12. Till Death Do Us Part

1359 Kata
Jake berencana mengajak Nara mengelilingi kota dengan motor besarnya. Dua helm sudah ia siapkan. Membayangkannya saja sudah membuatnya tidak sabar. Tapi tidak. Tidak sebelum ia ingat bahwa ia yang menyuruh Nara untuk mengenakan gaun putih tulang selutut. Jake menggeleng. Dia terlalu bahagia menunggu momen ini hingga lupa bagaimana menyiapkan rencana yang matang. Sudah setengah jam lebih ia menunggu diruang tamu. Televisi yang menyala menunjukkan beberapa channel acak. Jake bosan dan jantungnya berdebar tak karuan. Nara turun tak lama setelahnya. Mengenakan dress yang ia beli sejak beberapa hari lalu. Jake terpana beberapa saat. Lupa caranya bernapas. Matanya tak berkedip menatap betapa ayu Nara menapaki anak tangga. Senyumnya terukir, agak kikuk karena tidak percaya diri mengenakan gaun itu. Rambut panjangnya tergerai sempurna, beberapa helai rambut depannya berwarna hijau mint. Sepasang jepit rambut hitam tipis ia pakai. Sepatu kets putih sangat cocok dengan kaki jenjang Nara. “Gue nggak cocok ya?” Nara yang melihat Jake tak bereaksi berniat putar balik. Mengganti pakaiannya. Sungguh, Nara belum pernah segugup ini hanya karena pakaian. Apa karena ini hadiah dari Jake? Apakah karena itu? “Gue ganti baju aja deh.” Jake yang belum sepenuhnya sadar menggeleng. “Nggak. Lo cocok kok, kak. Nggak usah ganti.” “Beneran?” “Iya, sumpah. Cantik banget.” Nara tersenyum simpul. “Gue emang cantik.” “Maksud gue, dress-nya. Cantik.” Nara memberengut sebal. Jake yang usil kembali lagi. “Sialan.” Oh iya. Mengenai panggilan nama tanpa embel-embel “kakak” ditolak Nara mentah-mentah. Dirinya bahkan tidak berpikir dua kali. “Enak aja!” Refleks, Nara memukul dahi Jake dengan sendok ditangan. “Dua bulan lagi gue delapan belas tahun. Gue tetep lebih tua dari Lo. Dasar.” Begitu ucapan Nara beberapa saat lalu. Keduanya memutuskan untuk segera beranjak. Jake sudah menyusun banyak rencana untuk hari ini. Hari paling istimewa dalam hidupnya. Karena mereka hanya tetangga, Jake meminta Nara menunggu sebentar sementara ia menukar motornya dengan sebuah mobil. Nara hendak menolak, toh, dirumahnya banyak mobil nganggur. Tapi itulah Jake, keras kepala. Tidak mau menurut. Lima menit kemudian Jake datang dengan sedan hitam yang mengkilat. Sebelum berangkat, meminta Nara mengencangkan sabuk pengaman. “Siap, bos!” Nara berteriak. Benda kotak bermesin itu membelah jalanan. Pelan. Membiarkan jendela yang sedikit terbuka mengalirkan hawa sejuk. “Kita mau kemana?” Nara bertanya ketika mobil masih melaju. Perlahan meninggalkan kompleks perumahan mewah. “Rahasia.” Nara mencebikkan bibir tak suka. Tapi hari ini ia akan menurut, hari ini adalah harinya Jake. Pria itu sedang berulang tahun, maka sebagai hadiah, Nara akan kooperatif. Menghindari suasana yang canggung, Nara menyalakan radio. Membiarkan alunan musik mengalun. Kemudian tertawa senang ketika lagi favoritnya diputar oleh DJ radio. Lagu Till Death Do Us Part, oleh White Lion mengalun. Sesekali gadis itu ikut menyahut. “Jake, coba dong Lo nyanyi! Gue waktu itu pernah dengar Lo nyanyi!” Nara berseru. Antusias karena tidak satu dua orang saja yang mengatakan bahwa Jake mempunyai suara yang bagus. Dulu tersebar rumor bahwa Jake adalah seorang trainee perusahaan besar. Agensi itu menaungi beberapa artis besar yang sangat terkenal di Korea. Makanya ketika kabar itu menyebar, tidak butuh satu hari hingga Jake menjadi idola dadakan. Ternyata rumor itu benar, Jake sudah menjadi trainee hampir tiga tahun. Tapi tahun lalu ada pemberitaan tentang Jake yang tidak berhasil debut. Tahun lalu, agensi tersebut mendebutkan boy grup baru, tanpa Jake sebagai formernya. Banyak yang berbisik dibelakang, tentang apa keputusan Jake selanjutnya. Sudah bukan rahasia lagi jika dalam satu tahun, agensi rata-rata hanya mendebutkan satu grup saja. Bisa saja dua, tetapi mungkin grup wanita dan pria. Tidak untuk dua grup pria. Jika iya, kemungkinannya kecil. Hanya satu yang akan berhasil. Mereka akan bersaing dengan grup dalam satu agensi. Penghargaan akan sulit didapatkan. Otomatis, yang mereka pikirkan waktu itu, Jake tidak akan debut hingga tahun depan. Beberapa hari setelahnya, Jake memutuskan untuk meninggalkan agensi. Meninggalkan mimpinya sebagai seorang idol. Tapi sekarang entah dia masih menekuni dan mengejar mimpinya atau benar-benar berhenti. Tidak ada yang tahu apakah Jake pindah agensi atau berhenti. Termasuk Nara. “Suara gue jelek.” Jake menolak halus. “Nggak apa-apa. Gue Cuma mau dengar Lo nyanyi, ayolah Jake. Please?” Lalu berikan alasan kenapa Jake harus menolak jika tatapan Nara semanis ini? Seperti kucing kecil lucu. Tenang saja, jalanan sedang macet sejak beberapa menit lalu. Crane yang digunakan untuk membangun jembatan ambruk. Menyebabkan kemacetan yang mengular. Sembari menunggu, Nara iseng memaksanya untuk menyanyi. Jake menunggu hingga irama pas. Kemudian ikut bernyanyi sesuai lagu yang terputar. Pelan, namun Nara begitu meresapinya. Dalam. There’ll be good times And there’ll be bad Kenangan tentang semalam. Isu perceraian kedua orang taunya. Sesuatu tak berbentuk menusuk ulu hatinya. Sesak. Nara susah payah menormalkan napasnya. Rasanya baru kemarin keluarganya berkumpul dengan bahagia. Saking tertawa ketika dirinya salah mengenakan pakaian untuk berlibur. Harusnya Nara mengenakan pakaian pantai, tapi dia mengira akan berlibur ke gunung. Maka ayah dan ibunya menertawai ia habis-habisan. Dengan saking merangkul. Sesekali ayahnya mengecup dahi sang ibu. Kini semuanya hanya tinggal waktu. Sampai kapan semuanya akan bertahan. But I will stand beside you Jake sesekali menatap matanya, beralih antara jalanan dan dirinya. Kali ini sedikit lama. Mengunci manik matanya. Entah apa yang coba ia sampaikan, tapi Nara merasa kian sesak. Woman, all the way And through the years As life will put us through When snow will fall on winter nights Kemarin, pembawa berita menyampaikan bahwa salju pertama akan turun nanti malam. Nara sempat mendengarnya saat makan malam. I’ll keep you warm inside Jake Seakan mengatakan bahwa ia akan memeluk Nara erat. Membuat Nara hangat dari segala dinginnya permasalahan. Jake akan menemaninya apapun masalahnya. Yeah, baby, I will. Jake berjanji. Nara menangis. Pertahanannya runtuh. Segala sesak yang ia tahan kini pecah. Dia sudah tidak tahan lagi. Nara butuh sandaran. Butuh teman bercerita. Jake memutuskan untuk memutar arah. Yang semula menuju pusat perbelanjaan kini menuju tempat yang ia sering kunjungi. Didepan ada sebuah jalan, tanpa harus menunggu puluhan menit untuk berputar arah. Jake mengendarai mobilnya menuju jalanan sepi. Berjarak beberapa meter dari halaman belakang sebuah rumah besar. Di seberangnyaa ada sebuah taman yang tidak lagi terpakai meski memiliki fasilitas yang juga tak kalah baik. Jake memarkirkan mobilnya ditepi jalan. Mematikan mesin mobil. Yang ia lakukan selanjutnya hanyalah menunggu. Membiarkan Nara menyelesaikan tangisnya. Dia tidak akan bertanya. Nara akan menceritakannya jik aja sudah siap, bertanya apa masalah yang ia hadapi saat ini hanya akan merusak suasana. Semuanya menjadi tak terkendali. Jake mengulurkan kotak tisu. Segera Nara menyambarnya. Tidak sungkan menangis semakin keras atau bahkan mengeluarkan ingusnya keras-keras. Terserah Jake akan risih atau tidak, Nara tidak peduli. Butuh lima belas menit untuk Nara benar-benar tenang. Isakannya tak terdengar lagi. Wajahnya memerah. Hidungnya apalagi. Matanya sembab, berwarna kemerahan karena tangisnya tadi. “Mau minum?” Jake mengulurkan sebuah air mineral. Nara mengangguk. Menghabiskan sepertiga kapasitas air dengan sekali teguk. Menangis itu butuh tenaga. Nara sudah membuktikan teori tersebut. “Maaf. Gue nggak tahu kenapa malah nangis. Maaf Jake, harusnya kita senang-senang hari ini. Hari bahagia Lo, gue malah rusak segalanya.” “Nggak apa-apa, Kak. Jangan pikirin soal gue. Kalau Lo emang lagi nggak baik-baik aja, mending gue anterin Lo pulang. Mungkin Lo masih pengen sendiri.” Jake memberi masukan. Sepertinya Nara tdiak sedang dalam kondisi bagus. Salahnya juga yang terlalu antusias hingga tidak menyadari sikap Nara yang dari awal sedikit ganjil. Tidak seperti biasanya. Nara menggeleng. “Gue udah janji. Gue bakal nemenin Lo hari ini.” “Nggak usah kak. Lagian kalau Lo badmood terus, nggak bakal seru.” Jake mencoba tertawa. Berhasil. Seutas senyum terbit di wajah suram Nara. “Jalannya bisa besok-besok lagi. Sekarang, Lo lebih penting.” Nara mengacak rambut Jake. “Gaya Lo kayak orang dewasa aja.” “Ya udah. Sekarang gue anterin pulang. Mau?” Nara menggeleng. Justru semakin sesak berada di rumah. Semuanya akan hilang sebentar lagi. Nara akan semakin pusing. “Nggak, Jake. Gue nggak mau pulang.” Nara menunduk. Suaranya kembali bergetar. Jake mengangguk. Bisa disimpulkan bahwa sumber masalah atau yang menyangkut masalah ini adalah bersumber dari rumah. “Turun, yuk!” Nara menggeleng. Dia tidak mau. Tapi terlambat. Jake yang telah turun dan memutari mobil, menarik tangannya untuk turun. “Trust me.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN