Chat Room Raya & Vani
Ray, datang cepat ya. Aku malu kalau dia datang duluan. Kalau ada kamu kan aku bisa punya teman ngobrol.
Insyaallah. Ini aku baru bangun tau, Van.
Gila ya kamu. Aku deg-degan banget nih.
Kalau dia datang duluan ya ajak ngobrol aja. Kalau masih malu juga, sekalian kenalin ke keluarga.
Boleh sih… tapi emang dia mau?
Mau kalau dipelet.
Anjir. Nggak lah, aku masih normal ya.
Yang bilang lo nggak normal siapa? Justru lo suka sama dia itu bukti kalau lo normal seratus persen. Kecuali kalau lo sukanya sama gue.
Nggak lah. Masih banyak pria ganteng di dunia ini. BTW cepetan datang!
Iya ini siap-siap dulu.
Oke. Aku tunggu. Cepat datang!
Raya tersenyum kecil setelah membaca pesan terakhir dari Vani ponselnya ia letakkan di atas nakas, bohong kalau ia bilang belum bersiap dari tadi.
Faktanya, sejak satu jam yang lalu Raya sudah duduk di depan meja riasnya. Berbagai foundation, cushion, lip tint, sampai peralatan make-up berserakan memenuhi meja. Wajah cantiknya sudah berkali-kali dipoles, lalu dihapus lagi karena ia merasa hasilnya kurang cocok.
Hari ini semuanya terasa salah.
Lipstik terlalu merah.
Bedak terlalu pucat.
Alis terlalu tebal.
Bahkan eyeliner yang biasanya selalu rapi mendadak sulit dikendalikan karena tangannya ikut gemetar.
Tidak hanya soal make-up.
Urusan pakaian saja sudah membuat Raya hampir membongkar isi lemari. Dress, tunik, blouse, kemeja, sampai kaos sudah dicoba satu per satu.Dan akhirnya pilihannya jatuh pada tunik bermotif bunga dengan panjang selutut yang dipadukan bersama celana cutbray favoritnya. Membuat kaki jenjangnya terlihat semakin panjang.
Raya menatap pantulan dirinya di cermin cukup lama.
“Hati… tolong kerja samanya ya,” gumamnya pelan. “Jangan terlalu heboh. Nanti kita pingsan bareng nggak lucu.”
Ia mendesah kecil lalu merapikan hijabnya lagi untuk kesekian kali.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore.Artinya, Raya terlambat hampir satu jam dari waktu yang disepakati di grup chat. Dan itu memang sengaja.
Ia tidak mau terlihat terlalu antusias hanya karena Reza datang. Meski kenyataannya, sejak bangun tidur tadi jantungnya sudah bekerja tidak normal.
Ponselnya terus berdering tanpa henti.
Sudah pasti Vani atau teman-temannya yang menelepon menanyakan keberadaannya.
Namun Raya memilih mengabaikannya dulu.
Setelah merasa penampilannya cukup baik, gadis itu akhirnya berangkat menggunakan motor pribadinya menuju rumah Vani. Perjalanan sekitar dua puluh menit terasa lebih lama dari biasanya karena beberapa jalan menuju rumah sahabatnya rusak parah. Raya harus ekstra hati-hati mengendarai motornya.
Dan sialnya
Karena sudah lama tidak berkunjung ke sana, ia malah lupa arah jalan.
“Ya Allah…”
Raya menghentikan motornya di pinggir jalan yang cukup sepi.
Ia segera mengambil ponselnya dari dalam tas lalu menghubungi Angga.
“Halo?”
“Ray, lo di mana?!” teriak Angga begitu telepon tersambung.
“Aku nggak tahu ini di mana! Kayaknya aku nyasar deh, Ngga!”
“Lah, serius?”
“Iya! Ini dimana lagi aku ga tau?!”
“Bukannya lo hafal jalan rumah Vani?”
“Itu dulu! Sekarang lupa!”
Di ujung sana Angga terdengar menghela napas panjang.
“Ya udah, share lokasi aja. Nanti kami jemput.”
“Oke bentar… cepetan ya. Sepi banget di sini.”
“Iya iya. Kirim dulu lokasinya.”
Raya segera mengutak-atik ponselnya lalu mengirim titik lokasinya.
“Udah gue kirim.”
“Oke. Jangan ke mana-mana.”
“Oke, Angga sayang.”
“Idih!”
Panggilan langsung diputus sepihak.
Raya terkekeh kecil.
Ucapan seperti itu memang sudah biasa antara dirinya dan Angga. Tidak ada hubungan romantis di antara mereka. Itu hanya candaan khas pertemanan mereka sejak dulu.
Tak lama kemudian, cahaya lampu motor terlihat mendekat dari kejauhan.Wajah Raya langsung berbinar.
Namun beberapa detik kemudian senyumnya memudar perlahan.
Karena orang yang datang bukan Angga. Melainkan
Reza.
Motor pria itu berhenti tepat di depannya.
“Eh… kok lo yang datang?” tanya Raya gugup.
Reza membuka helmnya perlahan.
“Nggak boleh?”
Suaranya tenang seperti biasa, tapi tatapannya sukses membuat Raya salah tingkah.
“Nggak… bukan gitu.” Raya buru-buru menggeleng. “Soalnya tadi aku nelponnya Angga.”
“Iya. Gue baru sampai, terus mereka nyuruh gue jemput lo.”
“Oh…”
Raya langsung kehilangan kemampuan bicara.
“Ayo,” ucap Reza singkat. “Mereka udah nunggu.”
Setelah itu Reza lebih dulu menghidupkan motornya dan berjalan di depan menunjukkan jalan.
Sementara Raya mengikuti dari belakang sambil terus mencoba menenangkan detak jantungnya yang semakin tidak karuan.
Kenapa sih cuma ditunjukin arah aja rasanya kayak mau diajak kejenjang serius?
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Vani.
Raya buru-buru memarkirkan motornya sedikit menjauh dari motor Reza.
Entah kenapa berada terlalu dekat dengan pria itu membuat napasnya terasa sesak sendiri.
“KOK BISA NYASAR, RAYA?!” teriak Angga dari dalam rumah begitu melihatnya datang.
Raya langsung memutar bola mata malas.
Ia dan Reza masuk bergantian masuk ke dalam rumah.
“Untung ada Reza yang jemput. Kalau nggak, mungkin sampai sekarang lo masih muter-muter,” lanjut Angga sambil tertawa.
“Eh, kok malah Reza yang disuruh? Kan aku nelpon lo!”
“Mager gue,” jawab Angga santai. “Masih untung Reza mau jemput.”
“Bukan nggak bersyukur, tapi nggak enak aja tahu!”
“Ribet banget hidup lo.”
“Kenapa kalian baru datang malah ribut?” sela Vani cepat.
Raya dan Angga langsung menoleh bersamaan.
“Kami nggak ribut,” ucap mereka kompak.
“Kami lagi berteman.”
Vani menghela napas pasrah.
Melihat Raya dan Angga memang seperti melihat dua bocah yang tidak pernah akur, padahal kenyataannya mereka sangat dekat.
“Eh Van, ini makanan beli di mana?” tanya Raya mencoba mengalihkan suasana.
“Nggak bikin sendiri, Ray. Tadi beli di luar.”
“Oh ya? Enak tau.”
“Tadi kamu lewat jalan besar yang dekat masjid nggak?”
“Iya, lewat.”
“Nah, tokonya di depan masjid itu.”
Raya mengangguk sambil sesekali mencuri pandang ke arah Reza yang duduk di seberang sana.
Diam-diam.
Pelan-pelan.
Takut ketahuan.
Padahal sedari tadi mungkin sudah puluhan kali matanya melirik pria itu tanpa sadar.
“Ray, lo masih kerja di PT yang dulu?” tanya Gavin tiba-tiba.
“Iya.”
“Udah berapa tahun?”
“Baru kok.”
“Baru dari mana?!” Gavin langsung membelalak. “Di postingan lo aja hampir empat tahun!”
Raya mengangkat bahu santai.
“Ya menurut gue itu masih baru.”
“ITU LAMA, RAYA!”
“Jangan teriak di telinga gue! Budeg nanti!”
“Ya ampun…” Gavin memegangi kepalanya dramatis. “Gue penasaran siapa laki-laki yang bakal tahan sama sifat lo nanti.”
Raya langsung menyeringai.
“Banyak kok yang mau sama gue. Gue aja yang belum mau.”
“Idih, pede banget,” timpal Angga.
“Ya emang. Gue limited edition.”
“Sudah, sudah…” Vani buru-buru menengahi sambil tertawa. “Ray ini sehari nggak debat bisa mati kayaknya.”
“Nah itu dia!” Gavin menunjuk Raya cepat. “Hobinya silat lidah!”
“Mulut lo pengen gue sambel terus lempar ke kolam piranha ya?”
“Ampun, Nona!”
Gelak tawa kembali memenuhi ruangan.
Ada yang sibuk bercanda.
Ada yang tertawa sampai sakit perut.
Ada yang hanya duduk sambil memperhatikan.
Dan di antara semua keramaian itu—
Raya diam-diam masih sibuk mengagumi satu orang yang sama.
Reza.
Sementara Vani sama sekali tidak tahu bahwa sahabatnya sendiri menyimpan rasa pada pria yang ia cintai.
Raya terlalu pandai menyembunyikannya.
Lihat saja bagaimana ia bersikap santai sedari tadi. Berdebat, tertawa, bercanda seolah tidak terjadi apa-apa.
Padahal jika seseorang mau melihat lebih dalam
Mungkin mereka akan sadar.
Bahwa setiap tatapan Raya selalu kembali pada orang yang sama.