Nara bosan sekali. Beberapa menit duduk di bangku taman yang sepi. Sepintas bayangan saat menghabiskan waktu dengan Aron melintas seperti kilatan petir. Hanya sepersekian detik namun dampaknya luar biasa.
Nara kehilangan kontrol diri untuk mengingat bahwa yang duduk disampingnya adalah Jake. Bukan Aron.
“Kenapa, Ron?”
Jake malah tersenyum. Tidak tersinggung sama sekali. Padahal Nara sudah seperti kepiting rebus. Malu luar biasa, merasa tidak enak.
“Ron? Aron anak kelas dua belas? Kapten tim futsal?”
Seratus. Jake menebak dengan benar, tapi itu tidak pantas untuk dirayakan.
“Maaf, Jake. Lo tadi mau ngomong apa?”
Jake tersenyum lagi. Kenapa cowok ini mudah sekali tersenyum? Dia selalu membawa pengaruh baik dan positif kepada siapapun yang berada disekitarnya.
“Bukan apa-apa. Nggak penting buat dibahas.”
Nara mengangguk. Nyaman sekali berada disekitar Jake. Dia jadi ingin menumpahkan segala sesuatu yang selama ini selalu Nara pendam. Nara tidak pernah punya teman cerita. Tidak seperti Sera yang selalu terbuka padanya, rasanya Nara masih sungkan.
“Kalau mau cerita, cerita aja. Gue siap dengerin. Mungkin dengan Lo cerita, sedikit beban akan berkurang. Tidak bukan sedikit. Banyak, banyak beban yang akan berkurang. Rasa sesaknya akan hilang tanpa kita sadari.”
Jake tahu. Sejak awal bahkan pagi tadi, Nara selalu tidak fokus. Pikirannya bukan pada detik ini, entah memikirkan apa.
“Jake…” Nara berkata lirih. Memandangi sepasang sepatunya di tanah. Jemarinya gemetar di atas lutut.
“Nggak apa-apa. Kalau Lo nggak mau atau belum siap cerita, nggak usah aja.” Jake menyentuh tangan Nara. Memberikan ketenangan agar Nara tidak ragu. Mau bercerita atau tidak, itu urusan Nara.
Nara tersenyum kecil. Menggenggam tangan Jake erat.
“Menurut Lo, manusia itu punya jodoh berapa?”
Jake berpikir sebentar. “Gue nggak tahu, sih. Tapi mungkin cuman satu?”
Nara mengangguk. “Terus kalau orang yang poligami? Punya lebih dari satu istri? Jodohnya Cuma satu?”
“Mungkin? Tapi bisa juga kalau Tuhan menggariskan dia punya dua jodoh. Misal di kasus ini. Seorang pria nikah sama wanita, terus nggak lama wanitanya meninggal. Kemudian si pria nikah lagi. Nah, kalau kasusnya begini, jodoh si pria ini satu atau dua? Kalau satu, siapa jodoh yang sebenarnya?”
Nara memutar bola matanya. Pikirannya kembali rileks. Mungkin dengan cara bertukar opini seperti ini dia akan mendapat solusinya.
“Kalau menurut gue, dua wanita tadi tetap jodohnya. Ketika si pria masih sama istri pertama, dia adalah jodohnya. Dan pas sama istri kedua, dia juga jadi jodohnya si pria.” Nara menanggapi.
“Bisa juga. Tapi ada hopotesis lain, Kak.” Jake menjeda, “mungkin si istri pertama cuman mampir. Bukan jodoh dari si pria.”
Nara mengangguk. “Terus kalau orang yang cerai? Mereka berarti nggak jodoh, ya?”
Jake mengusap punggung tangan Nara. Tanpa sadar mereka masih menautkan jemari sejak tadi.
“Belum tentu.”
Nara mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Kak. Nggak semua perceraian terjadi karena salah atau bukan jodoh. Banyak di luar sana, pasangan yang memutuskan bercerai tapi sampai meninggal, mereka nggak menikah lagi. Terus kalau kasusnya kayak gini, siapa jodoh si pria yang meninggal ini?”
Nara menggeleng.
“Bisa jadi. Ini cuman dari sudut pandang gue, ya kak. Bisa salah, bisa juga benar. Sebenarnya mereka juga berjodoh, tapi karena satu dan lain hal mereka memilih berpisah. Berjodoh itu bukan soal menikah, tinggal serumah, punya anak, menikmati hari tua bersama. Jodoh itu lebih dari itu. Mereka yang berjodoh, mencintai satu sama lain. Menyayangi satu sama lain dengan atau tanpa ikatan.”
Nara mengangguk. Lalu, untuk kasus orang tuanya. Apakah bisa disimpulkan seperti itu?
Karena Nara tak merespon, Jake memilih untuk lebih dulu bertanya. “Tapi, kalah boleh tau. Kenapa tiba-tiba bahas ginian?”
“Jake. Mama sama Papa semalam berantem. Gue pikir ini pertengkaran mereka yang paling kacau selama ini. Mama nggak pernah berani teriakin Papa sebelumnya, tapi kali ini Mama marah besar. Mereka bilang mau ngurus perceraian secepatnya. Gue nggak tahu harus gimana.” Nara menahan isakannya yang berada di pangkal lidah.
Jake membeku. Dia tidak tahu jika masalahnya akan seserius ini. Ia pikir ini hanya masalah anak dengan orang tua seperti biasa. Dia tidak menyangka bahwa Nara menghadapinya semalam. Dan mungkin sendirian.
“Kak, Lo jangan mikir yang aneh-aneh. Percaya sama gue, orang dewasa pasti punya cara pikir yang berbeda. Mungkin mereka lagi ada masalah, makanya nggak sengaja kalimat itu keluar. Lagipula, namanya rumah tangga pasti ada pasang surut. Pasti ada pertengkaran. Ya, kan?”
Nara mengangguk. Paham betul akan rumus itu. Tapi yang ini berbeda. Sangat berbeda. Bahkan Mamanya sampai meminta maaf pada Nara. Sebelumnya tidak pernah mereka seperti ini.
“Tapi, Jake–”
“Kak. Daripada berpikir yang enggak-enggak, lebih baik Lo buat suasana rumah lebih bersahabat. Mungkin itu hanya emosi mereka sesaat, siapa tau dengan Lo yang ceria, bisa bikin hati mereka luluh.”
Jake benar. Tidak ada gunanya bersedih dengan keputusan yang belum diambil. Apalagi dia hanya mendengar setengah dari kebenaran. Menguping.
“Iya Jake.”
“Sekarang, Lo jangan mikir gituan ya. Minggu depan kita udah ulangan akhir semester. Nggak baik kalau Lo malah mikirin masalah yang belum tentu kebenarannya. Lo juga belum dengar penjelasan dari orang tua Lo, gue yakin mereka pasti bakal mikirin semuanya matang-matang sebelum ambil keputusan. Apalagi sebesar ini. Kasih mereka waktu buat nenangin emosi masing-masing, tugas Lo sebagai anak hanya bersikap wajar. Bantu mengurangi beban mereka dengan nggak sedih didepan mereka.”
Jake jika sudah seperti ini terdengar layaknya kakek tua. Penuh nasehat dan petuah. Tidak cocok dengan dia yang biasanya sembrono.
“Gue lapar, Jake.”
Tak butuh dua kali berkata demikian untuk Jake paham. Mereka segera mencari restoran terdekat. Sudah waktunya makan siang.
“Maaf ya, Jake. Hari ini harusnya kita jalan-jalan, kita bahagia. Maaf malah merusak semuanya.” Nara bersungguh-sungguh. Merasa sangat bersalah karena merusak rencana yang telah disusun Jake.
“Nggak apa-apa. Tahun depan kita masih bisa jalan lagi kok.”
“Rencananya, hari ini Lo mau ngajak gue kemana?” Nara bertanya antusias.
Mereka berhenti di lampu merah. Penghitung waktu masih sangat lama.
“Ke makam Mama gue, Kak. Gue mau ngenalin Lo ke Mama.”
Nara tidak tahu harus menyahut seperti apa. “Jake, gue nggak tahu. Maaf. Seharusnya Lo bilang dari tadi, biar gue nggak ngabisin waktu kayak gini.”
“Nggak apa-apa. Lo cerewet banget, kak. Besok masih bisa ke sana lagi.”
“Kalau sekarang aja gimana? Ayo Jake, kita ke sana.”
Jake menggeleng. Wajahnya kembali menatap jalanan besar ketika lampu kembali berwarna hijau. “Udah jam segini, Kak. Lagian gue izin sama bokap Lo cuman sampai sore. Gue harus nepatin janji buat nganterin Lo pulang telat waktu.”
“Gue yang izin ke Papa. Bentar gue telepon dulu.”
“Hey, nggak perlu. Kita ke sana minggu depan, gimana? Kalau hari ini, waktunya mepet. Minggu depan aja.”
Gadis itu menurunkan sudut bibirnya. Kecewa karena lagi-lagi harus merusak momen penting. Di hari ulang tahunnya, Jake pasti ingin merayakan dengan orang yang istimewa. Sang ibu. Terlebih dari itu, sangat disayangkan Nara mengetahui fakta itu dihari ini. Bahwa Makanan telah meninggal. Jika ia tahu sebelumnya, maka Nara tidak perlu membahas masalah jodoh di taman tadi. Nara mendesah kecewa.
“Jake, gue minta maaf. Hari ini Lo ulang tahun. Dengan bodohnya gue nggak tahu, hari ini Lo mau ke makam Mama Lo, tapi lagi-lagi karena gue kita gagal ke sana. Harusnya kita senang-senang hari ini, tapi karena masalah gue, semuanya jadi berantakan. Jake gue minta maaf.” Nara mencicit pelan.
“Minggu depan kita ke sana.” Jake memberikan solusi.
“Janji?”
Jake menggeleng tidak setuju. “Janji, kak. Lagian, bukan salah Lo, memang timingnya aja yang tabrakan. Semuanya terjadi juga nggak bisa dikontrol. Lagian, buat hari ini cukup kok buat gue.” Jake sekilas menatap teduh manik mata Nara. “Ada Lo sama gue, semuanya udah lebih dari cukup.”
***
Jake mengantarkan Nara sampai di rumah tepat waktu. Tidak kurang suatu apapun. Jake tersenyum bangga. Menjadi orang yang bisa menepati janji dengan apa yang telah ia ucapkan adalah salah satu wujud dari gentlemen. Dia sudah bisa bertanggung jawab. Jake dapat dipercaya dengan segala yang telah ia ucapkan.
“Lo nggak mau mampir bentar?” Nara menawarkan. Keduanya berada di depan gerbang.
Jake menatap jam tangan. “Maaf, kak. Tapi hari ini mau ada makan malam keluarga. Nggak enak kalau gue telat, soalnya yang dirayain ulang tahun masih dijalan. Mereka pasti marah-marah.”
Nara tersenyum. Mengangguk paham. “Ya udah, hati-hati ya.”
“Gue mau lihat Lo masuk, baru gue pergi.”
Nara tertawa pelan. “Oke. Lo cepat sana, nanti ditungguin. Bye!”
Begitu memasuki pelataran, Jake melambaikan tangan dan segera memacu mobil. Orang rumah sudah menunggunya.
Tadi sebelum pulang, mereka makan di restoran pusat kota. Mampir sebentar ke perpustakaan untuk menghabiskan waktu. Saling bertukar pendapat mengenai bacaan yang mereka sukai. Nara menyukainya. Jake menjadi teman sekaligus adik yang bisa ia andalkan.
Ketika menjejakkan kaki di lantai ruang depan, Mama sudah menyambut. Seperti tidak ada masalah apapun. Mamanya seperti biasa duduk di ruang utama dengan majalah ditangan. Wajahnya masih putih tertutup dengan masker.
“Ma?”
“Mama!”
Nara berlari menghampiri Nyonya Kwon. Menghambur dalam pelukan hangatnya dan tanpa sadar menangis.
“Kamu kenapa? Kok nangis? Tadi katanya jalan sama Jake? Kamu diapain sampai nangis gini?”
Tepukan dan usapan hangat membelai lembut pucuk kepala Nara. “Anak Mama kenapa nangis?”
Biasanya Nara hanya akan menangis karena tidak mau disuruh belajar atau karena dimarahi karena bermain hingga lupa belajar. Nyonya Kwon mengerutkan dahinya dalam. Bingung dengan apa yang terjadi.
“Nggak apa-apa.”
Nara hanya senang Mamanya pulang. Dia pikir sang Mama pergi dari rumah dan tidak akan kembali lagi. Dia pikir segala pembicaraan malam tadi. Nara kini benar-benar percaya bahwa semua akan baik-baik saja. Semua akan kembali seperti semula. Nara yakin.
***