Sebenarnya Nara tidak begitu peduli akan orang lain. Selalu sendirian sejak kecil sudah menjadi hal lumrah. Masih basah di ingatannya ketika dulu waktu kecil selalu sendiri tanpa teman bermain. Nara sekarang beruntung, setidaknya semenjak masuk bangku senior high school ada Sera yang menemaninya. Dulu tidak.
Nara kecil tumbuh dan dibesarkan di keluarga kakek. Mamanya lebih sering bepergian ke luar negeri untuk urusan bisnis. Dulu, Mama hanya akan pulang tiga kali dalam sebulan. Nara sembilu mengingatnya.
Didikan kakek seperti militer. Nara dilarang menangis atau akan berujung terkunci dibalik pintu gudang. Merengek dan berujung melihat satu persatu kelinci atau kucingnya dijual paksa. Kakek seperti titisan iblis, pikir Nara sewaktu kecil.
Nara adalah sendok emas, keturunan darah biru. Selalu dijaga dengan baik dan harus mendapat penghormatan yang layak dari masyarakat kelas bawah. Nara dilarang bermain dengan anak yang tidak sederajat dengannya bahkan dari ia masih usia kanak-kanak. Membuatnya tumbuh terkekang segala aturan. Hingga kini imbasnya. Terbelenggu dan susah bersosialisasi.
Sayangnya kisah cinta Nara tak jauh berbeda. Cinta pertamanya tak pernah berlabuh. Hanyut sebelum mendarat ke tepian.
Kali ini Nara akan membuat sedikit perubahan. Memberontak tidak masalah bukan? Lagipula usia remaja memang normal jika selalu menyalahi aturan.
Sepulang sekolah Nara membuat Pak Kim–sopir yang selalu mengantarnya, untuk bergegas pergi ke salon di pusat kota. Nara akan memulainya sekarang. Merawat tubuh.
Berbagai macam perawatan dia dapatkan sejak kemarin mengunjungi dokter kecantikan. Sekarang ia akan merubah gaya rambutnya. Sedikit menyala tentu tidak menyalahi aturan bukan?
Setelah hampir dua jam, Nara melangkahkan kaki dari salon. Membuat pak Kim yang duduk di bagasi mobil hampir terjatuh dibuatnya. Nonanya adalah gadis rumahan dan selalu takut untuk tampil, lihatlah sekarang lipstik menyala yang ia pakai. Warna rambut hijau mint yang menutupi sebelah poninya. Apa Nyonya Kwon di rumah tidak serangan jantung melihat putrinya ini?
Nara meminta pak Kim mengemudikan mobil membelah jalanan Gangnam menuju swalayan terbesar. Berakhir pak Kim yang kerepotan membawa setiap kantong belanja yang dibeli Nara. Uang jajannya yang selama ini hampir tidak pernah terpakai dan menumpuk di rekening, ia gunakan untuk berbelanja banyak hal.
Mulai dari sepatu, tas, baju, hingga membelikan pak Kim sepasang pakaian mewah. Kecil bagi Nara.
Telepon genggamnya berbunyi. Tanda pesan singkat telah masuk. Tertera nama Sera di layar.
Sera : Lo kemana? Nyokap Lo telepon gue dari tadi, gue jawab Lo main kesini supaya beliau nggak khawatir.
Nara membalas singkat bahwa ia sedang di mall. Mengucapkan terimakasih sebelum menutup layar. Tak terasa malam kian gelap. Mereka akhirnya berjalan pulang ke rumah.
Benar saja. Bagai sudah diramalkan tujuh ratus tahun sebelumnya, sang Nyonya Kwon duduk dengan menyilangkan tangan di ruang tamu. Matanya membelalak melihat riasan tebal Nara serta warna t*i ayam yang menempel di rambutnya. Bukannya berteriak marah, Nyonya Kwon berucap dengan santai.
“Besok kalau shopping, Mama diajak ya. Mama juga bosen di rumah.”
Nara yang sudah menyiapkan gendang telinga untuk dimarahi berakhir ternganga. Benarkah itu Mamanya? Apakah ia tidak salah makan hari ini? Aneh sekali.
Keesokan harinya, Nyonya Kwon bangun pagi sekali. Sibuk berkutat di dapur. Tv besar yang menggantung di dinding dapur menyiarkan tayang ulang acara survival show kemarin. Acara itu sangat booming di Korea saat ini. Beberapa wanita hebat yang bertarung di atas ring dance demi merebutkan sebuah trofi. Mamanya suka, tapi Nara tidak.
“Eh? Udah bangun?” Melihat Nara yang sudah rapi duduk di ujung meja makan membuat Nyonya Kwon tertegun. Suatu keajaiban dunia sang putri bangun sepagi ini.
Nara enggan menjawab. Tertarik mengamati pergerakan mamanya didepan wajan yang mengepulkan asap. Celemeknya kotor oleh tepung, beberapa potong sayuran yang tidak terpakai mengotori dapur. Kentara sekali bahwa beliau tidak pernah memasak. Bahkan Nara lupa, kapan terakhir kali Nyonya Kwon memasak. Lupa bagaimana rasanya, lupa apa masakan favorit yang pernah beliau masak.
Sedangkan papanya mungkin sudah berangkat kerja pagi buta tadi, atau bahkan tidak pulang dari kemarin. Keluarganya memang sesibuk itu.
“Mau makan apa?” suara lembutnya memecah keheningan. Bagaimanapun tidak akan enak rasanya saat sarapan berdiam diri.
Melihat Nyonya besar yang kesulitan, Nara memilih mengambil alih tumisan yang setengah jadi. Meski bentuknya tampak kacau dengan beberapa potongan yang terlalu besar, saat Nara mencicipinya ternyata lumayan enak. Mungkin karena bakat mama yang tidak diasah setelah bertahun-tahun lamanya, jika setiap hari maka memasak pasti masakannya lebih lezat daripada restoran bintang lima.
Nyonya Kwon memilih menyiapkan sehelai roti dengan segelas s**u dimeja.
“Para asisten pada ambil libur.” Nyonya Kwon duduk dengan tenang, mengamati Nara yang kini sudah menyiapkan dua piring nasi goreng buatannya tadi.
Nara hanya menggeleng kecil. Pantas saja rumah sangat sepi.
“Rambut adek bagus. Mama mau warnain kayak gitu biar mirip Yeji. Tapi Papa nggak ngebolehin.” Air mukanya yang semula ceria berubah sendu.
“Nggak usah izin sama Papa.”
Meletakkan dua piring ke meja, Nara menempati kursi diseberang. “Nara juga nggak izin.”
“Tapi ‘kan beda.”
Nara mengangguk. Benar juga.
Hening beberapa saat. Membiarkan keduanya khidmat menikmati nasi goreng yang sangat pedas. Kedua wanita itu pecinta cabai.
“Misal ditambahin kimchi bakal enak ya?”
“Nah iya, Ma. Makanya Nara pikir kayak ada yang kurang ternyata itu.” Gadis itu menimpali.
“Adek. Kalau mama tiap hari masak, adek bakal suka nggak?”
Nara menghentikan mulutnya yang tengah mengunyah makanan. Benarkah? Tunggu apakah ia tengah salah dengar?
“Mama serius.” Seakan menjawab tanya dibenaknya, sang Mama menimpali.
“Suka.”
“Mama juga mau kursus masak mulai besok.”
Nyonya Kwon memperlihatkan gurat bahagianya. Senyumnya mengembang tinggi, mendesak pipinya yang kian keriput dimakan usia.
“Oh iya, Mama baru ingat.”
Nara mendongak. Menunggu sang Mama berbicara.
“Sera kenapa jarang main kesini? Kalian nggak lagi berantem, kan?”
Nara harus menjawab apa?
***
Sekolah masih sepi. Baru pekerja kebersihan terlihat menyapu dedaunan yang menutupi tanah. Matahari belum muncul sepenuhnya, masih bergelung malu dibalik awan. Terlihat satu dua siswa yang memasuki pelataran sekolah. Nara tidak kenal, selain karena matanya yang minus, Nara hanya mengenal teman sekelasnya. Itupun tidak semuanya.
Nara tidak berani menjejakkan kakinya ke lantai tiga, tempat kelasnya berada. Ada rumor yang menyebar luas bahwa lantai itu berhantu. Yang jelas Nara takut sendirian didalam kelas.
Maka kakinya memutuskan untuk melangkah menuju lapangan belakang gedung sekolah. Sebenarnya lapangan ini jarang digunakan, selain karena fasilitasnya yang tidak sebagus lapangan baru, jaraknya yang terlalu jauh dari gedung lainnya membuat lapangan ini sepi. Nara duduk di tribun. Biasanya dia akan duduk disini sampai sore hari, membawa novel tebal sebagai alasan. Padahal hanya ingin melihat Aron dan anak lainnya bermain basket hingga petang disini.
Sekolah sekarang tidak begitu menyenangkan. Meskipun dulu tidak ada yang tahu perasaannya terhadap Aron, setidaknya Nara masih punya semangat untuk menyambut hari. Sekarang tidak ada.
Langkah kaki yang teredam kicauan burung mengalihkan perhatian Nara. Sampai kaki itu berdiri tepat dibelakangnya, Nara masih sibuk mengais udara segar sebanyaknya seraya mendengarkan alam. Menata pikirannya yang selalu kacau.
Aron duduk tepat di satu undakan dibelakangnya. Sebotol soda ia genggam erat. Tanpa sadar mengamati Nara. Gadis itu mengeluarkan head seat dari dalam tas, sedikit terkejut ketika musik dinyalakan, volumenya bahkan bisa Aron dengar jelas.
Aron menenggak sodanya. Sekali tenggak, dua kali. Hingga tandas. Matanya masih tak luput dari Nara yang bersenandung kecil mengikuti irama lagu. Kepalanya bergerak sesuai ketukan nada. Sesekali tertawa kecil ketika nada tinggi tak bisa ia capai. Aron menarik sudut bibirnya.
Memutuskan untuk menundukkan kepalanya hingga kini sama rata dengan kepala Nara. Kepalanya terjulur di samping telinga Nara, turut mencuri dengar lagu yang disenandungkan.
Nara yang mulai merasa aneh menoleh ke kiri. Betapa terkejutnya menyadari Aron yang sudah menunduk dan hampir bertabrakan kepala dengannya. Nara terjungkal. Tasnya jatuh ke tanah sementara dirinya berusaha menormalkan degup jantung.
“Lo? Ngapain?” Reflek Nara berteriak.
Aron mengedikkan bahunya. Seperti bukan masalah besar. Sementara Nara yang salah tingkah dan kaget diwaktu bersamaan merasa nyawanya sudah ditarik hingga ubun-ubun.
Aron hari ini memakai seragam dengan seluruh kancing terbuka. Tidak dimasukkan ke celana. Kaos putih bertuliskan 1975 mematut setiap lekuk badannya. Rambut undercut nya tidak tersisir rapi atau bahkan tidak disisir sama sekali. Tidak terlihat seonggok tas, hanya sebuah pulpen disaku kemejanya. Sementara sudut bibirnya sedikit membiru, ada setitik bekas darah di sana.
Nara penasaran, tapi tak berniat bertanya. Toh, Nara ini siapa? Cuma gadis yang beberapa hari lalu ia tolak, kan?
“Nggak baik pagi-pagi duduk disini sendirian.” Aron menyandarkan tubuhnya kebelakang. Membuat kedua tangan sebagai tumpuan. Wajahnya menatap matahari yang kian merangkak naik. Perlahan matanya menutup. Menikmati setiap guyuran cahaya yang menerpa wajahnya.
“Iya.” s**l. Nara bahkan terlalu kaku untuk berbicara.
Nara menyembunyikan tangannya yang gemetar ke belakang punggung.
Tuhan, jika benar Aron adalah jodohnya maka dekatkanlah. Tapi jika bukan, maka jadikanlah Aron jodohnya.
Beberapa murid menatap mereka kian sangsi. Bahkan ada sebagian yang menatapnya tak percaya. Bagaimanapun, meskipun Aron adalah begajulan yang bermasalah, dia tetaplah face of the school. Dia adalah idola para gadis. Bukan hanya Nara, banyak gadis yang menggilai Aron. Dan kini mendapati Aron bersisian dengan Nara yang dikategorikan sebagai anak cupu, semuanya mendadak kelu.
Apalagi berita bahwa Aron masih mengencani Sera tersebar seantero sekolah. Dan fakta bahwa Sera dan Nara adalah sahabat karib membuat gosip kacangan kian berhembus dari satu ke lainnya tanpa perintah. Nara menjadi trending topic.
Tapi kegelisahan hanya nampak pada Nara. Nyatanya, Aron bahkan tidak sama sekali peduli.
Aron yang berjalan satu langkah didepannya berhenti mendadak. Menunggu Nara untuk mensejajari langkahnya. “Kayak anak ayam ngintil di pantat.” Ucap Aron.
Nara sendiri bingung. Aron bagai dua orang yang berbeda, hari ini akan sangat usil dan akrab dengannya. Sementara beda sangat judes dan terlihat alergi terhadap Nara.