Bulan purnama datang, perang segera di mulai. Anggana dan beberapa Prajurit mulai bersiap-siap membawa beberapa bekal untuk perjalanan. Rencananya mereka akan berangkat pagi hari ke Tanah Pariwijaya. Anggana menyiapkan tempat minum yang terbuat dari bambu beberapa kain tebal yang akan dijadikan pelindungnya saat malam di bawah langit langsung. “Hey, kamu di cari.” Raga, salah satu teman Anggana sebagai murid bahkan sekaligus saat menjadi Prajurit. “Siapa?” “Perempuan.” Di dalam otak Anggana langsung terlihat wajah ayu Saraswati. Mungkin wanita itulah yang datang menemuinya malam ini. Dengan semangat Anggana membawa langkahnya menemui seseorang yang juga sudah menghantui malam-malamnya beberapa hari ini. Saat melangkahkan kakinya ke luar Griya, di hadapannya berdiri Saraswati dengan wa

