Sepulang sekolah Nara melanjutkan hukumannya. Membersihkan toilet. Kali ini gadis itu memilih membersihkan lantai tiga, padahal tadi pagi Aron memintanya untuk menunggu dilantai dua.
Dia bersama John. Setelah berusaha mengusir Lea setengah mampus. Pasalnya gadis itu sangat lengket pada John. Hampir mustahil dipisahkan, tapi Nara berhasil. Dengan mengeluarkan jurus beberapa lembar uang ratusan won.
Lea tentu saja marah-marah. Tetapi John sedikit membela, mungkin tahu jika Nara sedang tidak ingin bertemu Aron. Akhirnya dengan dongkol Lea mengalah. Tidak mengambil sepeserpun uang Nara. Gadis itu lupa bahwa Lea tidak kekurangan uang.
“Besok kalau mau ngusir Lea, pakai senyuman.”
“Tapi aneh. Kalian pacaran ya?” Nara juga bingung. Lea yang notabene pembangkang sangat patuh pada John.
John tertawa kecil, melanjutkan mengelap kaca yang kini berembun terkena pias hujan diluar. “Iya kali.”
Nara terkejut bukan main. Mulutnya menganga lebar tidak percaya. “Serius? Gue pikir itu cuma gosip aja soalnya kalian kemana-mana bareng.”
John menghentikan tangannya. Beralih menatap Nara dengan lamat. “Kok kaget? Lo tadi yang nanya, kan?”
Nara gelagapan. “Gue pikir, itu gue pikir Lo cuma bercanda. Gue nggak kepikiran kalau kalian beneran pacaran.”
“Santai aja kali, Ra. Nggak ada yang salah dengan pacaran sama Lea. Lagian meskipun dia pembangkang, pemarah dan suka ngupil, dia baik kok. Dia gadis yang perhatian.”
Nara paham. Dia juga tidak melarang, hanya kaget saja ternyata gadis se bar-bar Lea bisa tunduk pada John. Padahal mereka berdua lebih sering terlibat cek-cok dan perdebatan
“Sorry gue nggak ada maksud.”
“That’s okay. Im not the kind of person. Gue udah biasa dianggap nggak waras karena berani macarin anak anggota dewan.”
Nara mengangguk pelan. Tidak ada yang bisa disalahkan. “Tapi, maksud gue. Lo nggak apa-apa ceritain ini ke gue? Kita nggak terlalu dekat, bahkan cuma tahu nama satu sama lain. Lo nggak takut kalau gue bakal sebarin ini ke anak-anak lain?”
John mengambil alih tongkat pel dari tangan Nara. Mungkin jengah karena dia hanya diam berdiri setelah kaget akan fakta yang baru ia dengar. Sementara John bisa sesantai itu menanggapinya.
“Gue tahu Lo kok. Aron sering cerita soal Lo. Dan gue yakin, Lo nggak akan sebarin hal itu ke orang lain. Aron aja bisa sepercaya itu sama Lo, berarti Lo orang yang bisa dipercaya.”
Bumi tolong bantu Nara berdiri dengan tegak.
“Maksudnya?”
“Dia kalau udah cerewet, apa aja diceritain berarti udah nyaman sama Lo. Hal paling nggak penting sekalipun.”
“Misalnya?”
“Misalnya?” John menimbang sembari mengetuk dagunya. “Dia pernah cerita soal apa aja sama Lo?”
Nara mengingat kembali. Tidak banyak. “Kebanyakan dia bahas babi di Animal Farm, sih. Sama tadi pagi bilang kalau dia udah mandi dua kali karena bajunya ketumpahan jus.”
John hanya menggerling pelan.
***
“Suka-suka aja, sih. Kadang gue malah sengaja makan mie instan karena masakan rumah terlalu monoton rasanya.”
Keduanya menuruni tangga menuju lantai dasar. Sudah siap menuju kediaman masing-masing dengan badan letih. John yang garang dan suka berkelahi ternyata tidak segarang yang ia pikirkan sebelumnya. Mungkin kelihatannya saja menyeramkan karena tinggi pria itu menyentuh seratus delapan puluh lima senti meter.
John tadi bertanya, sebagai anak konglomerat apakah Nara juga pernah memakan junk food ataupun ramyeon.
“Lo pernah pergi ke subway nggak?” John menyebut nama kafetaria yang cukup terkenal. Tempat itu menyajikan beragam sandwich dengan harga yang ramah dikantong.
“Belum.”
John berteriak histeris. Dramatis. Seolah mengejeknya, “lo belum keren kalau belum pernah pergi kesana.”
Nara menirunya dengan gaya berlebihan. “Lo belum keren kalau belum pernah pergi kesana.”
Kemudian mereka tertawa di anak tangga terakhir. Selera humor John sangat rendah, dia bahkan tidak berhenti menertawakan Nara yang meniru gayanya tadi.
Tawa mereka berhenti ketika Lea menginterupsi. Gadis dengan tinggi tidak jauh dengan Nara itu batuk dibuat-buat. Membuat Nara seketika menjauhkan tubuhnya dari John. Mereka terlalu dekat tadi karena keasyikan bercanda.
“Enak banget ketawa berduaan. Sementara gue tadi bersihin lantai dua sendirian.” Wajah kesal Lea seperti mengepulkan cerobong asap kerata api dari telinganya.
“Emang Aron kemana?” mereka bertiga berjalan meninggalkan lorong lobi menuju gerbang.
Nara mendengarkan saja percakapan asyik keduanya. Memilih berdiri ditepi karena John merangkul Lea meski berulang kali ditepis.
“Nggak usah pegang-pegang!”
“Tapi tadi beneran Lo sendirian yang bersihin?”
John mengalihkan pembicaraan. Berhasil. Lea yang masih kesal membiarkan saja John merangkul pundaknya. Marah-marah dengan wajah memerah. “Iya! Tadi katanya nggak mau karena ngerjainnya bareng gue. Katanya gue cerewet. Tapi, kan salah dia! Aron nggak ngapa-ngapain, cuma berdiri sambil ngatur-ngatur. Gue, kan kesel, gue teriak suruh dia pergi. Eh pergi beneran! Sampai gue selesai dia nggak balik lagi. Emang anak setan!”
Nara tersenyum diujung. Mendengarkan keduanya bertukar cerita.
“Ngeselin, sih.” John menanggapi singkat.
“Lo, kok jadi belain Aron?!”
“Enggak bukan belain. Gue cuma speechless aja, kok dia bisa-bisanya kayak gitu.”
“Nggak usah bohong! Jujur aja!”
Nara memilih melangkah lebih dulu. Setelah menerima kode dari John untuk pergi saja karena mereka akan berdebat lebih lama. John melambaikan tangannya di belakang tubuh ketika Nara berteriak, “Gue duluan ya!”
“Nggak usah genit Lo!” Lea menggeram pada Nara. Gadis itu hanya menggeleng pelan. Pak Kim sudah menunggunya.
“Itu temannya kelahi, nggak di tolong dulu, Non?” Pak Kim yang membukakan pintu mobil bertanya.
Nara melirik sekilas ke pelataran sekolah, terlihat Lea yang tengah bersemangat meninju John. Tapi Nara tenang saja, dia tahu mereka tidak berkelahi dalam tanda kutip sesungguhnya. Lihatlah, baru saja Nara berucap demikian, John sudah terbahak ketika pukulan Lea berhasil ia hindari. Membuat pria itu hanya memukul udara kosong. John tertawa terbahak sementara Lea mengejarnya dengan amarah dari belakang. Berakhirlah mereka saling kejar disorenya hari.
“Nggak apa-apa, Pak. Biasa.” Nara memperagakan jari telunjuk yang ia miringkan dijidat. Kemudian ia tarik kebawah. Pak Kim yang sadar hanya ber-oh ria sebagai respon.
Mobil melaju perlahan. Meninggalkan pelataran sekolah dengan sepasang remaja– anggap saja tengah berkencan. Nara menghempaskan punggungnya kesadaran kursi. Menurunkan sedikit kaca agar bisa melihat padatnya jalanan yang mulai menggelap. Beberapa mobil merayap perlahan dilampu merah, kemudian bergerak ketika lampu hijau menyala.
Sepertinya cerah, karena sorot matahari yang tenggelam begitu memenuhi langit. Kota sangat indah hari itu.
Tiba dilampu merah kedua. Baru saja gadis itu menutup kaca mobil, Nara mendapati kaca mobilnya diketuk dari samping. Ia perlahan membukanya. Tidak pernah ia sangka, Aron ada disini sambil mengendarai sepedanya di trotoar. Cowok itu tersenyum. Matanya membentuk bulan sabit ketika kedua pipinya didesak oleh senyuman dibibir. Sangat menggemaskan.
Nara meminta Pak Kim untuk berhenti di pinggir jalan yang sepi. Aron segera menyusul. Memarkirkan sebentar sepedanya di bahu taman.
“Keluar bentar?”
Nara bingung. Aron tidak pernah semanis ini, tidak pernah seramah ini. Apa yang membuat Aron menjadi seperti ini? Meski begitu Nara mengangguk. Meminta pak Kim menunggunya sebentar.
Keduanya memilih berjalan dan duduk di bangku taman. Lampu otomatis mulai menyala karena jingga malam telah pudar, berganti menjadi malam yang biru. Nara menggoyangkan kakinya sembari menunggu apa yang ingin Aron sampaikan.
Beberapa menit hanya hening. Sepertinya memang Aron tidak berniat membuka percakapan.
“Tadi Lea marah-marah. Katanya Lo pergi gitu aja, ninggalin dia pas bersih-bersih.” Nara akhirnya memilih topik random.
“Gue tahu.”
“Kasihan tahu, Lo kalau nggak mau dihukum jangan bikin kekacauan dong. Terus Lo tahu darimana? Katanya Lo pulang duluan.”
Aron menepuk kedua tangannya. Kemudian menjadikannya sandaran dibelakang punggung. “Gue tidur tadi. Di lantai satu.”
“Bisa-bisanya.” Tak habis pikir akan kelakuan ajaib cowok ini.
“Jadi Lo lihat dong mereka lari-larian dihalaman?”
Aron mengangguk. Memejamkan matanya. “Emang gitu. Biarin aja, mereka cuma bisa ngelakuin itu kalau nggak ada yang lihat.”
Nara mengangguk paham. Resiko memang. Itulah akibat dari menjalin hubungan yang masih dianggap tabu dimasyarakat. Ada yang menerima, abai juga menolak keras. Kita tidak bisa mengatur semua orang bukan? Mereka punya pendapat dan alasan masing-masing.
“Lo ada acara nggak?”
Nara otomatis menggeleng. Malam Sabtunya memang tidak ada kegiatan apapun. Seorang gadis jomblo dengan minim teman sepertinya memang langganan pengangguran. Kalau tidak merenung dikamar ya membaca novel semalaman.
“Temenin gue bentar. Satu jam aja, eh enggak. Setengah jam. Gue butuh tidur.” Nara tak sempat menyahut karena Aron lebih dulu menggunakan pahanya sebagai bantal tidur. Kakinya yang panjang ia tekuk demi menyesuaikan bangku taman.
Nara tak bergeming. Hanya diam saja hingga menit ketiga. “Lo tidur?” Mendapati Aron yang sudah menghembuskan napas teratur. Dia mengerutkan hidung. Kenapa orang kerap kaliudah tertidur disampingnya? Pagi tadi Jake, dan sekarang Aron.
Nara baru sadar. Kali ini kalung rantai tembaga yang biasa Aron pakai sudah tidak terlihat. Rambutnya yang kemarin tidak rapi kini dipotong sedemikian rupa, bergaya undercut. Wangi maskulin bercampur keringat membuat harum tersendiri yang khas milik Aron.
Ponselnya berdering keras sekali. Nara terlonjak dan segera mematikannya. Takut kalau Aron akan terbangun. Pak Kim yang menelepon.
“Hallo?” Nara berbisik. Takut akan membangunkan Aron.
Cowok itu bergerak ringan. Membuat Nara melotot karena memeluk perutnya. Menyembunyikan wajahnya pada perut Nara.
“I-iya pak? Gimana?” Nara bergetar. Dia tidak pernah sedekat ini dengan lelaki manapun. Dia hanya pernah memeluk kakek dan ayahnya. Hari ini Aron membuat langkah baru.
“Iya pak, nggak apa-apa. Bapak ke rumah sakit aja, nanti biar Nara pesan taxi online. Nara nanti yang ijin sama Mama. Iya pak, hati-hati.”
Telepon terputus. Pak Kim berkata bahwa ia mendapat panggilan dari rumah sakit. Katanya, anak bungsu jatuh dari sepeda dan kini mendapatkan perawatan dirumah sakit. Pak Kim mmeinta izin untuk pergi lebih dulu. Ingin memeriksa kondisi sang anak.
Nara segera menghubungi Nyonya Kwon. Mengiriminya pesan singkat bahwa ia akan pulang terlambat. Mamanya mengira hal itu karena hukuman yang ia dapat. Nyonya Kwon tahu karena Bu Hani yang mengabarinya. Bahwa putri kesayangannya membolos pelajaran dan berakibat harus dihukum tiga hari. Nyonya Kwon hanya membalas supaya Nara cepat pulang dengan hati-hati.
Lima belas menit berlalu. Taman yang bersinar karena lampu warna-warni semakin ramai. Banyak pengunjung yang datang untuk sekedar berolahraga atau berjalan. Ada juga yang mnegajak binatang peliharaan untuk duduk mengamati bulan yang kian bersinar.
Aron masih tidur. Memeluk pinggangnya erat.
Setengah jam kemudian Aron membuka mata perlahan. Menyesuaikan kadar cahaya lampu yang bersinar tepat diatasnya. Nara menghabiskan waktu dengan mmebaca novel romansa yang ia pinjam dari Sera tadi pagi. Tidak menyadari Aron yang sudah terjaga.
Ketika Aron bergerak barulah Nara mengangkat bukunya, mendapati Aron yang tersenyum padanya dibawah. “Makasih.” Aron tulus mengatakannya. Tidak menyangka Nara membiarkannya tidur selama ini dipahanya. Pasti berat dan kaku, secara tubuh Nara lebih kecil dairnya.
“Minggir.” Nara buru-buru mendorong Aron menjauh. Memang pegal tapi itu bukan alasan utamanya. Nara khawatir Aron akan mendengar detak jantungnya yang bertalu kencang. Bisa bahaya.
Aron meregangkan tubuhnya dan susah payah untuk duduk dengan tegap. Merapikan rambut dan seragamnya yang mungkin kusut. Setelah diyakini lumayan rapi, Aron berdiri. Membuat Nara cepat-cepat membereskan novelnya kedalam tas. Dia harus meminta Aron untuk memesankan taksi. Seumur hidup, baru kali ini ia akan naik taksi sendirian. Garis bawahi, sendirian. Biasanya ada mama atau neneknya yang menemani, kali ini tidak ada.
Kenapa ia tadi mengusulkan untuk naik taksi saja? Kenapa tidak menelpon Mama agar mengirimkan sopir lain untuk menjemputnya? Bagaimana kalau ternyata sopir taksi yang membawanya adalah seorang psikopat? Lalu jika Nara menolak memberi uang,maka ia akan dimutilasi dan mayatnya dibuang ke sungai? Tidak. Memikirkannya saja membuat Nara hampir gila. Dia harus mmeinta bantuan Aron.
Tapi bagaimana caranya? Keduanya berjalan dan kini sampai ditempat sepeda Aron terparkir. “Gimana pulangnya?”
“Siapa? Gue?”
Aron menggeleng. “Iyalah! Masa John?” Cowok itu menaiki sepedanya bersiap pergi. “Gue tadi nggak sengaja dengar kalau Lo mau naik taksi. Yakin mau naik taksi? Atau bus? Gue bisa bantu nyari.”
Nara mengangguk antusias. Apapun asal ia sampai dirumah dengan selamat.
“Atau opsi terakhir, Lo mau naik sepeda usang ini bareng gue? Ya meskipun dingin karena cuma sepeda, nggak empuk karena duduk dibesi. Tapi seenggaknya Lo aman sama gue, gue bisa antar Lo pulang dengan selamat tanpa kegores sedikitpun. Tapi terserah Lo, sih.”
Nara belum pernah dibonceng naik sepeda. Lagipula siapa yang akan mmeboncengkannya? Temans aja tidak punya, Sera bahkan tidak bisa naik sepeda. Mungkin tidak nyaman, tapi setidaknya ada Aron. Maka dunia akan baik-baik saja bagaimanapun keadaannya nanti. Maka Nara memilih opsi terakhir. Bersepeda malam dengan Aron.
Sepanjang jalan hanya diisi oleh keheningan. Hanya Aron yang bertanya arah jalan, apakah sudah benar atau belum dan dimana rumah Nara. Keduanya sampai tak lama kemudian. Aron tidka perlu menggayuh sepeda dengan berat karena kontur jalan yang sedikit menurun. Rumah besar dengan halaman paling luas di residence itu menjadi stasiun terakhir sesi jalan malam merek kali ini.
Nara turun setelah merasakan pantanya yang mati rasa. Duduk menyamping diatas segaris besi tanpa alas membuatnya kebas. Tapi ia pikir itu setimpal. Dia menikmati aroma Aron lebih lama hari ini. Mereka bisa sedekat itu, Nara senang hingga rasanya ingin berteriak kegirangan.
“Mau mampir?” Nara basa-basi. Malam semakin gelap dan mungkin Aron buru-buru. Yang ia tahu rumahnya dan Aron sangat tidak searah. Aron jika harus pulang harus melewati jalan yang sama seperti tadi, jika sudah sampai disekola mereka ia harus terus lurus beberapa kilometer lagi. Dengan sepeda.
“Enggak bisa, sorry ya gue buru-buru. Gue udah telat, nanti bos gue marah.” Aron bersiap mengayuh pedal ya lagi.
“Lo hari ini kerja?”
“Iya, lima belas menit lagi shift gue.”
“Terus kenapa Lo harus anterin gue, sih?!” Nara mendadak marah. Kenapa Aron bodoh sekali? Tidak akan sampai dia lima belas menit lagi. Waktunya mepet dan jaraknya lumayan jauh.
“Hey, kalem. Santai aja, nggak apa-apa. Palingan cuman diomelin, tinggal dengarin aja.” Aron mencoba tertawa. Tapi itu tidak lucu sama sekali.
“Bentar. Gue masuk bentar, kalau Lo udah pergi gue bakal bikin perhitungan besok pagi! Diem disitu.” Nara menghardik. Aron menyerah dan hanya mengangkat tangan dengan senyum.
Nara keluar tak lama kemudian, bersamaan dengan pintu garasi mobil yang terbuka. “Sepedanya masukin ke garasi. Besok, eh, lusa gue bawa pas berangkat sekolah. Sekarang Lo biar dianteri pak sopir. Cepet! Nanti keburu telat!”
Aron hanya menurut karena Nara menyeretnya dan membuatnya duduk dikursi penumpang. “Santai aja besok, eh, lusa gue bawain sepeda Lo!” Teriak Nara ketika mobil melaju pelan. Aron tersenyum.