Sekolah hanya berjalan seperti biasa. Karena kelas bebas dan tidak ada pelajaran, mungkin karena itulah Nara bosan. Di kelas tidak ada yang menarik selain mengamati papan tulis yang kosong. Sera tidak berangkat, katanya sudah pergi berlibur bersama keluarganya. Nara juga berulangkali mencari Aron tapi tidak ketemu.
Mulai dari kelas, lapangan, rooftop ataupun gudang. Aron tidak ada.
“Nggak ada ngabarin gue, Ra. Dari kemarin gue nggak tahu dia dimana.” John menjawab seperti itu saat ditanya.
Lea juga sama. Gadis itu menggeleng. “Gue nggak tahu. Gue jarang ketemu sama dia dari ujian mulai.”
Nara kembali ke kelas. Hanya untuk mendapati dirinya sendirian di tengah keramaian. Pikirannya melayang tentang kejadian kemarin. Mungkinkah Aron sakit? Apa lukanya serius? Dia hanya bisa menebak.
Nara memberanikan diri untuk menghubungi Aron. Tapi tidak juga terjawab. Nara khawatir jika kondisi Aron memburuk.
Gadis itu terlonjak kaget mendapati pundaknya ditepuk. Tersangkanya adalah Jake yang kini tersenyum lebar dengan dua bungkus roti lapis.
“Pasti belum makan, kan?”
Nara mengangguk. Menerima uluran roti yang dibawa Jake. “Makadih Jake. Gue malas ngantri.”
“Youre welcome.”
Mereka diam, menikmati makanan dengan lahap. Sesekali Jake melempar tanya kepada teman sekelas Nara. Anak itu memang sangat mudah bergaul dengan orang lain.
“Enak, nggak, sih?” Nara bertanya.
“Sandwich nya? Enak, double cheese soalnya.” Jake menyengir lebar.
Nara menepuk dahi. Bukan itu yang dia maksud. Tapi mungkin salahnya juga karena konteksnya melebar. “Maksud gue, punya teman banyak itu enak?”
"Tergantung, Kak. Tergantung temannya baik apa enggak. Kalau temannya banyak yang nggak baik ya pasti nggak enak, tapi kalau temannya pada baik ya enak."
"Menurut Lo, teman Lo banyakan yang baiknya apa enggak?"
Jake diam sebentar. "Nggak tahu."
"Kok nggak tahu?"
"Gue nggak berhak menilai orang lain, Kak. Hanya Tuhan yang boleh."
Nara mengangguk.
"Tapi menurut gue, Lo termasuk salah satunya." Jake menatap Nara lamat. "Lo baik."
Nara tertawa. "Iyalah baik, kalau ada maunya, hahaha."
Nara hanya tidak mengerti maksud ucapan Jake, atau dia mengerti dan memang berpura-pura bodoh. Jake hanya mengikuti alur, bergerak kemana sungai membawanya mengalir.
"Lo punya adik ya?" Nara membuka percakapan. Teringat dengan sosok wanita yang kata Mama, kemarin memarahi Jake di tempat umum.
"Punya."
"Sekarang umur berapa?"
"Berapa, ya? Gue nggak begitu tahu, soalnya pas dia datang ke rumah udah sekolah." Jake tersenyum getir.
"Maksudnya? Oh dia dirawat sama keluarga lain pas Mama Lo meninggal?"
Jake menggeleng. Menghabiskan minuman dinginnya sebelum kembali berbicara.
"Bukan. Jadi, gimana ya jelasinnya? Gini deh, jadi cara gampangnya, Papa punya dua istri. Jadi sejak gue usia berapa gitu Papa nikah lagi, dan adik gue hasil dari pernikahan kedua Papa."
Nara tercekat. Merasa bersalah ketika yang ia tanyakan justru terhubung ke masalah keluarga Jake yang sebenarnya tabu untuk ia ketahui. Tapi melihat bagaimana Jake tidak tersinggung sedikit pun, bagaimana dia dengan santai mejelaskan. Nara pikir Jake sudah lama berdamai dengan kenyataan. Atau bisa juga Jake pandai bersandiwara.
"Nggak apa-apa elah, santai aja. Muka Lo jangan ngerasa bersalah gitu. Gue malah nggak suka kalau dikasihani."
"Ibu tiri Lo baik?"
Jake memutar bola matanya. Lagi-lagi pertanyaan yang sama. Bukan hanya Nara, semua orang yang tahu latar belakangnya akan bertanya demikian. Seakan cap ibu tiri memang selalu galak dan pilih kasih.
"Kalau yang Lo pikir, ibu gue kayak ibu tiri Cinderella, jelas beda jauh. Ibu ya galak orangnya, perfeksionis. Selalu suka semuanya rapi, tepat waktu dan sempurna. Lain dari itu dia kayak wanita kebanyakan. Malah ibu yang selama ini bantu gue buat bisa ikhlasin kepergian Mama. Bantu gue bertahan buat jangan sedih lagi waktu ditinggal Mama."
Nara menghembuskan napas lega. Syukurlah. Dia pikir ibu Jake selalu memukuli Jake. Ternyata dia sudah tersugesti drama yang tidak bermutu.
"Lo kenapa tiba-tiba nanyain gituan? Nggak biasanya."
"Jadi tadi pagi Mama cerita. Katanya lo dimarahin di tempat umum. Gue pikir Lo kena kasus k*******n dalam rumah tangga, makanya gue nanyain."
"Lo khawatir?"
Nara memukul kepala Jake. "Iyalah khawatir, ya masa enggak. Apalagi Mama bilangnya ibu kamu masih muda, Mama pikir itu kakak kamu."
Jake tertawa kali ini. "Jadi kalau gue sakit atau kenapa-kenapa Lo khawatir nggak? Cemas nggak?"
Nara sekali lagi memukul kepalanya. Seperti tombol otomatis yang mengulang kejadian. "Iya Jake. Lo teman gue, udah seharusnya gue khawatir kalau ada apa-apa sama Lo."
Entah Jake harus senang atau sedih mendengarnya. Dia senang bahwa Nara begitu peduli padanya tapi di satu sisi di risau dengan kata 'teman' yang tadi tersemat.
***
Nara sekali lagi mendatangi rooftop. Jake tadi berpamitan untuk pergi ke studio, katanya harus mempersiapkan acara radio untuk besok. Nara bosan di kelas, tidak ada siapapun yang bisa ia ajak berbincang. Rooftop adalah pilihan yang bagus.
Atap sekolah lengang. Para siswa memang tidak pernah datang kemari. Selain karena takut karena rumor atap yang berhantu, tertulis dengan jelas di papan peraturan bahwa bermain di rooftop adalah melanggar peraturan.
Orang-orang yang datang ke sini adalah mereka yang selalu melanggar peraturan. Seperti John, Lea dan Aron. Mungkin mulai sekarang, sekolah harus menambahkan nama Nara di dalam list. Karena Nara sepertinya sangat menyukai rooftop sekolah yang sepi.
Nara memilih duduk di lantai. Bersandar dinding pembatas. Kalau dipikir lagi, mengunjungi atap sekolah di saat musim dingin adalah pilihan yang bodoh. Cuaca yang dingin membekukan tubuh Nara.
Meski begitu Nara puas. Memandang hamparan langit biru dengan awan tipis membuatnya tenang. Seakan dia bisa merasakan bagaimana angin yang meniup awan, juga meniup masalahnya.
Semuanya sempurna, andai saja ada cokelat hangat yang bisa ia nikmati.
"Lo sekarang sering banget ke sini."
Tubuh Lea memasuki lantai rooftop. Gadis itu menatapnya dengan tidak suka. Memangnya kapan Lea memandang orang dengan senyuman? Mungkin hanya dengan John saja. Dia seperti macan yang menakutkan dan siap mencabik siapapun, makanya John tergolong pria luar biasa yang bisa menaklukan Lea.
"Iya."
Lea berjalan mendekat. Tangannya membawa rokok elektronik dengan aroma yang Nara tidak suka. Setelah sampai di dekatnya, Lea memilih duduk di dinding pembatas. Seperti tidak pernah takut akan tergelincir dan jatuh.
"Biasanya anak-anak yang nakal dan pengunjung tetap ruang konseling juga gitu. Siklusnya pertama kali sering bolos di rooftop, abis itu mulai nggak tertib."
Nara melotot. Enak saja. Dia hanya kemari untuk menikmati awan dan angin, bukan membolos atau melanggar tata tertib.
"Gue nggak bolos, ya!"
"Terus kenapa dulu bersihin kamar mandi sama Aron? Bukannya itu juga bolos?"
Skakmat. Lea pintar sekali membalik keadaan. Andai saja bakat berdebatnya dipakai untuk pelajaran bahasa, mungkin dia sudah dapat nilai bagus.
"Gue bingung. Alasan Lo kenapa bisa suka sama Aron."
"Gue nggak suka sama Aron." Nara cepat-cepat meralat. Bagaimana Lea bisa tahu? Tidak bisa dibiarkan, Lea mulutnya tidak bisa dipercaya.
"Tanya aja semua siswa, siapa yang nggak tahu kalau Lo suka sama Aron."
Nara terdiam. Kemudian membiarkan Lea melanjutkan kalimatnya.
"Lo itu pintar, anak kesayangan guru yang nggak pernah melanggar aturan. Kok bisa suka sama Aron yang bentuknya nggak karuan? Jangankan ikut pelajaran, dia bawa buku ke sekolah aja enggak. Ya meskipun dia pintar sih."
"Mungkin aja di rumah Aron belajar, Lea. Makanya pas di sekolah nggak pernah merhatiin guru."
Lea tertawa keras sekali. Setelahnya menghisap rokok elektronik. "Wah, Lo berarti nggak tahu siapa Aron. Mana sempat dia di rumah belajar? Tidur aja nggak sempat."
Nara mengerutkan kening. Kenapa begitu? Lea kenapa sok tahu sekali? Kenapa dia seakan tahu semua yang dilakukan Aron?
"Gue kasih saran ya, Ra. Mungkin ini bisa jadi bahan pertimbangan buat Lo. Aron itu bukan cowok baik, banyak hal yang disembunyikan dan ditutup rapat sama Aron. Jalan sama Aron mungkin bukan pilihan yang tepat buat Lo. Yang ada bukannya senang, Lo malah tekanan batin. Lagi pula, Aron nggak tertarik sama pacaran. Ada yang harus dia usahain sampai mati-matian, Ra."
Nara masih mendengarkan.
"Gue mau bicara begini sebagai temannya Aron dari dulu. Kalau Lo sama teman Lo itu cuman bisa buat nambahin masalahnya Aron, mending kalian mundur aja. Masalah Aron banyak yang lebih penting daripada ngurusin kalian.
Lo tahu kenapa dia kerja mati-matian selama ini? Kenapa dia sampai ketiduran terus di sekolah, kenapa dia bahkan nggak sempat main sama kita? Coba, Ra. Lo kan pintar, pikirin jawaban yang pas daripada terus nyusahin Aron."
***
Nara berada di dalam mobil bersama Mama. Mereka menuju tempat pusat perbelanjaan. Hendak membeli kulkas seperti yang Mamanya katakan tadi pagi saat sarapan.
Meski begitu, raga dan pikirannya masih tertinggal di rooftop sekolah. Temat terakhir kali Nara mendengar begitu banyak berita yang tidak mengenakkan dari Lea.
Katanya Aron bermasalah? Dan Nara selalu menyusahkan Aron? Menambah beban hidup Aron?
Hei, tolong sampaikan pada Aron bahwa selama ini cowok itu yang selalu menyusahkan Nara. Menolak perasaan Nara dengan sangat menyakitkan. Merusak pertemanannya dengan Sera, lalu kembali lagi padanya seakan tidak pernah terjadi apapun.
Memperlakukan Nara seakan dialah gadis paling spesial. Paling istimewa, lalu setelah Nara merasa punya harapan, cowok itu terus menghindar. Menghilang tanpa mengatakan apapun. Lalu dimana letak Nara yang menyusahkan Aron?
Paru-paru Nara kembang kempis. Tidak terima dikatai menyusahkan dan penambah masalah. Tapi tadi dia hanya diam, jika dia menyahut mungkin Lea akan memberinya pukulan maut.
Tapi mungkin Lea ada benarnya. Dengan Nara yang terus dekat dengan Aron, mungkin membuatnya tidak nyaman. Nara juga sering mencari cowok itu belakangan ini. Mungkin saja Aron tengah sibuk. Bekerja. Yang pasti Nara tetap tidak tahu alasannya.
"Adek, Mama mau bilang sesuatu sama kamu."
Mobil memasuki basement mall, Mama memarkirkan mobil.
"Iya?"
Mesin mobil sudah mati. Kini suasananya lengang, Nara menunggu Mamanya untuk kembali melanjutkan.
Mama menggeleng. "Nggak jadi, nanti aja di rumah. Sekarang bantuin Mama pilih kulkas ya."
Nara mengangguk. Mengikuti kemana arah sang Mama yang hendak membeli kulkas. Sesampainya di tempat perabotan, Mama tak langsung menuju tempat tujuan. Berjalan memutari rak perabotan.
"Mama nyari apa?"
"Nggak tahu, Ra. Mungkin karena jiwa ibu-ibu, ya. Mama senang lihatin perabotan. Suka aja gitu. Mama jadi kepikiran, nanti kalau Adek udah nikah apa bakal suka ngelakuin hal kayak gini?"
"Nara nggak mau nikah dulu. Nara mau keliling dunia, Nara mau nyari hal baru setiap harinya. Baru kalau Nara udah puas, Nara bakal nyari pelabuhan buat istirahat. Buat melepas lelah."
Mama mengangguk. "Mama setuju. Tapi adek bisa mengelilingi dunia sama pasangan. Adek bisa nyari hal baru sama pasangan. Adek jadi nggak merasa sendirian, karena tiap perjalanan, adek bakal ditemani. Adek juga bakal punya teman untuk berbagi."
"Tapi Nara nggak mau nikah, belum mau."
Mama tertawa kecil. "Mama nggak nyuruh kamu nikah. Cuma memberikan gambaran kalau berjalan dengan empat kaki dan bergandengan tangan lebih menyenangkan daripada berjalan sendirian dengan tangan di saku."
Nara tidak mengomentari. Memilih diam dan merenungkannya. Mama benar, mungkin karena Mama takut Nara akan sendirian seumur hidup. Mama hanya menjelaskan bahwa tidak ada salahnya membuka mata dan mempelajari hal baru. Tidak ada salahnya memiliki teman yang bisa dia ajak untuk bertukar rasa dan pikiran.
Mereka berjalan hingga sampai ke gerai kulkas. Beberapa penjaga toko langsung mendekati Mama. Salah satunya menerangkan berbagai jenis kulkas dengan spesifikasinya. Semakin bagus spesifikasinya, semakin mahal harganya. Ada uang ada barang.
Nara bosan mengekor Mama yang tak lelah melihat semua jenis kulkas. Menurut Nara tidak ada bedanya. Semuanya sama-sama kulkas. Hanya sang satu ada empat pintu atau dua pintu. Berpintu transparan atau tidak.
"Mama nggak suka kulkasnya. Mama lebih suka kulkas yang di rumah. Tapi yang di rumah udah ketinggalan zaman."
"Terus kenapa nggak bilang dari tadi? Kita bisa pindah ke gerai lainnya, Ma."
Mama terkikik pelan. Sepertinya mempunyai rencana tersembunyi. "Cowok yang jelasin tadi mirip Jung Hae In. Mama senang lihatnya."
Nara menepuk dahinya. Astaga Mama. Mereka menghabiskan setengah jam lebih dan semuanya sia-sia saja.
***
Nara kembali datang ke rooftop keesokan harinya. Sedikit menggigil karena salju turun lebih deras. Dari atas sini dia bisa dengan leluasa memandangi kegiatan di bawah sana. Ada yang berjalan santai, ada pula yang berlarian tidak mau berada di bawah rintik salju.
Pintu besi rooftop bergerak perlahan. Aron muncul di sana. Membuat Nara tercekat sesaat. Dia tidak tahu harus menghadapi Aron secepat ini. Dia masih mengingat dengan jelas bahwa dengan kehadiran dirinya, Aron akan lebih banyak terluka.
Nara merapikan buku bacaannya. Dia membaca Animal Farm, lucunya buku itu adalah buku favorit yang pernah Aron ceritakan.
"Mau kemana?" Aron bertanya, membuat gerakannya yang sudah melangkah terhenti.
"Mau turun, hujannya makin lebat." Alibi Nara yang kini melanjutkan langkah.
Aron menghembuskan napas panjang. Memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Gue mau ngomong."
"Besok aja, gue mau ke toilet bentar."
Nara bergegas turun dari rooftop. Belum sempat turun dari tangga, Aron sudah menahan langkahnya. Meraih lengannya agar Nara mau berhenti sebentar.
Nara menghembuskan napasnya jengah. Mungkin lebih baik mereka bicara, tidak akan berjalan baik jika mereka terus menghindar satu sama lain.
***