Nara POV
Hai, namaku Kwon Nara. Haha, canggung sekali. Aku tidak pernah menceritakan kisah hidupku pada siapapun. Aku menyimpannya sendirian di dalam kotak, membukanya sesekali jika rindu. Tapi menceritakannya secara langsung terasa aneh.
Baiklah, mungkin kalian sudah tahu sedikit tentang kisahku. Beberapa memang benar terjadi dan beberapa aku lupa bagaimana kejadian jelasnya.
Aku sekarang sedang membuka kotak masa laluku, maka akan aku ceritakan kisah ini. Aku bingung harus memulainya dari mana. Tapi baiklah, akan aku coba.
Aku menyukai Aron, suka yang benar-benar suka. Entahlah, banyak orang menyayangkan jika aku bisa menyukainya. Tapi bukankah cinta datang tanpa alasan? Bukankah cinta itu buta?
Banyak sekali rintangan yang menjadi penghalang kami, banyak juga masalah yang datang saat itu. Perceraian orang tua ku, sahabat ku, hingga keadaan hidup Aron. Semuanya datang silih berganti, ada juga yang datang bersamaan, membuatnya menjadi gumpalan salju yang meluncur deras dari gunung. Semakin lama semakin membesar dan menghancurkan apapun.
Lupakan soal itu, kali ini ada cerita yang aku kenang manis. Yaitu hari dimana aku dan Aron resmi berkencan. Entahlah siapa yang memulai, tapi waktu itu aku tidak mengatakan apapun, semuanya mengalir seperti sungai. Tapi sebelum cerita itu, aku akan ceritakan tentang hari yang begitu menyakitkan untukku. Untuk Mamaku juga.
Seperti biasa, liburan akhir semester menjadi saat yang paling dinanti. Dulu aku tidak suka. Sangat tidak suka karena aku semakin tidak punya teman, semakin terkungkung sendirian di dalam kamar. Menghabiskan waktu melukis di lantai atas atau pun membaca novel seharian.
Tapi sekarang tidak. Jadwal ku padat sekali, aku menjadi orang sibuk. Di hari pertama Mama mengajakku berkunjung ke rumah kakek. Aku tidak begitu tertarik karena di rumah kakek terlalu banyak aturan. Banyak sekali larangan. Tinggal bersama kakek lebih dari lima tahun membuatku mengerti benar wataknya.
Mama sudah mempersiapkan banyak hal, Mama juga membelikan ku baju baru. Sepertinya kunjungan ini akan berdampak besar, tidak biasanya Mama melakukan hal ini.
Kami berangkat dari rumah pukul delapan pagi, aku masih mengenakan baju tidur dan terlihat berantakan ketika Mama mengetuk pintuku beruntun. Teriakannya memenuhi rumah. Katanya.
"Adek bangun! Sudah keburu siang nanti kita telat!"
Dan banyak lagi. Mama kalau sudah mengomel panjangnya seperti kapsul kereta, panjang dan bersambung.
Sekarang kami berada di dalam mobil. Aku dan Mama duduk di kursi penumpang sementara Pak Kim mengemudikan mobil yang kita tumpangi. Aku sudah berniat menutup mata demi melanjutkan tidur ku semalam. Sukuna melamar ku!! Di dalam mimpi, sih.
Mama ribut sekali memeriksa ponsel serta menyapukan segala make up ke wajah. Mengomel lagi padahal di rumah sudah amat panjang.
"Lihat, kita sudah telat satu jam. Padahal Mama udah siapin alarm di kamarmu, tapi kamu susah sekali bangun. Mama curiga kalau ada kebakaran kamu juga nggak bangun."
Mama menyapukan lipstik merah menyala. Aku tidak suka, warna itu terlalu mencolok untuk Mama.
"Jangan tidur, bentar lagi kita sampai. Nara!"
Padahal semalam aku hanya sempat tidur satu jam. Semalaman menangisi karakter novelku yang meninggal secara mengenaskan. Sedih sekali, padahal aku begitu menyukainya. Kenapa yang baik selalu pergi dengan cepat?
Sementara aku melamun, mobil kami sudah memasuki halaman raksasa milik kakek. Sudah ku katakan belum kalau kakekku itu triliuner?
Beberapa mobil berjajar di halaman. Sepertinya memang sedang ada acara penting. Terdengar alunan musik dari dalam, kami memasuki rumah dengan keheranan. Ralat, hanya aku saja, Mama sepertinya sudah tahu acara apa yang menyambut kami.
"Ada acara apa, sih, Ma?"
Ketika aku bertanya, Mama malah tersenyum.
"Sudah, nanti kamu juga tau sendiri."
Aku mengedikkan bahu, sementara kaki kami melangkah semakin dekat. Beberapa pengawal terlihat menjaga di depan pintu. Mereka menundukkan badannya ketika kami lewat.
Memasuki ruang depan, musik semakin kencang terdengar. Beberapa orang berdiri dengan gaun cantik, beberapa juga mengenakan jas mahal karya desainer ternama. Mereka membawa segelas bir sambil tertawa ketika berbincang pada yang lain.
Aku akhirnya sedikit mengerti. Acara ini bukanlah acara keluarga, melainkan acara besar yang dihadiri banyak tamu penting. Aku mengenali beberapa dari mereka, ada juga CEO dari agensi terkenal yang beberapa waktu lalu mengambil alih perusahaan terbesar di Amerika. Perusahaan yang menaungi Justin Bieber itu berada di bawah payung kekuasaan mereka.
Kakek berdiri di ujung ruangan. Kakek sangat tampan dengan setelan biru tua itu. Setelah kami datang, kakek tersenyum lebar. Buru-buru merentangkan tangannya lebar untuk bisa ku peluk. Aku menghampiri beliau, memeluknya seerat mungkin. Meski kakek terkadang menyebalkan, dia tetaplah kakek terbaik di seluruh galaksi bima sakti.
Mama memeluk kakek setalah diriku. Kemudian dengan tepukan pelan, musik perlahan berhenti. Atensi seluruh pengunjung di ruangan menatap kami. Kakek tersenyum semakin lebar.
"Terimakasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir dalam ruangan ini. Ya meskipun rumah ini tidak semewah hotel bintang lima."
Seluruh tamu tertawa membahana, entah kakek betulan atau malah menyombongkan diri. Pasalnya ruang utama ini bahkan lebih baik daripada ballroom hotel.
"Iya, iya, aku hanya bercanda." Kakek menghentikan tawanya, "selamat datang kepada seluruh tamu undangan di acara ulang tahun putriku yang ke empat puluh dua tahun!!"
Seluruh ruangan bergema oleh sorakan dan tepuk tangan. Musik dengan tema ulang tahun terputar. Kakek memeluk Mama sekali lagi, kemudiaan Mama menundukkan badan ke seluruh tamu undangan.
"Rasanya waktu berlalu begitu cepat. Seperti baru kemarin aku memarahinya karena sering bermain hingga lupa waktu, main air hujan hingga tidak mau belajar." Tamu undangan tertawa lagi.
"Sekarang anakku sudah sebesar ini, punya kehidupan yang bahagia."
Aku tidak mendengar jelas apa yang dikatakan kakek selanjutnya. Kuping ku berdengung, seluruh ruangan menjadi hening. Dan aku berkutat dengan pikiranku sendiri.
Ya Tuhan. Ternyata ini adalah acara ulang tahun Mamaku, dan betapa bersalahnya aku dengan tidak mengingat hari berharga ini. Wajahku pias, seperti orang bodoh yang tertangkap basah sedang mencuri. Aku tidak tahu kapan Mama mendekatiku dan memelukku sangat erat. Mama bahkan berbisik serak di telingaku.
"Terimakasih, Nak. Kamu adalah dan akan tetap menjadi hadiah terbaik di ulang tahun Mama."
Aku rasanya ingin menangis. Mama maafkan aku.
***
Acara sudah selesai satu jam lalu. Banyak artis terkenal yang datang. Aku lupa nama mereka saking gugupnya. Bukan, bukan gugup karena mereka bernyanyi di rumah kakek. Tapi gugup bagaimana menghadapi Mamaku setelah ini. Rasanya aku kecewa dan marah sekali. Aku tidak pantas menjadi anak kesayangan Mama. Jangankan hadiah ulang tahun, ucapannya saja tidak ku ucapkan.
Masih ada satu dua tamu yang tinggal, kakek sibuk mengurusi mereka. Mama? Entahlah sedang kemana, setelah mengantar temannya Mama belum kembali lagi. Mungkin masih berbincang atau melepas rindu.
Aku berada di kamar nenek. Sekarang beliau tengah membantuku melepas gaun besar yang begitu rumit ini. Aku bahkan tidak bisa meraih tali yang mengikat pinggangku.
"Nara sekarang makin cantik." Nenek mengatakannya ketika merapikan rambutku yang sedikit berterbangan. Gaun yang berat itu sudah terpental. Kami duduk di sofa yang ada di kamar nenek. Beberapa pelayan menyajikan teh hijau dengan beberapa piring kue jahe.
"Aku tidak suka berdiri begitu lama di pesta, nek. Kaki ku sangat pegal, rambutku juga. Di ikat begitu kencang, aku pusing."
Nenek tertawa mendengar keluhan ku. Sudah kebiasaan, sejak dulu saat kakek memarahiku, aku akan mengadu pada nenek. Bercerita banyak hal. Menyenangkan.
"Nggak apa-apa. Nenek juga nggak suka, makanya nenek nggak mau turun."
Nenek tertawa. Entah aku harus ikut tertawa atau sedih. Maksud nenek adalah beliau tidak bisa turun. Nenek mengalami kelumpuhan. Beliau tidak bisa berdiri. Aku mendekat. Memeluk nenek, menghirup aroma mawar yang menguar dari tubuhnya. Aku suka aroma nenek, menenangkan.
"Nek, Nara lagi sedih."
Nenek mengendurkan pelukannya. Menatap wajahku seksama.
"Sedih? Siapa yang berani buat cucu kesayangan nenek sedih?"
Aku mencebik. Kemudian tersenyum. Aku semakin tenang berada di dekat nenek.
"Aku lupa kalau hari ini ulang tahun Mama, bahkan tadi aku sempat tanya Mama kenapa harus pakai gaun rumit. Nek, aku sedih."
Nenek menepuk pundakku. "Wajar kalau lupa tanggal. Nenek aja lupa kapan nenek lahir, kalau nggak di ingetin kakekmu nenek juga lupa."
"Nenek..." Aku merengek seperti anak kecil.
"Nggak apa-apa, sayang. Mamamu nggak bakal marah. Percaya sama nenek."
"Aku yang nggak enak, Nek."
Nenek berpikir sejenak. "Gimana kalau kita kasih surprise buat Mamamu? Biar dia senang?"
Aku sebenarnya ingin menggeleng. Aku tidak berpengalaman dalam hal itu. Tapi demi Mama apa yang tidak akan ku lakukan?
***
Aku sudah bersiap di dalam kamar mandi. Ibu berada di kamarnya. Sebenarnya letak kamar mandi ada di dalam setiap kamar. Aku berdiri di balik pintu kamar mandi, mendengarkan langkah kaki Mama untuk segera mengejutkannya. Wajahku berbinar terang, aku tidak sabar.
Nenek ikut bersama ku. Beliau yang membawa kue sementara aku mendorong kursi rodanya. Aku sudah siap mengejutkannya ketika mendengar ketukan sepatu di lantai. Seketika urung ketika mendengar Mama seperti berteriak dengan seseorang, setelah mendengarkan dengan cermat, aku mengerti bahwa Mama sedang bicara di telepon.
"Apa lagi mau kamu? Dasar wanita tak tahu malu! Sekarang apa lagi yang kamu mau?"
Aku diam mendengarkan. Tidak enak karena menguping pembicaraan orang lain, tapi aku malah mempertajam pendengaranku ketika nama Papa disebut.
Nenek sepertinya juga begitu. Karena sekarang pembicaraan menjadi semakin intens.
"Aku sudah ikhlas dan nggak mengungkit lagi ketika kamu rebut Jiwon, sekarang mau apa lagi? Nggak cukup kamu buat anakku jadi anak yang punya latar belakang keluarga buruk? Urus sendiri keluargamu!"
Aku tanpa sadar menahan napas. Apa itu wanita simpanan Papa?
"Aku tidak tahu! Sekali lagi kamu tanya dimana Jiwon, akan aku habisi dirimu. Dengarkan baik-baik wahai Nona, Mina. Dengarkan karena aku tidak akan mengulanginya. Yang harus kamu tahu, pertama aku tidak berhubungan lagi dengan lelaki b******k itu. Aku bukan lagi istrinya, dan dua, jika kamu hamil maka mintalah pertanggung jawabannya. Jangan padaku! Aku bahkan tidak Sudi hanya dengan melihat wajahmu. Ketiga, Jiwon bukanlah pria baik. Hey, bukankah saja wanitanya. Dia punya banyak, dan sama seperti ku, kamu akan dia campakkan. Bedanya, aku adalah istri sahnya, sedangkan kamu hanyalah wanita simpanan!"
Aku tidak mendengar lagi percakapan lain. Sepertinya Mama marah dan mematikan sambungan. Kau susah bernapas. Air mataku sudah turun sejak tadi. Kejutan yang aku siapkan untuk Mama ternyata tidak berjalan lancar. Aku malah dikejutkan dengan kenyataan ini.
Aku meremat erat pegangan pada kurasi roda. Mungkin karena terlalu mencengkeramnya, kursi roda itu bergetar. Nenek yang menyadarinya berusaha mengusap punggung tanganku. Mencoba menenangkanku.
Kami tidak jadi memberikan kejutan. Kami menunggu hingga terdengar suara pintu dibuka kemudian di tutup. Kami keluar dari kamar mandi setelahnya. Saat berjalan keluar, aku melihat ponsel Mama yang retak dan membisu di tengah ruangan.
***
Aku memutuskan untuk berdiam diri di kamar nenek. Beliau juga tidak menanyakan apapun. Paham bahwa ketika aku sedang terpuruk, aku lebih suka menyendiri. Beberapa kali aku dengar Mama mengetuk kamar ku, meminta ku untuk keluar. Waktunya kami pulang.
Tapi tadi aku sudah memberitahu nenek, memintanya agar berpura-pura tidak mendengar percakapan tadi. Aku akan menunggu Mama menceritakan semuanya. Aku tidak mau merusak hari bahagia Mama.
Lagi pula jika aku pulang, aku tidak tahu bagaimana menghadapi Mama nanti. Mungkin aku akan menangis jika melihat wajah Mama. Wajah yang selalu menyayangi ku. Aku tidak akan sanggup.
Mama mengetuk pintu kamar untuk keempat kalinya.
"Adek, ayo pulang. Bentar lagi gelap, Mama harus pulang sekarang. Mama harus nyiapin meeting buat besok."
Meski kelakuanku seperti ini, Mama tetap sabar. Mama, aku bahkan tidak tahu kenapa Papa bisa menyakiti wanita sebaik Mama.
Kali ini aku mendengar suara nenek. Sepertinya meminta Mama untuk tidak mendesak ku lagi.
"Nara capek, Hyuna. Kamu kalau mau pulang, pulang aja. Nara biar ibu yang urus."
"Tapi, Bu–"
Ibu yang masih mengotot tidak melanjutkan ketika Nenek memotong dengan cepat.
"Sudah sana. Nara lagi tidur, nanti kebangun. Kasihan dia lagi nggak enak badan."
Mama menghela napas. Menyerah.
"Iya, Bu. Hyuna titip Nara ya." Mama mengetuk pintu. "Nara, Mama pulang ya, kamu jangan nyusahin Nenek."
Sudah tidak terdengar lagi suara percakapan. Hanya terdengar knop pintu yang diputar. Kemudian tak lama Nenek memasuki kamar.
Aku sedang mengubur diri di dalam selimut. Aku berusaha menetralkan napas ku yang memburu. Aku sudah tidak bisa merasakan air mata ku yang menangis.
Nenek menepuk pundakku. Membuatku menyembulkan kepala dari dalam selimut.
"Nggak apa-apa. Kalau mau nangis lagi nggak apa-apa. Nanti kalau udah nggak sakit lagi, makan ya. Nenek udah minta pelayan siapin makanan di bawah."
Aku mengangguk. Bersyukur karena masih memiliki orang-orang yang menyayangiku, merawat ku dengan baik.
Aku memilih untuk menegakkan badan. Menatap nenek yang masih tersenyum menenangkan.
"Nek, kenapa jadi orang dewasa ribet banget. Kenapa semuanya nggak berjalan lancar aja?"
Nenek menggenggam jemariku, menautkan jemari kami. Menyalurkan kehangatan. "Sudah resikonya. Semakin bertambah kemampuan kita, semakin besar ujian yang akan kita hadapi. Semuanya kaya ujian sekolah, Ra. Kalau kamu masih SD, soalnya akan disesuaikan dengan kemampuan kamu, begitupun kalau kamu masuk universitas, semakin susah juga ujiannya."
Aku mengangguk. Tapi tetap saja, semuanya masih tidak adil bagi Mama.
"Nenek nggak sedih? Mama kan anaknya Nenek?"
Nenek menggeleng. "Untuk apa disesali, Ra. Untuk apa juga disalahkan, nenek malah bersyukur Mama kamu dijauhkan dari orang yang nggak baik. Tapi kamu harus ingat ya, Ra. Kamu nggak boleh benci sama Papa kamu, bagaimana juga dia ayah kandung kamu. Selama ini dia memenuhi kewajibannya terhadap kamu tanpa kurang apapun, jadi jangan jadikan ini sebagai alasan buat kamu untuk membenci Papa mu. Kamu boleh kecewa, kamu boleh marah, tapi tetap ada batasannya. Sampai sini Nara paham?"
Aku mengangguk. Turun dari ranjang dan memeluk nenek dengan erat, aku sangat menyayangi nenek.
Sebelum kami sempat melerai pelukan, di ujung pintu, kakek sudah menginterupsi.
"Ayo makan, kakek sudah lapar. Pelukannya bisa nanti lagi, ayo!"
Nenek tertawa, aku juga. Kami melerai pelukan.
Sampai di ujung pintu, nenek menepuk pelan perut buncit kakek.
"Makan terus, kamu tidak pernah mengerti urusan wanita." Nenek mengatakannya dengan berlebihan. Seperti menonton sinetron. Aku tertawa lagi. Kali ini Kakek ikut tertawa.
***