Mata Anandita masih terbuka, detak jatungnya seirama dengan detik jam. Di tengah gelapnya tempat tidur. Kedua tangannya memeluk erat guling, ia tidur membelakagi Daniel. Yah mereka tidur seranjang akhirnya.
Ia merasa kulitnya berdenyut, seakan ia sedang bertempelan dengan kulit Daniel. padahal mereka hanya satu selimut, sama sekali tidak bersentuhan, hanya perasaan Anandita saja.
Rentetan kejadian malam sebelumnya berputar-putar di kepalanya. Ketika bibir Daniel turun ke bahunya lalu mulai bermain di d***nya. Ia menciuminya di berbagai tempat dan membuat tanda di sana juga. Ia menemukan bagian tersensitif di d*** Anandita dan mengisapnya pelan. Bagian itu mengeras dan membuat sebuah aliran sensasi pada dirinya. Kenangan malam itu tercetak jelas sampai sekarang. Mau tidur saja masih memikirkan yang enak-enak, batin Anandita.
Rasa malu dan mendamba menjadi satu.
Perutnya seakan berdesir mengingat Ketika tangan Daniel menyentuhnya dan membelai tubuhnya, hingga ke bagian intimnya. Spontan tangan Anandita menepuk pipinya, berharap ia bisa melupakan kejadian semalam.
Anandita bergerak gelisah di dalam selimutnya, secara tidak sengaja ia menarik-narik selimut yang ia pakai Bersama Danielsampai ketepi pinggiran ranjang, ia sudah sampai di ujung sedikit lagi mungkin jatuh.
“Jika kamu bergerak seperti itu terus, aku tidak akan bisa tidur Dita.”
Suara Daniel mengagetkannya. Kepala Anandita menengok ke Daniel, tubuhnya tidak dapat menahan keseimbangan sehingga membuat Anandita memekik karena nyaris jatuh kelantai.
Daniel bergerak cepat menangkap tubuhnya hingga berhasil Kembali ke tempat tidur. Selanjutnya tangannya melingkari dan mendekap tubuh Anandita.
Anandita bisa merasakan suara detak jantung Daniel dari posisinya yang sekarang dalam dekapan Daniel. setelah menyadari posisi mereka, Anandita merasakan kedua kakinya yang berada di salam selimut di tindih kaki Daniel. Wajahnya memanas seketika.
“Kamu mau tidur atau tidak bisa tidur?” Tanya Daniel yang makin erat memeluknya. Anandita tidak ingin Daniel melepaskan pelukannya, tapi ia merasa malu.
“Aku…..tidak bisa tidur,” bisik Anandita. “Dingin….” Hanya alasan itu yang terpikirkan olehnya.
Terdengar helaan napas Panjang Daniel. bingung dengan situasi sekarang, Anandita yang hanya memakai baju tidur berbahan tipis , langsung meletakkan kepalanya di atas bantal, menggeliat dan sedikit bergelung untuk mencari posisi nyaman, membuat punggungnya menyentuh tubuh Daniel.
“Kamu mau tidur dengan posisi begini?” Daniel memandangi wajah Anandita. Lengannya memeluk pinggang Anandita, dan karena desakan b****g Wanita itu, tubuh Daniel semakin menempel di punggungnya. Yah Daniel memeluk Anandita dari belakang badannya.
“boleh gak?” tanya Anandita pelan. Anandita berharap Daniel tidak melepaskan pelukannya dari tubuhnya.
“Kalau kamu merasa hangat, dan nyaman yah gak apa-apa, yang penting kita tidur sekarang, aku sudah ngantuk.” Jawab Daniel santai. Ia berbicara tepat di telingan Anandita.
“Makasih… aku kedinginan dari tadi, Cuma gak enak bilangnya ke kamu,” sahut Anandita cepat. Ia berpura-pura menutup matanya.
Harapan Anandita terkabul. Daniel masih mendekapnya. Kedua kaki mereka saling menindih.
Anandita tersenyum dengan mata terpejam. Tangannya tersampir nyaman ditangan Daniel yang melingkari tubuhnya. Dan entah kapan rasa kantuk mulai merasukinya. Anandita sudah mulai terpejam.
***
Daniel sedang berbicara dengan ponselnya. Anandita menghampiri Daniel karena laki-laki itu memanggilnya dengan Gerakan melambaikan tangannya kea rah Anandita. Dengan kaki sedikit perih ia berjalan dengan mengernyitkan dahinya.
“Tadi bunda mencarimu Ketika kamu bermain kano. Dia mau bicara denganmu.” Daniel mengulurkan ponsel ke Anandita.
Rupanya bundanya tidak tahan juga, untuk tidak menghubungi anaknya. Padahal Anandita nyaris yakin orangtuanya sangat Bahagia mendapatkan menantu dokter, sehingga tidak mau mengganggu bulan madunya. Selama ini hanya kedua adiknya yang sering menghubunginya.
“Padahal bicara dengan Daniel saja sudah cukup.”
Kalimat itu terdengar begitu jelas Ketika Anandita menempelkan ponselnya ketelinga. Ia menyandar kan tubuhnya dengan santai di samping Daniel dan tidak menghiraukan protes pelan laki-laki di sampingnya karena kausnya ikutan basah karena tertempel badan Anandita yang hanya pakai bikini yang basah kuyup.
“Jadi bunda Cuma ingin bicara dengan Daniel?” Sambil meringis Anandita bicara agak sinis ke bundanya, karena ia merasa perih di bagian telapak kakinya.
“Ada bun? Tumben telpon, kirain sudah lupa sama anak gadis yang satu ini?” sahut Anandita kesal.
“Kemarin bunda dan mertuamu datang kerumah kalian. Bunda dengar kamu beli perabotan untuk salah satu kamar yang ada di rumah itu.” Ucap bunda penasaran.
Anandita menggigit bibirnya. Ia tahu ibunya termasuk ibu-ibu yang kepo . dan lagi bundanya pasti sudah mencium gelagat yang tidak beres dengan pernikahannya. Apalagi bundanya sudah lebih pengalaman darinya.
Sambil menahan perih, tangan Anandita menyenggol Pundak Daniel agar lelaki itu mendengarkan pembicaraanya.
“Memang aku sengaja siapkan kamar kosong itu untuk jaga-jaga bila ada yang berkunjung. Missal ada yang bertamu ingin menginap, atau bila Seila dan Clarisa datang ingin menginap, kan kamar yang kosong itu bisa di pakai. Selama ini hanya kamar utama yang di isi oleh Daniel. karena memang dia hidup sendiri.” Anandita dengan perasaan takut ketahuan oleh bundanya, kalua dia sedang berbohong.
Mereka sama-sama tegang, menunggu komentar bundanya.
“Ya, kemarin bunda dan mertuamu datang mau lihat-lihat. Kami agak kaget sebenarnya, untuk apa kamu beli perabotan untuk kamar kosong. Padahal kan kalian baru saja menikah.” Ucap bunda penasaran.
Mendengar bunda yang curiga, Anandita langsung membayangkan kalau bunda pasti penasaran lagi. Pasti nanti kalau kami sudah Kembali ke rumah, bunda akan bertanya Panjang lebar. Tidak semudah itu menganggap remeh bundanya.
“Kalian sama-sama sibuk bekerja, meskipun baru menikah. Jadi bunda dan ayah sudah kompromi, kalau kamu akan di bantu bibi siti di rumah kalian. Mulai besok bibi akan pindah kerumah kalian. Buat bantu-bantu kamu bersih-bersih, bantu kamu masak….”
“Bik Siti?!”
Pembantu yang sudah bekerja dengan bundanya ada sejak ia lahir itu akan menemaninya di rumah barunya? Tentu saja pembantu setianya akan tahu rencana Anandita dan Daniel.
“Tapi bik siti akan tidur di mana bun?” tanya Anandita panik. Daniel yang sedari tadi mendengarkan, hanya memandanginya.
“Bunda sudah sediakan perabotan di kamar pembantu untuk bik siti tempati. Dan bik Siti sangat senang saat bunda bilang kalau dia harus bantu kamu di rumah kalian.” Jawab bunda santai.
“Kenapa bunda putuskan sendiri sih ide ini! Kenapa gak bicarain dulu dengan aku dan Daniel?! Dan Daniel belum tentu setuju bun kalau ada orang lain di rumah kami. Dia terbiasa melakukan apa-apa sendiri.”
“Tadi bunda sudah bilang Daniel dan dia setuju saja tuh. Memangnya kamu bisa bersih-bersih rumah? Masak? Pegang sapu saja gak pernah.” Jawab bunda sambal terkekeh.
“Sudah. Bunda telpon kamu Cuma mau bilang ini saja kok. Lanjutkan liburan kalian. Bunda harap kamu bawa berita baik saat kamu pulang dari bulan madu, kamu lama loh disana, selamat bersenang-senang putri bunda yang cantik.” Jawab bunda yang persis menggoda.
Anandita langsung memukul Pundak Daniel dengan muka kesal.
“Kenapa kamu setuju-setuju ajah sih dengan idenya bunda?” tanya Anandita kesal.
“Lah, terus aku harus bilang apa?” balas Daniel santai sambil mengangkat bahunya.
“Bagaimana kita bisa tidur dengan kamar terpisah jika ada bibik dirumah? Aku sudah merencanakan mencari pembantu sepulang dari sini, yang bisa di ajak Kerjasama. Tapi bundaku sudah bergerak lebih dulu.”
Anandita mengangkat kakinya yang terasa makin perih dan bersandar pada Daniel. ia berpikir bagaimana mengelabuhi pembantunya yang sudah ia anggap sebagai keluarganya itu.
Namun ada rasa yang membuat hatinya senang. Ia akan sekamar dengan suaminya, tanpa harus tidur sendiri seperti yang mereka rencanakan sebelumnya. Entah kenapa itu membuatnya Bahagia.
“Bik Siti akan tinggal di kamar pembantu. Ketika malam, dia tidak akan mengecek kamar kita. Kita masih bisa tidur terpisah,” jawab Daniel enteng.
Imajinasi yang tadi ada di kepala Anandita hilang begitu saja, mendengar pernyataan Daniel. Ternyata laki-laki ini tidak memiliki perasaan yang sama dengannya. Anandita merengut. Ia menunduk, memandang Daniel yang mendorongnya agar menjauh darinya.
Berpikir Daniel tidak mau berdekatan dengannya, Anandita spontan menjauh. Sebelum bergeser, ia melihat apa yang melukai telapak kakinya. Begitu ia menunduk, matanya langsung melotot, seketika hatinya mencelos.
Bercak darah sudah menghiasi pasir di sekitar tempat Anandita berada. Ia duduk sambil mengangkat satu kakinya, Anandita melihat kakinya sobek cukup lebar. Banyaknya pasir yang menempel di telapak kakinya membuat ia bergidik ngeri.
“Ahhh…Niel…sakit…!”
Anandita berteriak dengan kencangnya. Membuat Daniel menoleh kesampingnya dan menunduk menatap apa yang dilihat Anandita. Beberapa pengunjung yang mendengar teriakan histeris Anandita menghampiri mereka. Daniel langsung memeluk Anandita yang meringis lemas karena melihat banyaknya darah yang keluar dari telapak kakinya.
“Sakit…!” Ketika Daniel menggendongnya.
“Bagaimana bisa sampai berdarah begini?” Daniel membopong Anandita menuju tiang pancuran terdekat.
“Aku ingat begitu turun dari kano, aku seperti menginjak batu karang, tapi tidak terasa sakit. Hanya perih sedikit,” gumam Anandita ngeri. Ia tidak berani lagi melihat kakinya yang berdarah-darah. Kedua tangannya memeluk leher Daniel dan membiarkan Daniel membantunya.
“Kita cuci dulu kakimu,” ucap Daniel begitu mereka sampai dibawah kucuran air. Orang-orang yang membantu menyalakan keran air. Ia menendang-nendang kakinya agar Daniel berhenti melakukan niatnya.
“Tolong pegangi kakinya!” perintah Daniel pada orang yang membantunya. Tanpa menghiraukan protes Anandita, Dua orang yang memegangi kaki Anandita membawa kakinya ke bawah kucuran air.
“Sakit Daniel!” teriak Anandita.
“Kita harus bersihkan lukanya. Terlalu banyak pasir di kakimu.”
“Bawa aku kerumah sakit saja! Biar di bersihkan disana. Biar di operasi saja. Aku lebih percaya dokter dari pada kamu,” ucap Anandita beruntun di antara isak tangisnya. Ia lupa kalo suaminya seorang dokter.
Ia tidak perduli dengan orang-orang yang mengerumuninya. Ada yang tertawa, ada yang kepo mau lihat saja, ada yang membawakan handuk dan berdiri di samping mereka. Juga ada yang membawakan perlengkapan first aid yaitu karyawan hotel yang melihat mereka tadi.
“Aku kan dokter,” sahut Daniel cepat. “Ini hanya luka kecil. Apa kamu tidak lihat banyak surfer professional disini? Luka mereka lebih parah dari luka kakimu. Kalau kamu kerumah sakit, mereka akan menjahit kakimu, akan lebih sakit daripada ini. Jika sekarang kita tidak bersihkan segera kakimu, akan infeksi nanti.” Sentak Daniel.
Anandita masih meneteskan air matanya dan mendekap erat Daniel.
“Siram lagi lukanya, dan sedikit dibuka lukanya, biar pasirnya keluar.” Mendengar perintah Daniel, imajinasi Anandita membuat dirinya ketakutan. Kakinya terasa dingin. Setengah tubuhnya lemas.
“keringkan dan siram dengan alcohol, lalu tutup dengan kain kasa. Sisa pasir yang masih ada di dalam kakinya, nanti biar saya yang bersikan sendiri setelah kami berada di hotel.” Perintah Daniel santai.
Anandita semakin terisak mendengar semua ucapan Daniel. Ia berteriak Ketika alcohol mengenai lukanya. Daniel sekuat tenaga menahan berat tubuh Anandita, yang hanya mengatakan kalau luka di kakinya hanya hal kecil yang tidak berarti.
Ketika Daniel Kembali membopongnya, Anandita melihat kakinya sudah di perban di antara isak tangisnya, Anandita teringat sesuatu. “Bagaimana nanti aku mandi?”
“Yah mandi tinggal mandi, kok bingung,” Daniel menggendong Anandita keluar Kawasan pantai menuju resort.
“Pasti akan sakit sekali,” gerutu Anandita manja.
Daniel berhenti melangkah dan menatap Anandita kesal.
“Kamu mau menangis lagi? Dan kita dilihatin orang banyak lagi? Ini kan Cuma luka kecil.”
Tangan Anandita terulur menangkup rahang Daniel. lelaki itu menggeleng-geleng agar tangan Anandita terlepas, namun Anandita menahan genggamannya kuat-kuat.
“Biarin, emang ini sakit kok,” bayangin tadi lihat darah banyak saja aku mau pingsan.
Daniel mengelak sekali lagi dan berhasil melepaskan wajahnya dari tangan Anandita. Kali ini dengan gemas ia membalas Anandita.
“Kalau begitu nanti sampai kamar, aku akan lepas perban yang ada di kaki kamu dan siram sebanyak-banyaknya alcohol ke lukamu. Biar semua pasirnya keluar, dan kamu menangis sejadi-jadinya.
Tangis Anandita Kembali pecah sementara Daniel tertawa kecil dan melangkah menuju resort.