Anggana menatap pintu besi di hadapannya. Matanya memejam sejenak, mencoba mencari-cari kekuatan untuk kembali memasuki mesin waktu itu. Dia harus kembali berjuang seorang diri, hidup di dalam waktu yang seharusnya tidak ada dirinya di dalamnya. Dan itu semua sulit. Flashback “Aku harap kamu kembali dengan membawa sebuah kabar gembira, Padukaku,” ucap Pramesti sesaat setelah mereka melakukan aktivtas berat di atas ranjang. Setelah bekerja keras di meja dapur, Anggana kembali menggagahi tubuh istrinya di ranjang. “Aku lelah, jujur saja,” keluh Anggana. Dia jujur, apa yang dia lakukan ini sangat berat. Peperangan, keserakahan dan berbagai tindakan kejam lainnya. “Demi aku dan anak kita,” bisik Pramesti. Anggana menatap teduh ke wajah istrinya yang sedikit berantakan akibat ulahnya. Ramb

