Motor Raya

1148 Kata
Tak terasa malam semakin larut. Jam di dinding rumah Vani bahkan sudah hampir menunjukkan pukul sepuluh malam, membuat satu per satu dari mereka mulai bersiap untuk pulang. Namun seperti biasa, tidak lengkap rasanya kalau belum ada sesi foto bersama. “Eh, foto dulu lah! Mumpung lengkap nih, teman-teman sejawat!” seru Raya tiba-tiba saat yang lain mulai berdiri dan meraih helm masing-masing. “Oh iya! Hampir lupa,” sahut Angga. “Yaudah ayo! Ambil posisi masing-masing!” ujar Raya penuh semangat layaknya sutradara dadakan. Dan ajaibnya, semua langsung nurut. “Terus…” Raya menengok ke kanan dan kiri dramatis. “Yang punya 1 Tera spek dewa, mohon berbesar hati meminjamkan kepada rakyat jelata ini.” Kalimat itu langsung membuat semua mata serempak tertuju pada satu orang. Reza. Pria itu yang sejak tadi bengong malah ikut menatap balik dengan wajah polos. “Kenapa?” tanyanya lugu. Raya langsung memijat pelipis. Ya, begitulah Reza. Setiap manusia pasti punya kekurangan, dan kekurangan Reza adalah loading otaknya kadang suka telat beberapa detik. Kayaknya waktu pembagian prosesor otak dulu dia kebagian stok terakhir. Raya akhirnya berjalan mendekat. “Reza anak baik…” katanya lembut. “Boleh pinjam HP-nya buat foto?” “Oh…” Reza akhirnya paham. “Boleh.” Ia langsung mengeluarkan ponselnya lalu menyerahkannya pada Raya. “Ini.” “Untung ganteng…” gumam Raya pelan sambil menerima ponsel itu. “Reza… Reza…” Rio menggeleng heran. “Sumpah, lo nggak berubah dari dulu.” Gelak tawa langsung pecah. “Van, boleh pinjam adik lo buat fotoin kita?” tanya Raya pada Vani yang sedari tadi malah sibuk melirik Reza diam-diam. “Oh iya bentar.” Vani masuk ke dalam rumah dan tak lama kembali bersama adik bungsunya. Raya langsung menyerahkan ponsel Reza. “Tolong fotoin yang bagus ya,” ucapnya serius. “Terutama kakak.” “Nggak usah, Dek,” sela Rio cepat. “Yang paling jelek buat kakak itu aja.” “Nah iya!” Gavin ikut menimpali. “Fokus jelekin Raya.” “Syirik aja kalian,” balas Raya sambil mendelik. Sesi foto pun dimulai. Adik Vani mengambil banyak foto secara berulang-ulang, sementara Raya sibuk mengecek hasilnya satu per satu. Dan seperti yang sudah diduga kalau ada sedikit saja yang tidak sesuai ekspektasinya, langsung dihapus. “RAYAAAA!” Teriakan Angga menggelegar tepat saat Raya sedang memakai sepatu slip-on miliknya. Raya menoleh santai. “Apa?” “Perasaan tadi kita foto lebih dari sepuluh kali. Kenapa di galeri tinggal lima?!” “Oh…” Raya mengangguk kecil. “Berarti yang lainnya jelek.” “ANJIR!” “Perasaan gue cukup lima deh, Ngga. Lo aja yang kebanyakan pakai perasaan.” “Nggak ada konsep begitu!” “Ada. Lo aja yang nggak gaul. Norak.” “Ya Allah…” Angga memegangi dadanya dramatis. Yang lain cuma tertawa melihat keduanya. Sudah biasa. Kalau Raya dan Angga dipertemukan, dunia pasti berisik. “Reza,” panggil Angga cepat. “HP lo ada arsip foto terhapus nggak?” Reza yang sedari tadi diam langsung menoleh. “Nggak tahu aku.” Raya langsung bergerak cepat mendekati Angga. “HP Reza nggak punya begituan.” “Sok tahu lo!” “Ya emang tahu.” “Model HP gue sama kayak dia!” “Iya, tapi speknya beda.” “SAMA AJA! Sama-sama buatan apel kegigit!” “Ya beda lah! Lo beli HP lo berapa, Reza beli berapa?” “Itu cuma harga, Raya!” “Nah justru harga mempengaruhi kualitas!” “Berantemnya bisa dijeda bentar nggak?” Gavin akhirnya ikut bersuara. Namun bukannya berhenti, Raya malah menoleh cepat. “Vin, lo tim gue atau tim Angga?” Gavin langsung menyesal membuka mulut. “Kalian kenapa nggak nanya langsung aja sama pemilik HP-nya sih?” celetuk Rio mulai lelah. Raya dan Angga pun kompak menatap Reza. Sementara Reza… Diam. Tatapannya kosong seperti orang yang baru masuk ke tengah perang tanpa tahu masalahnya apa. Dan perdebatan mereka akhirnya berhenti ketika mama Vani keluar membawa nampan berisi camilan. “Aduh, Tante nggak usah repot-repot,” ucap Raya cepat sambil mengambil nampan itu. “Nggak repot kok. Dimakan ya semuanya.” “Iya, Tante. Makasih!” Mereka langsung menyerbu camilan yang tersedia cookies, bolu potong, dan beberapa makanan ringan lainnya berpindah cepat ke tangan mereka. “Nggak jadi pulang deh kayaknya,” celetuk Rio sambil mengunyah. “Gara-gara Raya nih,” sahut Gavin. “Loh kenapa jadi gue terus?” protes Raya. “Gangguin Vani kek, Arin kek, Riska kek. Jangan gue mulu!” “Karena mereka diam nan anggun,” jawab Angga santai. “Iya,” sambung Gavin. “Perempuan tanpa suara.” “Nggak kayak lo.” Raya langsung melotot. “Emang gue nggak bisa anggun apa?” “Tolong…” Rio tertawa. “Itu lelucon paling lucu malam ini.” “Serius! Gue bisa kali!” “Nggak percaya,” jawab Gavin, Rio, dan Angga kompak. Raya langsung bangkit berdiri. “Oke! Kalau suatu hari gue bisa jadi perempuan kalem dan anggun, kalian kasih gue apa?” “Kami nurutin semua kemauan lo!” jawab mereka bertiga serempak. Raya langsung menyeringai puas. “Deal!” Dan mereka pun berjabat tangan seperti sedang membuat kontrak kerja sama penting antarnegara. Teman-teman lain hanya bisa menggeleng geli melihat tingkah mereka. Namun beberapa detik kemudian, Raya mendadak berpikir. “Eh bentar…” “Hm?” “Gimana kalian tahu gue bakal berubah kalem? Kita aja udah nggak ketemu tiap hari.” Sunyi. Lalu “Hahahaha!” Mereka semua tertawa bersamaan. “Bodoh banget sumpah,” celetuk Angga di sela tawanya. Pukul sepuluh malam akhirnya benar-benar memaksa mereka pulang. Satu per satu mereka berpamitan pada orang tua Vani sebelum keluar rumah. Motor-motor mulai menyala bersamaan. Dan beberapa menit kemudian, rombongan itu terpisah di persimpangan jalan karena arah rumah yang berbeda. Kini hanya tinggal Raya, Reza, dan Gavin yang masih satu jalur. Namun di simpang dua berikutnya Gavin ikut berbelok meninggalkan mereka. Dan sekarang… Tinggal Raya dan Reza. Aneh ya? Padahal jalanan malam itu ramai kendaraan tapi bagi Raya, rasanya seperti cuma ada mereka berdua di dunia Reza meminta Raya untuk berkendara di depan sementara dirinya mengikuti dari belakang. Katanya sih biar aman. Jangan salah paham dulu, Raya. Belum tentu itu kode. Namun baru beberapa menit berjalan motor Raya tiba-tiba brebet lalu mati tepat di dekat tikungan. “Yah…” keluhnya pelan sambil buru-buru menepikan motor ke pinggir trotoar. Reza yang berada di belakang otomatis ikut berhenti. Pria itu turun dari motornya lalu mendekat. “Kenapa, Ray?” Raya menatapnya panik. “Motor gue nggak mau hidup, Za…” Untung malam ini ia tidak sendirian. Reza langsung berdiri di samping motor Raya. “Turun dulu,” ucapnya tenang. “Biar aku coba engkol.” Raya langsung mengangguk cepat lalu turun dari motor sementara Reza mulai mencoba menyalakan motor itu, Raya berdiri tak jauh darinya sambil berdoa dalam hati. Semoga motornya hidup dan semoga jantungnya juga bisa kembali normal. Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN