14. Rapidly

2667 Kata
Minggu ini kegiatan seperti berhenti berputar. Semua murid secara mandiri menyiapkan diri masing-masing untuk mengikuti ulangan akhir semester. Banyak yang sibuk belajar. Mencari tempat ternyaman untuk menghafal dan memahami semua materi. Ada yang duduk di gazebo, di depan kelas hingga di kantin. Nara dan Sera memilih untuk belajar di tribun sudut lapangan. Berdua saling membaca materi yang telah mereka siapkan. Namun sepertinya tidak semua siswa antusias dengan ulangan ini, karena beberapa tampak acuh dan memilih bermain futsal di lapangan. Mereka memakai kaos dan entah kemana seragamnya berada. Berlarian mengejar bola dengan tawa. Sesekali tampak berhenti dipinggir lapangan untuk minum. “Gue nggak suka matematika.” Sera menyerah. Melemparkan bukunya yang penuh dengan catatan. Mungkin dia masih bisa membaca, tapi otaknya sulit sekali diajak kerja sama menghafal deretan rumus panjang. Nara tertawa pelan. Sebenarnya tidak hanya Sera, dirinya pun tidak suka matematika. Dia lebih suka menghafal berbagai idioms daripada memahami satu rumus matematika. Apalagi kalau satu rumus dibawa ke soal lain. Meski masih menggunakan rumus yang sama tetao saja sangat sulit. “Bentar lagi jam kita, Sera. Ayo cepat belajar meski nggak paham.” “Nara.” Sera mendesah resah, “belajar dan nggak belajar nggak akan ada perbedaan. Nanti nilai gue pasti juga jelek.” “Ya itu jelek karena Lo udah pesimis dari awal.” “Ah, susah ngomong sama orang pintar.” Sera menyerah. Tidak akan menang jika berdebat soal ini pada Nara. Sebuah bola tiba-tiba datang dan menghantam buku yang sedang Nara pegang. Gadis itu terkejut, bukunya juga jatuh berserakan. Beruntung tidak menghantam wajahnya. Sera sudah mengambil ancang-ancang lebih dahulu. “Woy! Kalau main hati-hati dong!” Seorang cowok yang sayangnya Nara tidak tahu namanya datang menghampiri. Mungkin hendak mengambil bola yang menggelinding di depan Nara duduk. Tapi terlambat, Sera yang sudah kepalang kesal membuang bolanya sembarang arah. “Santai dong!” cowok itu berteriak. “Lagian Lo berdua yang salah, belajar ya dikelas kenapa disini? Lapangan itu gunanya buat olahraga!” Sera melotot. Anak ini tidak tahu sopan santun, sudah salah, masih saja menyalahkan dirinya dan Nara. Kalau saja k*******n tidak dilarang, sudah dia sepak mulut cowok itu dengan tendangannya. Sera sudah memasang kuda-kuda, bersiap mengeluarkan rentetan omelan panjang sebelum Aron menepuk pundak cowok itu. menginterupsi. “Udah, Yoon. Kita yang salah, balik sana.” Cowok yang dipanggil Yoon tersebut melenggang pergi. Meski sempat beradu tatapan maut dengan Sera. Mereka terlibat perang dingin rupanya. Nara menepuk Sera. “Udah-udah. Nggak apa-apa.” Sera mengalah. Satu masalah pergi kini masalah baru muncul. Dia masih tidak ingin melihat Aron berkeliaran disekitarnya. Oleh sebab itu, Sera segera membereskan seluruh buku sebelum berkata pelan pada Nara. “Gue duluan ya, mau ke toilet.” Melirik sebal pada Aron dan melenggang sebelum Nara sempat mengangguk. Keduanya diam. Masih menatap punggung Sera yang menghilang dibalik pintu ruangan futsal. Nara hendak menanyakan kenapa malam itu Aron tidak menjawab panggilannya. Nara hanya ingin tahu kemana dia pergi. Tapi urung. Tidak penting untuk dibahas, sudah berlalu juga. “Kalian masih marahan, ya?” Nara memulai pembicaraan. Bergerak mengambil bukunya yang tadi terjatuh, kemudian duduk di tribun. Aron bergerak menyusul. Duduk di samping Nara. “Nggak tahu.” “Kok nggak tahu?” Aron mendesah berat, “Sera yang kekanakkan.” Nara gatal ingin menanyakan sebab musabab mereka kenapa memutuskan untuk mengakhiri hubungan. Rasanya hal tersebut bukan ranah yang tepat untuk ia tembus. “Bukan karena Lo kok. Gue serius.” Nara tahu Aron menatapnya lamat. Tapi dia abai dan terus membaca catatannya. Meski yang tertulis dibuku sama sekali tidak terserap ke akalnya, semuanya buyar karena Aron ada disini. s**l sekali. “Ra, kalau lo mikir kita putus gara-gara Lo. Itu nggak benar. Jangan nyalahin diri Lo sendiri. Gue tahu Lo pasti mikir gitu.” “Enggak kok, lagian gue siapa sampai bisa ganggu hubungan kalian?” Aron membatu. Tidak tahu harus menjawab apa. Belum sempat mengembalikkan kesadarannya, bel sudah berbunyi nyaring. “Gue ke kelas duluan, ya.” Nara melangkah pergi. Meninggalkan Aron yang kini bernapas berat. Meraup oksigen sebanyak mungkin. *** Aron merebahkan tubuhnya dibawah terik matahari yang membakar. Buku yang ia bawa digunakan untuk menutup wajahnya dari sinar matahari. Berusaha tidur lelap tanpa memikirkan apapun. Meski kenyataannya berbanding seratus delapan puluh derajat. “Mau rokok?” John menawarkan kotak rokok pada Aron. Dia sudah mengapit sebatang rokok di antara jari telunjuk dan tengahnya. Sesekali menghembuskan asap tebal yang membumbung. Aron tak bergeming. John mengedikkan bahunya dan dengan segera memasukkan kotak rokok ke saku. Memilih menikmati sebatang rokok yang tinggal setengah. “Gue pikir, Lo terlalu serakah.” John memulai pembicaraan. Meski tidak menyahut, John tahu bahwa Aron mendengarkan. Maka dia melanjutkan ucapannya. “Lo sebenarnya suka sama Sera atau Nara?” Kembali Aron diam. Mungkin sedang merangkai jawaban yang pas. “Lo yang hancurin pertemanan mereka. Lo yang buat mereka salah paham, sekarang pas semuanya udah balik ke semula. Mereka berdua udah baik-baik aja, Lo datang lagi.” John mengepulkan asap, menarik napas dalam. “Lo itu b******n, Ron. Tapi karena Lo teman gue, ya gue maklumin.” “Bangsat.” Aron tertawa. John juga. Kemudian suasana lengang sesaat. Mereka memilih mengatur respirasi masing-masing. “Saran gue, Ron. Lo mantapin hati Lo dulu. Bisa aja Lo kehilangan mereka dalam waktu bersamaan. Jangan serakah.” John menatap lamat Aron yang kini menegakkan punggung. Mulai menganggap serius pembicaraan ini. “Kalau Lo mau deketin Nara, Lo kelarin masalah Lo sama Sera dulu. Nggak bakal bertahan lama kalau Lo Cuma menghindar terus. Lagian, Ron. Emangnya Nara masih mau sama lo? Lo pikir dia nggak sakit hati pas Lo bentak waktu itu? Lo juga tahu, sebenarnya tujuan buat pacaran sama Sera apa.” Aron menggulung bukunya. Melemparnya ke wajah John. “Nggak usah sok bijak Lo.” Aron berjalan meninggalkan rooftop sekolah. Pikiran berkecamuk di kepalanya. John ada benarnya. John tertawa. “Best of luck, bro!” Cowok itu tahu bahwa temannya sebentar lagi stress. *** Ada empat tipe siswa saat ujian. Yang pertama adalah yang memang pintar dan berbakat. Tidak perlu belajar terlalu keras karena ingatan tajamnya mampu mengingat banyak. Kemudian akan mengerjakan soal ujian dengan riang dan senang. Yang kedua adalah yang tidak terlalu pintar tapi karena itulah ia berusaha. Seperti Nara. Dia tahu kelemahannya, maka dari itu belajar sepanjang malam hingga sulit tidur. Tapi percaya, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Semua yang ia pelajari keluar di soal ujian. Nara tersenyum lega. Yang ketiga adalah yang belajar tetapi tidak bisa mengingat apapun. Sera contohnya. Meskipun berusaha belajar dengan sungguh-sungguh, ketika memasuki ruang ujian semuanya tercecer. Semuanya menjadi buram ketika kertas ujian sampai dimeja. Materi sudah ia pelajari, tapi sayangnya Sera lupa segalanya. Yang keempat adalah pemalas. Entah pintar atau tidak, pemalas tidak akan belajar. Tidak menyentuh kertas ujiannya sama sekali sebelum menit-menit terakhir. Tidak belajar sebelum ujian. Seperti Aron dan John. Bedanya, meski Aron tidak belajar, dia tetap bisa mengerjakan semuanya dengan mudah. Berbanding terbalik dengan John yang kini kesulitan. Bingung harus mengisi kertas dengan apa. Beraneka ragam sifat manusia. Begitupun siswa sekolah. Tidak ada yang bisa membuat mereka rajin semua, atau memiliki tingkat kepintaran yang sama. Dan ketika bel berdering, Nara mendesah lega. Semua soal ia selesaikan dengan baik, meski ada satu dua yang membuatnya ragu. Tapi tidak masalah, belajar semalam membantu banyak. Sementara Sera panik dan ribut sendiri. Mengeluarkan seluruh catatannya dan berseru kecewa. “Ini, Ra. Astaga, gue ingat tadi kalau caranya pakai ini, tapi gue tiba-tiba lupa.” Beberapa sekon kemudian kembali histeris. “Nara, masa gue bisa-bisanya lupa teori ini? Gue salah ngisi tadi, aduh gimana, nanti nilai gue jeblok.” Sera seperti hendak menangis, wajahnya memerah padam. “Udah, Sera. Sekarang lebih baik belajar buat ujian besok, disesali pun nggak bakal bikin jawabannya berubah.” Nara berusaha menasehati. “Lo, sih, enak ngomong gitu. Lo bisa ngerjain, sementara gue enggak.” Sera menghentakkan kakinya menjauhi lorong. Nara mengedikkan bahunya. Tipe murid terakhir adalah yang abai. Setelah keluar ruangan ujian, tidak memikirkan apa yang sudah terjadi di dalam. Tidak peduli apakah jawabannya benar atau salah. Menganggapnya masa lalu. Apa yang telah terjadi, terjadilah. Life goes on. *** Waktu berjalan dengan sangat cepat. Nara yang terlalu sibuk dengan ujiannya tak sempat memikirkan sekitar. Tentang Sera yang kini berteriak karena kehabisan stok makanan di kantin, juga Jake dan Aron yang seminggu terakhir tidak terlihat. Kalau masalah Jake, cowok itu harus berangkat ke tempat bimbingan belajar setelah pulang sekolah. Tidak ada waktu untuk bermain, dia banyak tertinggal karena dulu selalu mendapat dispensasi ketika masih menjadi trainee. Makanya, sekarang dia harus banyak mengejar agar nilainya tidak tertinggal. “Kita makan apa?” Sera merengek. Sejak jam terakhir berbunyi, perutnya sudah sangat kelaparan. “Nara, gue lapar.” Nara mengangguk sebentar. “Mau ke café nggak?” Sera mengangguk setuju. Matanya berkilat. “Nggak apa-apa, deh. Tapi nanti anterin gue kesini lagi ya? Soalnya club menulis ada pertemuan satu jam lagi.” “Nanti kalau telat gimana?” Waktunya mepet sekali, tidak akan sempat. “Biarin. Perut gue lebih utama.” Nara mengangguk menurut ketika Sera menyeretnya meninggalkan lorong kelas. Kapasitas otaknya sedikit mengecil karena habis terbakar sewaktu ujian tadi. “Lo habis makan mau kemana?” Sera bertanya ketika keduanya duduk di jok penumpang. Pak Kim mengendarai mobilnya ke sebuah café yang Nara sebutkan. “Nggak tahu. Mungkin langsung pulang atau ke mall dulu.” Sera mengangguk. “Mau ikut gue nggak? Nanti ada acara bedah buku. Nggak Cuma club menulis aja kok, dibuka buat umum. Nanti narasumbernya anak sastra dari universitas Hankook.” Sera sejak dulu tertarik dengan sastra. Gadis itu memiliki perpustakaan besar di dalam kamarnya. Berbagai judul novel dari dalam dan luar negeri tertata rapi. Begitupun jurnal, tesis dan penelitian tentang resensi buku ataupun film. Dia juga sudah menerbitkan sebuah buku, meskipun tidak menembus best seller di book store tapi itu pencapaian yang luar biasa. “Gue nggak tertarik.” Nara menjawab singkat. “Padahal seru, loh. Banyak anak Hankook yang pintar-pintar. Ganteng lagi. Mereka kalau lagi ngomongin buku gantengnya bertambah tiga kali lipat!” Sera berseru antusias. Nara menoyor dahi Sera. “Lo kalau urusan cowok nomor satu.” Keduanya tertawa. Sampai di café yang dituju, keduanya segera memesan. Menghabiskan makanan mereka dengan cepat, bagaimanapun Sera hanya bercanda ketika mengatakan tidak peduli dengan acara bedah buku nanti. Itu adalah kegiatan favoritnya. Setelah selesai, Nara mengantarkan Sera kembali ke sekolah. Melambaikan tangan ketika Sera berlarian menyeberangi halaman sekolah. Berteriak agar gadis berkuncir satu itu lebih berhati-hati. Nara bosan. Membiarkan mobilnya terparkir di depan gerbang sebentar. Tidak tahu hendak pergi kemana. Di rumah hanya ada dirinya dan asisten rumah tangga. Mungkin dia akan mandi, menonton TV ataupun bermain dengan Hitam – kucing miliknya. Seperti biasa. Siklusnya tidak pernah berubah. “Mau kemana, Non?” Pak Kim yang masih menunggu perintah bertanya. Nara berpikir sejenak. Sejak percakapan di lapangan beberapa hari lalu, dirinya dan Aron tidak lagi bertemu. Berpapasan pun tidak. Seakan Aron berniat menghindarinya. Kebetulan John melewati mobilnya, dia seperti sedang terburu-buru karena berlarian keluar dari pelataran sekolah. Wajahnya dipenuhi peluh keringat. “John!” Nara berteriak. Membuat cowok itu menghentikan langkahnya secara mendadak. Hampir jatuh tersungkur jika saja tangannya tak cepat menggapai pohon di samping trotoar. “Nara?” Gadis itu melambai, melongokkan kepalanya keluar dari jendela. John segera menghampirinya, mengatur napasnya yang tak karuan. “Kenapa?” tanyanya ketika sudah mengatur respirasi dengan baik. “Anu, itu.” Nara menggantung kalimatnya. Sedikit sungkan jika bertanya mengenai Aron. “Udah tanya aja, gue buru-buru soalnya.” John berkata demikian sembari menatap ke seberang jalan. Seperti sedang dikejar waktu. “Lo lihat Aron? Hampir seminggu gue nggak lihat dia.” Nara mencicit pelan. John mengerutkan dahinya. “Dia setiap hari berangkat, kok. Tapi selalu pulang duluan dan nggak ikut anak-anak pas ngumpul. Kayaknya lagu sibuk kerja.” Nara mengangguk. “Sibuk banget, ya?” Sebenarnya tidak sesibuk itu. Aron masih sering berdiam diri di rooftop sekolah. Atau mungkin karena pembicaraan terakhir mereka waktu itu? Perihal nasehat John untuk menunggu semuanya selesai sebelum melangkah maju? John berpikir sejenak. “John, Lo tahu alamat tempat kerjanya Aron?” John mengangguk. Biarlah. Jika nanti Aron marah karena dia yang memberitahu Nara, biar dia yang tanggung. Setelah memberitahu letak lokasinya, John segera berlari pergi. Melambaikan tangannya. “Best of luck, Nara!” teriaknya dari kejauhan. Nara meminta Pak Kim mengantarnya ke tempat tujuan. Mengeluarkan ponsel untuk sekedar memandangi riwayat panggilannya. Dulu sekali, saat malam itu. Setelahnya, Aron tidak menghubunginya sama sekali. Nara mengaduh. Mulai menyalahkan dirinya sendiri. Dia sekarang seperti seorang pacar posesif. Harus tahu semua keadaan tentang Aron. Padahal mereka bukan siapa-siapa. Nara mengetik sebuah pesan. Saat hendak menekan tombol kirim, dia urung. Kembali menghapusnya. Begitu siklusnya hingga tiga kali. Saat dia frustasi, baru mematikan layar ponsel dan memasukkannya ke dalam tas. Sebuah toko serba ada yang buka dua puluh empat jam menjadi pemberhentian mereka. Toko ini terletak di depan persimpangan. Suasananya sangat ramai, karena disebelahnya berjajar restoran serta toko lainnya. Nara meminta Pak Kim menunggu sebentar sementara dia menuruni mobil. Perlahan mendorong kaca transparan toko. Berjalan menuju meja kasir. Seorang perempuan yang mungkin duduk di bangku perkuliahan menyapa ramah. “Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?” Nara kikuk sendiri. Menurut ucapan John tadi, disini tempat Aron bekerja. Tapi setelah memindai seluruh sudut toko, Aron tidak kunjung terlihat. “Kata teman saya, Aron kerja disini. Apa benar?” Nara gugup. Bersosialisasi dengan orang baru adalah kelemahannya. “Oh, Choi Aron?” Nara mengangguk antusias. Syukurlah dia tidak salah destinasi. Ini adalah tempat yang tepat. “Kamu temannya?” Nara mengangguk lagi. “Iya, saya mau mengembalikan barangnya yang tertinggal di kelas.” Nara mengarang sebuah cerita. Perempuan itu tersenyum. Kemudian wajahnya sedikit kecewa. “Iya, Aron memang kerja disini. Tapi sudah beberapa hari sejak dia berhenti bekerja disini.” Nara menghembuskan napas kecewa. Kapan? Sejak kapan Aron berhenti bekerja disini? Kalau dia tidak disini, sekarang kemana dia? Bahkan John yang notaben nya teman dekat juga mengira Aron masih bekerja disini. Apa ada yang ia sembunyikan? Nara melangkah dengan langkah gusar setelah menyampaikan kata terimakasih. Mendapati wajah masam sang nona, Pak Kim memutuskan tidak bertanya. Memilih menunggu hingga Nara sendiri yang mengucapkannya. “Pak, nunggu bentar, ya. Barangkali nanti dia lewat sini. Katanya, rumah dia di area sini.” Pak Kim mengangguk. Membiarkan saja tanpa bertanya. Siapa ‘dia’ yang dimaksud pun, pak Kim tidak tahu. Beberapa menit berlalu, hingga dua jam terlewat. Jalanan makin ramai, dan malam semakin gelap. Tapi sepertinya Nara belum berniat untuk beranjak pergi. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Nara ingin menunggu lebih lama. Barangkali Aron akan lewat daerah ini. Meski kemungkinannya sangat kecil. Tapi Nara juga tidak ingin egois, perutnya sudah lapar. Sementara Pak Kim sedari siang juga tidak sempat makan. Dengan berat hati, Nara meminta Pak Kim untuk mengantarnya pulang. “Kalau mau nunggu bentar lagi nggak apa-apa kok, Non. Saya belum lapar.” Begitulah jawaban Pak Kim. Seakan tahu hati Nara sedang gelap. “Pulang aja Pak. Dia nggak bakal lewat sini lagi.” Pak Kim mengangguk. Memacu mobilnya melewati jalanan yang kini dipenuhi pejalan kaki. Sepertinya tengah ada festival disini karena banyak sekali pedagang kaki lima berjajar di sepanjang jalan. Tanpa Nara tahu, dibalik kerumunan itu Aron berada. Duduk menikmati birnya yang kian menipis. Mengangguk sebentar setelah memastikan Nara benar-benar pergi. Setelahnya memasuki toko serba ada yang sempat Nara kunjungi tadi. “Gue ngerasa nggak enak.” Yeri– perempuan yang berdiri dibalik meja kasir tadi berkata demikian. “Teman Lo nungguin dua jam di depan toko.” Aron mengedikkan bahu. “Nggak usah dipikirin. Makasih ya, Kak, udah bantuin gue.” Yeri mengangguk. “Terpaksa, sih, tapi senang soalnya Lo janji bakal gantiin shift gue nanti malam kalau gue mau bantuin.” Yeri tertawa senang. Dia bisa istirahat malam ini. Menggerakkan tangannya yang kaku, Yeri bergerak meninggalkan meja kasir. Memberikan rompi pada Aron sebelum meraih tasnya dan segera pergi. “Oh, iya, Ron. Nanti malam stok barang baru bakal datang. Nanti Lo yang rapihin ya? Sama itu di loker ada barang Lo. Katanya ketinggalan di kelas.” “Barang?” “Teman Lo yang kesini tadi, minta dititipin ke Lo.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN