"Brayn!! Braynn!!" Alice berteriak memanggil Brayn.
Saat ini Alice dan Alexa sedang duduk di sofa. Membicarakan hal-hal yang mungkin tidak penting. Hanya sekedar basa-basi saja.
Alice berdecak sebal saat Bryan tak kunjung menyahuti panggilannya.
"Brayn!! Sini dulu, turun!! Ada yang mau mama bicarakan sama kamu!" teriak Alice sekali lagi.
Di dalam kamarnya, Brayn hanya bisa mendengus kesal. Kenapa bisa dia punya mama yang sangat hobi teriak-teriak, ngidam apa omanya waktu mengandung mamanya ini.
"Iya, ma. Ini lagi otw," Brayn bangkit dari tidurnya. Dia berjalan pergi menuju tempat sang mama teriak-teriak. Jika tidak segera disamperin, mamanya akan melunjak dan akan teriak-teriak lebih kuat lagi.
Sesampainya di hadapan sang mama, Brayn hanya bertanya malas pada mamanya, "Ada apa sih, ma? aku ngantuk. Mau tidur. Mama kenapa sih harus ganggu aku terus? Please deh ma, jangan ganggu aku bisa gak? Aku capek pake banget."
"Emang mama manggil kamu mau nyuruh kamu nguli apa? Enggak kan, jadi kalau dipanggil ya datang. Jangan berlagak seperti anak durhaka, mama kutuk jadi batu baru tau kamu," Alice menggeram kesal pada sang anak.
Jika sudah begini, Brayn hanya bisa memutar bola matanya kesal saja. Ngelawan emak-emak gak akan menang. Jangankan menang, berharap seri aja gak mungkin dapat.
"Iya, ada apa, mama ku sayang?" tanya Brayn dengan senyum paksanya.
Alexa yang sejak tadi diam saja, kini mulai tersenyum kesenangan. "Wey!! Ceilahh ... lo senyum paksa aja gue suka, apalagi lo senyum tulus, beuhh ... makin gila gue ahh," ujar Alexa girang dalam hati.
"Sini duduk dulu," Alice menepuk tempat kosong di sampingnya.
Brayn menaikkan sebelah alisnya, "Hah? Ngapain? Kenapa harus duduk disitu? Emang gak bisa duduk di tempat lain?" tanya Bray dengan nada tak sukanya.
Alice mengangguk-anggukkan kepalanya, "Ooh ... jadi kamu gak suka kalau kamu duduk di samping mama, iya? Durhaka sekali kamu jadi anak!! Pergi kamu dari rumah ini!" Alice menatap tajam ke arah Brayn.
Brayn yang kesal hanya bisa berdecak sebal, dia tak ingin melawan macan kelaparan. "Iya," balasnya singkat. Lalu Brayn langsung duduk di sebelah kanan mamanya. Sementara Alexa duduk di sebelah kiri mamanya.
Alice tersenyum penuh kemenangan saat Brayn nurut padanya.
Alice menepuk paha Brayn, "Nahh ... jadi gini, Br-"
"Mama!! Sakit. Bisa gak sih ngomong pakai mulut aja, tangannya gak usah main? Ini namanya penyiksaan," Brayn kesakitan. Mamanya ini benar-benar bertenaga seperti kuli bangunan.
Alice menyengir lebar, "Heheh ... sorry, kelepasan," ucapnya dengan wajah tak bersalah.
"Nahh ... jadi gini Brayn. Mama itu ada niat baik buat kamu," Alice menjeda ucapannya.
"Mama tau umur kamu itu uda banyak, uda tua, uda 26. Dan saat ini bahkan kamu belum punya pasangan yang akan kamu kenalkan ke mama. Sementara teman-teman kamu yang seumuran bahkan dulu sekelas sama kamu uda pada punya anak semua. Mama khawatir, mama curiga kalau kamu it-"
"Apa, ma? Homo maksudnya mama?" Brayn memotong ucapan mamanya.
"Aku ini normal, ma! Normal. Aku bukan homo. Mama sendiri yang menjatuhkan harga diri anak mama," Brayn membuang muka. Dia memang sangat sensitif jika membicarakan hal-hal yang berbau pernikahan.
Alice menghela nafasnya, dia sudah begitu paham dengan karakter anaknya ini. Kejadian seperti ini sudah berulang kali terjadi olehnya dan Brayn.
Alexa yang sejak tadi diam dan menyimak, menjadi sedikit terkejut karena respon Brayn yang benar-benar tak terpikirkan olehnya sama sekali.
Alice menggenggam tangan Brayn, "Bukan seperti itu maksudnya mama, sayang. Maksud mama itu baik, mama hanya ingin kamu mempunyai pendamping hidup agar kamu tak kesepian, agar kamu tak sendiri lagi."
Brayn menatap mamanya dengan tatapan tajamnya. "Kenapa memang kalau aku sendiri? Bahkan aku gak merasa kesepian sama sekali. Hidup ku sudah sempurna. Aku sudah punya anak, Bella sudah cukup untuk aku, ma. Aku gak membutuhkan orang baru lagi di kehidupan ku."
"Baryn!! mama harap kamu mengerti, Bella itu perempuan, akan bahaya jika dia yang meneruskan bisnis kita. Mama harap kamu paham, mama juga kepengen nimang cucu kandung dari kamu, Brayn. Bukan maksud mama membeda-bedakan Bella, tapi kamu tolong mengerti. Rasa ingin itu ada, bahkan sangat bergejolak. Mama ingin melihat kamu menikah, mama ingin punya cucu dari kamu, sebelum mama tutup usia," Alice terbawa suasana. Emosi mulai menguasai dirinya. Alice memang sudah lelah, sudah sering dan berulang kali dia membicarakan tentang hal dan keinginannya pada Brayn. Tapi Brayn selalu menolak dan mengesampingkan keinginan Alice.
Alexa sedikit terkejut, dia terkejut dengan emosi Alice dan juga Brayn. Tapi, yang lebih mengejutkan lagi adalah, Bella yang ternyata bukan anak kandung Brayn, dan Bayn masih murni lajang.
"Oww ... ternyata dia masih lajang. Masih manis-manisnya nihh, gile ahh ... kalau gue jadi nikah sama dia, bakalan sempurna hidup gue," ucap Alexa dalam hati.
"Mau kamu apa sih, Brayn? Kamu mau hidup bebas tanpa diatur oleh mama? Kamu mau hidup bebas biar gak dengar celotehan mama tiap hari?" tanya Alice mulai serius pada Brayn.
Brayn hanya diam, dia tak ingin menanggapi mamanya yang sedang emosi.
"Kalau keinginan kamu begitu, biar mama tau. Mama sudah capek membesarkan kamu, berharap kalau kamu jadi anak yang patuh dan bisa menyenangkan mama. Tapi nyatanya apa? Semuanya gak sesuai ekspektasi, kamu bahkan gak pernah menuruti keinginan mama." Alice kembali ngomel pada Brayn.
"Kalau kamu gak mau nurutin permintaan mama, kamu mau kehendak kamu aja yang dituruti, kamu mau bebas dari mama, oke .... Mama akan pergi dari rumah ini. Selamat menikmati harta dan kebahagiaan kamu. Mungkin mama terlalu buruk untuk jadi mama kamu, itu sebabnya kamu gak pernah mau nurutin apa kata mama." Alice berdiri, dia menarik tangan Alexa supaya ikut berdiri bersamanya.
"Nikmati lah hidup kamu ini, Brayn. Nikmati semua harta kamu dan semua aset kamu. Terimakasih sudah mengizinkan mama numpang disini. Mama bersyukur pernah diizinkan tinggal disini. Mama gak akan merepotkan kamu lagi, mama gak akan banyak minta sama kamu lagi. Terimakasih, mama pergi," Alice menarik tangan Alexa untuk pergi dari situ.
Alexa yang bingung pun hanya bisa pasrah dan mengikuti Alice saja.
Sedangkan Brayn, dia hanya bisa diam dan menatap kepergian mamanya bersama Alexa dengan hati yang bingung dan gundah.
Alice dan Alexa terus berjalan. Hingga mereka sampai pada lampu merah dekat komplek rumah Alice.
"Huftt ... capek juga ternyata jalan ya," Alice mengeluh.
Alexa yang sejak tadi menuntut sepeda dengan beribu pertanyaan dalam otaknya, hanya bisa tersenyum paksa menanggapi ucapan Alice barusan.
"Saya numpang di rumah kamu ya," ujar Alice tiba-tiba.
Alexa menggertakkan dahinya bingung, "Maksudnya, tante?" tanya Alexa gagal paham.
"Iya, saya kan pura-pura kabur dari rumah, jadi saya numpang di rumah kamu ya sementara," jelas Alice.
"Sebenarnya bisa sih saya nginap di hotel, tapi sepertinya kalau di rumah kamu itu lebih bagus. Nanti citra kamu lebih baik di mata Brayn," lanjut Alice sambil menyeka keringatnya.
Alexa langsung menoleh ke arah Alice, "Hah? Jadi tante gak beneran marah sama mas Brayn?" tanya Alexa yang masih terkejut.
Alice menyengir lebar, "Ya enggak lah ... mana bisa saya marah-marah sama Brayn, itukan cuma akting doang. Biar Brayn bersedia dijodohin sama kamu."
Alexa tak habis pikir dengan Alice, ternyata Alice benar-benar sangat bertekad kuat untuk menjodohkan Brayn.
"Gimana bisa tante Alice sangat ambisius untuk jodohkan Brayn? Emang Brayn seenggak laku itu ya? Tapi kan dia tampan, uda tampan kaya raya pula, gimana bisa dia gak laku?" tanya Alexa dalam hati.
"Atau mungkin benar kata tante Alice, kalau Brayn itu homo," lanjut Alexa kemudian.
"Heh!! Alexa ... kamu kok diam aja sih? Boleh gak nih tante tinggal sementara di rumah kamu?" tanya Alice pada Alexa.
Alexa tersadar dari lamunannya, "Ehh ... iya tante, boleh kok. Apa sih yang enggak buat calon mertua," Alexa tersenyum lebar.
"Nahh ... begini lah yang tante suka. Kamu memang uda klop banget buat jadi calon mantu tante," Alice juga tersenyum lebar pada Alexa.
"Rencana emak-emak emang paling top markotop dehh ...," Alexa mengacungkan jempolnya ke arah Alice.