Brayn sedang duduk di atas kursi kebesarannya. Pekerjaannya sudah selesai semua, tapi pikirannya masih saja terombang-ambing. Masalahnya tak kunjung selesai, dan tak kunjung menemui titik terangnya.
Brayn menghela nafasnya kasar, "Gue mau mama dan Bella balik lagi ke rumah. Tapi gue gak mau dipaksa menikah sama mama. Gue gak mau menikah, gue mau fokus sama karir gue dulu." Brayn ini memang sangat keras kepala. Jika dia mau begitu, maka tak ada yang bisa merubah keinginannya, kecuali dirinya sendiri.
Tokk ... tokkk ... tokkk ...
Entah siapa yang mengetuk pintu ruang kerja Brayn saat ini. Tapi yang pasti, dia benar-benar sedang tidak mood menerima tamu.
"Masuk," ujarnya dengan malas.
Ceklekk ...
Pintu ruangan Brayn terbuka, kemudian masuk seorang lelaki memakai jas rapi yang mungkin umurnya tak beda jauh dari Brayn.
"Permisi, pak. Saya mau memberitahu bapak tentang perkembangan proyek kita yang di Medan," lelaki itu langsung to the point.
"Silahkan duduk, Arya." Brayn mempersilahkan Arya duduk.
Arya tersenyum sopan, lalu Arya langsung mendudukkan bokongnya di atas kursi yang berhadapan langsung dengan Brayn.
"Jadi begini, pak, tentang proy-
"Stop. Jangan ngomongin kerjaan dulu, saya benar-benar sangat pusing dan setres saat ini." Brayn langsung memotong ucapan Arya.
Arya langsung memasang tampang tak enak hatinya, "Ooh ... iya, pak. Maaf kan saya kalau begitu, pak. Saya sudah menggangu waktu bapak. Kalau begitu saya permisi pamit saja, pak," Arya langsung berdiri dari duduknya.
"Tunggu, Arya." Brayn mencegah kepergian Arya.
Arya sedikit bingung, kenapa Brayn mencegahnya untuk pergi.
"Iya, pak. Ada apa ya, pak? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Arya pada Brayn dengan sopan.
"Duduk lagi kamu, saya mau curhat sama kamu. Saya gak punya teman curhat soalnya," perintah Brayn pada Arya.
Arya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tumben sekali bosnya ini ingin curhat padanya. Biasanya bosnya ini hanya membicarakan soal kerjaan saja padanya, tak pernah lebih. Bahkan Arya sempat berpikir kalau Brayn tak pernah punya masalah, sebab hidup Brayn terlalu datar dan hanya penuh tentang pekerjaan selama ini.
Arya kembali duduk.
"Ekhemm ...," Brayn berdeham. Membuat Arya merasa tak enak hati.
"Saya benar-benar bingung kali ini. Baru kali ini saya merasakan kebingungan dan kebimbangan yang sangat menggangu pikiran saya. Biasanya hidup saya itu baik-baik aja, tanpa ada gangguan dari permasalahan-permasalahan percintaan." Brayn mulai membuka cerita.
Arya diam, tugasnya saat ini hanya menjadi pendengar budiman saja.
"Eh ... tumben banget nih, pak Brayn bicara soal cinta. Btw, yang dibicarain Pak Brayn ini cinta yang gimana sih maksudnya? Bukannya banyak gosip yang bilang kalau Pak Brayn itu belok ya?" Arya bertanya-tanya sendiri dalam hatinya.
"Gile bener nih, gue jadi deg-degan sendiri. Malah di dalam ruangan ini gue cuma berduaan sama Pak Brayn lagi. Ngerih-ngerih sedap nihh ...," ujar Arya dalam hati.
"Jadi, saya sedang punya masalah. Masalah tentang percintaan yang menyangkut keluarga," Brayn melanjutkan ceritanya.
Arya menelan ludahnya dengan susah payah, "Tuhh kan, pasti keluarganya Pak Brayn uda pada gak setuju dan uda pada menentang hubungan percintaan beloknya Pak Brayn." Arya kembali menduga-duga. Dia langsung menyimpulkan sendiri cerita yang ingin disampaikan oleh Brayn, padahal Brayn saja belum menceritakannya sampai akhir.
"Te-te-terus gimana jadinya, pak?" tanya Arya sedikit terbata-bata.
Brayn menghela nafasnya kosong. Pandangannya melihat ke arah luar jendela, pandangannya hanya fokus pada satu titik saja.
"Saya juga bingung. Gara-gara masalah ini keluarga saya jadi tercerai berai. Mama dan anak saya jadi kabur dari rumah. Mereka meninggalkan saya karena saya tetap teguh dengan pendirian saya." Brayn menjelaskan lebih detail lagi akar permasalahannya pada Arya.
"Noh kan, ya uda pasti lah Buk Alice sama Bella kabur dari rumah. Mereka pasti malu dan geli tinggal satu atap sama orang yang belok seperti Pak Brayn ini," ujar Arya dalam hati. Semua orang di kantor ini sudah tahu kalau Alice adalah ibu dari Brayn. Dan semua pekerja di kantor ini juga sudah tahu kalau Bella adalah anak angkat Brayn, mereka tahu kalau Brayn sesungguhnya masih lajang. Perkiraan mereka, Brayn sengaja mengangkat Bella sebagai anak agar dirinya tak terlihat seperti seseorang yang 'belok'.
"Ma-maksud bapak gimana ya, pak? Buk Alice kabur gitu, pak?" tanya Arya pura-pura respect.
"Iya, benar sekali. Mama saya dan Bella kabur gara-gara saya gak mau nurut dengan perkataan mama saya. Saya gak mau di jodohin," Brayn kembali menceritakan masalahnya, kali ini bagian pentingnya.
Arya melotot lebar, "Nah kan!! Buk Alice aja uda ngejodohin Pak Brayn. Itu tandanya Buk Alice sudah mengetahui aib busuknya Pak Brayn, dan Buk Alice menjodohkan Pak Brayn agar Pak Brayn cepat menikah, jadi Buk Alice tidak malu dengan kelakuan menjijikan anaknya itu." Arya terus saja berkomentar sesukanya. Dia menyimpulkan sesuai omongan yang di lontarkan Brayn padanya.
"Loh, jadi bapak di jodohin, pak?" tanya Arya pura-pura terkejut.
"Iya, saya dijodohin. Tapi saya menolak, saya tidak suka dijodohkan. Saya tidak tertarik dengan pernikahan. Saya lebih suka dunia kerja, menurut saya hidup saya sudah lengkap dengan mama, anak, dan juga harta yang berlimpah ruah. Tak perlu menikah, saya gak suka terikat dengan satu hubungan serius." Brayn menceritakan semuanya. Dia mengeluarkan semua unek-unek di dalam hatinya.
"Kalau menurut kamu, saya harus apa, Arya? Apa saya harus menuruti apa yang diinginkan mama saya supaya mama dan Bella kembali ke rumah, atau saya harus tetap teguh dan kukuh dalam pendapat saya sendiri?" Brayn langsung bertanya pada Arya. Dia tak suka basa-basi.
Arya menggaruk kepalanya yang gatal.
"Kalau menurut saya sih, pak. Bapak harus nurutin kata-kata Buk Alice. Buk Alice itu ibu bapak, yang sudah melahirkan bapak dengan susah payah. Terus, balas budi apa yang kamu mau lakukan untuk Buk Alice." Arya mulai menjelaskan pada Brayn.
"Lagi pula, orang tua kita itu uda tua dan berumur. Dulu mereka capek menjaga kita, dan saat ini gantian waktunya kita membahagiakan mereka. Masa kita gak peduli kalau mama kita di luar sana dengan siapa, tidur dimana, uda makan belum, kan jahat banget namanya. Jadi, yang terbaik adalah mengikuti omongan orang tua. Orang tua pasti mau yang terbaik untuk anaknya kok," Arya menjelaskan panjang lebar pada Brayn.
Brayn diam sebentar. Dia mengingat masa-masa indahnya dengan sang mama dan Bella. "Benar juga sih, kapan gue bisa bahagiakan orang tua kalau bukan saat ini lagi? Umur gak ada yang tau," Brayn tampak bingung. Dia pusing ingin mengambil tindakan yang mana.
"Kalau menurut saya sih, pak, bapak harus terima permintaan Buk Alice. Hal apalagi yang terpenting di dalam dunia ini, kecuali kebahagian orang tua kita?" Arya mencoba menghasut Brayn.
Brayn melihat ke arah Arya, "Jadi, saya harus menikah gitu?" tanya Arya serius.
Arya mengangguk mantap, "Iya kali bapak jomblo terus, bahaya tau. Takutnya beloknya ke saya lagi," gumam Arya dalam hati.
"Iya, pak. Gak ada yang salah dengan menikah. Menikah itu indah, kita bisa berbagi semuanya dengan istri kita. Jangan takut, pak. Ingat demi kebahagiaan orang tua bapak," Arya kembali mengompor-ngomporin Brayn.
Brayn tampak diam sejenak. Dia memikirkan pendapat Arya barusan.
"Kalau begitu, saya permisi keluar dulu ya, pak. Soalnya kerjaan saya masih banyak. Saya hanya kasih saran saja, tapi kalau saran saya itu digunakan, saya sangat senang. Karena menurut saya itu adalah tindakan yang sangat baik saat ini," Arya berdiri, dia berpamitan pada Brayn.
Brayn mengangguk, "Iya, terimakasih ya. Terimakasih untuk sarannya. Kamu boleh pergi dari ruangan saya," ujarnya dengan senyum singkatnya.
Sepeninggal Arya, Brayn masih diam merenung. Dia benar-benar bingung akan melakukan apa.
"Yang dibilang Arya tadi juga ada benarnya. Kebahagiaan mama dan Bella itu paling penting kan," Brayn memejamkan matanya sejenak.
"Sepertinya gue harus setuju dengan permintaan mama. Gue harus buat mama bahagia. Dan gue harap, pernikahan gak akan seburuk itu," ujar Brayn memutuskan.
Brayn mengambil nafas dalam-dalam, lalu membungkannya dengan perlahan. Brayn duduk tegak, raut wajahnya berubah tegas. "Gue harus terima permintaan mama! Gue harus bahagian mama!! Semangat!" ujarnya penuh dengan tekad yang kuat. Walaupun dalam hatinya masih niat tak niat.