang.
Daniel membetulkan posisi duduknya. Tangannya menangkap pergelangan kaki Anandita.
“Luka kecil begini saja, kamu menangis histeris tadi.”
Anandita melotot menatap Daniel yang memegang kakinya. “Bagiku ini luka besar tau, sakit banget!”
Daniel hanya menghela napas dan memusatkan perhatiannya pada kaki Anandita. Mulai memberikan obat merah pada kakinya, sambil memperhatikan luka sobekan pada kaki Anandita dan membalutnya dengan kasa.
Anandita mulai mengantuk saat Daniel mengobati lukanya, tenaganya sudah habis, sejak tadi menangis seperti anak kecil. Daniel membalut kakinya dalam diam. Suara ringtone ponsel yang terdengar sayup-sayup tidak membuat Anandita membuka matanya.
Rupanya daniel sudah beranjak, setelah ia selesai membalut luka Anandita.
Anandita mendengar sayup-sayup suara Daniel yang berbicara di telepon menjelaskan kejadian itu kepada seseorang di ujung sana. “Sudah aku obati lukanya, Anandita tadi main kano. Turun dari kano ia menginjak batu karang, akibatnya telapak kakinya sobek, lumayan lebar lukanya. Nanti kalau dia demam aku bawa dia kerumah sakit di kota, kami jauh dari mana-mana, resort yang aku pesan jauh dari kota. Sepertinya kita akan percepat liburan kami, Anandita tidak akan nyaman liburan dengan kaki terluka seperti itu.”
Anandita yang mendengarkan langsung tersadar. Air mata Kembali turun deras, dia memikirkan kakinya, bisa jadi nanti infeki. Dalam pikirannya sudah bermacam-macam yang membuat ia takut, mungkin dia akan di operasi pikirnya.
Daniel yang berbalik ke arah Anandita, terkaget melihat Anandita yang tadi sempat dilihatnya sudah tertidur bangun Kembali dengan isakan tangisannya.
“Kamu bohongkan, tadi kamu bilang lukanya kecil. Padahal lukanya lebar. Huaaaa….” Anandita menangis sejadinya.
Daniel menghela napas berat, bergegas memutuskan panggilan telepon.
***
Daniel menjinjing dua tas koper berukuran sedang yang mereka beli pada saat terakhir sebelum mereka Kembali ke Bandung.
Begitu mereka sampai di rumah, Bik Siti langsung menyambut Anandita dan langsung memeluknya dengan erat. Kemudian menunduk, memandangi kaki Anadita yang terbalut perban. Sudah dapat di pastikan, begitu Daniel memberitahu Clarisa saat di telepon kemarin, perihal kecelakaan kecil yang terjadi pada Anandita sudah tersebar pada anggota keluarga mereka.
“Sudah baikan kok, Daniel sudah mengobati kaki ku bik.” Anandita menenangkan Bik Siti sambil berjalan ke dalam.
Laki-laki yang Anandita sebut itu sudah tidak terlihat. Daniel pasti sudah membawa koper mereka ke kamar yang ada di lantai dua rumah itu.
Selama perjalanan menuju bandara laki-laki itu tidak pernah lepas dari ponselnya, yaah memang saat liburan pun dia selalu bawa-bawa ponselnya kemana-mana. Kan dia orang sibuk.
“Non cari apa?” Tanya bik Siti yang memperhatikan majikannya seperti mencari sesuatu.
Sambil berjalan Anandita menengok kanan kiri. Ia memperhatikan rumah ini tidak ada perubahan yang mencolok, sama seperti ia datang kesini saat menaruh barang-barang yang ia beli beberapa minggu yang lalu.
Hanya dapur yang terisi dengan perabotan memasak dan hal yang di perlukan untuk memasak. Tidak ada tambahan perabotan di rumah ini. “Ahh.. enggak bik, ayo bantu Dita naik tangga.” Ucap Dita tenang.
Bik siti membantu Dita menaiki taangga, ia mendampinginya sampai kekamar yang kemarin ia isi dengan perabotannya sendiri. Bik Siti agak terheran, kenapa majikannya malah ke kamar tamu. Tapi ia tidak mau banyak tanya.
“Saya sudah bersihkan kamar ini non, dan pasang seprai baru. Ucap Bik Siti begitu Anandita membuka pintu kamar yang nanti akan ia tempati. Terdapat ranjang ukuran king size yang ia beli dengan seprai berwarna bunga dengan motif bunga kecil-kecil. Lalu ia membuka lemari pakaian.
“Kemana baaju-baju Dita, bik?” tanya Anandita bingung melihat lemarinya kosong melompong. Setaunya semua bajunya ada di lemaari ini.
“Sudah bibik taruh semua di kamar utama, non.” Jawan bik Siti. Ia bingung dengan pertanyaan Anandita dan terdiam.
Tangannya masih memegang gagang lemari. Pasti pembantunya berpikir yang tidak-tidak, ia tersadar kalau semua orang tahu kalau seharusnya ia dan Daniel satu kamar, begitu pula dengan semua pakaiannya.
“Oh iyah, bik. Dita lupa, kemarin aku taruh pakaianku disini dulu, karena pakaian Daniel banyak banget, pasti pikir dita gak akan muat baju-baju aku kalau masuk lemari dia.” Jawab Dita sekenanya. Semoga pembantunya tidak curiga dengan kebohongannya.
“Oh, gitu non, kira bibi ada apa, sampai bingung bibi. Masa non tidur disini sedangkan pak dokter tidur di kamar utama, kan gak lucu non, pengantin baru pisah ranjang, hehhehe…” ucap Bik Siti sambil tertawa.
Hufft… untung saja aku bisa kasih penjelasan yang masuk akal. Kalau enggak pasti bibik bakal lapor ke bunda kalau ada yang gak beres di rumah ini. Pikir Anandita yang berbicara sendiri dalam hati.
Anandita menutup Kembali lemarinya yang sudah kosong melompong, lalu melangkah ke kamar Daniel, dan membuka pintu kamar itu. Daniel yang melihat ponsel, hanya menoleh sekilas, memaandang Anandita dan bik Siti bergantian, lalu Kembali focus pada ponselnya.
“Aku akan ke rumah sakit. Ada pasien gawat,” ucap Daniel tanpa melihat Anandita. “Kamu kalau di temani bibik saja tidak apa-apa kan? Sekalian bibik nanti bantu Anandita ganti perbannya ya.”
“Siap, pak dokter… nanti saya yang bersihkan lukanya non Dita.” Bik Siti dengan cepat menjawab suruhan Daniel. Sambil tangannya di letakkan di kepalanya seperti memberi tanda hormat, memandang Daniel dengan percaya diri.
“Kamu….”
Daniel mengangkat kepalanya menatap Anandita yang menggantung ucapannya.
“Kamu gak makan malam di rumah?” Tanya Anandita kikuk.
Sebenarnya pertanyaan Anandita untuk mengalihkan pembicaraan. Ia mau membahas tentang pisah ranjang mereka dan juga bagaimana baaju-bajunya sekarang ada di dalam lemari Daniel. apa ia tidak keberatan kalau bajunya di kamar ini. Tapi bagaimana diam au membahasnya ddengan Daniel, sedangkan si bibik masih berada di kamar dengan mereka.
Sebenarnya Anandita sudah mulai nyaman dengan keberadaan Daniel. setelah menghabiskan bulan madunya yang singkat, tidak sampai dua minggu karena kecelakaan kecil yang di alaminya. Ia merasakan Daniel akan menjaga jarak sekarang. Ia tidak mau itu terjadi. Dasar yah, Wanita memang suka bermain hati. Sudah tau akan tersakiti, tapi berani mendekati.
Mungkin saja Daniel hanya mencari alasan untuk menghindarinya, dan berpura-pura ada pasien gawat yang harus di tanganinya.
“Aku gak tahu pulang jam berapa nanti. Karena banyak nya pekerjaan yang ku tinggalkan,” jawab Daniel.
Anandita mengangguk pelan. Ia sedikit kecewa, tapi berusaha setenang mungkin di hadapan Daniel, ia tidak mau membuat laki-laki itu ke ge-eran dengan sikapnya barusan.
“Jika sempat aku akan telepon kamu, lanjut Daniel.
Tiba-tiba Anandita tidak sengaja tersenyum lebar, langsung menghampiri Daniel dan menggamit tangan suaminya. “Telepon aku nanti yah, biar nanti aku bisa siapin makan malam buat kamu.”
Daniel mengangguk. “Tapi kalau aku pulang kemalaman, kamu makan duluan saja.”
Anandita mengangguk cepat dengan wajah yang imut, seperti anak kecil di beri permen.
Daniel yang melihat wajah manja Anandita, seketika tersenyum.
Suara deheman bik Siti, membuat keduanya menengok ke arahnya.
“Aduh.. aduh…bibik jadi inget pas awal-awal jadi pengantin baru. Kaya perangko, ada lemnya, nempel terus. Sampai bikin bibik pengen jadi muda lagi.” Goda bik Siti.
Tangan Anandita langsung di lepasnya. Karena malu yang di goda pembantunya yang sudah sangat berumur itu.
“Ini kopernya mau di bongkar sekalian gak non? Biar baju kotornya bibik cuci sekalian.” Sambil berjalan menyerbu dua koper di samping tempat tidur.
Anandita menoleh pada Daniel. ingin berbicara sesuatu, tapi ia hanya menggerakan dagunya ke laki-laki itu. Daniel yang melihat hanya diam saja. Ya sudah biar Anandita yang urus masalah koper ini.
“Tidak usah bibik, biar baju-baju ini aku yang urus.” Sambil mengambil alih koper yang mau di buka bik Siti. “ Aku laper banget, kangen masakan bibik, sekarang bibik siapin makanan buat aku yah, gak tau kenapa aku kok mau yang seger-seger gitu.”
Bik Siti melongo mendengar perkataan Anandita yang terakhir. “Ada yang di rasa non? Kaya mual gitu? Cepet juga yah.” Jawab bik Siti yang nyerocos dengan senangnya.
Anandita berdecak. “jangan bikin gosip ya! Sana bibik siapin makanan ajah buatku,” sahut Anandita.
Bik Siti menangguk-angguk senang. Tangannya terangkat dan mengacungkan satu jempolnya kearah Anandita dan melihat Daniel. bik Siti bergegas keluar kamar. Dan menutup pintu kamar itu.
Desah lega terlontar dari mulut Anandita dengan spontan. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dan memandang Daniel yang masih berdiri. “Apa yang harus aku lakukan, bik Siti pasti akan mengadu ke bunda sekarang, karena masalah kamar dan juga ke bingunganku soal lemari pakaian tadi.”
Daniel kembali dengan ponselnya, ia mendengarkan Anandita yang mengoceh tanpa melihat wajah Anandita. “Semua akan terjawab dengan sendiri, biar waktu yang menjawab.”
Kalimat yang singkat itu entah kenapa terdengar seperti perintah, agar Anandita mengingat terus perjanjiab mereka. Ia berusaha agar tidak sakit hati, biarlah di simpannya sendiri rasa kesalnya. “jadi ini gimana?” sambil menunjuk kedua koper mereka.
Daniel melirik sekilas koper yang di tunjuk Anaandita. “masukkan saja ke lemari. Aku harus segera ke rumah sakit sekarang. Kamu butuh sesuatu?”
Anandita mendongak pada Daniel. “Nanti telepon aku ya.”
“Iya,” jawab Daniel tidak bersemangat, kemudian berbalik melangkah ke pintu.
Anandita menatap punggung Daniel menjauh dan menghilang di balik pintu. Seharian ini Daniel tidak melepaskan ponselnya dari dirinya. Apa rumah sakit selalu menghubungi laki-laki itu? Kan mereka tahu kalau Daniel mengambil cuti bulan madu. Atau dia menghubungi Rini, dan menceritakan kalau kami sudah balik ke Bandung. Masih dengan pikirannya sendiri.
Anandita mendesah, kemudian menepuk pahanya sambil menarik napas Panjang. Ia harus cepat-cepat menghapus pikiran buruknya yang bisa mengakibatkan dia tidak bisa tidur. Bukan urusannya, Daniel mau menghubungi Rini atau tidak, walau sakit hati dengan Daniel yang saat sudah Kembali kerumah malah jadi cuek dengan dirinya.
Ia teringat sesuatu, mana foto yang di pajang di kamar ini,kenapa dari tadi ia tidak memperhatikan kamar ini dengan seksama. fotonya Daniel dan Rini. Ia menatap ke tempat kemarin yang ada foto keduanya. Sudah tidak ada. Tergantikan dengan fotonya Bersama Daniel. Foto yang sangat besar, foto pernikahan mereka, dengan Daniel yang mencium kening Anandita saat selesai upacara pernikahan.
Anandita berharap foto itu akan berada di situ selamanya, walaupun ia merasa dirinya sekarang egois.