“Aku cukup terkejut ada seorang keturunan Wisnukancana datang mengunjungiku,” ucap laki-laki tua yang terlihat ramah. “Bukankah kita saudara? Seharusnya memang saling berkunjung.” Laki-laki tua itu terlihat mengangguk. “Kalau boleh tahu, siapa namamu anak muda?” “Saya Anggana, anak laki-laki Akmaragana.” “Aku pernah bertemu dengan Akmara, satu kali seumur hidupku.” “Waktu?” Laki-laki itu terlihat mengingat-ngingat sesuatu. “Mungkin saat kamu lahir,” jawabnya. “Dia sempat mengatakan kepadaku sedang membuat sebuah mesin waktu, sungguh keinginan yang begitu konyol.” Anggana tahu sebelum dia sempat mengatakan keinginannya, kenyataan sudah terbantahkan dengan kalimat yang baru saja di dengar. Ia paham memang ide mesin waktu itu terlalu konyol dan anak kecil, tetapi nyatanya dia berhasil

