Anandita sadar ini bukan mimpi, ia sangat terlena dengan sentuhan yang di berikan Daniel semalam. Anandita mendesah berat. Sekujur tubuhnya sakit semua, apalagi bagian bawah inti tubuhnya.
Anandita menggeliat, kelopak matanya terbuka perlahan, kemudian langsung terduduk di tempat tidur. Tangannya begitu saja menarik selimut, menutupi d***nya yang tadi sempat terekspos. Kepalanya berputar, masih merasakan pening, sambil mengedarkan pandangannya ke kamar, melihat begitu berantakan kamar ini, kasur yang seprainya sudah mencuat kesana-kemari, dan pakaian mereka yang sudah berserakan dimana mana, teringat kejadian semalam membuat ia merona.
Tapi dimana Daniel, disamping kasurnya sudah tidak ada laki-laki itu.
Di kamar ini hanya ada dirinya, dengan keadaan tanpa busana, dan kamar yang berantakan. Anandita mulai memunguti pakaian yang semalam ia Dan Daniel gunakan, yang sudah bercecer di mana-mana, dan menaruhnya di pinggir kamar mandi, biar nanti ia akan memesan untuk di londry saja pakaian mereka.
Malas memikirkan Daniel yang sekarang menghilang dari kamar, Ia mulai beranjak ke kamar mandi, berendam di bathtub dengan air hangat bisa membuatnya agak mendingan. Dengan jalan tertatih karena di bawah sana masih terasa sakit sekali. Ketika air Bathtub sudah terisi, Anandita mulai beranjak masuk ke dalam air yang sudah di stel kehangatannya, Ia memperhtikan shower yang semalam ia dan Daniel di dalamnya, potongan kejadian semalam di tempat itu melintas di kepalanya, membuat ia mengerang keras. Betapa malunya ia mengingat bagaimana ia mendesah dan menggeliat di dalam dekapan Daniel.
“AAhhh! Malunya!!” teriak Anandita, sambil menutup mukanya dengan ke dua tangannya.
Xxxxxxxxxxxx
Anandita mondar mandir di kamarnya, kesal karena Daniel belum juga Kembali dari Anandita bangun tidur, sampai ia sudah rapih dengan pakaiannya. Sambil berkacak pinggang ia menatap pemandangan yang ada di luar kamarnya yang terlihat sangat indah, hamparan pantai yang indah.
Laki-laki itu benar-benar keterlaluan, bisa-bisanya ia menghilang setelah kejadian semalam. Malam Panjang yang panas.
Terdengar pintu kamar ada yang mengetuk, seorang pelayan hotel yang membawakannya sarapan, padahal ia tidak memesan makanan, pikirnya.
“Maaf saya mengganggu. Tadi suami ibu memesan sarapan. Dan juga mau ambil laundry.”
Anandita mengangguk, dan mempersilahkan karyawan hotel masuk.
"Apa kamu lihat Kemana suami saya?”
Karyawan Wanita itu menatap Anandita bingung.
“Maaf, saya tidak tahu kemana suami ibu, tadi sih dia hanya pesan sarapan dan saya di suuh antar ke kamar dan sekalian ambil loundy.” Ada lagi yang di perlukan bu? Tanya karyawan hotel itu dengan sopan.
“Tidak terimakasih,” jawab Anandita.
“Kalau begitu saya permisi, kalua perlu sesuatu ibu bisa telpon ke resepsionis, saya permisi, bu.” Pamit karyawan hotel itu sambil menutup pintu lalu pergi.
Anandita menghampiri sarapannya, ada dua nasi goreng dengan telur dadar diatasnya dan dua jus jeruk yang di taruh di atas meja. Anandita mulai memakan sarapannya, ia memanang sarapan Daniel yang masih utuh. Kemana laki-laki itu, dia yang pesan sarapan, tapi belum Kembali juga. Apa dia malah sarapan di luar resort?batin Anandita.
Menyesalkah Daniel atas kejadian semalam, tapi ia menikmatinya juga, hingga minta nambah, pikir Anandita.
Apa jangan-jangan semalam Daniel tidak ingat kalau ia melakukannya denganku semalam, jangan-jangan yang dia ingat melakukannya dengan Rini tunangannya itu, kita kan semalam sama-sama mabuk, ahhhh! masa sih, dia gak ingat kalau melakukannya denganku, aku kan sudah di virginin sama dia, apa dia mulai sadar kalau yang di lakukannya dengan ku semalam adalah tidak benar, Anandita bertanya sekaligus menjawab sendiri apa yang di pikirannya.
Sangking keasikannya Anandita makan, sambil melamun sendiri dengan segala tanya jawab yang dia pikirkan, ia sampai tidak sadar kalau Daniel membuka pintu dan berdiri di depan Anandita.
“Kok melamun?” Suara Daniel mengagetkan Anandita.
“Ya ampun,” Anandita sampai menjatuhkan sendoknya sangking kagetnya. Orang yang sedari tadi ia pikirkan ada di depannya, sambil memegang d*** ia merasakan jantungnya berdetak kencang.
“Kamu ngagetin aku tau gak!” ucap Anandita sambil berdiri yang kini balik menatap Daniel.
Ia dan Daniel saling tatap. Keduanya sama-sama terdiam beberapa detik. Ada rasa hangat yang dia rasakan, dan ya ampun memikirkannya jadi merona.
Anandita mengingat kejadian semalam ia mendesah semalam Ketika menggantungkan kedua lengannya di leher Daniel. Dan jangan lupa, ia di gendong ala koala manuju Kasur. Dengan salah tingkah Anandita menggeser dirinya keluar kamar menghadap ke pemandangan yang ada di depan kamar mereka.
“Kenapa baru Kembali, itu sarapannya sudah mau dingin,” ucap Anandita sambil berbalik menegok Daniel. Daniel yang masih berdiri menatap Anandita membuat Wanita itu salah tingkah . Ia tiak snaggup memandang lurys ke mata Daniel, karena bayangan semalam muncul selalu dalam pikirannya.
Sangking salah tingkahnya Anandita mencoba minum jus jruk yang ada di meja tadi dan meneguk dengan cepat isinya se akan tenggorokannya sangat kering, sampai-sampai ia tersedak.
Daniel memperhatikan gerak Anandita. Daniel ikut duduk di sebelah Anandita yang ditengah-tengahnya meja tempat sarapan mereka berada. “Pelan-pelan minumnya”, ucap Daniel perhatian.
Anandita yang mendengar ucapan Daniel seakan ia perhatian terhadap dirinya.
Mau bilang apa Daniel sekarang, gelagatnya tidak terbaca, pasti ia sengaja menghindariku tadi mangkanya dia tadi pagi-pagi sekali sudah pergi, batin Anandita.
Sangking kesalnya dengan pikirannya sendiri, Anandita menaruh gelas yang sudah tandas itu dengan sedikit keras, untung tidak pecah.
“Emmm, yang tadi malam…” Daniel membuka pembicaraan.
“Kita mabuk,” potong Anandita cepat, tetap tidak sanggup menatap mata Daniel. Ia memandang ke bawah saat berbicara.
Ia focus dengan jari-jarinya, seolah-olah jarinya penuh dengan kotoran kuku, sambil melirik sekilas kea rah Daniel yang menunduk.
“Yah… Kita mabuk,” balas Daniel pelan.
“Dita…aku…”
“Kamu mau bilang kamu menyesal kan?” potong Anandita cepat tanpa babibu. Ia sakit hati jika Daniel menyesali perbuatan mereka semalam. “ Kenapa aku bangun kamu udah gak ada? Apa kita harus pulang ke Bandung sekarang?dan mengakhiri bulan madu bohongan ini,” Anandita berbicara dengan menggebu-gebu hingga ia ngos-ngosan, matanya sudah berkaca-kaca, hampir saja air matanya akan tumpah. Yang dengan terang-terangan Anandita menatap wajah Daniel.
Wajah Daniel Nampak terkejut, mendengar yang di ucapkan Anandita, apalagi ia menatap mata Wanita disampingnya ini sudah
berkaca-kaca. Anandita berharap Daniel tidak mengatakan hal yang bisa membuat ia sakit hati.
“Aku tidak berpikir demikian,” jawab Daniel perlahan.
“Bagaimana mungkin aku memutuskan kita untuk balik ke Bandung sekarang, sedangkan paket liburan ini dua minggu, sayang dong buat ninggalin tempat yang indah ini secepat itu.” Jawab Daniel cepat.
“Kenapa kamu gak ada di samping aku, saat aku terbangun?” ucap Anandita lemah yang menatap Daniel dengan lembut.
“Tadi pagi-pagi sekali perutku keroncongan, aku tidak tega untuk bangunin kamu, maka dari itu aku pesan sarapan untuk kita berdua, sekalian saja aku berjalan-jalan sebentar di sekitar resort udara pagi hari di sini sangat sejuk dan pemandangannya sangat indah.” Jawab Daniel yang menyandarkan punggungnya agar lebih santai.
Anandita memperhatikan Gerakan tubuh Daniel, ia berpikir bagaimana mungkin laki-laki ini bisa sesantai ini, sementara dirinya terlihat kesal.
Tanpa berkata-kata lagi, Daniel duduk tegak, meraih piring sarapannya dan melahap makanannya dengan tenang dan terlihat kelaparan.
“Kamu lapar?” tanya Anandita.
“Tentu saja aku lapar, aku memuntahkan semua makanan semalam yang aku makan. Aku tidak terbiasa mengkonsumsi minuman beralkohol.” Daniel akhirnya makan sambil menatap Anandita.
“Aku tidak ingat kalau kamu muntah semalam,” ucap Anandita pelan.
“Aku juga tidak begitu ingat kejadian semala,” ucap Daniel yang sama pelannya seperti Anandita. Daniel berdeham agak sedikit kaku dengan pebicaraan mereka sekarang.
Anandita merasa tenggorokannya serak dan menegus jus.
“Itu gelasku….”
Anandita hanya mengangkat bahu santai, tetap menyesap.
“Aku tidak mengingat banyak hal semalam. Mungkin…”
Pasrah melihat Anandita meminum jus miliknya, Daniel hanya mengangguk kecil dan Kembali memakan sarapannya yang tinggal setengah lagi. “Mungkin…” timpal Daniel.
“Mungkin tidak perlu di ingat, lupakan saja,” jawab Anandita pelan.
Sebenarnya dalam hati Anandita berharp sebaliknya, dia mau Daniel juga mengingat apa yang terjadi semalam saat mereka mabuk. Namun rasa gengsi Anandita sangat besar untuk mengugkapkan perasaannya.
“Jadi kamu pergi kemana tadi?” pertanyaan yang sebenarnya tadi sudah ia tanyakan, hanya untuk mengalihkan kecanggungan antara mereka. Dia tidak mau mendengar perkataan Daniel yang akan menyakiti perasaannya, seperti Daniel menyesal atas kejadian semalam atau laki-laki itu akan meminta maaf atas kesalahan mereka.
“Aku tadi jalan-jalan sebentar. Aku tidak bisa tidur lagi.”
Seketika ada rasa canggung di antara mereka. Anandita hanya mengangguk-angguk, memutar bola matanya, memikirkan bahan pembicaraan apa lagi yang bisa di alihkan. Sementara Daniel yang sudah menghabiskan makanannya.
Sesudah menyelesaikan makanannya, Daniel berdeham dan memandang Daniel santai. “Sepertinya kamu terbiasa minum dan mabuk yah.”
Anandita menarik napasnya, kemudian memutar bola matanya dengan jenuh. Bagaimana mungkin laki-laki di depannya ini yang semalam membuatnya b*******h dan mendesaj hadi berubah menyebalkan lagi.
“Maaf aku tidak bermaksud menyinggungmu. Hanya….”Daniel mengangkat bahu dan menuju wastafel untuk membersihkan tangannya yang sedikit terkena minyak saat makan nasi goreng tadi. “Kamu mengejutkanku, kamu memesan banyak minuman semalam, dan kamu seperti sudah terbiasa melakukannya.”
Aku baru saja kau menghabiskan malam pertamaku denganmu, tidak bisakah kau menjaga mulutmu menyinggung perasaanku sekarang! Anandita ingin meneriaki kalimat itu, namun tidak keluar dari mulutnya. Ia terlalu gengsi untuk menyatakannya.
Dia tidak menyalahkan Daniel atas kejadian semalam, karena memang dia yang salah membuat mereka mabuk dan melakukan semuanya tanpa mereka sadari akan jadi canggung seperti sekarang. Anandita membayangkan bagaimana mereka menjalani hari-hari selama mereka di resort ini. Dengan perasaan canggung di antara mereka, membuat Anandita ingin menangis tapi dia tidak mau memperlihatkannya ke Daniel.
Anandita mendorong kursi ke belakang yang ia duduki dan berdiri tegak. Ia memandang Daniel dengan angkuh. “Ini zaman modern, lumrah kok Wanita muda sepertiku minum-minum,” ucap Anandita dingin.
Dengan perasaan kesal Anandita pergi meninggalkan Daniel yang masih di berdiri di tempatnya, dengan mata yang sudah memanas dan sudah hampir mau menangis, ia bergegas keluar melewati Daniel yang masih setia mendengarkan kekesalan Anandita. “Yah…ini zaman modern, apalagi setelah kita bercerai dan jika aku menikah lagi dengan orang lain. Suami ku akan curiga bila tau aku masih perawan. Ucap Anandita yang langsung membuka pintu dengan kasar dan keluar membantingnya.