Mulai Bersahabat

1348 Kata
Begitu melihat Daniel dari kejauhan, Anandita tersenyum. Tadi ia kesal sampai lupa tidak embawa dompetnya, untung saja dia membawa ponselnya. Ia sengaja menunggu Daniel di depan kafe yang da di pinggir pantai, agar laki-laki itu melihatnya. “Kenapa kamu tiba-tiba pergi begitu saja?” Daniel yang sudah berdiri di hadapan Anandita. “Sudah gak usah marah, sekarang duduk dulu,” balas Anandita. Ia memperlihatkan ponselnya ke Daniel. “Aku cuma jalan-jalan sebentar mencari udara segar.” Aku lupa tidak bawa dompet, hanya ponsel yang aku ambil, mana tau kalau mau mampir kesini,” jawab Anandita santai. Daniel mendesah berat sambil menjatuhkan pantatnya ke kursi di depan Anandita. Ia mengambil buku menu di meja. “Sudah tahu tidak bawa uang, kamu berani kesini dan memesan makanan.” “Aku tahu kamu bakalan datang. Tadinya iseng saja masuk ke kafe ini, ehh.. baru ingat kalau tidak bawa dompet, lagi pula aku mau makan ikan bakar, itu tadi aku lihat ada gambar ikan bakar di depan kafe ini. Sekarang kamu pesan makanan juga yah, sekalian kita makan malam di sini, tempatnya lumayan juga buat santai-santai. Daniel memandang sinis. “Aku menunggumu Kembali. Bahkan kamu gak angkat telpon dan gak balas pesan w******p ku.” Pelayan datang membawakan pesanan Anandita yang tadi sudah ia pesan duluan. “Ya sudah lah, kan sekarang kita ketemu. Buruan pesan makananmu. Aku lapar.” Daniel menunjuk menu yang di inginkannya pada Waiter yang masih berdiri di sampingnya. Setelah waiter mencatat pesanan Daniel dan meninggalkan mereka. Barulan Daniel menatap Anandita lagi, yang terlihat sudah sangat tergiur ingin melahap makanannya. “Kamu bawa dompetkan?” Tanya Anandita tegas. “Dompetnya aku bawa, tapi uangnya tidak ada,” “Hah…..?! Anandita mendongak melihat Daniel. Spontan Daniel tertawa melihat wajah Anandita yang terkejut dengan ucapannya. “Kamu bercanda, kan?” Anandita yang memandangi wajah Daniel yang kalua di lihat sangat tampan itu, seperti menggodanya. Daniel mengambil dompet dari celananya, lalu melemparkannya ke atas meja “Kamu kan Cuma suruh aku bawa dompet, dan lagi aku gak punya uang cash,” jawab Daniel santai. Reflek Anandita langsung meraih dompet Daniel. Ia membuka dompetnya dan menemukan ada foto Daniel dan Rini di dalamnya. Anandita pura-pura tidak menghiraukannya. Anandita membuka lipatan kecil yang ada di dalam dompet itu. “Sepertinya ada uang di dalam situ.” Daniel memperhatikan Anandita menarik dua uang kertas dari dalam dompetnya. “Sepulu ribu?!” Anandita melongo menatap Daniel kesal, bagaimana mungkin laki-laki ini tidak ada uang di dalam dompetnya. “Bagaimana kita bayar ini makanan yang sudah di pesan, kamu juga memesan makanan,” “Aku memang tidak terbiasa bawa uang cash, Aku selalu bawa credit card Tempat ini sepertinya bisa pakai kartu untuk pembayarannya.” Daniel menunjuk symbol pembayaran yang di pasang di meja casier yang tidak jauh dari mereka duduk. Anandita berdecak kesal danmelemparkan dompet Daniel ke meja sebelum laki-laki itu memasukkan dompetnya Kembali. “Kamu membuatku kaget. Kenapa kamu tidak membawakan dompetku saja?!” omel Anandita sambal bersandar dan melipat tangannya. Daniel yang duduk dengan tangan yang menumpukan tangannya di dagu menatap Anandita dengan santai nya. “Kamu tadi tidak suruh aku bawakan dompetmu, kamu hanya suruh aku datang secepatnya ke tempat di mana kamu berada, dan bawa dompet, itu saja kan. Ya sudah sekarang cepat makan, nanti keburu dingin jadi gak enak kan.” Jawab Daniel santai. “Aku tidak terbiasa makan di lihatin sama orang yang gak ikut makan denganku.” “Pengunjung lain juga melihatmu makan, orang-orang yang lewat juga lihat kita makan.” “Maksudku yang semeja denganku. Mana bisa aku makan, sementara teman semejamu tidak makan, atau hanya ngelihatin kamu makan? Itu tidak sopan tahu!” Nada bicara Anandita tinggi. Mau makan ajah harus kesal dulu, batin Anandita. Ia teringat sesuatu. Ohh….kamu pernah tinggal di luar negri yah. Sekolah di sana membuatmu lupa aturan makan di sini.” “Aku terbiasa makan sendirian,” Jawab Daniel santai. Alis Anandite terangkat. Tertarik mendengar cerita Daneil. Ia menanti cerita lanjutannya dan ingin tahu bagaimana kehidupan laki-laki ini sebelum Anandita mengenalnya. “Aku terbiasa tinggal sendirian, dan terbiasa mengurusi kebutuhan ku sendiri, tinggal di negri orang membuatku harus mandiri tidak bergantung dengan orang lain. Jauh dari sanak keluarga. Hari-hari di asrama dan hanya belajar yang ku lakukan. Aku memanfaatkan waktu ku hanya untuk belajar, mana sempat bersenang-senang.” “Lalu bagaimana kamu makan dengan Rini?” Tanya Anandita penasaran. “Kan kalian pacarana lama. Masa tidak pernah makan Bersama?” Daniel mengambil buku menu dan memukulkan pelan ke kepala Anandita, sambal tersenyum. “Kamu yang mulai sebut Namanya yah, sahut Daniel gemas terdengar di telinga Anandita, membuat Wanita itu tertawa geli. “Kamu tidak ingin aku mengungkitnya. Aku hanya penasaran bagaimana keseharian suamiku.” Anandita menangkap buku menu itu dan mengembalikannya ke meja. “Jawal dokter tidak sebebas jadwal anak pengusaha seperti kamu. Jika memang di jadwalkan libur, atau mau makan Bersama kami lakukan sesingkat mungkin, dan seefisien mungkin yang kami bisa.” “Seperti makan sambal berdiri? Sambal jalan?” Tanya Anandita gemas degan mata yang di kerjap-kerjapkan. Ia mencondongkan badannya dan memandang Daniel dengan wajah lucunya. Dalam suasana seperti ini membuat Anandita nyaman, ini seperti dirinya yang hilang beberapa hari yang lalu. Daniel tersenyum melihat tingkah Anandita. Dan membuat Anandita menjadi senang hanya melihat wajah Daniel yang kaku jadi tersenyum. “Jika bisa ku lakukan sambal buang air kecil, mungkin akan ku lakukan.” Ucap Daniel datar. Anandita merasa nyaman, Daniel sudah bisa bercanda dengannya, membuat kecanggungan di antara mereka menghilang. Tawa Anandita pecah, mendengan candaan Daniel, seketika membuat Daniel menggerakan bbirnya untuk tersenyum. Anandita mengentakkan tangannya ke meja. “Kenapa sih kamu selalu bercanda dengan ekspresi kaku begitu? Kamu harus membiasakan tertawa lepas seperti yang aku lakukan.” “Tawamu sudah mengekspresikan sikapku. Aku tidak perlu berubah jadi sepertimu. Karena wajah kaku ku sangat di butuhkan di dunia ke dokteran.” “Yah benar, kamu kaku banget.” Jawab Anandita. “Cobalah lihat cara kerjaku di rumah sakit dan di ruang operasi, juga akhir Bahagia pasien yang sembuh atau akhir sedih mengharukan Ketika kita harus merelakan pasien pergi. Belum lagi dari keluarga pasien, ada yang mendukung pengobatan, ada yang tidak memiliki dana, ada juga yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang terdekatnya tidak dapat di sembuhkan. Nah, untuk semua hal itu aku memerlukan wajah yang kaku seperti ini.” Daniel menunjuk mukanya. Bayangan berbagai kisah yang ada di rumah sakit. Membuat Anandita berpikir di benak Anandita. Ia terdiam , ia tidak bisa membayangkan perasaan dokter saat menghadapi berbagai jenis orang sakit setiap harinya. Tiba-tiba Anandita bisa melihat sisi Daniel, sisi yang membuat Anandita terkesima. Tangannya spontan meraih pipi Daniel. Sambil menatapnya dalam-dalam. “Tapi di depanku jaangan jadi kaku dan datar yah,” ucap Anandita sungguh-sungguh. Mereka berpandangan selama beberapa detik. Anandita menyadari perubahan ekspresi wajah Daniel yang terkejut mendengar pernyataannya. Ia juga terkaget dengan ucapannya sendiri. Tangan yang sudah terlanjur memegang wajah Daniel beralih menepuk-nepuk pelan pipinya. Sambal berusaha untuk terkekeh agar Daniel berpikir bahwa dirinya bercanda, Anandita menarik tangannya menjauh dengan perlahan. Detak jantungnya yang berdetak dengan cepat membuat wajahnya merona karena malu dan sudah tentu ia tidak berani lagi menatap lurus ke mata Daniel. Dengan salah tingkah Anandita meraih sendok dan garpu di piringnya. “Sebaiknya kita makan ini dulu. Anandita mengisi sendoknya dengan ikan bakar dan nasi dari piringnya mengarahkan ke Daniel. “Buka mulutmu. Aaaaa …!” Ia membuka mulutnya sendiri lebar-lebar. Sedangkan Daniel memundurkan kepalanya ke belakang. “Kalau kamu gak mau ya sudah aku makan sendiri.” Ketika sendok sudah hampir menyentuh bibirnya, tangan anandita di Tarik Daniel yang tiba-tiba mencondongkan badannya ke depan dan menggigit cepat makanan yang ada di sendok yang masih dalam genggaman Anandita. Sedangkan dirinya hanya menganga karena tangannya sudah beralih di genggam Daniel. Dengan cepat Daniel mengunyahnya, dan langsung melepaskan tangan Anandita. Lelaki itu menyeka mulutnya yang sedikit belepotan kecap yang tertempel di ikan bakar tadi. Daniel memandang Anandita dan berusaha mengatakan sesuatu, meski mulutnya penuh. “Senang?!” Daniel sambil mengunyah susah payah. Rasa Bahagia langsung menjalari hati Anandita. Senyumnya lepas dan ia mengangguk dengan cepat. Ia melupakan rasa malunya dan dengan antusias menyuapi Daniel lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN