11. Your Name

1320 Kata
Rasanya sesak sekali. Setelah ini Nara harus apa? Apa dia akan tinggal lagi bersama Kakek? Atau dia akan tinggal dengan orang tuanya secara bergantian? Tiga hari bersama Papa dan tiga hari bersama Mama? Atau bagaimana? Nara pusing. Lalu harus diapakan seluruh foto keluarga yang memotret mereka bertiga? Apakah nanti Papa akan menikahi wanita selingkuhannya? Apakah wanita selingkuhan Papanya akan jahat seperti ibu tiri lainnya? Membuatnya sengsara dan terjebak di rumah ini selamanya? Tidak. Memikirkannya saja membuat Nara menangis tanpa henti. Pasti ini hanya kesalahan. Iya, itu adalah argumen yang paling waras diantara semuanya. Di dalam suatu pernikahan, pasti akan ada beda pendapat. Mungkin mereka terlalu lelah, mungkin mereka hanya marah sementara saja. Pasti ayahnya tidak akan selingkuh. Nara tahu ayahnya sangat mencintai sang ibu. Nara tahu ayahnya adalah orang yang setia. Nara tidak terlalu sering menghabiskan waktu dengan ayahnya. Hanya sedikit kenangan untuk dikenang, meski begitu sedikit memori itu berisi hal-hal baik. Ayahnya yang membelikan dia banyak mainan terbaru. Ayahnya yang membantu ia mengerjakan PR. Ayahnya yang membantu Nara agar tidak dimarahi Sang ibu. “Nggak mungkin.” Nara menolak percaya. Sosok lelaki pertama, idolanya tega melakukan itu. Tidak mungkin. Hujan sudah mereda. Meninggalkan gerimis tipis yang masih menyelimuti kota. Tempias air hujan yang terbawa angin menyalurkan hawa dingin. Kamar Nara sudah sepenuhnya gelap, hanya cahaya bulan yang menerobos masuk melewati celah jendela. Ketukan sandal yang khas berdentum menampar lantai marmer. Suaranya kian keras, pertanda memang kamar inilah tujuannya. Nyonya Kwon mengetuk pintu. “Nara? Adek udah tidur?” Demi mendengar parau suara Nyonya Kwon yang bergetar, pertahanan Nara kembali jebol. Mamanya yang sebaik itu tega diselingkuhi. Nara marah. Pada siapapun. Terutama wanita yang menyebabkan kekacauan ini. “Adek?” Sekali lagi tetap tidak ada sahutan. Nara tidak mungkin menyahut. Suaranya serak, tangisnya belum berhenti. “Mama mau tidur sama adek boleh? Malam ini aja, kok. Mama masuk, ya?” kemudian engsel pintu bergerak. Melihat kamar yang gelap Nyonya Kwon tersenyum lega. Anaknya sudah tidur. Dia lega bahwa pertengkarannya tidak terdengar Nara. Baginya Nara masih terlalu kecil untuk tahu urusan seperti ini. Itu akan menggangu sekolahnya. Nyonya Kwon menutup pintu pelan. Kamar kembali gelap. Dia melangkah menuju meja belajar. Merapikan buku Nara yang berserakan. Anaknya selalu dapat diandalkan. Anaknya pintar dan baik. Putrinya. Hanya putrinya. Setelah selesai ia mendekati ranjang dengan langkah ragu. Nara meringkuk dengan kaki tertekuk seperti kucing. Dirinya terbaring di sudut kanan ranjang. Menyisakan spot kosong di kiri. Selimut tebalnya menutupi seluruh tubuh Nara. Nyonya Kwon mendesak. “Dasar anak bandel. Sudah dibilangin kalau tidur jangan mengubur diri. Kamu akan kesusahan bernapas, Nak.” Nyonya Kwon bersiap menurunkan selimut di wajah Nara. Sementara gadis itu mati-matian menahan napas. Akan panjang masalahnya jika dia terlihat menangis. Mamanya akan semakin sedih, itu tidak boleh terjadi. Meskipun berkata sedikit menyentak, gerakan Nyonya Kwon sangat hat-hati. Menurunkan selimut sebatas leher. Kemudian mengusap surai Nara yang semakin memanjang. Merebahkan diri disisi satunya, Nyonya Kwon memeluk Nara dari belakang. “Maafin, Mama….” Nyonya Kwon bersuara lirih. Nara mati-matian menahan isakannya agar tubuhnya tidak bergetar. Sakit sekali. Ribuan belati menggores jantungmu secara perlahan. Seakan sengaja menyiksa mu secara perlahan. Itulah yang kini Nara rasakan. Bahkan bernapas pun sulit. Keesokan paginya, Nyonya Kwon bangun lebih awal. Nara hanya menjumpai sisi ranjangnya yang kosong. Mendesah berat. Hari Minggu. Tapi suasana hatinya sangatlah buruk. Nara bahkan tidak berniat beranjak dari tempat tidur. Sudah pukul delapan lebih, dirinya bangun dua jam lebih lambat dari biasanya. Nara buru-buru mencari cermin. Seperti yang ia duga, matanya sembab. Tidak mungkinkan dia turun kebawah dengan mata seperti ini? Pasti akan menjadi pertanyaan. Kamarnya diketuk, Nara sudah bersiap masuk ke dalam selimut sebelum ia bersuara. “Nona, sarapan sudah siap.” Bukan Nyonya Kwon melainkan salah satu asistennya. Nara menarik napas lega. “Mama… Udah bangun?” Nara hendak menanyakan pasal ayahnya juga, tapi urung. “Sudah, Nona. Nyonya Kwon sudah berangkat pagi-pagi sekali. Berpesan bahwa anda harus sarapan tepat waktu.” Nara mengangguk. Syukurlah. “Tuan sudah menunggu dibawah, Nona.” Nara tak tahu harus bereaksi seperti apa. Ayahnya sangat jarang berada di rumah, lalu kenapa sekarang ia sudah menunggunya? *** Selesai mandi dan mematut diri, Nara memutuskan untuk keluar. Apapun yang akan dibicarakan oleh ayahnya, ia harus siap. Dengan segala kemungkinan tentu saja. Nara sudah menyiapkan segala tameng, berusaha untuk menahan diri jika nanti ayahnya akan membahas hal semalam. Nara sudah siap, lebih tepatnya pura-pura siap. Entah Nara harus bersyukur atau terkejut ketika meja makan tak hanya terisi oleh sang papa. Seorang lelaki yang amat ia kenal melambaikan tangannya dengan senyum lebar. Jake duduk di sana. Mengenakan topi backward dengan kaos hitam. Rambutnya yang agak panjang menyentuh pundak belakangnya. “Ayo duduk.” Ayahnya bersikap biasa saja. Menyuruhnya duduk. Nara mengambil bangku diseberang Jake dan sang Papa. Menunggu beberapa pelayan menyiapkan sarapan di piringnya. “Papa kira kamu ketiduran, Jake udah nunggu dari tadi.” Nara mendelik kearah Jake. Sejak kapan cowok itu akrab dengan papanya yang keras? “Papa senang kalau kamu temenan sama Jake. Dia ramah dan baik.” Benar, sih, tapi Jake sedikit jail dan suka bercanda. Usil. Nara tak menanggapi. Hanya fokus dengan sarapannya. Begitu pun Jake. Sepertinya bocah itu sangat sopan ketika sedang makan. Tak lama ponsel sang ayah berdering. Setelah mengamati layar ponsel, dirinya melirik Nara dengan tatapan yang Nara tak mengerti. Seperti was-was. Bahkan ayahnya hanya menjawab iya, baik dan tidak. Sesingkat itu. Tidak ada jawaban lain. Mungkin takut Nara akan curiga atau turut mendengar percakapannya. “Maaf ya, sepertinya ayah sudah ditunggu rekan bisnis ayah. Adek habisin sarapannya.” Sang ayah menyempatkan mencium kening Nara. Gadis itu hanya mengangguk. Kemudian beralih menatap Jake sebelum berlalu. “Jake, Om titip Nara, ya. Pulangnya jangan kemalaman.” “Siap, Om.” Nara mengamati bagaimana papanya begitu tergesa-gesa. Berjalan dengan cepat hingga punggungnya hilang dibalik pintu. Kemudian setelah beberapa menit, suara derung mobil terdengar meninggalkan garasi. Nara mencoba berpikir logis, itu hanya rekan bisnis. Masalah pekerjaan, bukan yang lain. “Kak, gue ada sesuatu.” Jake mengalihkan pemikirannya. Melihat senyum lebar dan ceria itu, suasana hatinya membaik. Entah kenapa, Jake membawa pengaruh positif untuknya. “Apa?” Jake mengeluarkan sebuah kotak berwarna pink dengan ukuran sedang. Nara menggeleng, ini bukan hari ulang tahunnya, bukan juga hari natal. Lalu hari apa? “Buat kakak.” Jake mengulurkan kotak tersebut. Nara menerimanya dengan dahi berkerut. “Dalam rangka apa?” “Hadiah ulang tahun.” Jake menjawab santai. “Tapi gue nggak lagi ulang tahun?” “Gue yang ulang tahun.” Nara membuka mulutnya sebentar. Apa ini tidak terbalik? Lalu kenapa Nara tidak tahu jika hari ini bocah itu berulang tahun? “Jake, happy birthday. Gue nggak tahu kalau hari ini Lo ulang tahun.” “Nggak apa-apa. Memang nggak banyak yang tahu.” Jake tersenyum tulus. “Terus, kok ini Lo ngasih gue kado?” Jake kembali tersenyum. Menampakkan deretan giginya yang rapi. “Buka dulu.” Nara menurut. Sebuah dress cantik berwarna putih tulang. “Lo mau pakai buat hari ini? Buat jalan sama gue?” Nara tersenyum. Mengangguk. “Bagus. Lo pintar banget milihnya.” Nara buru-buru mengabaikan dress-nya. Menatap Jake dengan serius. “Oke, sekarang giliran Lo Jake. Karena Lo hari ini ulang tahun, si cantik Nara akan mengabulkan permintaan Lo. Cepat, Lo mau hadiah apa.” Hadiah? Jake bahkan tidak terlalu memikirkannya. Baginya, menghabiskan hari berharga ini bersama Nara sudah lebih dari cukup. Jake menggeleng. Tidak ada. “Eh, nggak boleh gitu! Lo mau apa? Gue mau ngasih kado buat sweet seventeen Lo, iya kan? Lo udah tujuh belas, kan?” Jake mengangguk. “Ayo, Lo mau minta apa.” Jake mengangguk. Daripada mendengar Nara yang terus mendesak, lebih baik ia yang menyerah. Oke. “Kalau gitu, gue mau manggil Lo Nara. Gue bukan bocah lagi kak, kita sekarang seumuran.” Jake menatap Nara serius. “Gue boleh manggil Lo pakai nama?” Jake menunggu dengan degup jantung tak beraturan. Jika Nara mengizinkan, itu akan menjadi hadiah terbaik tahun ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN