6. Misi Pertama

1378 Kata
Nara menyembunyikan tangannya yang gemetar ke belakang punggung. Tuhan, jika benar Aron adalah jodohnya maka dekatkanlah. Tapi jika bukan, maka jadikanlah Aron jodohnya. Beberapa murid menatap mereka kian sangsi. Bahkan ada sebagian yang menatapnya tak percaya. Bagaimanapun, meskipun Aron adalah begajulan yang bermasalah, dia tetaplah face of the school. Dia adalah idola para gadis. Bukan hanya Nara, banyak gadis yang menggilai Aron. Dan kini mendapati Aron bersisian dengan Nara yang dikategorikan sebagai anak cupu, semuanya mendadak kelu. Apalagi berita bahwa Aron masih mengencani Sera tersebar seantero sekolah. Dan fakta bahwa Sera dan Nara adalah sahabat karib membuat gosip kacangan kian berhembus dari satu ke lainnya tanpa perintah. Nara menjadi trending topic. Tapi kegelisahan hanya nampak pada Nara. Nyatanya, Aron bahkan tidak sama sekali peduli. Aron yang berjalan satu langkah didepannya berhenti mendadak. Menunggu Nara untuk mensejajari langkahnya. “Kayak anak ayam ngintil dipantat.” Ucap Aron. Nara sendiri bingung. Aron bagai dua orang yang berbeda, hari ini akan sangat usil dan akrab dengannya. Sementara nanti akan sangat judes dan terlihat alergi terhadap Nara. “Loker gue sekarang sepi. Tiba-tiba aja kepikiran haha. Dulu waktu pulang sekolah selalu dapat bingkisan. Biasanya gue makan bareng anak-anak. Terus waktu mereka tahu ada surat, gue di cie-cie-in sampai semingguan.” Keduanya memilih menuju atap sekolah. Tidak, sebenarnya Aron yang membolos pelajaran karena lupa membawa buku ataupun sengaja melupakannya. Nara hanya berlagak seperti tadi. Diam dan mengikuti dari belakang. Itu juga karena Aron memaksa. Ucapan Aron sedikit banyak mengganggunya. Apakah itu termasuk kiasan yang bermaksud menyindir atau memang Aron mengatakan pernyataan tersirat bahwa ia ingin lokernya penuh dengan coklat dari Nara lagi. Tapi rasanya opsi kedua sangat mustahil, maka mari beralih ke opsi pertama. “Gue sebenernya nggak suka cokelat. Mending uangnya dibeliin rokok atau makanan lain.” Nara reflek ingin mendorong cowok itu dari tebing atap. “Nggak-nggak. Bercanda.” Nara menatap ujung sepatunya yang saling bergesekan dilantai. Aneh sekali. Aron yang banyak bicara seperti ini terlihat bukan seperti Aron. Aron yang ia kenal dan tahu adalah Aron yang selalu irit bicara dan serampangan. Tidak mudah tertawa seperti ini. Jangan-jangan cowok ini adalah siluman jelmaan Aron? Oh mungkin saja! Kata mama rubah berekor sembilan memang benar adanya! “Lo nggak apa-apa?” Nara membeku ketika telungkup tangan Aron menempel di dahinya. Cowok itu terlalu dekat. Membuat debarannya semakin menggila. Nara melotot. Memundurkan langkahnya dengan wajah memerah. Astaga. Aron betulan tampan! “Sorry. Lo dari tadi diem aja, gue pikir Lo sakit atau kerasukan.” “Aneh aja.” Nara menatap hamparan langit biru yang kini tidak terdapat setitik pun awan. Mencoba menatap hal menarik lain selain Aron. “Lo cerewet hari ini.” Aron tersenyum. “Eh Lo tahu nggak?” Nara menoleh pelan. “Animal Farm karangan George Orwell?” Nara mengangguk samar. Dia sering mendengar buku itu, tetapi sampai kini belum pernah membacanya. “Manusia suatu saat bakal digulingkan. Waktunya revolusi.” Aron mengeja setiap kata agar terdengar dramatis. Nara mendengarkan dengan seksama. Dua jam berlalu dengan Aron yang bercerita tentang Animal Farm. Hingga kelas sosial yang disampaikan dalam buku itu, katanya dia ingin jadi babi kalau bisa. Nara tersenyum. Gerbang pertama telah terbuka. *** Tapi tidak adil rasanya jika Nara terus saja mendapat kebaikan. Tuhan sudah menurunkan keburukan dua kali lipat setelahnya. Seperti siang itu, entah kenapa Nara tertidur dikelas. Padahal Nara belum pernah melakukan itu. Dia adalah gadis super pemilih soal tempat tidur. Belum pernah dalam catatan masa sekolahnya ia tertidur dikelas, saat pelajaran pula. Pertama kali Nara sudah hampir terlelap, tapi Sera menepuknya dari belakang. Gadis itu bahkan melotot dengan dua jari seperti menggorok leher. Mungkin jika diartikan, “jangan tidur, nanti dimarahin abis Lo!” seperti itu. Nara menepuk pipinya berkali-kali. Menggenggam erat pulpen dan siap menuliskan kata di atas buku catatan. Tetapi pelajaran bahasa ini sangat membosankan. Nara kembali memejamkan matanya, beberapa kali terkantuk meja karena tertidur. Sera sudah bosan mengingatkan, sudahlah biarkan saja. Hingga bel bergantinya jam pelajaran, Nara masih berada didalam mimpi. Pak Han, guru yang sedang mengajar berujar sebelum kelas ditutup. “Tolong bangunkan temanmu, bilang suruh pindah saja ke UKS jika harus mendengkur sekeras itu.” Telak seisi kelas tertawa menggelegar. Beberapa melayangkan tatapan tidak suka. Siapa lagi kalau bukan Yuri. Sementara Sera menutupi wajah dengan buku. Kalau saja Nara bukan temannya pasti dia akan ikut tertawa. Sere menepuk pelan pundak Nara. Ketika gadis itu membuka mata, seisi kelas semakin bergemuruh karena tawa. “Ra, iler lo.” Sera menunjuk sudut bibir Nara. Nara memberengut malu. Kalau saja dia bisa hilang sekejap, maka ia lebih memilih opsi itu daripada menjadi bahan tertawaan seisi kelas. Nara mengusap sudut bibir hingga pipinya. Tidak ada apapun, Sera hanya mengerjainya tadi. Guru terakhir memasuki kelas. Menjadi penghujung dari tawa mereka yang sepertinya tidak akan berhenti sampai besok. “Selamat siang anak-anak!” Bu Hani membuka kelas dengan semangat membara. Semua menjawab dengan serentak, meski ada yang baru setengah sadar. “Siang, Bu!” “Minggu lalu kita sudah belajar mengenai macam-macam tindak melanggar peraturan disekolah. Dan karena Minggu ini ada beberapa siswa yang menjadi contoh tidak teladan, saya harap dengan melihat mereka kalian akan menjadi mawas diri dan tidak melakukan hal yang sama.” Nara yang masih setengah sadar menepuk pipinya untuk kesekian kali. Sekarang bukan waktunya tertidur. Bu Hani adalah guru yang menangani siswa bermasalah, jika dia berniat hidup dan belajar dengan baik esok hari, Nara tidak boleh membuat kesalahan. “Saya memiliki beberapa tamu untuk kalian, silahkan masuk.” Kelas hening. Menunggu siapakah tamu yang dimaksud. Satu murid perempuan dan satu murid laki-laki memasuki kelas. Nara ingat, mereka adalah teman Aron. Sering sekali melihat mereka bermain bola bersama di lapangan. Yang sekarang sedang tersenyum entah malu atau tebar pesona, namanya John. Cowok itu anak keturunan Amerika-Korea, pindah kesini beberapa bulan yang lalu. Mungkin gaya kehidupan barat membuatnya bandel dan tidak taat aturan. Sementara gadis dengan rambut pendek dan seragam digulung itu namanya Lea. Dia hanya pintar main cek-cok dan beralibi. Lainnya nol. Nara pikir hanya dua orang. Tidak lagi sebelum tamu terakhir memasuki kelas. Cowok itu adalah Aron. “Mereka adalah contoh tidak baik dan tidak patut ditiru.” Seisi kelas berseru. Menyoraki mereka bertiga. John berlagak meninju udara dan mengancam mereka untuk diam, sementara Lea mengeluarkan bogem di samping tubuhnya. Hanya Aron yang bersikap bodo amat. “Mereka bertiga akan mendapat hukuman sebanding dengan perbuatannya. Mereka tertangkap basah merokok di lapangan belakang, mereka juga membolos kelas dari pagi. Sebagai pelajaran bagi yang lainnya, tidak ada fasilitas ataupun terbebas dari hukuman meskipun kalian anak orang kaya atau pejabat pemerintahan. Anak presiden sekalipun kalau memnag bersalah, akan ibu hukum.” Pernyataannya sedikit menyindir Nara. Karena kakeknya pemilik saham terbesar dari yayasan ini. Mungkin mereka pikir Nara selama ini lolos dari hukuman karena perlakuan khusus, tapi Nara bersumpah itu karena dirinya sendiri. Selalu berusaha menaati segala peraturan. Lupakan hari ini. Lea membuang muka. Ayahnya adalah anggota partai yang tahun lalu terpilih menjadi anggota dewan di kota. Ayahnya banyak berdonasi dan mungkin itu yang membuatnya diterima disekolah ini. Padahal, nilai dan perilaku Lea sangat sangat kurang memadai. Sera terlihat diam saja. Gadis itu bahkan enggan melihat ke depan, sibuk mengerjakan tugas bahasa tadi. Padahal pada hari biasanya dia tidak suka bahasa apalagi tugas mengarang. Aron juga sama, tak sedikitpun melirik Sera. Bahkan kalau boleh Nara percaya diri, sedari tadi cowok itu menatapnya terlalu lekat. Menguncinya hingga tenggorokannya gatal. “Kalian bertiga akan membuat surat permohonan maaf sebanyak seratus kalimat dan membersihkan toilet selama tiga hari. Itu tidak sebanding karena kalian selalu mengulangi kesalahan yang sama.” Tegas Bu Hani tidak mau diganggu gugat. “Tapi, Bu.” Aron memotong. Seisi kelas menaruh atensi padanya. Bahkan Sera melirik dari ekor mata dan menghentikan kegiatannya mencoret sembarang buku catatan. “Saya selain merokok, hari ini saya juga membolos kelas.” Nara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Matanya terpejam dengan merapal dalam hati semoga yang Aron maksud bukan saat bersamanya tadi pagi. Melihat Nara yang sungguh-sungguh berdoa, memunculkan kejahilan baginya. Aron menyunggingkan senyum tipis. “Saya tadi pagi membolos dua jam pelajaran. Saya duduk dan makan di atap sekolah.” Bu Hani semakin melotot. Menyiapkan beberapa larik teguran dan hukuman yang pria itu harus terima. “Tapi saya nggak sendiri, Bu. Saya membolos bareng Nara.” Nara menghembuskan nafas berat hati. Menyumpahi Aron dengan segala makian. Kesialan apalagi ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN