Keduanya berada di balik pintu rooftop. Duduk di lantai dan saling bersebelahan.
"Lo udah baikan?" Nara memutuskan untuk menanyakan kondisi Aron terlebih dahulu. Sekilas dia sempat melihat luka diwajahnya yang sudah membaik. Hanya menyisakan sedikit lebam.
"Makasih buat kotak obatnya."
Nara mengangguk. Iya anggap jawaban itu sebagai iya.
"Lo mau ngomong apa? Gue ada janji habis ini."
"Kemana?"
"Mau ke makam ibunya Jake."
Aron mengangguk. "Gue sering lihat kalian bareng, Lo dekat ya sama Jake?"
Nara mengangguk. "Iya dekat, kayak gue sama Sera, sama Lo juga."
Suasana hening sekali. Hanya rintik salju yang dapat mereka dengar. Itupun samar. Cahaya tidak dapat menembus tangga, hanya beberapa yang membuatnya remang.
"Maaf kalau sikap gue selama ini buat Lo bingung. Gue nggak bermaksud kayak gitu, bersikap kayak pecundang yang terus lari kalau ada masalah."
Aron menatap atap. "Gue udah coba beberapa hari buat menjauh dari Lo, Ra. Gue nggak mau nambah pikiran. Tapi ternyata salah, seminggu terakhir gue nggak ketemu Lo, gue malah semakin kepikiran. Gue bingung harus apa, Ra. Gue harus gimana?"
Nara hanya bisa membisu. Tidak paham ke arah mana pembicaraan mereka berlabuh.
"Nara, Lo mau dengar sesuatu tentang gue nggak?"
Nara mengangguk. Aron meremat kedua jemarinya di atas lutut. Begitu frustasi apakah akan melanjutkan ceritanya atau tidak.
"Ibu gue belum meninggal. Beliau ada di rumah sakit." Aron kembali mengeratkan kepalannya.
"Lima tahun lalu keluarga gue kecelakaan, Ra. Ayah gue meninggal sementara Ibu mengalami mati otak. Beliau hidup sampai saat ini karena bantuan mesin. Ibu mungkin masih hidup, tapi itu karena tubuhnya dipompa mesin. Gue bersyukur masih bertahan selama ini. Tapi Lo tahu sendiri, biaya buat menopang hidup Ibu nggak murah. Gue jual semua yang ada di rumah, apapun peninggalan mereka bahkan tabungan yang mereka siapin buat pendidikan gue. Tapi semua itu nggak bertahan lama.
Sebanyak apapun uang yang orang tua gue punya nggak bakal cukup. Apalagi buat hidup sehari-hari. Semenjak itu, Kak Jinhyuk terpuruk, Ra. Dia ngerasa bersalah karena dia bisa selamat sementara Ayah meninggal dan Ibu koma. Dulu dia sebulan penuh nggak keluar dari kamar, dia nyiksa diri sendiri. Beberapa kali gue pernah mergokin dia mau bunuh diri. Gue takut.
Sebulan berikutnya dia mulai keluar dari kamar, dia balik kuliah lagi, sosialisasi sama orang lain. Gue pikir itu bagus, mungkin dengan gitu dia nggak bakal trauma lagi. Tapi gue salah, Ra. Dia mulai main lotre, mulai balapan. Nggak kehitung udah berapa banyak uang yang dia abisin.
Kita terpaksa pindah rumah, pindah ke yang lebih kecil. Kak Jinhyuk marah, semua uang yang ada dia bawa kabur. Gue bingung harus apa, gue waktu itu masih dua belas tahun. Akhirnya gue kerja, gue mulai nyari kerjaan buat nyari uang. Sementara Kak Jinhyuk pulang dua bulan sekali, iya, buat ngerampas semua tabungan gue."
Nara mengamati kedua sepatunya. Menahan agar air matanya tidak jatuh. Selama ini ia pikir hanya dia yang paling menderita, di dunia ini dia lah yang punya nasib paling s**l. Ternyata tidak, semakin dia membuka mata semakin banyak pelajaran yang ia dapat. Nara seharusnya bersyukur.
Nara tidak bisa membayangkan Aron kecil yang kebingungan harus beradaptasi. Tidak ada waktu untuk menangis dan berduka karena dia harus bekerja untuk menyambung hidup. Sementara tidak ada yang bisa ia andalkan. Aron kecil begitu menderita dan sendirian. Nara ingin kembali ke masa itu, memeluknya dan berkata bahwa Aron besar baik-baik saja. Bahwa Aron mampu bertahan dan menjadi pria yang hebat.
"Gue cuma mau ngasih tau, Ra. Kehidupan gue nggak enak. Setiap hari gue harus kerja. Gue harus ngurusin Ibu di rumah sakit, belum lagi kalau Kak Jinhyuk pulang sambil mabuk. Kehidupan gue jelek."
Nara menggeleng. Aron adalah orang yang hebat.
"Gue suka sama Lo, Ra. Tapi gue nggak mau egois. Gue nggak mau Lo ngerasa nggak di inginkan dengan gue yang lebih banyak ngabisin waktu buat kerja. Nggak sering punya waktu luang buat kencan."
Nara masih menata napasnya. Kepalanya bercabang. Memikirkan tentang ucapan Aron baru saja.
"Tapi gue juga nggak mau sendirian, Ra. Rasanya senang ada orang yang khawatir dengan keadaan gue. Meski terdengar kurang ajar dan kurang waras." Aron tertawa getir, "gue suka sama lo, Nara."
Nara merasa mendadak tidak bisa mendengar apapun. Suara salju, detak jantungnya bahkan deru napasnya sendiri. Yang terdengar hanyalah kalimat terakhir Aron. Terus terputar seperti kaset rusak.
"Lo bisa jawab kapan pun, Ra. Pertimbangkan semua keadaan gue biar Lo nggak nyesel di kemudian hari. Gue nggak maksa Lo buat jawab iya, dengar apa yang hati Lo mau."
Nara tidak menjawab. Dia hanya mendengar dengan samar. "Ayo, gue antar ke tempat Jake. Kalian ada janji, kan?"
Nara masih membeku ketika jemarinya di tarik Aron untuk berdiri. Masih bergeming ketika mereka menuruni tangga untuk menuju ke studio. Bahkan ketika Dia sudah bersama Jake dan tidak mendapati Aron di sana. Pikiran Nara kosong.
***
Malam begitu hitam kali ini. Balkon kamar terasa lengang. Sesekali hembusan angin membuat tubuh Nara menggigil. Ditatapnya satu persatu bintang yang kali ini menampakkan diri. Tidak banyak.
Ini sudah hari ketiga sejak Aron menyatakan perasaannya – jika bisa dibilang begitu, dan Nara belum memberikan jawaban.
Sepanjang perjalanan ke makam Mama Jake, dia hanya menjawab sekenanya ketika cowok itu bertanya. Mungkin karena jawabannya yang terlalu sering melantur, Jake memutuskan untuk tidak banyak bertanya. Hingga ketika Jake mengantarnya ke depan rumah, Nara masih bersikap seperti itu. Kali ini Nara berharap Jake tidak tersinggung, Nara tidak berniat melakukan itu di saat acara se sakral itu. Semuanya terlalu mendadak bagi Nara, sangat tidak bisa di duga sama sekali.
Papa tidak pulang lagi. Kini Nara tidak menanyakannya karena Mama sudah memberitahu lebih awal. Mama berkata jujur padanya, setidaknya tidak seluruhnya transparan.
"Maklum ya, Ra. Papa sekarang sedang sibuk di kantor. Jadi kalau beberapa hari nggak pulang, Papa pasti punya alasan."
Dan Nara tahu apa alasannya. Karena Papa masih sering menemui wanita muda selingkuhannya. Itu juga yang menjadi alasan Mama diam-diam menangis saat larut malam.
Tadi pagi kakeknya berkunjung. Wajahnya masam, mungkin sudah tahu tentang kelakuan Papa Nara di luar sana. Kakek marah besar. Berseru dengan kencang meski Mama sudah memperingatkan bahwa Nara bisa saja mendengar percakapan mereka.
"Orang itu bahkan hidup dari uangku, semua yang dia punya adalah uangku. Berani-beraninya tikus miskin sepertinya berani bermain wanita. Dasar bajinga–"
Mama segera berdehem ketika Nara turun ke lantai dasar. Mama segera mengalihkan topik agar Nara tidak curiga.
"Ah iya, sekarang perusahaan sedang banyak masalah. Makanya beberapa karyawan milih buat mogok kerja. Kacau sekali memang. Uang yang kita investasikan jadi sia-sia."
Nara pura-pura tidak tahu. Berlalu menuju dapur untuk mengambil sebotol air dingin dan kembali ke kamarnya.
Samar Nara mendengar kakeknya yang bertanya tentang keadaannya.
"Nara udah tahu kelakuan b***t suamimu?"
"Belum, Pa. Aku belum berani mau ngasih tahu."
"Biar aku yang ngasih tahu anak itu, dia udah besar pasti bisa mengerti keadaan orang tuanya."
"Nggak usah buru-buru, Pa. Aku udah berniat ngasih tahu Nara pas liburan nanti, biar dia nggak banyak pikiran."
Nara menghembuskan napas berat mengingat percakapan itu. Apa dia jujur saja pada Mama bahwa dia sudah tahu semuanya? Sehingga Mama tidak perlu berpikir yang macam-macam.
Tapi itu juga bukan pilihan bagus, lebih baik menunggu Mama saja. Beliau tahu yang lebih baik.
Nara membuka ponselnya. Tiba-tiba ingin sekali mendengar suara Aron. Dengan penuh pertimbangan, Nara menekan tombol panggil di nomor Aron. Nara menunggu dengan cemas, bagaimana jika cowok itu sedang bekerja dan Nara mengganggunya. Nara sudah berniat mematikan panggilan ketika suara Aron terdengar dari seberang.
"Halo, kenapa, Ra?"
Nara berdebar. Jantungnya selalu seperti ini jika mendengar suara Aron.
"Halo? Nara, Lo nggak ketiduran kan?"
Nara tertawa pelan. "Kalau tidur nggak bisa telepon Lo."
Terdengar renyah tawa Aron di seberang. "Kali aja Lo ngelindur karena kangen banget sama gue."
"Nggak ada kayak gitu."
"Tapi kangennya benar, kan? Nggak biasanya Lo telepon gue soalnya."
Nara terdiam sebentar. "Aron, kayaknya orang tua gue mau cerai."
Dari seberang hening. Nara menunggu cowok itu untuk menanggapi.
"Masalahnya apa, Ra? Masih bisa dibicarain?"
Nara menggeleng. Padahal Aron juga tidak bisa melihatnya. "Enggak bisa kayaknya, Papa selingkuh dan Mama marah banget. Sekarang Papa udah jarang pulang, terakhir seminggu yang lalu."
"Jangan terlalu dipikirin ya, Ra. Kita masih kecil dibanding mereka yang udah kenyang pengalaman. Lo nggak bisa maksa nyokap Lo buat terus bertahan, mereka pasti udah mikirin dengan matang setiap keputusan yang diambil dan segala resikonya. Kita sebagai anak cuman bisa kooperatif."
Nara mengangguk. Percakapan hening sejenak.
"Lo lagi kerja?"
"Enggak, ini lagi di rumah sakit jengukin Ibu."
"Jangan lupa makan ya, gue tahu Lo belum makan."
Aron tertawa. "Iya, nanti gue makan."
Nara menunggu lagi, tidak punya topik lain untuk dibicarakan.
"Lo mau ketemu Ibu gue nggak? Gue pengen kenalin Lo ke ibu, itu kalau Lo nggak keberatan."
Nara mengangguk antusias. "Boleh, boleh. Besok juga boleh."
Aron tersenyum. "Ra, Lo tahu nggak? Nyokap gue itu ilmuwan, dia pintar banget. Mungkin karena itu ya, gue jadi pintar." Aron menghela napas, "kita sering ngobrolin soal fenomena sosial, human rigths juga politik. Apalagi Ayah, beliau suka banget kalau kita ngumpul sambil baca buku."
"Mereka hebat, Ron. Mereka pasti bangga banget sama Lo. Aron sekarang udah dewasa, pintar, baik juga ganteng."
"Iya kalau masalah ganteng emang nggak bisa gue tolak." Aron mencoba melawak.
Obrolan mereka masih berlanjut hingga larut. Membicarakan banyak hal, mulai dari yang penting hingga tidak. Juga memperdebatkan mana yang lebih enak, mie berkuah atau yang kering.
***
"Gue kesel banget, Ra. Sebel banget, ih!"
Sera yang merebahkan di ujung ranjang mencebikkan bibirnya. Lima menit yang lalu gadis itu berkunjung dan langsung melampiaskan kekesalannya. Padahal dia baru saja pulang liburan.
"Kenapa emangnya?" Nara membalik lembar halaman novel. Kali ini tengah membaca novel kenamaan karya Khaled Hosseini, A Thousand Splendid Suns.
Sera bangkit berdiri. Mengikuti Nara yang duduk bersandarkan kepala ranjang. Sera bersiap untuk berseru.
"Lo tahu nggak, sih? Gue kemarin liburan kemana?"
"Jeju?"
Sera menggeleng.
"Amerika?"
Sera menggeleng. Menggoyangkan telunjuk jarinya ke kiri dan kanan. Satu kesempatan lagi.
"Hawaii?"
"No!! Salah besar. Lo tahu nggak gue diajak naik gunung, bayangin, Ra, gue yang nggak pernah jalan kaki diajak naik gunung. Sumpah, badmood banget gue, udah nggak bisa mandi, nggak bisa makan seafood dan yang paling penting. Nggak ada sinyal! Gue nggak bisa main hand phon!"
Nara tertawa. Sera, Sera.
"Sesekali jadi anak gunung nggak ada salahnya, Lo bisa belajar banyak hal dari gunung."
"Nggak. Penerapannya jauh banget dari itu, dan ini musim dingin. Jalanan licin banget karena banyak salju."
"Terus kenapa Lo mau?"
"Gue kira kita mau camping di perkemahan atau ke villa. Gue nggak expected kalau malah naik gunung."
Nara tertawa. Tidak bisa membayangkan Sera yang begitu ribet ketika naik gunung. Dia pasti banyak mengeluh, lebih banyak dari saat ini.
"Pokoknya gue sebel banget."
Mereka hening sejenak. Nara melanjutkan bacaannya. Tapi kemudian teringat tentang dirinya dan Aron. Mungkin ini waktu yang tepat untuk membicarakannya.
"Sera, gue mau ngomong sesuatu. Tapi Lo jangan tersinggung ya, gue bakal nurut sama keputusan Lo, kalau Lo nggak ngizinin gue nggak bakal marah."
Sera mendengarkan dengan seksama.
"Masalah gue sama Aron."
Nara menggantung kalimatnya, menunggu perubahan ekspresi Sera. Tapi tidak ada yang berubah, Sera masih seperti biasa.
"Kalau gue dekat sama Aron, Lo bakal gimana?"
Sera awalnya hanya diam. Nara berharap cemas, biasanya badai datang secara tiba-tiba. Sera yang diam dan tidak bisa ditebak justru lebih menakutkan dari Sera yang menyebalkan dan cerewet.
"Terserah Lo." Sera perlahan mengembangkan senyumnya. "Gue tahu Lo bakal nanyain hal ini, dan itu semua terserah Lo. Kalau Lo emang suka dan nyaman sama dia, gue juga bakal senang kalau teman gue bahagia. Gue nggak punya hak ngelarang Lo buat jalan sama Aron. Jadi semuanya ada di tangan Lo, setiap keputusan dengan konsekuensinya. Ingat ya, Ra. Setiap keputusan akan membawa dampak. Sekecil apapun keputusannya tetap itu membawa perubahan."
Nara mengangguk. Mengembuskan napas lega. Bebannya lirih satu per satu.
Sera melanjutkan kalimatnya. "Tapi, Ra. Mungkin Aron udah cerita soal kehidupan dia, dan Lo juga harus siap buat itu. Lo nggak boleh nerima perasaan Aron aja, tapi dengan segala kelebihan dan kekurangan dia."
Nara tidak bisa untuk tidak berseru dan memeluk Sera dengan erat. Segala permasalahan yang menjadi pikiran hingga sulit tidur dan tidak selera makan ternyata bisa diselesaikan. Semuanya hanya soal keberanian untuk melangkah. Karena kalau kita diam saja, tidak akan ada perubahan yang datang.
"Nara, semoga Lo bahagia, ya. Lo, sama Aron berhak buat bahagia." Sera mengucapkannya dengan tulus di tengah pelukan
"Makasih Sera."
Sekarang hanya soal waktu, Nara dan Aron.
***