Cuci Otak

1162 Kata
"Dimana sih Bella? Gue uda benar-benar capek nyariin dia, tapi dari tadi kok dia gak ketemu-ketemu sih," Brayn menatap ke segala arah, dia benar-benar pusing dengan masalah yang menimpanya saat ini. Mamanya saja belum ketemu, eh malah anaknya sekarang yang hilang. Bukan kah seperti sudah jatuh tertimpa tangga lagi? "Mama aja belum ketemu, sekarang Bella pake kabur-kaburan lagi. Sumpah deh, gue benar-benar gak abis pikir sama mereka. Kenapa sih senang banget buat gue menderita gini?" Brayn menghela nafasnya kasar. "Terus gue harus cari kemana lagi Bella sama mama? Apa harus gue laporin ke polisi aja, biar polisi yang mencari keberadaan mereka dimana," Brayn tampak bingung. "Arghh!!!" Brayn memukul stir mobilnya. "Benar-benar rumit dan menyusahkan!!!" lanjutnya dengan emosi yang mulai muncul. "Gue uda cari dari tadi, dan dari tadi juga gak jumpa-jumpa sama mama ataupun Bella. Lebih baik gue cari besok lagi aja, lagi pula hari benar-benar sudah malam, gue butuh istirahat," Brayn membawa mobilnya jalan menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, Brayn langsung membersihkan dirinya, lalu setelah membersihkan diri, Brayn langsung mengistirahatkan tubuhnya. Brayn langsung tidur dengan pulas. ***** "Omaa ...," rengek Bella pada omanya. "Iya, kenapa sih, Bella? Kenapa kamu ngerengek aja, oma capek dengerinnya gau," Alice mengelus puncak kepala Bella dengan lembut. "Omaa ... ayo kita pulang. Bella gak betah di sini. Di sini tuh gak enak, oma. Di sini tuh panas, uda panas gak ada AC, kecil pula rumahnya, oma. Besaran lagi kandang kelinci Bella." Bella menggerutu kesal. Sejak tadi Bella memang rewel. Dia selalu saja mengajak Alie pulang. Tanpa disadarinya, kalau sejak tadi dirinya semakin membuat Alice pusing. "Bella, gak boleh gitu, nak. Kita itu hidup di dunia ini sama. Semua harta, barang dan kekayaan yang kita punya itu milik Allah, gak ada milik orang lain. Jadi harus banyak-banyak berdoa sama Allah, harus banyak-banyak berkomunikasi dengan Allah dengan cara sholat tepat waktu," Alice mencoba menasehati Bella. Dia tau kalau Bella tak tau bagaimana rasanya hidup susah. Sejak bayi, Bella juga sudah hidup mewah. Jadi, Alice harus pandai-pandai memberikan pengertian pada Bella. "Omaa ... di sini gak enak oma. Disini uda sempit, makanan juga gak enak. Bahkan Bella cariin ayam goreng aja gak ada. Padahal Bella lagi pengen makan ayam goreng. Makanan di sini cuma mie terus. Gak berubah-ubah," Bella nyerocos kesal. Dia benar-benar ingin meminta pulang pada omanya. "Ya ampun Bella ... kamu ini gimana sih? Kamu gak boleh loh ngomong gitu. Jangan suka beda-bedain rumah kita sama rumah orang lain, gak boleh itu. Jangan gitu lagi ya," Alice memperingati Bella. Menurut Alice, kali ini omongan Bella sudah kelewatan. Jika saja Alexa seseorang yang gampang sakit hati, maka Alexa pasti sudah sakit hati sejak tadi. "Benar-benar nih bocah, songong banget jadi bocah, dia selalu komentar tentang rumah gue dan juga apa aja yang dia lihat di rumah gue. Masih sukur tuh bocah gue kasih tumpangan di rumah gue, kalau gue jahat, uda gue usir juga nih bocah tengil nan sombong," Alexa menggerutu dalam hati. Dia benar-benar kesal pada Bella. "Oma kok jadi belain aunty ini sih? Kan kata Bella benar. Enakan juga di rumah daddy," Bella menatap omanya penuh harap. "Ayo lah oma, ayo pulang ke rumah daddy. Bella rindu sama daddy," Bella terus merengek minta pulang. Alice yang sudah lelah mendengarkan rengekan Bella, langsung menghela nafasnya kasar, "Bella ini benar-benar persis seperti Brayn. Benar-benar cerewet dan bawel, aku jadi pusing menghadapinya," ujar Alice dalam hati. "Bella .. kita nginap di sini dulu ya. Kita tinggal di tempat aunty cantik ini sebentar aja. Kita kan lagi jalankan rencana besar buat daddy kamu," Alice mencoba memberikan pengertian pada Bella. "Kamu mau kan liat daddy kamu bahagia selalu, gak marah-marah lagi, dan dapat istri baru?" Alice bertanya pada Bella. Bella menatap Alice dengan serius, lalu dia langsung mengangguk cepat. "Iya, oma. Bella mau daddy gak marah-marah lagi, Bella suka takut dan kesal kalau liat daddy marah-marah," jawab Bella dengan polosnya. "Nahh ... itu dia, Bella. Daddy kamu itu butuh seorang istri. Oma yakin kalau daddy kamu punya istri, pasti daddy kamu bakalan lebih bahagia, gak bakalan setres dan suka marah-marah lagi," Alice mulai memasukkan racun ke dalam otak Bella. Alexa tersenyum, dia benar-benar kagum dengan Alice. Menurut Alexa, Alice benar-benar wanita cerdik. Dan Alexa begitu beruntung, Alexa jadi korban yang beruntung dalam kecerdikan Alice ini. Bella mengerutkan dahinya bingung, "Istri? Istri itu apa oma? Bella gak tau, Bella pusing-pusing pikir istri, Bella gak ngerti," Bella bertanya pada omanya dengan gaya memegang kepalanya yang sedang sakit. Alice dan Alexa sedikit terkekeh melihat tingkah laku Bella. Alice menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan. "Bella, istri itu artinya mama kamu. Istri itu mama kamu yang dikirim Tuhan untuk buat kamu dan daddy kamu bahagia. Istri itu bidadari yang turun dari surga. Jadi, kamu harus sayangi istri daddy kamu, kamu harus dukung siapa pun bidadari yang akan menjadi istri daddy kamu dan mama kamu nantinya. Ini itu penting, demi kebahagiaan kamu dan daddy kamu, Bella." Alice terus mencuci otak Bella yang masih polos. Dia menanamkan hal-hal yang akan menguntungkan dan memudahkan rencananya kali ini. Bella adalah jalan yang sangat ampuh untuk melancarkan rencananya ini. Alexa menelan ludah, menurutnya dongeng Alice yang dibuat untuk mencuci otak Bella benar-benar sangat hebat, dia akan menjadi pemeran utama di dalamnya. "Gilaa ... gue bakalan jadi bidadarinya. Dan gue akan jadi pemeran utamanya. Siap-siap aja deh, tunggu sang bidadari beraksi," ucap Alexa dalam hati dengan senyum penuh kemenangannya. Bella manggut-manggut, dia seperti mendapat pencerahan hidup dari seorang motivator. "Oooh ... gitu ya, oma? Jadi Bella harus ikut oma untuk kerjai misi? Misi untuk cari istri bidadari untuk daddy, biar Bella dan daddy selalu bahagia?" Bella kembali bertanya pada Alice dengan raut wajah seriusnya. Alice mengangguk cepat, "Iya gitu, sayang. Makanya kamu jangan rewel, kita sekarang sedang berada di rumah bidadari calon istri daddy kamu. Kalau Bella rewel, terus bidadarinya kabur dan gak mau jadi istri daddy kamu gimana coba?" Alice menakut-nakuti Bella. Bella menggeleng cepat, "Enggak oma, Bella janji gak rewel lagi. Bella mau jadi anak baik biar bidadarinya mau jadi istri daddy dan mau jadi mamanya Bella, Bella janji." Bella bicara dengan nada serius, dia juga menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Alice. "Nahh ... kalau gitu, kamu harus nurut dan bersikap baik pada bidadarinya," balas Alice dengan sedikit geli. "Bidadarinya mana oma? Bella mau salim, mau jadi anak sholeha," Bella bertanya pada Alice. "Tuhh ...," Alice langsung menunjuk ke arah Alexa. "Loh, jadi aunty itu bidadari yang mau jadi istri daddy, oma?" tanya Bella pada Alice. "Iya, sayang," jawab Alice dengan elusan lembut di puncak kepala Bella. "Wahh ... Bella keliru rupanya. Pantas aja aunty nolongin Bella pas Bella nyasar, eh ternyata aunty bidadari." Bella berjalan mendatangi Alexa. "Salim dulu, aunty bidadari," Bella mencium tangan Alexa. "Iya, sayang. Jangan nakal-nakal lagi ya," pesan Alexa pada Bella. Alexa bicara dengan susah payah, dia sudah menahan tawanya sejak tadi. "Iya aunty, Bella gak nakal lagi kok," Bella memeluk Alexa penuh sayang. Alice yang melihat kejadian itu langsung tertawa, tertawa tanpa suara pastinya. Ternyata dirinya sudah berhasil mencuci otak Bella.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN