Bughh!!
Bughh!!
Bughh!!!
Brayn terus menghajar Daniel tanpa ampun. Dia benar-benar tak suka kalau ada orang yang berani mengusik miliknya. Saat ini Alexa sudah menjadi miliknya, walaupun belum seutuhnya. Tak akan ada satu orang pun yang bisa menyentuh Alexa selain Brayn sendiri.
Alexa keluar dari jendela. Dia ingin melerai Brayn dan Daniel. Jika Alexa tidak melerai Brayn dan Daniel, bisa Alexa pastikan Daniel akan meregang nyawa malam ini.
"Brayn, uda. Uda jangan pukulin dia terus. Dia bisa mati kalau kamu pukuli terus," Alexa berteriak agar Brayn mendengarnya.
Brayn tak menghiraukan Alexa, dia masih tetap berkelahi dengan Daniel, walaupun keadaan Daniel sudah sangat lemah.
"Ada apa ini?!" Alice berlari menghampiri Alexa. Alice juga datang dari luar, karena Alice mendengar keributan dari luar makanya Alice melihat dari luar.
"Mama ...," Alexa langsung berlari memeluk Alice.
*****
"Ada apa ini, Alexa?" Alice langsung bertanya pada Alexa dengan raut wajah khawatirnya.
"Dia, ma. Dia mau bawa aku kabur dari sini," Alexa mengadu pada Alice.
Alice mengepalkan tangannya kuat, matanya melihat tajam ke arah Daniel yang saat ini sedang dihajar mati-matian oleh Brayn.
"Brayn!! Hajar terus sampai mampuss!!" Alice malah menyemangati Brayn.
"Jangan kasih kendor, Brayn!! Ambil aja nyawanya saat ini juga!" Alice terus mendukung Brayn.
Glekk ...
Alexa menelan ludahnya ngerih, menurutnya Alice dan Brayn tak beda jauh. Jiwa psikopat mereka benar-benar menyeramkan.
"Brayn, udah!! Jangan pukul lagi, dia bisa mati nanti!" kini Alexa gantian berteriak.
"Diam, Alexa!! Lo diam aja disitu!! Gue mau ngasih pelajaran ke dia, berani sekali dia menyentuh milik gue! Gue gak suka!" Brayn kembali menghajar Daniel. Daniel juga melakukan perlawanan, tapi mau bagaimana pun Daniel tetap kalah kuat dengan Brayn.
Alice menggerlingkan matanya, "Astaga ... romantis bener anak gue," Alice memekik histeris dalam hati.
"Brayn, udah Brayn!! Please, stop!!" Alexa terus memohon Brayn untuk menyudahi semuanya.
Brayn tak menghiraukan perkataan Alexa, bahkan dia malah bertindak semakin brutal.
Melihat Daniel yang sudah sangat lemah, membuat Alexa tak bisa tinggal diam. Alexa langsung berlari ke arah Brayn. Alexa langsung memeluk Brayn dari belakang, "Brayn, please udah. Berhenti," Alexa memeluk Brayn erat.
Brayn langsung diam mematung, tangannya melayang di udara. Alexa yang tiba-tiba datang memeluknya membuat dirinya tak bisa berkutik lagi. Brayn masih bingung dengan keadaan saat ini.
Alexa melepaskan pelukannya, dia beralih ke hadapan Brayn. Alexa memegang tangan Brayn yang mengepal di udara, lalu dengan perlahan Alexa menurunkannya.
"Jangan dilanjutin, dia uda lemah dan kalah. Kamu bisa buat dia mati kalau begitu caranya," Alexa menasehati Brayn dengan lembut dan berhati-hati.
Brayn menatap Alexa serius tanpa berkedip. Brayn memajukan wajahnya, ke wajah Alexa.
Alice menutup kedua matanya dengan tangan yang jari-jarinya direnggangkan, "Astaga, mereka mau ngapain itu, mau ngapain woyy!!" Alice memekik histeris dengan suara tertahannya.
Brayn memegang dagu Alexa, dia sedikit mengangkat dagu Alexa dan terus mendekat kan wajahnya dengan wajah Alexa, mata Brayn juga memandang lekat Alexa.
Jantung Alexa berdebar kencang, baru kali ini Brayn sebegitu dekatnya dengan dirinya. Rasa gugup dan canggung kini bercampur aduk di hati Alexa.
Karena Brayn semakin mendekat dengan wajah Alexa, Alexa menjadi sangat gugup. Alexa lebih memilih memejamkan kedua matanya.
Sama dengan Alice, Alice juga memejamkan matanya, dia tak ingin mengintip kegiatan Brayn dengan Alexa.
"Bibir lo kenapa berdarah?"
Pertanyaan itu terlontar dari mulut Brayn. Membuat Alexa dan juga Alice langsung membuka mata mereka.
Alexa terkejut, saat dia membuka mata, posisi wajah Brayn sudah kembali seperti semula dan tidak dekat-dekat dengan wajah Alexa lagi.
"Gue tanya sekali lagi, bibir lo kenapa?" tanya Brayn dengan suara datar dan tatapan tajamnya.
Alexa langsung gelagapan, dia bingung ingin menjawab bagaimana.
"Bibir lo kenapa, Alexa? Kenapa berdarah seperti itu?" tanya Brayn dengan raut wajah dinginnya.
"A-aku d-di ta-tampar Da-n-"
"Ayo, lo sama mama dulu," Brayn menarik tangan Alexa pelan dan mengantarkan Alexa pada Alice.
Setelah mengantar Alexa pada Alice Brayn langsung kembali mendekati Daniel.
Dengan secepat kilat Brayn langsung menarik kerah baju Daniel.
Bughh!!
Bughh!!
Bughh!!
"Siapa yang berani nyentuh milik gue aja gue gak terima dan bakalan gue kasih pelajaran habis-habisan. Apa lagi nyakitin milik gue!!"
"Mati lo!!!" Brayn langsung memukul Daniel seperti orang kesetanan.
Alexa langsung berlari untuk mencegah Brayn, tapi Alice langsung menarik tangan Alexa, "Kamu mau kemana? Sini aja. Seperti liat film laga kan? Sini aja deh, nikmati dulu adegan demi adegannya," Alice bicara dengan sangat tenang. Seolah tak terjadi apa-apa saat ini. Padahal saat ini benar-benar saat yang menggentingkan.
"Kamu diapain sama dia tadi?" Alice bertanya pada Alexa.
"Ditampar, ma," jawab Alexa tak konsen.
Alice kembali mengepalkan kedua tangannya. Berani sekali lelaki itu menampar calon mantunya. Berpikiran untuk menyakiti saja Alice tak ada.
"Ayo Brayn, pukul terus!! Habisin dia sekarang juga!" Alice malah mendukung Brayn supaya Brayn lebih kuat dan bersemangat lagi menghajar Daniel.
Alexa sudah kalang kabut. Alexa tak ingin kalau penikahannya hancur hanya karena Brayn yang masuk penjara karena menghajar Daniel sampai kehilangan nyawa.
"Brayn!! Uda, Brayn!! Dia uda mau mati!! Please jangan dilanjutin lagi!" Alexa berteriak untuk menghentikan Brayn.
"Ini untuk lo yang uda berani nyakitin calon istri gue!!"
Bughh!!!
Bughh!!
Bughhh!!!
Alice tersenyum lebar, dia sangat bahagia karena Brayn bisa seromantis itu pada Alexa.
"Ayo Brayn, pukul lebih keras lagi!! Mama salut dengan keromantisan kamu untuk Alexa!" Alice berteriak kesenangan.
Sementara Alexa, dia benar-benar ketakutan dan langsung berlari ke depan.
"Romantis apaan? Romantis yang menyeramkan iya," ujar Alexa dalam hati sambil berlari.
"Pak Kum, tolong lerai Brayn, pak. Brayn mukulin anak orang sampai uda mau mati," Alexa berlari mendatangi Pak Kum di pos satpam. Alexa meminta tolong pada Pak Kum dengan tergesa-gesa.
"Hah? Kok bisa, mbak?" Pak Kum malah balik bertanya.
"Uda deh, pak, jangan banyak tanya. Masa iya bapak satpam gak tau kalau ada orang jahat masuk ke rumah. Bapak juga gak dengar keributan di sana, padahal suasananya uda benar-benar mencekam. Bapak mau dipecat sama Brayn atau mama?" Alexandre bertanya pada Pak Kum.
Pak Kum menggeleng cepat, "Ya enggak lah, mbak. Tolong jangan pecat saya, saya masih benar-benar membutuhkan pekerjaan ini.
"Kalau begitu jangan banyak omong, ayo cepat bapak pisahin Brayn sama Daniel. Bahkan Daniel uda mau mati karena dihajar Brayn," Alexa benar-benar tak sabar melihat Pak Kum yang menurut Alexa lemot.
"Siap, mbak!! Siap laksanakan!!" Pak Kum memberi hormat pada Alexa, lalu Pak Kum langsung berlari bersama Alexa.
Kedatangan Pak Kum di depan kamar Alexa benar-benar berarti, Pak Kum langsung melerai Brayn dan Daniel. Walaupun Pak Kum sulit untuk menghentikan Brayn yang sudah kalap, tapi dalam jangka waktu yang lumayan, akhirnya Pak Kum berhasil melerai Brayn dan Daniel.