Rencana Sudah Dimulai

1032 Kata
Brayn meregangkan otot-otot tubuhnya. Sejak tadi dia tertidur di atas sofa rupanya. Tidak terlalu lama, tapi cukup untuk menghilangkan pusing di kepalanya. "Bella dimana ya? Tadi Bella jadi pergi ke mall sama bibi atau enggak ya? Gue takut kalau dia rewel sama bibi," Brayn berdiri. Dia akan pergi memastikan apakah Bella jadi pergi ke mall atau tidak. Brayn menuruni anak tangga, dia ingin memastikan keadaan yang sebenarnya. "Bella ... Bella ...," Brayn memanggil Bella. Berapa detik Brayn menunggu sahutan dari Bella, namun hasilnya nihil, Bella tak menyahut sama sekali. "Apa Bella uda pergi ya? Tapi kok gak pamit dulu sama gue? Gak minta uang jajan juga sama gue. Tumben-tumbenan Bella pergi gitu aja," Brayn mengucek matanya, bangun tidur membuat matanya sedikit gatal. "Bella ... Bella ... Bella ...," Brayn kembali memanggil Bella. Tapi tak ada sahutan Bella sama sekali. Tak lama kemudian, bi Inah, pembantu di rumah Brayn datang menghampirinya. Bi Inah langsung biara dengan Brayn. "Iya, tuan. Tuan cari non Bella? biar saya bantu cari dimana non Bella." Brayn mengerutkan dahinya bingung, "Loh, kok bibi ada disini sih? Bella gak jadi ajak bibi ke mall apa?" tanya Brayn pada bi Inah. Bi Inah langsung memasang tampang bingungnya, "Maksudnya, tuan? bibi dari tadi ada di pasar, cari bahan makanan. Ini aja bibi baru pulang, kira-kira sepuluh menit yang lalu. Lagi pula, non Bella gak ada ajak bibi ke mall kok, tuan." "Terus kalau Bella gak ada ajak bibi ke mall, bibi tau gak Bella dimana? Bibi liat Bella gak?" tanya Brayn langsung to the point. Dengan cepat bi Inah langsung menggelengkan kepalanya, "Enggak ah, bibi gak ada liat non Bella sejak tadi. Setelah pulang dari pasar, bibi langsung pergi ke dapur." Brayn memasang tampang paniknya. Dia benar-benar panik saat mengetahui Bella tak jadi pergi ke mall dan bahkan saat ini batang hidungnya saja tidak terlihat. "Bi, ayo bantu saya cari Bella di seluruh sudut rumah ini," setelah mengatakan itu, Brayn langsung berlari menaiki anak tangga. Tujuannya saat ini adalah mencari Bella di kamarnya. Dengan cepat Brayn langsung masuk ke dalam kamar Bella. Mencari keberadaan Bella dimana-mana. "Kok Bella gak ada di kamarnya? Terus Bella dimana?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Gak mungkin kan Bella pergi kabur dari rumah untuk cari om-" Mata Brayn terbelalak lebar, seperti mendengar sambaran petir di siang bolong. "Oma? Mama? Maksudnya Bella ...? Bella kabur dari rumah cari mama gitu?" tanya Brayn pada dirinya sendiri. Plakk!!! ... Bryan memukul jidatnya sendiri, "Bisa jadi! Bella itu anak-anak, apalagi tadi gue kelepasan dan marahi dia. Bella pasti sangat merasa sedih, itu sebabnya dia pergi cari omanya," Brayn mulai menerka-nerka. "Gue harus gerak cepat!! Gue harus temukan Bella secepatnya. Jalanan itu benar-benar sangat bahaya. Gue gak mau kalau Bella kenapa-kenapa," dengan cepat Brayn langsung berlari keluar, tujuan Brayn saat ini adalah mencari keberadaan Bella. "Tuan," panggil bi Inah saat melihat Brayn berlari tergesa-gesa. Brayn berhenti sebentar, "Kenapa, bi? Bella uda ketemu?" tanya Brayn langsung. Bi Inah menggeleng cepat, "Enggak tuan, bibi gak ada menemukan non Bella di seluruh penjuru rumah in-". "Ehh-ehh ... tuan mau kemana?" tanya bi Inah dengan spontan saat melihat Brayn yang langsung melesat pergi dengan cepat. "Kemana sih tuan? Semalam nyonya, non Bella juga hilang, terus sekarang tuan juga gak tau mau buru-buru kemana," bi Inah pusing sendiri. Yang bi Inah tau, biasanya keluarga Brayn tak pernah bertengkar hebat seperti ini. Apalagi sampai-sampai melibatkan kepergian, ini benar-benar tak seperti biasa. ***** "Eumm eummm eummm ...," tiba-tiba mulut Bella langsung dibekap oleh seseorang dari belakang. "Towwonghh Bella!!!" Bella terus memberontak, tapi tenaga Bella bahkan tak ada apa-apanya daripada tenaga sesorang yang sedang membekapnya. Setelah dibekap, Bella langsung diseret dan dibawa ke tempat yang sepi dan tidak ada orang. "Diam!! Jangan berisik!! Gue lempari juga lo make kotoran sapi ini, mau lo?" ancam seseorang yang sedang membekap Bella. "Eummm eummm eummm ...," "Awww!!! Sakit!!! lo gigit gue?!! Duuh ... sakit banget, rabies deh gue ini." Ini kesempatan bagi Bella, saat dekapannya di lepas, Bella langsung menoleh ke belakang, melihat wajah penculik yang sudah membawanya ke tempat sepi ini. Bella mengerutkan dahinya bingung, "Loh? Aunty? aunty miskin itu kan? yang punya sepeda butut," tanya Bella pada Alexa. Alexa yang masih meniup-niup tangannya yang sakit, langsung berhenti dan menatap Bella dengan berang. "Heh tuyul elit!! Lo mah suka sekate-kate sama gue yeee ... enak aja lo katai gue miskin!!!" Alexa membentak Bella. Bella menunduk takut, matanya berkaca-kaca ingin menangis. "Padahal memang iya!! Memang miskin!!" lanjut Alexa kemudian. Dengan cepat Bella langsung menatap Alexa. Lalu dia tersenyum, "Kan memang iya kan, aunty? Aunty sendiri yang mengaku kalau aunty miskin. Bukan Bella yang bilang," Bella membela dirinya. Mau bagaimana pun, dia tak ingin terlihat salah. "Ahhh udah lahh ...," Alexa mengibas-ngibaskan telapak tangannya di hadapan Bella. "Uda yuk, langsung aja kita pulang ke rumah aunty," Alexa menarik tangan Bella. Bella diam, dia menolak untuk diajak Alexa. "Pulang ke rumah aunty?" ulang Bella sekali lagi. Alexa mengangguk dengan senyum manisnya. Bella menggeleng cepat, "Enggak!! Bella gak mau!! Rumah aunty kecil, pasti gak ada AC dan juga fasilitas lainnya, Bella gak mau! Bella mau diantar pulang aja." Bella menolak keras ajakan Alexa. Alexa menghela nafasnya kasar, "Gak usah banyak memberontak deh, Bella. Ini tuh penting tau, banyak rencana kita yang harus kita lakukan," Alexa menarik paksa Bella. Awalnya Bella menolak dan meronta-ronta, tapi Alexa langsung mengiming-imingi ketemu dengan omanya, oleh sebab itu Bella menjadi jinak pada Alexa. "Aunty, Bella sama oma mau ngapain sih?" tanya Bella dengan keponya. "Kita menjalankan rencana besar. Jadi Bella, lo harus nurut apa kata aunty dan oma. Lo mau kan kalau kita menang?" tanya Alexa pada Bella. Dengan cepat Bella langsung mengangguk, "Iya, aunty. Ya Bella mau banget la memang. Bella mana pernah kalah, jadi Bella harus menang, jangan malu-maluin Bella lah aunty." Bella menatap Alexa dengan serius. "Iya, kita bakal menang, tapi kalau semuanya berjalan dengan lancar. Oleh sebab itu, lo harus jadi anak yang patuh dan nurut. Jangan ngeyel kalau dibilangin sama gue dan oma lo," Alexa menasehati Bella. Bella mengangguk, pipi gembulnya ikut bergoyang saat dia mengangguk, "Iya, aunty. Siapp ...," balas Bella dengan semangat. Alexa tersenyum penuh arti, "Sebentar lagi lo bakalan jadi milik gue seluruhnya, Brayn," ujar Alexa dalam hati, dengan sunggingan penuh kemenangan di bibirnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN