15. You Broke Me First

2208 Kata
Aron mengamati kotak cokelat yang kini berada di genggamannya. Ini adalah cokelat yang dulu selalu Nara berikan padanya. Cokelat yang nyatanya pernah menghiasi lokernya setiap sore. Sebuah note kecil terselip di sana. Ini adalah tulisan yang sama, Aron mengenal gaya tulisan Nara dengan baik. Selalu sama dari waktu ke waktu. Hingga saat ini. “Selamat makan, Mr. Aron. ^^” Aron mengeluarkan ponselnya. Tapi kemudian urung ketika seorang pengunjung sudah berdiri di depan kasir. Menunggu untuk membayar belanjaannya. *** Salju pertama turun malam ini. Awalnya hanya setitik kecil, kemudian menyebar menjadi titik-titik lainnya. Menjadi ribuan titik salju yang mengguyur bumi. Banyak yang berlarian ke jalanan, menatap langit dan menghadang turunnya salju. Satu dua orang memilih mencari tempat berteduh, hawanya semakin dingin. Beruntung, pembawa berita cuaca tadi pagi mengatakan bahwa salju akan turun hari ini. Beberapa orang juga terlihat melebarkan payungnya, melindungi diri dari guguran salju. Nara duduk di teras depan perpustakaan yang ada di seberang sekolah. Perpustakaan yang sudah lama berdiri itu tidak banyak pengunjung. Mungkin karena interior yang bergaya kuno, masyarakat enggan kemari. Dia mampir sebentar karena sudah lama sejak terakhir kali ia mampir kesini. Tempat yang ia gunakan sebagai pelarian, sebagai healing jika sedang berada dalam masalah. Nara tahu hujan salju akan turun. Tapi dia sengaja memakai pakaian tipis dan lihat sekarang siapa yang meringkuk kedinginan. Mata Nara yang sibuk mengamati orang berlalu lalang tercekat. Di sudut g**g sempit, samar ia lihat beberapa siswa berseragam sama dengannya tengah jatuh terduduk. Mereka sepertinya terlibat perkelahian dengan sekolah lain. Nara semakin mengamati. Ternyata bukan murid sekolahnya yang dikeroyok, melainkan satu orang yang dia kenali tengah dipukuli bersamaan. Nara refleks berlari, tapi bingung harus apa ketika sampai di depan g**g. Aron sudah jatuh tersungkur di dekat tempat pembuangan sampah. Sementara tiga anak dari sekolah lain berdiri dengan wajah bengis. Dua anak dari sekolahnya sudah bangkit dan kini berada di balik tubuh tiga kawanan itu. Total mereka enam orang –dengan Aron. Dua orang yang berasal dari sekolahnya menderita memar di pipi, tapi selebihnya tidak terluka. Sepertinya mereka memilih untuk membelot dan mengkhianati Aron. Nyatanya mereka diam saja saat Aron dipukuli. Nara tidak tahu harus berbuat apa. Dirinya tidak bisa bela diri. Tidak membawa s*****a, hanya tas sekolah berisi buku tebal. Tanpa berpikir panjang, ketika eksistensinya diketahui, Nara melempar tas punggungnya hingga tepat menampar cowok dengan postur besar. Mungkin dia lah pemimpin mereka, karena dia memerintahkan dua anak lainnya untuk mengejar Nara. Nara berkelit. Berusaha lari. Tapi ketika sudah akan berbelok menuju g**g lain, lengannya dicekal. Dia tertangkap sebelum berhasil melarikan diri. “Lo mau lari kemana? Nggak ada yang bisa bebas setelah berurusan dengan kita.” Seorang cowok yang mencekam lengan kirinya memperingati. Nara meronta. Pundaknya dicekal dua orang itu dengan kasar. Tubuhnya dibanting hingga menubruk tembok, membuatnya jatuh terduduk. Punggungnya sakit sekali. Nara hanya bisa meringis. Sementara salju turun semakin lebat. Aron juga diam tak berkutik. Wajahnya lebam penuh darah. Seragam yang ia pakai kotor. Cowok bertubuh besar yang tadi ia lempar dengan tas punggung menghampirinya. Wajahnya terkena gerusan hingga sedikit lecet. Tidak terima karena gadis seperti Nara berani sekali melukainya. Dia menampar Nara. Kencang sekali hingga kepalanya berputar. Pening melanda. Nara merasakan pipi kanannya kebas dan panas di saat bersamaan. Bahkan kini untuk menggerakkan rahangnya saja tidak bisa. Nara hanya bisa menahan isakannya. Seumur hidup, baru pertama kali ini ia ditampar. Bahkan orang tua nya pun tidak berani memukulnya. Tapi kini, preman itu menamparnya. Nara hanya berharap keajaiban datang. Karena dia tidak bisa melawan. Aron juga sepertinya jatuh pingsan. Dia tidak bergerak sedikit pun meski perutnya ditendang berkali-kali. Dua orang yang berasal dari sekolahnya diperbolehkan pergi. “Makasih buat infonya. Besok kalau kalian tahu Aron masih balapan, Lo semua lapor langsung ke gue.” Cowok gempal itu memperingati sebelum mereka pergi. Dua cowok yang berasal dari sekolah Nara berlari tunggang langgang. Bebas dari cekaman ketiga preman ini. “Lo siapa, sih? Sok pahlawan, dia pacar Lo? Iya? Jadi Lo mau nolongin Aron karena dia cowok Lo?” Daehwi, Nara membaca tanda nama di d**a cowok gempal yang kini mencengkeram kedua pipinya. Memaksanya untuk bicara. Nara memilih bungkam. Daehwi membuka tas punggungnya. Mencari dompet yang Nara bawa. Dan mendapati ratusan won yang ada di sana, dia tersenyum sumringah. “Wah ternyata Lo orang kaya?” Dia masih menghitung uangnya, “jangan mau pacaran sama Aron. Dia miskin.” Setelah berkata demikian, Daehwi melempar tas beserta buku Nara ke tempat sampah. Mengajak kedua temannya untuk meninggalkan g**g sempit itu dengan tawa tersungging. Punggung mereka hilang ketika melewati jalan berbelok di persimpangan. Salju turun semakin lebat. Nara menggigil kedinginan. Dengan langkah bergetar, Nara menghampiri Aron yang masih tak bergerak. “Aron? Aron bangun.” Nara menepuk pipinya. Luka di bawah mata mulai membiru, darah di sudut bibir juga mulai kering. “Aron!” Nara menggoyangkan tubuhnya. Tanpa sadar sudah terisak ketika takut akan terjadi ha yang buruk pada Aron. Nara melangkah tertatih. Mencari ponsel yang tadi turut masuk ke tempat sampah. Setelah bisa mengambilnya, Nara menelepon Pak Kim secepat mungkin. Abai dengan kondisi ponselnya yang kini layarnya pecah. “Halo, pak. Bapak sekarang dimana? Boleh jemput Nara sekarang, Pak? Iya Nara di samping sekolah, di depan perpustakaan, Pak. Di g**g sempit. Iya, Pak. Makasih. Yang cepat ya, Pak. Teman saya pingsan dari tadi.” Nara tergugu. Suaranya serak karena tangisnya tak bisa berhenti. Berkali-kali menggenggam tangan Aron berharap agar cowok itu mau membuka mata. *** Nara sudah setengah perjalanan menuju rumah sakit ketika Aron siuman. Gadis itu menghela napas lega, syukurlah. “Kita mau kemana?” Samar Aron mengamati sekitar. Dirinya berada di dalam mobil, dan entah sejak kapan ada Nara yang duduk di sampingnya. Aron juga berbaring, menggunakan paha Nara sebagai bantal. Perlahan cowok itu duduk, kepalanya masih pusing. Dia tidak bisa merasakan beberapa titik diwajahnya. Semuanya mati rasa. “Ke rumah sakit.” Nara menjawab pelan. Senang karena Aron baik-baik saja. “Kenapa? Kenapa ke rumah sakit?” “Lo luka, kita periksa ke rumah sakit. Di obatin, takutnya ada apa-apa.” Aron mendesah berat. Menutup matanya untuk menguasai dirinya. “Nggak usah, gue nggak apa-apa.” Nara akan protes. Apanya yang tidak apa-apa? Lihatlah, jelas sekali luka di wajah Aron begitu banyak, belum lagi perutnya yang tadi menjadi sasaran berulang kali. “Kita ke rumah sakit, Aron. Bentar aja.” Aron menggeleng tegas. Menepuk pundak Pak Kim. “Pak tolong berhenti. Saya mau turun.” Nara melotot. “Lo apa sih, kita obatin dulu luka Lo. Habis itu terserah Lo mau lari, Lo mau menghindar. Terserah.” “Pak, berhenti bentar. Saya mau turun di depan halte.” Aron tidak peduli. Ingin turun secepatnya. Nara kehilangan kata-kata. Diam saja ketika pak Kim meminta persetujuannya apakah berhenti atau terus melaju. Ketika mobil sampai di depan halte, cowok itu bergegas turun. Berjalan tertatih meninggalkan mobil. Tanpa berkata apapun, sekedar terima kasih pun tidak. Nara benar-benar tidak peduli. Dia kesal, marah dan jengkel. Aron begitu keras kepala dan bertingkah semaunya sendiri. Nara hampir tertawa ketika Aron kesusahan berjalan. Cowok itu berulang kali meringis kesakitan dengan tangan yang menggenggam erat perutnya. Pasti sakit sekali. Nara masih ingat dengan jelas bahwa tendangan Daehwi tadi cukup kencang. Nara tersenyum getir. Hati nuraninya masih lebih baik daripada emosinya. Maka setelah menyiapkan kotak P3K yang selalu ada di mobil, Nara turun. “Pak, bapak pulang dulu aja. Atau, makan siang dulu ya. Bapak pasti lapar. Nanti saya hubungin lagi.” Pak Kim mengangguk takzim. Kemudian mengendarai kotak besinya meninggalkan tepi jalan. Nara berjalan di belakang Aron. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaan Nara. Mengira dia telah pergi bersama Pak Kim tadi. Aron kembali mengaduh ketika perutnya mendadak nyeri. Aron harus bertahan. Rumahnya tinggal beberapa blok lagi. Hanya perlu berjalan masuk ke perumahan. Nara menjaga jarak, berjalan cukup jauh di belakang Aron. Setelah lima menit, Aron terlihat membuka gerbang. Sampai di depan rumahnya. Gerakannya masih kaku, sibuk menahan nyeri di perut. Dan ketika yakin Aron sudah memasuki rumah, Nara bergerak. Tadi dia sempat bersembunyi di balik gerobak sampah. Kini Nara berjalan lebih dekat. Pagar besi berwarna hijau yang sudah luntur dan karatan. Rumah kecil ini hampir tidak memiliki halaman. Nara bahkan tidak tahu bahwa di Gangnam masih sda rumah sesederhana ini. Pintu kayu yang engselnya sudah susah bergerak karena dimakan usia itu terbuka sedikit. Bunyi engsel yang ditiup angin membuat Nara tercekat. Apakah ini rumah Aron? Benarkah? Nara yang hendak masuk menjadi sungkan. Mungkin Aron masih ingin sendiri. Mungkin cowok itu sedang kesakitan dan butuh istirahat. Nara memilih meninggalkan kotak obat di gantungan pagar. Dengan langkah pelan berjalan meninggalkan rumah Aron. *** Tadi setelah sampai di rumah Aron segera merebahkan dirinya di sofa tua yang kini sudah tidak layak pakai itu. Memilih memejamkan mata untuk menghilangkan rasa sakit yang membuat tubuhnya mati rasa. Perut Aron lapar, tapi dia bahkan tidak punya uang untuk membeli salep apalagi makanan. Gaji yang ia terima bulan ini habis. Jinhyuk semalam menggeledah rumah dan membawa seluruh uangnya. Tabungan yang ia simpan untuk tambahan biaya kuliah juga Jinhyuk rampas. Tidur adalah cara terbaik untuk mengurangi rasa sakit dan rasa lapar. Aron baru membuka mata saat matahari memerah. Turun dari singgasana dan bergulir ke barat. Dirinya terlelap sejak tadi. Aron turun dari sofa. Berjalan ke kamar untuk mengganti pakaiannya yang kotor. Mencari pakaian yang lebih tebal karena salju sudah memenuhi jalanan. Hawa dingin juga terasa menusuk kulit. Aron membuka pintu rumah, hendak berjalan ke toko untuk membeli roti. Uangnya masih tersisa sedikit untuk makan hingga nanti. Sementara besok sore, dia bisa makan di toko. Memakan makanan yang sudah lewat beberapa hari dari tanggal kadaluarsa. Aron meregangkan tubuhnya. Menggigil kedinginan ketika angin diluar jauh lebih dingin. Pipinya masih nyeri sekali. Salju sudah setinggi lima senti meter. Matanya menangkap benda asing yang bergelantungan di gerbang. Sebuah kotak diletakkan di sana. Kotak obat. Lagi-lagi, Aron tahu siapa pengirimnya. *** Matahari pagi bersembunyi di balik awan. Hujan salju turun, meski tidak selebat semalam. Dinginnya suhu membuat semua orang ingin bersembunyi di balik selimut daripada melakukan aktivitas biasa. Halaman rumah dipenuhi butiran salju. Menumpuk hingga Pak Kim harus membersihkan lajur mobil sebelum mengeluarkan mobil dari garasi. Minggu ini adalah minggu terakhir sebelum libur panjang. Sekolah diisi dengan kegiatan ekstrakurikuler ataupun kegiatan yang tidak berhubungan dengan belajar. Minggu penuh kebebasan. “Adek, buruan turun! Kita sarapan!” Nara masih merapikan rambutnya ketika Mama sudah berteriak dari bawah. Ini sudah kedua kalinya, Nara memang lambat ketika bersiap diri. Gadis itu membiarkan rambut panjangnya tergerai indah. Memakai jaket hangat dan segera meraih tasnya. Di bawah, Mama sudah sibuk di dapur. Menyiapkan sarapan di meja makan. Beberapa asisten tampak membantu, namun secara keseluruhan Mama yang memasak. Nara tersenyum ketika mendengar omelan Mamanya yang seakan menjadi ritual wajib di pagi hari. “Anak itu sudah besar. Bentar lagi masuk bangku perkuliahan, tapi bangun pagi saja nggak bisa. Bagaimana nanti bisa mandiri?” Sejak hari itu, sekarang Mama setiap hari memasak. Memastikan anaknya hanya akan makan masakan yang berasal dari tangannya. Semakin hari rasanya juga semakin enak, penampilannya juga tidak berantakan seperti waktu itu. Nara tidak menanyakan keberadaan sang Papa. Sudah tiga hari beliau tidak pulang. Semalam bahkan Nara memergoki Mama tengah menangis di dalam kamar. Hampir pukul satu pagi. Tapi kini lihatlah, seperti Mama tidak pernah menangis sama sekali. Terlihat segar dan ceria. “Cepat sarapan. Mama juga siapin bekal buat kamu.” Nara mengangguk. Kali ini sarapan dengan ikan tuna. Nara begitu menyukai menu hari ini. “Gimana sekolahnya?” Nara menyelesaikan kunyahannya sebelum menjawab. Etika makan. “Baik, Ma. Kayak biasanya.” Mama mengangguk. Mengambil duduk di seberang. Kemudian menuangkan segelas s**u untuk diberikan pada Nara. “Oh iya, Dek. Mama nanti ada perlu, jadi kalau Adek udah pulang dan Mama nggak ada di rumah jangan nyariin.” Nara mengangguk. “Mama mau kemana?” “Mau beli kulkas, yang di dapur udah ketinggalan modelnya. Kapasitasnya juga nggak muat banyak.” “Mau ditemenin nggak?” “Boleh.” Mama mengangguk antusias. “Nanti sekalian main ya, kita jarang main ke luar.” Nara mengangguk. Meraih segelas s**u sebelum kembali berucap. “Nanti aku pulang dulu atau Mama yang jemput ke sekolah?” “Nanti Mama jemput aja, sekalian. Mama mau mampir ke rumah teman Mama dulu, kebetulan searah sama sekolah.” Nara mengangguk lagi. Menghabiskan sisa sarapannya dengan tenang. “Mama kemarin nggak sengaja lewat depan rumahnya Jake, itu, loh teman kamu.” Nara mengangkat pandangannya dari piring. Menatap Mama yang akan berbicara. “Sebenarnya Mama nggak begitu tertarik, tapi kemarin Mama nggak sengaja lihat.” Mama menjeda sebentar, “jadi ada perempuan, mungkin usianya masih pertengahan dua puluh tahunan keluar dari rumah Jake. Dia punya kakak ya?” Nara mengedikkan bahu. Setahunya Jake tidak punya kakak, anak itu hanya punya adik yang masih kecil. “Enggak, Ma. Jake anak pertama.” Mama menangguk. “Mungkin sepupunya kali ya?” “Emangnya kenapa Ma?” Mama meletakkan garpunya. “Kemarin dia marahin Jake di depan tetangga yang lagi jogging. Nggak tahu karena masalah apa, tapi menurut Mama nggak etis marahin orang di depan orang banyak.” “Marahin soal apa, Ma?” “Katanya soal bimbel gitu, Mama nggak begitu paham. Biasa ibu-ibu malah bahas masalah tas branded hasil lelang.” Nara mengangguk paham. Tapi sayangnya percakapan itu membuatnya terus kepikiran hingga sampai di depan sekolah. Jake akhir-akhir ini selalu sibuk dengan ujian dan les tambahan. Dia bahkan tidak bertemu dengannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN