Mogok ?

1216 Kata
Sudah hampir lima belas menit Reza mencoba mengengkol motor milik Raya namun motor merah pekat itu tetap tidak menunjukkan tanda-tanda akan hidup malah suara mesinnya semakin aneh. Raya yang berdiri di dekat trotoar mulai frustrasi sendiri. Jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam, sementara ponselnya mati total sejak tadi. Bisa dipastikan mama dan papanya sedang panik di rumah sekarang. “Gimana, Za?” tanya Raya pelan sambil mendekati Reza. Reza menghentikan gerakannya lalu menoleh. “Kayaknya motor kamu memang rusak, Ray.” Ia mengusap sedikit keringat di pelipisnya. “Kita cari bengkel dulu aja gimana?” Raya langsung menghela napas panjang. “Haduh… udah malam banget lagi.” “Iya.” Reza mengangguk kecil. “Nggak mungkin dipaksa jalan.” Raya menggigit bibir bawahnya gugup. “Lo nggak papa nemenin gue dulu?” Reza menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya bertanya balik, “Kamu mau sendirian?” “Nggak lah.” “Yaudah,” jawab Reza santai. “Sama aku aja.” Deg. Kalimat sesederhana itu sukses membuat jantung Raya jungkir balik lagi. Ya Tuhan… Kenapa sih pria ini ngomong biasa saja tapi efeknya selalu luar biasa? “Makasih ya, Za,” ucap Raya pelan. Reza hanya mengangguk. “Hm… Za,” panggil Raya lagi sambil memainkan ujung tuniknya gugup. “Gue boleh pinjam HP lo bentar nggak? Mau hubungi mama sama papa dulu. Takut mereka khawatir.” “Oh iya, bentar.” Reza langsung mengambil ponselnya dari saku celana lalu menyerahkannya pada Raya. “Pakai aja.” “Thanks.” Raya segera mengetik nomor mamanya lalu menempelkan ponsel itu ke telinga nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya panggilan diangkat. “Halo?” Suara mamanya langsung terdengar panik. “Halo ma, assalamu’a—” “RAYA!” Raya spontan menjauhkan ponsel dari telinganya. “Kamu di mana?! Mama sama papa khawatir nungguin kamu dari tadi! Dan kenapa HP kamu mati?!” Mencegah lebih baik daripada mengobati kalau terus ditempel di telinga, Raya yakin gendang telinganya bisa pecah malam ini. “Assalamu’alaikum, Mama cantik…” ucapnya manis mencoba menenangkan situasi. “Wa’alaikumsalam,” jawab mamanya cepat. “Sekarang jawab pertanyaan mama!” “Maaf, Ma…” Raya mulai menjelaskan. “Motor Raya mogok di jalan, terus HP Raya juga mati. Jadi nggak bisa ngabarin.” “Kamu sekarang di mana? Sama siapa?!” “Aku masih di jalan… ada Reza yang bantuin.” Sunyi beberapa detik. Lalu “Kasih HP-nya ke Reza.” Raya langsung melotot. “Ma…” “Kasih, Ray.” “Iya iya…” Dengan perasaan campur aduk, Raya menjauhkan ponsel dari telinganya lalu menatap Reza canggung. Sumpah. Ia tidak pernah membayangkan situasi seperti ini sebelumnya. “Za…” panggilnya pelan. “Maaf ya. Mama gue mau ngomong sama lo.” “Iya, nggak apa-apa.” Reza menerima ponsel itu dengan santai lalu mulai berbicara dengan mama Raya. Sementara Raya Gugup setengah mati. Ia berdiri di dekat Reza sambil terus memperhatikan ekspresi pria itu yang tetap datar seperti biasanya. Tidak ada petunjuk. Tidak ada perubahan wajah. Tidak ada reaksi yang bisa ditebak. Dan itu justru membuat Raya semakin penasaran. Mereka ngomong apa sih? Beberapa menit kemudian panggilan berakhir. Reza memasukkan kembali ponselnya ke saku lalu menatap Raya yang sejak tadi sudah siap dengan rasa penasarannya. “Kita cari bengkel terdekat dulu aja, Ray,” ucapnya santai seolah tidak terjadi apa-apa. Raya langsung mendekat. “Mama gue ngomong aneh-aneh nggak?” Reza menggeleng. “Nggak.” “Serius?” “Iya.” Reza menatapnya singkat. “Mama kamu cuma bilang suruh aku jagain dan anterin kamu pulang.” “HAH?” Raya langsung memegang kepalanya dramatis. “Ya ampun… maaf banget ya, Za. Jadi ngerepotin lo.” “Santai aja, Ray.” Jawaban Reza selalu singkat. Tapi anehnya, selalu berhasil bikin hati Raya tenang. Pria itu kemudian duduk di atas motor Raya sambil memainkan kunci motornya. Raya yang bingung langsung bertanya, “Lah kok duduk? Kapan kita pulang?” “Kita tunggu Rio dulu.” “Buat apa?” “Buat bantu nendang motor kamu.” “HA?! Maksud lo nendang motor gue?!” “Bukan nendang yang kamu pikirin, Ray,” potong Reza cepat. Raya langsung tertawa canggung sendiri. Bodoh banget. Kalau dekat Reza, IQ-nya memang suka turun drastis. Bahkan mungkin tinggal sisa setengah. Tak lama kemudian Reza turun dari motor lalu duduk di atas trotoar dan tanpa sadar Raya ikut duduk di sampingnya. Dekat. Terlalu dekat malah. “Ya Allah…” batin Raya menjerit. “Jantung tolong normal dikit. Masa gue mati muda di samping dia.” Malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu jalan menerangi wajah Reza dari samping, membuat pria itu terlihat jauh lebih tenang dan… tampan. Bahaya. Kalau begini terus, Raya bisa benar-benar kehilangan akal sehatnya. “Ray…” Raya langsung menoleh. Dan detik berikutnya Napasnya tercekat. Wajah Reza ternyata sudah sangat dekat di depannya. Saking dekatnya, Raya bahkan bisa merasakan hembusan napas pria itu. Mata mereka saling bertemu. Dua pasang mata yang tadinya sama-sama tak punya arah kini justru saling terpaku satu sama lain. Raya buru-buru menggeser wajahnya menjauh. Ia belum siap mati karena serangan jantung mendadak. “A-ada apa, Za?” tanyanya gugup setelah berhasil mengontrol diri. Reza diam sebentar. “Nggak jadi.” “Hah?” Namun pria itu malah mengalihkan pandangannya ke langit malam. Raya ikut menatap ke atas. Langit malam itu memang indah. Dipenuhi bintang dan angin yang terasa dingin. “Bagus ya…” gumam Raya pelan. Reza mengangguk kecil. Namun beberapa detik kemudian, mata Raya diam-diam kembali menatap Reza. Buat apa lihat langit kalau pemandangan di sampingnya jauh lebih indah? “Ambil cuti berapa lama, Za?” tanyanya. “Lima belas hari.” “Lama juga…” Raya tersenyum kecil. “Emang mau ngapain aja di sini?” “Healing mungkin.” Raya langsung tertawa kecil. “Bisa aja lo. Padahal di kota tempat lo tinggal sekarang banyak tempat bagus.” Reza hanya mengangkat bahu tipis. Dan setelah itu mereka kembali diam. Sampai suara motor dengan knalpot berisik terdengar mendekat. Brenggg! Raya spontan menoleh kesal. “Ganggu banget sih—” Namun wajahnya langsung berubah cerah. “RIO!” Rio datang bersama sepupunya lalu berhenti tepat di depan mereka. “Sesenang itu lo gue datang?” celetuk Rio sambil melepas helm. “Iyalah. Kita kan bestie.” “Bestie apaan.” Rio mendengus. “Kalau ada maunya aja lo bilang bestie.” “Ya masa tiap hari gue panggil bestie? Kasihan orang tua lo capek-capek nyari nama bagus buat lo.” “Za…” Rio menoleh pada Reza. “Lo kok bisa tahan berduaan sama dia?” “Eh! Reza beda sama lo. Dia baik hati.” Rio langsung mencibir. “Ada maunya aja tuh.” “Yaudah ayo pulang,” lanjut Rio malas. “Capek gue.” “Gue juga capek ketemu muka lo terus!” Rio langsung menaiki motor Raya setelah Reza memintanya membantu membawa motor itu. “Kamu bawa motor Raya ya, Rio.” “Oke.” Lalu setelah semuanya siap Reza menoleh pada Raya. “Ray,” panggilnya. “Hm?” “Kamu sama aku aja.” Dan lagi-lagi kalimat sederhana itu berhasil membuat dunia Raya mendadak terasa tidak nyata. “Aku…?” tunjuknya pada diri sendiri. Dalam hati Raya sudah jungkir balik sambil teriak histeris. Ya Tuhan. Kalau memang ini mimpi… Tolong jangan bangunin aku dulu malam ini. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN