Setelah merasa puas, ku meraup oksigen dengan rakus. Membiarkan paru-paruku penuh dengannya. Aku menetralkan napas serta menghapus air mataku. Setelahnya keluar dari bilik toilet. Mencuci tangan di wastafel sembari menatap wajahku yang memerah. Untung saja mataku tidak terlalu sembab. Aku mengeluarkan beberapa make up untuk memperbaiki riasanku. Aku tidak ingin menjadi pusat perhatian lagi dengan wajah seperti ini. Setelah mengoleskan bedak tipis dan lipstik, aku merapikan rambut. Bersiap untuk kembali ke tempat yang terasa neraka bagiku. Aku menghembuskan napas sekali lagi, memastikan aku benar-benar kuat. Baru saja melangkah dari pintu toilet, aku mendapati Sera berdiri di hadapanku. Dia terlihat gelisah. Matanya menatapku seakan menahan beban berat di hatinya. Dia mendekat dan menceg

