7. Sera Bercerita

1342 Kata
Nara mendorong tongkat pel dengan kesal. Ini adalah toilet kelima yang ia bersihkan sore ini. Tentu saja sebagai hukuman dari Bu Hani tadi sore. Dia harus membersihkan toilet untuk tiga hari ke depan, ucap beliau tadi. Sebenarnya dia tidak sendirian, John Lea dan Aron juga diberi hukuman yang serupa. Tapi entah kenapa mereka terbagi. John dan Lea mendapat bagian membersihkan lantai tiga, sementara Aron dan dirinya dilantai dua. Sebenarnya ini menjadi kesempatan untuk berduaan dengan cowok itu seharian, tapi tidak di toilet juga! “Mundur lagi, mundur. Itu belakang pintu masih belum bersih. Bukan yang itu, pintu nomor tiga. Geser lagi, Ra, sebelahnya juga masih kotor. Eh, yang semangat! Nanti nggak selesai-selesai, gue ada janji mau nonton baseball abis ini!” Nara ingin sekali menyimpan mulut Aron dengan gombal pel. Andai saja Aron turut membantu, tetapi tidak. Lima toilet total kamar mandi yang ia bersihkan. Sendiri. Iya, sendirian. Sementara Aron sibuk menjadi instruktur kebersihan dan mengomentari pekerjaannya. Cowok itu bahkan hanya duduk di kursi dan berteriak. “Nara! Cepetan! Bentar lagi gerbang ditutup!” Seru Aron. “Diem!” Nara yang kesal berteriak dan membanting tangannya ke udara. Menyusul gelak tawa Aron yang menggema di lorong yang kosong. “Harusnya,” Aron memasuki toilet setelah sekian lama berdiri diambang pintu. “Kalau ngepel itu dari depan, jadi lantai yang Lo pel nggak ke injak lagi. Nah, gini!” Nara memberengut. Kenapa tidak dari tadi memberitahunya? Kenapa Aron mengajari disaat semua sudah selesai? Sekitar lima belas menit hingga urusan membersihkan toilet selesai. Keduanya meninggalkan pelataran sekolah ketika malam hampir naik. Peluh dan bau keringat membuat Nara kelelahan, tubuhnya yang tak biasa ia perintah bekerja kini dikuras habis. Nara dengan langkah gontai menghampiri Pak Kim yang menungguinya sejak bel pulang sekolah. Padahal Nara sudah menyuruhnya pulang saja, tidak usah menungguinya hingga dua jam lebih. “Minum.” Nara menerima lemparan soda dingin dari Aron. Cowok itu segera bergegas pergi mengendarai sepeda gunung hitamnya. Kira-kira kapan Aron membeli minuman ini? Pagi harinya, Nara menjadi bahan perbincangan lagi. Membolos bersama Aron adalah hal yang patut digosipkan. Apalagi, keduanya memilih atap sekolah sebagai pelarian. Pasti ada apa-apa antara keduanya. Beberapa koyo menghiasi leher hingga bahunya. Ternyata membersihkan toilet membuatnya tidak bisa tidur semalaman. Tubuhnya kebas dan kaku, sakit dimana-mana. Dirinya yang bahkan mencuci piring saja tidak pernah, kemarin diberi hukuman berat. Kelas Nara masih sepi. Maka ia memilih membaca materi yang akan ia pelajari hari ini. Beberapa menit kemudian, Jake datang ke kelasnya. Memberikan senyum lebar sebelum duduk disampingnya. Menangkupkan kedua tangan dan tertidur diatasnya. Dia datang untuk menyambung tidur. “Dasar!” Nara menggumam pelan. Berniat menyambung pelajarannya sebelum terganggu oleh pemandangan disampingnya. Bagaimana Jake tertidur, bagaimana dia bernafas secara teratur. Betapa tajam hidung dan lentik bulu matanya. Tanpa sadar Nara menyentuh mata Jake. Mata yang selalu berbinar dan tersenyum seperti anak kecil. “Kak.” Jake membuka matanya, membuat Nara kesulitan bernafas karena terkejut bukan main. Dirinya tertangkap basah sedang menyentuh wajah Jake. Apa yang terjadi, bagaimana bisa? “Sorry, tadi ada nyamuk di situ.” Nara memejamkan mata. Mengerut karena alasannya yang sangat bodoh. “Gue kemarin lihat Lo di rooftop. Bareng Aron. Kalian, ngapain?” Jake sepertinya tidak masalah dengan alasan absurd Nara tadi. Buktinya ia tampak tidak menyadari tengah diapa-apakan oleh Nara. “Nggak ngapa-ngapain! Sumpah! Kemarin itu cuma nggak mau kena marah karena belum ngerjain tugas, makanya gue ke sana. Eh, ternyata Aron juga ada di sana.” Kenapa pula Nara berbohong? Dia mengutuk diri sendiri yang tidak bisa jujur. Jake mengangguk. Bersamaan dengan kelas yang perlahan mulai terisi. Beberapa hanya datang untuk menaruh tas kemudian kembali pergi. Beberapa pula datang dengan keributan untuk menyalin tugas yang belum sempat dikerjakan. Ada pula yang datang untuk menyambung tidur. Kelas sudah terisi setengah. Dan Jake dengan terpaksa meninggalkan kelasnya ketika sang pemilik kursi dengan wajah tak bersahabat mengusirnya. “Besok hari Minggu. Kakak ada acara nggak?” Jake berseru di ujung pintu. Nara tertawa karena Jake memperagakannya tidak beraturan. Membuatnya terlihat menjadi bodoh yang menggemaskan. Nara menggeleng. Jake menggerakkan tangannya ke udara. Kedua jarinya membentuk huruf v terbalik, kemudian mengayunkan kedua tangannya kesamping tubuh. Diakhiri dengan genggaman tangan di depan d**a. Jika diartikan ; “Ikut gue yuk! Pergi keliling kota sambil jalan berdua.” Nara tertawa kecil. “Ayayay, Capten!” Jake meninggalkan pintu dengan gerak dramatis. Lambaian tangannya menjadi terakhir yang Nara lihat sebelum tubuh cowok itu menghilang di lorong. Nara masih menggeleng, tidak menyangka Jake akan melakukan hal se-absurd itu. “Lo kenapa?” Nara mendapati Sera yang menepuk pundaknya. Gadis itu berdiri di bangku belakangnya, bersiap melepaskan tas dari punggung dan mendaratkan p****t ke punggung kursi. “Kenapa apanya?” “Lo dari tadi ketawa terus. Kenapa? Terus gue lihat tadi Lo dadah-dadah. Sama siapa?” “Enggak ada! Ngarang Lo!” “Siapa?” “Nggak ada!” “Jujur aja kali, gue tau kok itu anak kelas sebelas, kan? Itu, loh, yang jadi DJ.” Sera memanasi. Nara menggerakkan kedua telapak tangan. “Fine! Gue nyerah. Iya, itu Jake.” Sera menganggukkan kepala. Kemudian menggerlingkan mata menandakan dia tengah mengejeknya. “Apaan sih?!” Sejak kemarin, Sera mendekatinya lebih dulu. Seperti tidak pernah terjadi konflik besar yang membuat mereka tak bertegur sapa lumayan lama. Kini keduanya kembali ke semula, sahabat, teman baik. Tidak ada yang ingat kejadian lalu, keduanya memutuskan untuk melupakan masalah itu. “Jake ngajak jalan kemana?” “Sera!” Nara memerah malu. Tidak biasanya ia digoda seperti ini. Dia malu bukan karena punya perasaan terhadap Jake, tapi tolong sekarang mereka menjadi atensi seisi kelas. Keduanya diam sejenak. Beberapa menit lagi jam pertama dimulai, dan kini seluruh bangku sudah terisi sempurna. “Ada yang mau gue ceritain.” Nara mendengarkan dengan seksama. Meski kini jemarinya sibuk membuka halaman lain di novel yang ia baca. Sebenarnya, novel itu milik Sera. Dia hanya asal membukanya karena bosan. Keduanya duduk berhadapan, Nara memutar kursinya kebelakang hingga kini bisa dengan jelas mendengar Sera bercerita. “Gue putus.” “Iya-iya. Lo pasti lagi ngebiasin grup baru ya? Siapa? Siapa yang kali ini ngalahin Cha Eun Soo sebagai pacar Lo?” Nara masih tertarik membaca selarik puisi yang tertera di novel. “Nara dengerin. Gue serius.” “Hmm?” Nara masih tak bergeming. Sera menghembuskan nafasnya ke poni, membuat helaian rambut tipis itu terbang oleh angin. Sera menarik dan menutup novelnya, membuat atensi Nara sepenuhnya ada padanya. “Gue putus. Aron, gue udah putus sama dia.” Sera melanjutkan saat mendapati wajah Nara yang tak bergeming, sepertinya kaget dan terkejut. “Sebenernya udah hampir semingguan. Sorry, gue baru cerita. Soalnya ya, gitu deh. Kita berdua lebih sering berantemnya daripada akur, beda pemikiran juga. Terus Aron nggak bisa sepenuhnya terbuka sama gue. Lebih banyak diem, dia kayak robot dikasih nyawa. Kalau nggak di gerakin, nggak gerak. Padahal baru sebentar kita pacaran, tapi gue capek. Nggak tau lagi, gue nggak kuat aja kalau hubungan satu arah ini diterusin. Nanti bakal kayak apa?” Nar bahkan tidak memberikan tanggapan yang pantas selain kata sebentar karena jam pertama sudah berdering. Guru matematika juga sudah memasuki kelas. Anehnya hingga satu jam berlalu, Nara tidak menuliskan apapun pada kertas catatannya. Kosong karena pikirannya pun begitu. Dirinya tidak bisa bereaksi selain memikirkan tentang, apakah mungkin dia menjadi alasan keduanya berpisah? Nara bahkan sudah mulai menerima dengan ikhlas kalau keduanya berpacaran. Dia tidak ingin kekanakan dengan menghancurkan apa yang ada demi egonya sendiri. Atau tanpa sadar dia sudah menghancurkan hubungan Sera dan Aron sejak lama? Mengingat alasan yang Sera berikan karena Aron tidak banyak berucap dan bertindak. Dia selalu diam, begitulah yang ia simpulkan. Sangat berbeda dengan Aron yang belakangan ia kenal. Berbeda dengan Aron yang sekarang sangat cerewet. Dia bahkan sudah menghadangnya tadi pagi di gerbang sekolah, meminta Nara agar lebih tekun untuk membersihkan kamar mandi sementara dia harus mengikuti bimbingan olimpiade fisika. Bertuah dan bercerita panjang lebar. Sangat bawel. Lalu jam berikutnya ia lewati dengan hal yang sama. Nara hanya takut, kalau-kalau ialah penyebab semua ini terjadi. Bagaimanapun, Sera berhak bahagia. Kalau ternyata ia penyebabnya, Nara akan memperbaiki semuanya. Ia berjanji, pada diri sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN