Hari demi hari berlalu, bulan pun sudah berganti. Begitu juga dengan kepribadian Alexa. Alexa sudah menjadi wanita yang tegar. Saat ini dia tak peduli lagi dengan Daniel.
Maksud dari kata tak peduli adalah, Alexa tak ambil pusing dengan sikap Daniel terhadapnya. Alexa sudah kebal dan semakin biasa saja saat Daniel mengenalkan wanita-wanita baru pada Alexa. Bukannya marah, Alexa malah biasa saja. Tapi, tak bisa dipungkiri juga, pesona Daniel yang semakin lama semakin meningkat, membuat hati Alexa terkadang kesal saat Daniel mengenalkan gebetannya pada Alexa.
Tapi, mau bagaimana pun Alexa harus tetap terlihat tegar, dia tak boleh menye-menye lagi. Sesuai apa yang sering dikatakan Alexa, "Hidup ini keras broo ... jangan baperan kalau lo gak mau sakit hati." Ya, Alexa tak ingin kembali baper pada Daniel. Daniel sudah cukup membuat Alexa dimasalalu menjadi lebay, bucin dan juga cengeng. Alexa yang sekarang sudah berbeda, dia sudah lebih bermental baja.
"Hoammm …, sumpah deh, gue ngantuk banget," Alexa menguap lebar, sambil mendorong sepedanya.
“Seandainya aja gue jadi horang kaya. Gak bakalan gue jadi gini nih, jadi penjual bunga keliling,” ujar Alexa sambil meratapi takdirnya.
“Gue ini cewek cantik, selain cantik gue juga montok. Kurang apalagi coba gue? Kenapa sih gue gak bisa punya pacar yang tajir melintir? Sepunyanya pacar malah dapat yang kayak Daniel. Kaya, tampan, tapi pelit. Iiuuw … nasib deh ahh …,” Alexa terus saja mengeluh.
Tinnn … tinn … tinnn …
Alexa melipir ke pinggiran jalan saat dirinya diklakson oleh mobil dibelakangnya.
Alexa membalikkan badannya, siapa sih yang berani-beraninya mengklakson dirinya, padahal dia sudah berjalan dengan benar dan ditepian. “Heh!! Keluar lo! Songong banget jadi orang!! Mentang-mentang naik mobil mewah! Keluar lo Bambank!” Alexa terus saja menggedor-gedor pintu mobil itu.
Tak lama kemudian pintu mobil itu terbuka dan menampilkan seorang lelaki tampan dengan kacamata yang bertengger di hidungnya dan tersenyum pada Alexa, “Hay Alexa, hehe … sorry gue ngangetin lo,” ujar lelaki itu dengan cengiran tanpa rasa bersalahnya.
Alexa menatap kesal kearah lelaki itu, “Lo ngapain sih ngagetin gue gitu? Emang ya, lo itu gak pernah berubah deh Daniel! Jahil banget jadi manusia!” desis Alexa geram.
“Mau kemana lo ganteng-ganteng gini?” tanya Alexa pada Daniel.
Alexa menyipitkan matanya menatap Daniel, lalu kemudian Alexa tersenyum lebar, “Lo mau ngajak gue jalan ya? Ahh … emang dasar pacar idaman banget sih lo. Hayukk lah, gue juga uda pengen jalan sama lo. Hayukk, kita pergi sekarang,” Alexa langsung menarik tangan Daniel menuju mobil.
“Eh-eh, stop-stop!!,” Daniel melepaskan pegangan tangan Alexa pada tangannya.
Alexa mengerutkan dahinya bingung, “Kenapa? Kok berhenti? Emang ada yang ketinggalan? Atau apa? Kok gak jadi masuk mobil?” tanya Alexa bingung.
“Waitt! Lo tunggu disini, gue mau nunjukin sesuatu sama lo,” Daniel pergi menuju mobilnya, lalu membuka pintu mobil penumpang yang ada didepan.
“Silahkan keluar tuan puteri,” Daniel menyambut seorang wanita yang turun dari mobilnya. Lalu Daniel menggenggam tangan wanita itu dan membawanya pada Alexa.
“Alexa,” panggil Daniel pada Alexa.
Alexa menatap bingung kearah Daniel dan wanita yang sedang dibawanya saat ini, “Apa? Kenapa? Bagaimana? Siapa? Mengapa? Berapa?” Tanya Alexa bingung pada Daniel.
Pletak!!
Daniel menjitak kepala Alexa, “Emang dasar si oon. Emang ini lagi wawancara apa, pake nanyain 5W+1H lagi,” gumam Daniel kesal.
“Kenalin dulu, ini Delia, gebetan gue,” Daniel memperkenalkan wanita disampingnya pada Alexa.
“Delia, kenalin ini Alexa. Pacar gue,” sekarang gantian Daniel yang memperkenalkan Alexa pada Delia.
Delia menjulurkan tangannya pada Alexa, “Delia,” ujarnya.
Alexa tersenyum kecut, lalu menjabat uluran tangan Delia. “Alexa,” ujar Alexa singkat.
“Gue sama Delia mau jalan, kita mau ke mall. Kata Delia dia mau shopping, eh gak sengaja dijalan jumpa sama lo. Yauda deh, gue kenalin aja Delia ke lo. Kan lo pacar gue, jadi harus tau tentang gue semuanya, yakan Alexa?” Tanya Danie pada Alexa.
Alexa tersenyum terpaksa, lalu kemudian mengangguk, “Iya, yauda kalau mau jalan, gih sana. Nanti kelamaan lagi, gue juga mau lanjut jualan lagi.”
Daniel mengacak rambut Alexa dengan penuh sayang. “Gue pergi dulu ya, semangat kerjanya. Bye Alexa,” Daniel melambaikan tangannya pada Alexa. Lalu Daniel menggandeng Delia dan membawa Delia masuk kedalam mobil.
Tinn … tinnn …
Daniel mengklakson dua kali saat mobilnya berjalan melewati Alexa.
Alexa menatap kepergian Daniel dengan tatapan sendu, dan kesal, “Iih!!! Kenapa sih, si tulul itu selalu aja punya cewek lain selain gue? Dan kenapa cewek-cewek lain dia bahagiain, dia beliin ini itu? Lah gue? Gue minta beliin baju aja gak pernah dikasih! Palingan juga kalau makan bareng doang aja dia yang bayar!! Emang b*****t juga tuh cowok!! Ahh!! k*****t emang!!” Alexa terus saja menggerutu, dia benar-benar kesal pada Daniel, sang pacar.
Daniel dan Alexa sudah menjalin hubungan sejak sekolah SMA. Dulu Daniel adalah seorang pacar yang romantis, Daniel juga selalu royal pada Alexa. Karena pada dasarnya Daniel adalah anak orang kaya, jadi Daniel selalu memberiku apapun untuk Alexa. Tapi seiring berjalannya waktu, semua berubah dengan sangat drastis. Ya, tepatnya sejak Daniel masuk kuliah. Daniel menjelma sebagai lelaki pelit dan playboy seperti sekarang ini, dengan sebab orang tua Daniel yang tak menyetujui hubungan Daniel dengan Alexa. Tapi entah mengapa saat Alexa minta putus pada Daniel, Daniel selalu tidak mau. Dan Daniel juga berkata kalau Alexa juga sama sepertinya, bebas memilih lelaki mana saja untuk dijadikan pacar atau gebetannya. Seiring waktu berjalan, Alexa semakin terbiasa dengan sikap Daniel. Dan semuanya tampak biasa saja bagi Alexa, hanya saja terkadang Alexa kesal pada Daniel.
“Kenapa sih kalau gue yang minta dia gak pernah tuh nurutin gue? Dan yang paling gak ngotaknya itu dia selalu ngenalin selingkuhannya ke gue! Emang sinting tuh bocah!!!” Alexa masih saja mengomel tentang Daniel.
“Gue harus cari sugar daddy. Biar hidup gue berubah, yang jadi babu bisa jadi ratu! Ya!! Gue harus cari sugar daddy!!” Alexa bertekad pada dirinya sendiri.
“Nama gue aja Alexa Jemia Queen Anderson. Berarti gue itu Queen, gimana pun caranya gue harus jadi queen. Hidup gue itu ditakdirkan untuk jadi queen. So, gue harus kerja keras buat jadi queen, gimanapun caranya! Hayukk semangat yuk!! Alexa bisa!! Mangatse!” Alexa menyemangati dirinya sendiri.
Alexa kembali menuntun sepedanya, dia akan kembali menjual bunga-bunganya. Hari ini dia baru mendapatkan sedikit pembeli.
“Huwaaa … huwaa … daddy … Bella nyasar gak tau arah jalan pulang, huwaa …,” seorang gadis kecil duduk dipinggir jalan sambil menangis dan menjerit-jerit.
Alexa mengerutkan dahinya bingung, lalu Alexa segera mendatangi gadis kecil itu, “Kenapa kamu dek? Kok nangis kejer gitu? Gak dikasih uang jajan ya sama emak kamu?” tanya Alexa pada gadis kecil itu.
Gadis kecil itu menatap Alexa tak suka.
“Atau kamu gak dapat setoran ngemis ya hari ini? Makanya kamu takut pulang?” tanya Alexa menebak-nebak lagi.
Gadis kecil itu mendengus kesal, dia menatap Alexa tajam, “Heh aunty jelek!! Enak aja bilang Bella pengemis, liat nih penampilan Bella dari atas sampe bawah, semuanya pake barang-barang bermerk, mahal. Bella nih anaknya daddy yang kaya raya, aunty jangan ngadi-ngadi ya kalo ngomong, Bella laporin ke daddy baru tau,” gadis kecil yang mengaku bernama Bella itu langsung berdiri didepan Alexa, dan menunjukkan semua barang bermerk yang dipakainya, dari atas sampai bawah.
Alexa menatap cengo kearah Bella, “Iihh …, songong bener lo jadi bocil, gue rampok juga lo baru tau rasa,” Alexa melotot pada Bella.
Bella menatap Alexa sejenak, “Huwaa!! Huwaa!! Daddy … Bella mau dirampok daddy, dad, tolongin Bella dad,” Bella berteriak.
Alexa melotot terkejut saat Bella menangis sambil berteriak, lalu Alexa dengan cepat langsung membungkam mulut Bella, “Diam dong cil, lo buat gue dalam bahaya tau. Entar dikira orang-orang gue mau nyulik lo lagi,” ujar Alexa yang sudah ketar-ketir ketakutan.
“Eumm … eummm …,”Bella memberontak dan berusaha membuka bekapan tangan Alexa dimulutnya.
“Awshh!! Sakit bangke!” Alexa melihat tangannya yang terbentuk bekas gigitan dari Bella.
“I hate you!! You very very jahat!! Aunty emang benar jahat! Rasain deh Bella gigit! Wlee …,” Bella menjulurkan lidahnya untuk mengejek Alexa.
Alexa menatap berang kearah Bella, “Kalau gak bocil aja lo, uda gue ajak gulat lo sekarang juga!” Alexa pergi menuntun sepedanya meninggalkan Bella.
Bella menatap kepergian Alexa dengan tak rela, lalu beberapa detik kemudian Bella langsung mengejar Alexa, “Aunty!! Aunty tungguin Bella!! Aunty!!” Bella mengejar Alexa yang berjalan belum jauh dari tempatnya.
Alexa menoleh kesamping saat Bella sudah menyamai langkahnya dengan nafas yang ngos-ngosan.
“Aunty, aunty Bella panggilan kok gak dengar-dengar sih? Aunty tuli yah? Bella capek tau kejar-kejar aunty,” Bella masih mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal karena mengejar Alexa tadi.
“Mau ngapain lo? Mau ngapai ngejar-ngejar gue? Tadi lo songong banget sama gue, tapi sekarang lo kejar-kejar gue, mau apa lo?” tanya Alexa judes pada Bella.
“Eumm …,” Bella menautkan jari-jari mungilnya, dia sedikit malu untuk mengatakan ini pada Alexa.
“Bella boleh gak ikut aunty pulang, Bella takut dijalan sendirian. Kan Bella masih kecil, masih 4 tahun. Bella takut diculik aunty, Bella kan holang kaya, pasti banyak yang mau culik Bella.” Bella menjelaskan maksud dirinya memanggil Alexa tadi.
Alexa menatap remeh kearah Bella, “Malas banget sih gue bawa-bawa bocil songong gini kerumah gue,” jawab Alexa dengan nada tak suka.
Bibir Bella melengkung kebawah, matanya sudah berkaca-kaca, “Please aunty, Bella tuh takut, lagi gak ada daddy disisi Bella. Please ya aunty, ajakin Bella kerumah aunty, nanti kalau daddy uda temuin Bella, Bella angkat deh aunty jadi babysitter Bella, kan lumayan bisa tinggal di istana princess Bella,” Bella mencoba membujuk Alexa.
Alexa menatap tajam kearah Bella, “Dasar bocil songong! Bisa-bisanya dia bilang mau angkat gue jadi babysitternya. Gak ada cocoknya sih gue jadi babysitter. Kalau jadi ratu di istananya baru cocok gue mah,” gumam Alexa dalam hati.
Alexa tampak mengamati penampilan Bella dari atas sampai bawah, “Kalau dilihat-lihat, nih anak anaknya orang kaya beneran. Yauda deh, gue pungut aja dulu. Siapa tau nanti gue bisa dikasi duit imbalan karena nemuin nih bocil. Atau kalau bapaknya nih bocil sugar daddy, gue mau lah jadi mommy nih bocil wkwk …, Harus gercep nih gue, siapa tau aja bapaknya duren, alias duda keren,” Alexa tersenyum setelah bicara dalam hatinya.
“Oke, gue ajak lo kerumah gue. Ayo naik ke sepeda,” Alexa menggendong Bella lalu mendudukkan Bella di bangku belakang sepedanya. Lalu kemudian Alexa naik keatas sepedanya.
“Pegangan yang kuat, entar lo jatuh kalau gak pegangan,” ujar Alexa memperingati Bella.
Bella menuruti perintah Alexa, dia langsung menegang pinggang Alexa dengan kuat supaya tidak terjatuh saat sepedanya berjalan.
“Berat banget sih lo! Lo makan apaan sih bocil? Kebanyakan dosa nih kayaknya lo,” Alexa menggerutu pada Bella saat dirinya kesusahan menggowes sepedanya karena sedang membonceng Bella.
“Bella gak makan banyak kok, Bella ini badannya sehat, gak kerempeng kurang gizi. Bella ini holang kaya, hidupnya bahagia, makanya badan Bella subur gini,” jawab Bella bersemangat.
“Dasar bocil modern, masih 4 tahun aja uda bisa jawab-jawab omongan orang dewasa. Dikasi makan apa sih lo sama bapak lo? Bijak lo kelewatan banget,” gumam Alexa pelan dan tidak bisa didengar Bella.
Beberapa menit dilewati Alexa bersama Bella diperjalanan. Dan akhirnya sekarang Alexa sudah sampai dirumahnya. Alexa turun dari sepedanya dan langsung menurunkan Bella.
“Ini rumah gue, ayo masuk,” ajak Alexa pada Bella.
Bella tampak diam dan mengamati rumah Alexa dengan tatapan jijik,” Iiih ini rumah atau kandung sapi sih? Kok kecil banget? Jelek lagi, besaran juga kamar mandi Bella yang ada di dalam kamar Bella, gak mau deh Bella masuk ke rumah aunty. Pasti panas banget, iuww … no lah,” ujar Bella jijik.
Alexa menatap Bella sinis, dadanya naik turun, nafasnya tak beraturan karena menahan emosi.
Alexa mengelus dadanya, “Sabar Alexa, lo harus sabar. Siapa tau bapak nih bocil sugar daddy, jadi bisa lo manfaatin nih bocil kurang ajar,” ujar Alexa dalam hati.
Alexa tersenyum paksa pada Bella, “Bella, jadi kalau gak mau masuk ke dalam rumah aunty, Bella mau kemana? Ke kolong jembatan? Atau ke pinggiran jalan?” tanya Alexa gregetan.
Bella tampak berpikir sejenak. “Ya Bella mau pulang lah aunty, ayo anterin Bella pulang kerumah Bella,” Bella menarik-narik ujung baju Alexa.
“Kan Bella gak tau arah jalan pulang kerumah Bella,” Alexa berkata dengan senyum paksanya.
Bella kembali diam sesaat. “Tapi Bella ingat alamatnya kok aunty, alamat rumah Bella itu di komplek perumahan Pulo Intan,” Bella memberitahu pada Alexa.
Alexa menatap Bella berang, rasanya saat ini Alexa ingin mencabik-cabik wajah Bella saja. Anak ini berlagak sok pintar, tapi nyatanya bocil tetaplah bocil.
“Kalau lo tau kenapa gak bilang dari tadi hah?! Lo buat gue harus muter-muter! Gue capek gowes sepeda tau! Badan lo itu berat, kebanyakan dosa!! Dasar bocil kurang ajar!” Alexa marah-marah pada Bella.
Bibir Bella kembali melengkung kebawah, matanya mulai berkaca-kaca saat mendapat amarah dari Alexa. Alexa yang menyadari itupun langsung mengontrol emosinya, “Ehh kenapa? Bella kenapa? Jangan nangis dong, aunty tadi cuma bercanda doang kok, iya cuma bercanda doang, hehehe …,” Alexa tertawa pada Bella.
“Untung lo anak orkay, kalau lo anak gembel, uda gue tenggelamin lo di laut!” sambung Alexa dalam hati.
“Terus Bella tau gak rumah Bella nomor berapa? Cat warna apa? Bentuknya gimana?” tanya Alexa lebih detail.
Bella menggeleng, “Kalau mau cari rumah Bella, tanya aja ke orang-orang, di mana rumahnya sultan Pulo Intan, pasti semua orang tau dan bakalan nunjukin alamatnya kok,” jawab Bella dengan percaya diri.
“Duhh sombong banget sih lo cil-cil,” Alexa menggerutu pelan agar tak terdengar oleh Bella.
“Naik, kita meluncur sekarang. Ke rumah sultan Pulo Intan,” Alexa menaikkan Bella keatas sepedanya, lalu Alexa juga ikut naik dan langsung menggowes sepedanya menuju rumah Bella.