9. Hujan

1313 Kata
Malam itu Nara sulit tidur. Sudah mandi, sudah makan. Tadi Nyonya Kwon juga mengantar segelas s**u untuknya. Biasanya jika ia sulit tidur, maka Nara akan memutuskan untuk belajar. Kali ini tidak. Matanya tertuju pada layar ponsel. Aron mengiriminya pesan. Aron : makasih, gue udah sampai di toko dua jam yang lalu. Maaf baru mengabari, tadi dimarahin boss dulu T_T Nara tersenyum lebar. Menggemaskan. Nara : Iya nggak apa-apa. Sana kerja! Nanti dimarahin lagi! Beberapa menit berlalu tapi balasan belum juga tiba. Nara menunggu. Setiap sepuluh detik sekali mengecek ponselnya. Berpikir bahwa mungkin Aron tengah sibuk. Tak lama notifikasi tanda pesan masuk datang. Aron : maaf baru balas, tadi ada anak kecil numpahin minuman. Kasihan T__T jadi gue bantuin dulu Aron : boss gue udah pulang. santai aja Nara : Anak kecilnya cewek atau cowok? Aron : cewek. cantik. matanya besar kayak Lo. Nara melemparkan ponselnya ke ujung ranjang. Dasar buaya! Aron buaya! Nara mengubur dirinya dibawah selimut meredam teriakannya dengan telinga memerah. Kakinya menghentak kasur berulang kali. Tak lama ada ketukan di pintu. “Adek kenapa teriak-teriak? Udah malam.” Suara Nyonya Kwon dari luar. Astaga, apakah dia sudah gila? “Maaf, Ma. Tadi ada kecoa!” “Tidur ya dek, udah malam.” “iya, Ma.” Nara kemudian mengatur nafas perlahan. Memungut ponselnya yang diberondong pesan dari Aron. Aron : Nara Lo tidur? Aron : jangan dulu. temenin gue Aron : pintunya gerak sendiri. anjing! Aron : Naraaaaaaaaaaaaaaa Aron : T_________T Aron : lo tau ga sih? oke gatau ya. Aron : Nara belajar ya? Nara mau ditelepon ga? Oke mau ya! Tak lama ponselnya berdering. Aron meneleponnya betulan. Awalnya hanya sunyi. Nara memilih diam. Menunggu yang diseberang untuk menyahut. “Nara, sumpah gue merinding banget tadi pintu kulkas kebuka sendiri!” Nara tersenyum. “Mungkin pas ada yang beli, nutupnya kurang rapat.” “Nggak mungkin! Terakhir yang beli udah lama. Pasti ini toko berhantu.” Suatu ide terlintas dibenaknya. “Eh Lo denger nggak sih? Kayaknya ada yang manggil nama Lo tuh, ada pembeli ya?” Nara menahan tawanya yang hendak menyembur. “JANGAN NGARANG YA, GUE SENDIRIAN DISINI!” “Maaf, hahahaha!” “Nggak lucu.” “Iya maaf.” Sepertinya cowok diujung sambungan merajuk. “Jangan bercanda soal hantu.” “Iya Aron, maaf ya.” Suasana lengang. Mereka berdua hanya mendengar deru nafas masing-masing. Aron memutar kertas di genggamannya. Sebuah gambar wanita yang ia gambar secara cepat membuatnya bingung. Ciri-cirinya seperti Nara. Tapi ia harap yang ia gambar bukanlah Nara. "Nara, dengerin baik-baik, ya. Gue mau ngomong." “Aku punya kakak laki-laki. Hobinya balapan sama judi. Kadang kalau kalah ya berantem. Biasa, gengsi. Ayah gue udah meninggal lima tahun lalu, nyokap gue? Sama udah meninggal juga. Barengan sama Ayah. Mereka kecelakaan dan meninggal ditempat.” Nara mendengarkan. Tidak tahu harus menyahut apa karena semuanya terlalu tiba-tiba. Apa yang ada dipikirannya saat ini? Kenapa menceritakan ini? “Gue kerja buat biaya sekolah. Sama buat beli rokok. Kadang kakak gue minta duit pas gue gajian. Kalau pas kalah judi suka ngambil tanpa izin dulu. Gue mau marah. Tapi gue nggak punya keluarga lain selain dia. “Kemarin dia bilang ditelepon. Katanya dia nggak mau pulang karena kita miskin, gue kerjanya nggak benar makanya kita nggak bisa kaya. Kakak gue udah tiga bulan nggak pulang ke rumah. Sebenarnya enak sih nggak ada yang mintain duit, hahaha.” Aron tertawa getir, “tapi gue sendirian di rumah. Gue nggak punya siapa-siapa. Berat buat gue, dan pas kakak gue pergi, hari itu Lo nyatain perasaan ke gue. Maaf Nara. Gue kebawa suasana. Mood gue hancur, gue benci kenapa gue miskin. Kenapa gue nggak bisa punya banyak duit padahal gue udah mati-matian kerja. Rela nggak belajar, rela nggak tidur, rela makan makanan murah buat nabung. Tapi semuanya nggak pernah cukup. Gue miskin, gue nggak mampu. “Sedangkan Lo, apasih Ra yang Lo nggak punya? Gue iri sama Lo, seandaikan gue punya seperempat aja kekayaan Lo, mungkin gue nggak akan miskin. Maaf Ra, gue takut waktu itu. Dan maaf juga, ini semua karena sikap gue. Seharusnya gue dewasa, bukan malah jadiin masalah itu sebagai alasan.” Nara tidak menjawab. “Nara, maaf juga karena ngomong gini lewat telepon. Gue nggak mau nangis didepan Lo.” *** Malam semakin larut. Aron sudah memutus sambungan. Mereka berbincang cukup banyak. Setidaknya agar Aron yang penakut memiliki teman mengobrol daripada ketakutan disana. Tapi untuk percakapan terakhir membuatnya bimbang. Dia tidak tahu harus merespon apa. Tapi Aron pintar. Dia mengalihkan topik dan membuat Nara merasa nyaman lagi, tidak canggung dengan membahas serial terbaru netflix. Sekarang hujan mulai turun. Beberapa petir serta kilat yang menyambar menerangi kamarnya yang temaram. Rinai hujan kian deras. Mungkin jika sekarang ia berteriak, orang rumah tidak akan ad yang mendengar. Mungkin mamanya masih duduk diruang tamu menunggui papanya pulang. Menunggu untuk makan malam bersama. Tadi saat ia makan, sang Mama menolak. Katanya mau makan bareng papa. Meski sayup, deru mobil dan lampu yang memasuki garasi menandakan bahwa papanya telah pulang. Hampir pukul satu pagi. Mungkin kerjaan di kantor sedang sangat banyak. Seminggu terakhir jadwal pulang papanya menjadi tidak menentu. Bahkan tidak pulang sama sekali juga pernah. Nara berdehem. Kerongkongannya kering kerontang. Lebih baik minum dulu sebelum tidur. Maka, ia memutuskan untuk turun kebawah. Lampu-lampu gantung yang biasanya menyala mewah kini redup. Hanya beberapa lampu kecil yang dinyalakan. Nara melangkah pelan sekali. Takut juga ketika petir menyambar di langit. Rasanya sangat dekat dengan pelataran rumah. “Aku nggak bisa percaya kamu lagi, Pa.” Nara menghentikan langkahnya di anak tangga terakhir. Mungkin kedua orang tuanya tidak menyadari kehadiran Nara. Secara lampu sangat temaram. Papanya berdiri dengan kemeja berantakan. Sedikit basah entah karena apa, padahal pintu garasi menyambung dengan ruangan rumah. Tas kerjanya berada diatas sofa. Sedangkan mamanya melipat tangan didepan d**a. “Lalu, apa maumu? Bercerai?” Dunia Nara runtuh. Semoga saja ia salah dengar. Semoga saja suara hujan mengaburkan pendengarannya. Tapi kalimat itu sangat jelas. Bukannya pendengarannya yang mengabur, kini malah matanya yang kabur oleh air mata. Rasanya lemas sekali. Seolah seluruh bumi mengacungkan belati padamu. “Jelas-jelas kamu yang salah! Kamu yang selalu berbohong! Seharusnya kamu memberikan penjelasan! Kamu itu seorang ayah, seorang suami! Kenapa mudah sekali bagimu mengucapkan kata itu?” Mama menangis. Meski tidak kentara Nara tahu, mamanya sedang bergetar agar tidak menangis terlalu keras. “Kenapa? Wajar! Lelaki itu memang sifatnya begini, bosan ya wajar. Berarti ada yang salah dari kamu kalau aku mencari yang lain diluar! Coba kamu tanya, siapa temanku yang tidak mengencani gadis muda Tidak ada. Kamu harusnya instropeksi diri! Bukan menyalahkan suami!” Papa duduk dikursi. Berteriak dengan d**a yang bergemuruh. Sementara Nara mematung. Papanya mengencani wanita lain. Dan itu sangat tidak sopan. Nara tidak menyukai segala tindak perselingkuhan. Nara menangis tanpa suara. Papa yang selalu ia percaya, selalu ia andalkan, panutan bahkna lelaki pertama yang ia cintai. Kenapa dia juga yang menghancurkan hatinya? “Siapa? Siapa gadis muda yang kamu temui. Bilang padaku sekarang.” Nyonya Kwon meredam amarahnya yang siap meledak. “Apa urusanmu dengannya?” “Aku? Kamu masih bertanya apa urusanku? Baiklah.” Nyonya Kwon tersenyum getir. “Aku ingin berterimakasih padanya karena telah menunjukkan sifatmu yang sebenarnya. Terimakasih telah mengencani suami pecundang sepertimu, terimakasih karena dia, aku tahu bahwa suamiku tidak pernah mencintaiku. Terimakasih, karena dia, aku tahu. Bahwa ayah dari anakku tidak pantas disebut sebagai ayah.” Nara tidak sanggup mendengarkan lagi. Dengan langkah teramat pelan menapaki anak tangga. Membekap mulutnya agar tangisnya tidak pecah dan membuat keributan lain. Meski semuanya jelas sudah tampak kacau. Mungkin mereka akan saling menyalahkan, mungkin pertahanan mereka akan hancur jika melihat putri kesayangannya menangis. Maka, malam itu ditengah hujan. Nara menangis tersedu dibawah selimut. Hal yang terlintas dipikirannya hanya Aron. Dia butuh teman bercerita. Tetapi bahkan setelah panggilan ketiga, Aron tidak menjawabnya. Nara membuang ponselnya. Mungkin hancur karena menubruk dinding dan jatuh di lantai. Nara tidak peduli. Dunia saja tidak pernah memperdulikannya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN