10. Make My Day

2536 Kata
Aron adalah seorang anak bungsu dari dua bersaudara. Keluarganya berkecukupan dan tergolong menjadi keluarga kaya. Mereka menempati sebuah rumah besar di Seoul. Setiap hari menu makanan yang tersaji di meja beragam, juga seperti masakan hotel bintang lima. Saat kedua orang tua Aron meninggal, ia masih berumur dua belas tahun. Kakaknya, Choi Jinhyuk berusia sembilan belas tahun. Sekarang ia duduk di SNU (Seoul National University) kampus ternama di Korea. Dia menginjak semester kedua. Mungkin karena keturunan genetik, karena sang ibu dan ayahnya merupakan seorang ilmuwan ternama dan dosen di universitas. Aron dan Jinhyuk juga mewarisi kepintaran tersebut. Bahkan Jinhyuk melompati satu tahun, seharusnya ia masih duduk di bangku SMA. Tapi karena kepintarannya, dia mengikuti program akselerasi. Orang tua mereka sangat sibuk. Berangkat kerja saat matahari belum terbit dan baru pulang saat malam terlalu larut. Aron juga lebih sering tertidur duluan sebelum mereka pulang. Terlebih sang ibu. Pekerjaannya sebagai ilmuwan dan bekerja disalah satu laboratorium rumah sakit menjadikannya super sibuk. Mungkin itulah yang menyebabkan orang tuanya selalu menyempatkan liburan bersama. Setiap dua hari seminggu, yang mana adalah hari libur, merwa selalu menghabiskannya untuk keluarga. Meski ada panggilan darurat sekalipun, sang ibu lebih memilih membangun istana pasir dihalaman dengan Aron ketika ia masih kecil. Percakapan mereka hari itu adalah membahas mengenai perubahan iklim dunia. Aron juga tidak heran, keluarganya selalu menyukai hal-hal berbau seperti itu daripada menggosipkan artis yang terkena skandal n*****a. Katanya, lebih bermanfaat. “Tapi masalahnya, negara kita sangat bergantung pada listrik. Semua yang terpasang di dinding rumah, di dalam rumah, secara keseluruhan menggunakan tenaga listrik.” Ayahnya memberi argumen ketika Ibunya menyatakan seharusnya Korea berhemat listrik. Jinhyuk mengangguk setuju. Setoples kacang almond dia dekap erat dipangkuan. Mereka tengah menikmati siaran berita yang menampilkan tentang perubahan iklim. “Karbon yang kita lepaskan tahun ini, empat kali lebih banyak daripada sepuluh tahun lalu. Mengabaikan perjanjian Kyoto. Tiga ratus delapan puluh juta karbon dioksida dilepaskan setiap harinya ke atmosfer. Tinggal menghitung hari, semuanya akan merubah bumi kita.” Jinhyuk memberikan argumennya. Ayah menepuk bahu putranya. “Benar sekali. Dengan gas emisi yang semakin meningkat, banyak konsekuensi yang harus kita tanggung. Es di Greenland dan Antartika meleleh jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan. Dan karena melelehnya es di kutub Utara, hal itu menyebabkan kenaikan volume air. Mungkin sekitar enam meter lebih tinggi. Tentu saja akan berdampak pada kehidupan seluruh umat manusia. Tingginya air laut akan menyebabkan banjir dan tsunami, penduduk yang tinggal di dataran rendah akan menjadi yang pertama kali terancam. Mereka harus dan secara serentak pindah ke dataran tinggi. Tapi semua itu tidak semudah yang dibayangkan. Butuh beberapa bulan hingga tahun untuk melakukan migrasi massal, belum lagi lahan di dataran tinggi. Apakah cukup atau tidak.” Jinhyuk ikut menimpali. “Konsekuensi kedua adalah gelombang panas. Sepuluh ribu orang akan mati secara bersamaan karena akibat dari gelombang panas dan kebakaran hutan. Suhu yang meningkat panas akan membuat bumi semakin kering, sumber air akan sulit di dapat. Yang pertama terdampak adalah para petani. Panen akan gagal total dan itu masalah besar. Karena tidak ada panen, sumber pangan akan terhenti, banyak jiwa yang akan kelaparan. Dampak dari global warming tidak terjadi di masa depan. Sebentar lagi, beberapa tahun lagi dampak ini akan muncul. Berdasarkan penelitian, tiga ratus ribu orang akan mati sebagai dampak langsung global warming. Itu saja belum mencakup banyak hewan diluar sana, kawanan burung serta ribuan ikan di laut. Mengerikan.” Jinhyuk begidik ngeri. Pembahasan mengenai perubahan iklim memang sangat menarik. Aron yang duduk dan memainkan hasil prakarya –rumah dari sedotan bekas, beberapa kali mengangguk setuju. “Tapi ayah.” Aron bersuara. Ayahnya sangat pintar dan berwibawa, Aron begitu menyukai sudut pandang dari ayahnya. Beliau selalu punya penyelesaian atas semua masalah. “Perubahan iklim tidak bisa dicegah. Semakin lama semakin memburuk, dan sepertinya sudah sangat terlambat bagi kita untuk memperbaiki.” Ayah tersenyum. Anaknya yang bungsu juga sama. Mempunyai pemikiran yang begitu kritis. Dia harap, kelak anaknya akan berguna bagi bangsa. “Benar, Nak. Kita sudah sangat terlambat untuk menyadari betapa bahayanya perubahan iklim. Tapi masih ada yang bisa kita lakukan. Daripada kita menyesali dan tidak berbuat apa-apa, lebih baik kita mencari solusi yang sedikit membantu.” Aron kecil kembali mengangguk. “Jika sudah seterlambat itu, apa yang bisa kita lakukan?” Ibu Aron yang baru kembali dari dapur dan masih memakai celemek datang. Menarik tubuh Aron yang masih berusia sepuluh tahun. “Yang bisa kita lakukan adalah mandi. Sudah sore dan kamu belum mandi, Aron. Mau menunggu ibu marah ya?” Aron berlalu menuju kamar mandi. Berteriak marah karena percakapan dengan sang ayah belum selesai. Dia masih penasaran akan topik yang akan dibahas. Maka ia berteriak, “Ayah. Tolongin, Aron! Ada monster yang bawa Aron pergi! Ayah tolongin Aron. Aron nggak mau mandi, Ayah!!” Aron terus berteriak. Namun sang ayah dan Jinhyuk memilih tertawa bersama. Mereka saja tidak berkutik jika nyonya rumah sudah bertindak, apalagi Aron. “Ayah! Kakak! Tolong Aron! Ibu berubah jadi monster galak!” Selesai Si bungsu mandi, mereka berkumpul di meja makan. Meski tergolong kalangan kaya, mereka sangat sederhana. Entah dari gaya berpakaian, kendaraan ataupun perabotan rumah. Mereka diajari untuk berhemat sejak kecil. “Ayah, soal yang tadi. Bagaimana cara mencegah perubahan iklim?” Aron duduk dan mendengarkan dengan antusias. Meski masih menyimpan dendam terhadap sang ibu. “Perubahan iklim nggak bisa dicegah, Aron. Karena memang sudah terjadi.” Jinhyuk mengejek. Menjulurkan lidahnya. Aron semakin merajuk. “Ayah, ayah tahu yang Aron maksud, kan? Kak Jinhyuk kenapa sih? Ikut-ikut aja.” Mereka tertawa melihat Aron kecil yang merajuk. Daripada semakin merajuk, sang ayah memilih untuk menjawab dengan benar pertanyaan sang putra. “Karena kita bukan orang berpengaruh dan akan sulit menggerakkan semua orang, yang bisa kita lakukan adalah memulai dari lingkup terkecil. Perubahan dan gerakan yang kita lakukan secara individu, jika digabungkan akan menjadi gerakan yang akan berdampak besar. Aron juga bisa, loh, bergerak membantu bumi.” Aron tersenyum. “Aron masih kecil, tapi kalau Aron bisa membantu bumi, akan Aron lakukan.” Dia berkata semangat. “Yang bisa Aron lakukan adalah membantu menghemat listrik. Jangan kebanyakan bermain game dan menghidupkan seluruh lampu seharian. Dengan menghemat listrik, kita bisa membantu mengurangi dampak perubahan iklim. Aron juga bisa membantu dengan tidak banyak membeli makanan atau mainan berbahan plastik, bantu memilah dan memisahkan sampah.” Kali ini sang ibu yang menjawab. Aron mengangguk. “Terus, yang dilakukan orang dewasa apa?” “Kalau Ibu, Ibu harus membeli bahan makanan segar. Bukan makanan beku. Karena makanan beku menghabiskan sepuluh kali energi yang lebih besar. Makanya, lebih baik membeli makanan yang segar.” Makan malam kali ini dihabiskan sembari bertukar pendapat tentang apa yang bisa mereka lakukan untuk membantu bumi dari dampak perubahan iklim. Makan malam yang menyenangkan, karena tidak setiap hari mereka bisa berkumpul bersama. *** Sore itu, saat Aron berusia dua belas tahun. Kedua orang tuanya mengambil cuti seminggu. Katanya sebagai hadiah ulang tahun Aron yang ke dua belas. Meski sudah lewat sebulan. Tapi tidak apa-apa. Mereka memutuskan untuk berlibur ke pantai. Bermain dengan ombak akan sangat bagus untuk liburan kali ini, lagi pula sebagai refreshing untuk Jinhyuk yang seminggu terakhir terus terforsir pada ujian akhir semester. Liburan akan dimulai besok pagi. Sementara hari ini mereka memilih duduk di ruang TV, menikmati kue buatan ibu yang kali ini beraroma matcha. Setiap libur selalu seperti ini. Semenjak tertarik akan kue, ibunya terus membuat kue. Mereka bertiga menjadi bahan percobaan dan mencicipi hasil karyanya. Tidak semua berjalan semulus itu. Meski sang ibu sangat lihai dan pintar di laboratorium rumah sakit, tapi berbeda dengan dapur. Mereka selalu kesulitan masalah pencernaan jika ibu sudah mencoba resep baru. Seperti kejadian natal tahun lalu, ibu berusaha memasak rendang. Katanya makanan itu terkenal sekali di Indonesia, dan salah seorang rekan ibunya yang berasal dari negara itu pernah membuatkannya rendang. Ibu begitu jatuh cinta akan rasanya, hingga satu Minggu kemudian berkutat dengan dapur untuk memasak rendang. Setelah malam yang semakin larut, rendang buatannya siap. Mereka bertiga sebagai tikus percobaan begitu antusias mencicipi. Awalnya tidak buruk, meskipun rasanya asing karena menggunakan begitu banyak rempah dan dagingnya masih agak keras. Masih bisa dinikmati. Tidak setelah dua jam kemudian mereka berempat panik. Harus bolak-balik ke kamar mandi karena sakit perut. Entah apa yang dimasukkan ibu ketika memasak. Setengah jam kemudian baru ingat bahwa dia lupa memeriksa tanggal kadaluarsa santan cair yang ia beli di supermarket. Mereka berakhir di unit gawat darurat malam itu. Meski demikian tidak menyalahkan ibu yang merasa bersalah. Berkata tidak apa-apa, namanya juga pemula. Hak seperti itu biasa terjadi. Ayah juga maklum, laboratorium saja pernah diledakkan ibu, apalagi cuman masalah dapur. Keracunan di malam Natal itu tak lantas membuat ibunya trauma memasak. Jika begitu, seluruh anggota rumah tidak akan makan. Iya, kan? Hari ini ibu mencoba resep baru. Setidaknya bukan makanan berat, hanya kue. Tidak akan menyebabkan keracunan seperti dulu. Seakan tahu kenapa belum ada yang menyentuh kue hasil buatannya, ibu berkata lantang. “Semua bahannya bersih. Ibu sudah cek tanggal kadaluarsa, semuanya aman.” Mereka bertiga masih ragu. Walaupun aman, bukan berati kue itu enak dimakan. Bisa saja teksturnya keras atau bahkan tidak ada rasanya. Aron yang memang selalu abai mengambil potongan besar dengan percaya diri. Mereka menunggu respon Aron setelah memakannya, bisa saja gejala gatal-gatal muncul. Tapi Aron tak bergeming hingga potong besar itu hilang ditelan. “Enak, kok. Enak banget. Ini buat Aron semua ya?” “Enak aja, kakak juga lapar!” Jinhyuk mencegah piring yang akan berpindah dari meja ke pangkuan Si bungsu. “Ayah mau cicip juga.” Mereka bertiga beradu mulut. Sementara ibu kembali ke dapur untuk membersihkan kekacauan. “Tadi disuruh makan nggak mau, sekarang rebutan.” Dapur terlihat seperti kapal pecah. Terkena badai puyuh yang membuat porak poranda tempat ini. Tumpukan peralatan kotor, tepung yang bertaburan dilantai hingga lemari yang belum sempat ditutup. *** Meninggalkan piring kue yang kini bersih tak bersisa, mereka memilih fokus akan acara survival di TV. Beberapa kali bercakap mengenai siapa jagoan mereka di sana. “Ayah udah baca Animal Farm?” Aron bertanya. Sesekali melirik kakaknya yang ternyata sedang bertukar pesan dengan seseorang. Dia tersenyum sendiri karena membaca layar ponsel. Sepertinya semakin tidak waras. “Udah dong.” Ajaran yang ayah berikan juga terkait dengan membaca. Ayah mewajibkan anak-anaknya untuk membaca buku. Paling tidak satu bulan telah menamatkan satu judul buku. Kata ayah, membaca sangat penting. Membaca menjadikan kita yang tidak tahu menjadi tahu, yang tidak paham menjadi paham dan yang malas menjadi rajin. “Menurut kamu, strata tertinggi di Animal Farm siapa?” Ayah bertanya. Siap mendengarkan pendapat anak bungsunya yang menginjak bangku sekolah menengah pertama. Antusias. “Babi?” Ayah tersenyum. “Kenapa jawabnya ragu-ragu? Nggak ada yang salah dengan semua jawaban, jadi lain kali kalau Aron ditanya harus jawab dengan yakin. Dengan percaya diri, paham?” Aron mengangguk dua kali sebagai jawaban. “Jadi yang paling berkuasa adalah?” “Babi!” Kali ini Aron berseru. “Terus kalau di Animal Farm, menurut Aron siapa yang salah? Manusia yang terusir dari peternakan, babi yang pintar tapi diktaktor atau binatang lain yang tidak berpengetahuan?” Aron mengetukkan kedua jarinya di dagu. “Babi? Tapi binatang yang lain juga ikut ambil bagian.” Ayah mengangguk. “Para binatang yang dipimpin Napoleon dan Snowball melakukan pemberontakan, bersama mengusung sebuah revolusi untuk menggulingkan kepemimpinan Mr. Jones yang seenaknya dalam mengurus peternakan. Lantas apa yang terjadi? Mereka berhasil, mereka bahkan tidak percaya mereka berhasil bebas dari manusia. Secara mandiri membangun peternakan mereka sendiri. Tapi apa artinya mereka sudah merdeka?” Aron menggeleng. “Tidak ayah. Mereka merdeka tapi tidak benar-benar merdeka. Memang benar bahwa mereka tidak lagi dibawah kuasa Mr. Jones, tapi mereka menghadapi permasalahan internal. Dari kaum binatang sendiri.” “Benar. Mereka memang merdeka, tapi penjajah baru datang. Kaum babi, kaum yang menganggap diri mereka pemimpin berlaku sewenang-wenang. Apalagi sejak terusir ya Snowball dari peternakan. Para babi semakin haus kekuasaan dan perlahan melanggar makna dari lagu binatangisme dan tujuh undang-undang. Dengan kecerdasannya mereka bersikap seolah mereka selalu benar. Memanipulasi binatang lain yang bahkan tidak bisa membaca dan terus membodohinya. Binatang yang hendak menolak dan memberontak pun tidak bisa, mereka terlalu bodoh untuk beradu argumen dengan para babi. Mereka kalah pintar. Mereka bahkan tidak bisa membedakan apakah lebih sengsara saat peternakan dibawah kendali para babi atau Mr. Jones. Pada akhirnya, mereka bahkan tidak bisa lagi membedakan yang mana manusia dan yang mana babi. Karena mereka sama saja, tidak ada bedanya.” Aron mengangguk. “Aron. George Orwell menulis buku ini untuk mengkritik pemerintahan komunisme Uni Soviet pada masa perang dunia kedua. Strata sosial yang terjadi, perbedaan yang begitu mencolok ia gambarkan dengan menggunakan hewan sebagai tokoh. Para babi yang menggambarkan manusia tamak, manusia haus kekuasaan yang tidak bisa memanusiakan manusia. Lalu seekor kedelai yang pintar tapi mengikuti arus. Berdiam diri walaupun tahu apa yang terjadi, seolah tidak terjadi apa-apa. Kuda yang bodoh, tapi begitu setia pada kaum kapitalis. Merpati sebagai pengirim pesan. Semuanya ia gambarkan dengan apik. Banyak pelajaran berharga yang bisa kamu ambil dari buku ini, Aron.” Aron sekali lagi mengangguk. Matanya juga semakin berat. Seperti didongengkan. Mejadi lagu pengantar tidur. Aron tertidur di sofa ruang TV tak lama kemudian. Membiarkan sang ayah yang mengusap kepalanya dengan penuh sayang. *** Keesokan paginya mereka sudah siap untuk pergi berlibur. Ibu ribut sekali membawa segala macam krim agar tidak terbakar di sana. Sementara Aron sudah dari tadi duduk di kursi penumpang. Tidak sabar. Setelah sekian lama mereka berlibur dan untuk merayakan hari ulang tahunnya. Aron menjadi sangat antusias. Jinhyuk keluar dengan malas-malasan. Sesekali menguap karena semalam tidak cukup tidur. Dia harus menyelesaikan proyeknya agar bisa berlibur seminggu ke depan. Dirinya baru tidar jam dua pagi dan kini mereka akan berangkat pukul lima pagi. Jinhyuk duduk di kursi depan. Karena mengantuk, lebih baik ayah yang menyetir. Dan dia berniat menyambung tidur. Tak lama ibu dan ayah memasuki mobil. Ayah sudah siap dibalik kemudi. Mengenakan sabuk pengaman dan meminta kami melakukan hal yang sama. “Semuanya siap?” Ayah bertanya. Aron dan ibu menjawab antusias. “Siap!” sementara Jinhyuk terkejut karena teriakan tersebut, baru saja tertidur. Perjalanan dilalui seperti biasa. Mereka menuju pantai dengan riang. Ayah memutar lagu dari Jannabi. Dia sangat menyukainya. Mereka sesekali berhenti di supermarket karena Aron yang mudah sekali lapar. Akhirnya mereka membeli sekantong penuh makanan ringan agar Aron kuat hingga empat jam kemudian. Sebelum melanjutkan pula, mereka memilih untuk mampir ke restoran yang menyajikan berbagai makanan. Setelah perut kenyang dan badan segar, mereka melanjutkan perjalanan. Kali ini Jinhyuk mengusulkan diri untuk mengemudi. Katanya, dia sudah cukup tidur. Ayah hanya membiarkan saja. Toh, dia bisa beristirahat. Mobil memasuki jalan layang, beberapa kendaraan melaju dengan kecepatan rata-rata. Aron mengamatinya. Dia senang melihat kehidupan sekitar, kota, sungai serta kendaraan. Tiba di persimpangan, dari arah kanan melaju sebuah truk kontainer besar yang hilang kendali. Klakson yang memekakkan telinga membuat Aron menutup mata. Detik kemudian mobil yang mereka tumpangi sudah terbalik dua kali. Kejadiannya cepat sekali. Aron tidak bisa mengingatnya, karena ketika membuka mata. Kepulan asap membumbung tinggi. Seluruh mobilnya bau bahan bakar yang bocor. Dan kali ini Aron membuka mata untuk kedua kalinya, ruangan toko yang ia lihat. Keringat sudah membasahi keningnya. Jantungnya berpacu cepat dengan tangan gemetar. Mimpi buruk itu datang lagi. Sialnya. Aron ketiduran di balik bangku kasir. Saat mencari ponsel dan menilik jam berapa saat ini, ketika itulah Aron melihat ada tiga panggilan tak terjawab dari Nara.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN