Aron menghubungiku di pagi buta. Sementara mataku tidak bisa di ajak untuk berkompromi. Terhitung tiga kali aku mendengar ponselku berdering, namun aku hanya membuka mata sebentar kemudian melanjutkan tidur.
Saat dering keempat, aku memaksa mataku untuk terbuka. Aku masih menutup mata, meraba ponsel di nakas dan menaruhnya di telinga. Aku hanya menyahut seadanya, benar-benar masih di ambang mimpi.
"Maaf, Lo keganggu ya? Atau malah baru tidur?"
"Sayang. I love you, I love you." Aku menjawab di luar kesadaranku, tidak benar-benar paham pembicaraan kami.
Dia tertawa, suaranya saat malam memabukkan. Sayangnya aku masih belum sepenuhnya terjaga, jika iya mungkin aku akan melompat kegirangan.
"I love you." Aku mendengarnya berkata dengan lembut.
Aku merasa sedang berduaan dengan Aron. Duduk di dalam taman kota dan saling menatap. "I love you, love, love, loveee. Muach!"
Dia malah tertawa menyebalkan. Sekarang tawanya menggema.
"Nara, Lo cuci muka dulu deh."
"Iya."
"Udah bangun belum?"
Aku tidak tahu kenapa dengan mata yang masih setengah tertutup, kakiku melangkah ke kamar mandi. Menuruti ucapannya ketika membasuh muka. Perlu beberapa detik, dan ponselku masih terhubung dengannya.
Aku mulai mengingat kenapa berada di sini, kenapa aku membasuh muka dan kenapa aku bangun di malam hari. Ketika melongok layar ponsel, tertera nama Aron di sana. Aku sadar sepenuhnya. Mataku melotot.
"Aron!!" Aku berseru ketika mendekatkan ponsel ke telinga. Apa yang aku lakukan?
Aron malah tertawa senang di seberang. Kemudian menyapaku seakan tidak berdosa. "Iya sayang?"
Wajahku memerah. Nada bicaranya seperti mengejekku. Ketika aku tidak menjawab, dia malah tertawa.
"Tadi 'I love you' nya gimana?"
"Nggak ada!" Aku menjawab ketus. Wajahku sudah semerah kepiting rebus. Aku malu sekali, entah apa yang aku lakukan jika kita bertemu nanti.
"Ra," dia memanggil namaku dengan serius, renyah tawanya tidak lagi terdengar. Seraya mendengarkan suaranya, aku melangkahkan kaki untuk kembali ke kamar. Kali ini duduk bersandar di kepala ranjang.
"Gue tiba-tiba kepikiran sama Lo, I don't know why. Pengen aja ngehubungin Lo malam-malam begini."
Aku tersenyum. "Jawabannya simpel. You're miss my existence, Mr. Aron."
"Iya. I really miss you, Ms. Kwon."
Kami tertawa lagi. Sepertinya kantukku akan hilang untuk dua hingga tiga jam ke depan. Atau bahkan tidak bisa tidur lagi hingga siang datang.
"Gimana harinya?"
"So far so good." Aku mengulang memori seharian tadi. "Cuma kemarin yang nggak menyenangkan, hari ini much better."
Tentu saja aku tidak bisa melupakan kejadian tiga hari lalu, saat menguping pembicaraan Mama.
Aku bisa menebak Aron sekarang tengah mengangguk. Kemudian tersenyum.
"Kalau Lo gimana?"
Aron tak menunggu waktu lama untuk bercerita. Katanya hari ini sangat hebat untuknya. Pagi hari mendapat kabar bahwa gajinya akan naik meski tidak banyak. Belum usai, siangnya dia mendapat kabar bahwa ada seorang malaikat baik yang membantu biaya perawatan ibunya. Dia bahkan berseru saking senangnya.
"Gue nggak tahu, Ra. Gue bersyukur banget. Dengan itu, ibu akan dapat perawatan yang lebih baik. Mesin-mesin yang terbaik, gue senang banget. Semua capek dan letih yang gue harus korbankan, terbayar lunas hari ini."
Aku juga berseru antusias. "Aron, I'm happy for you, and your Mom."
Dia tertawa. "Ya! Dia emang biak banget. Gue bahkan nggak tahu dia siapa, tapi dia dengan senang hati bayar biaya perawatan yang nggak sedikit. Dia malaikat penolong buat gue, dia keajaiban yang jadi nyata buat gue."
Aku tersenyum. Senang rasanya jika Aron bahagia seperti ini. Biarlah semuanya tetap menjadi rahasia. Mungkin Aron akan menolak dan sungkan jika tahu siapa malaikat penolongnya. Maka aku menanggapinya seperti tidak pernah tahu apapun.
***
Hari ini dia mengajakku untuk nge-date. Katanya sebagai kencan pertama. Hari ini matahari terlihat, tidak terlalu dingin. Cocok untuk pergi keluar rumah. Aku mengenakan mantel kuning kunyit, kemarin rambutku sudah ku warnai lagi. Kali ini tidak terlalu mencolok seperti mint choco kemarin. Sekarang kembali ke warna aslinya.
Mama tidak ada di rumah. Entahlah, aku harus bersyukur atau tidak karena dengan itu, Mama tidak akan menanyaiku yang macam-macam. Meski begitu, gugup ku tidak hilang. Ayolah, ini kencan pertama kami. Aku terlalu amatir untung urusan percintaan remaja. Aku takut canggung dan merusak suasana.
Ketika aku turun dan sampai di pintu utama, aku melihat Aron sudah berada di sana. Bersandar pada pagar rumahku. Dia mengenakan mantel cokelat, rambutnya yang tak pernah ia pedulikan kini tertata rapi. Aku menepuk d**a kiriku agar jantung ini tidak berdebar keterlalua. Menormalkan napas sebelum melangkah ke tempatnya.
Aron menyadari keberadaan ku sebelum aku berada di sampingnya. Setelah kami berhadapan, aku menjadi lebih gugup. Rasanya tanganku berkeringat meski cuaca dingin.
"Udah lama?"
Aku bertanya canggung. Tolong maklumi remaja ini.
Aron tersenyum. Menimbang sebentar sebelum menjawab. "Lumayan. Setengah jam mungkin?"
Aku melotot. "Hei! Kenapa nggak masuk aja? Cuaca dingin banget dan kamu di sini selama itu?"
Aron malah menyengir.
"Lagian bukan salahku, kamu yang datang terlalu awal." Aku kembali mengomel. Tidak sadar bahwa aku memanggilnya dengan 'kamu' bukan 'lo' lagi.
Kami berjalan bersisian. Menapaki jalanan untuk kencan hari ini. Rasanya menyenangkan tapi juga sangat mendebarkan. Aku menggenggam tanganku di depan tas selempang.
"Nggak sabar. Aku takut telat makanya datang lebih awal, ternyata memang terlalu awal, hahaha."
Aron menggaruk kepalanya. Tertawa canggung.
Kami memilih duduk di halte. Kali ini Aron mengajakku untuk berkeliling kota dengan bus. Katanya mau memperlihatkan sisi yang tidak pernah aku lalui selama ini. Dia mengajakku menikmati kehidupan sederhana dengan uang hasil kerja kerasnya.
Kami menaiki bus setelah lima menit menunggu. Bus kali ini lengang. Hanya ada beberapa penumpang yang mengisi separuh bus. Aku memilih duduk di samping jendela, Aron menyusul di samping ku. Kami sangat dekat dan aku begitu gugup.
Di tengah kecemasanku, Aron menggenggam tanganku. Menautkan jemari kami. Aku tahu dia berniat menenangkan ku, tapi tahu kah dia itu malah membuatku semakin gugup? Sumber kecemasanku adalah dia.
Tapi melihat senyumnya yang mengembang lebar membuat aku tenang. Aron membuatku nyaman.
"Kamu kedinginan?"
Aku mengangguk. Benar, jemari ku rasanya beku karenanya. Tanganku yang masih bertaut dengannya di genggam erat. Dia mengusapnya perlahan, menyalurkan kehangatan.
"Udah hangat?"
Aku tersenyum. Hendak mengangguk tapi sepintas ide jahil muncul.
"Belum." Aku menggeleng, memanyunkan bibir.
Dia tersenyum. Kemudian mendekatkan jemariku ke wajahnya, meniup jemariku dengan tulus. Aku tersenyum. Hatiku malah yang menghangat.
Aron menghentikan kegiatannya ketika teringat sesuatu. Kemudian membuka barang yang ia bawa. Sebenarnya aku dari tadi sudah penasaran akan isi tas tersebut. Kini Aron mengeluarkannya. Ada syal berwarna merah terang. Dia mengeluarkannya. Kemudian memasangkannya untukku.
Wajahnya serius sekali, membelitkannya di leherku. Membuatku tenggelam dan syal merah tersebut. Setelah selesai, dia menepuk pucuk kepalaku. Memperlakukanku seperti anak kecil.
"Cantik."
Aku mengulum bibir. Tersenyum malu-malu.
Tapi Aron menghancurkannya. Dia meralat dengan gesit.
"Syalnya. Syalnya yang cantik."
Aku hampir memukulnya jika tidak ingat ini adalah kencan pertama kami.
"Beli dimana? Aku suka."
Aron mengangguk. "Kamu harus suka, kalau nggak suka aku bakal marah."
Aku mengerutkan kening, "kenapa?"
Aron kembali menautkan jemari kami. Aku tidak protes karena aku juga menyukainya. Sangat menyukainya.
"Aku yang buat. Khusus buat kamu."
Terdengar cringe sekali bukan? Memang. Tapi aku dulu belum merasakannya, aku terlalu senang karena kupu-kupu seperti berterbangan di perutku.
***