Lima belas menit kemudian "Rea..." panggil Vino pelan. Seketika Rea mendongak, menatap laki-laki yang berdiri tak jauh darinya. Penampilan dan wajah Vino terlihat jauh lebih segar dari sebelumnya, meski bekas luka pukulan itu masih terlihat jelas. "Aku tidak mungkin meninggalkanmu disini," lanjut Vino dengan sorot mata redup. "Vino, dengar. Aku tahu ini sangat berat bagimu, karena ini juga sangat berat bagiku. Tapi membiarkanmu tinggal di rumah ini, itu sangat tidak masuk akal." Rea menggeleng-gelengkan kepala. "Kau tahu sendiri kan, posisiku saat ini sedang dalam keadaan tidak berdaya, hanya mengharapkan belas kasihan dari Adrian. Dan apa kau pikir, dengan posisi seperti ini Adrian akan membiarkan kekasih istrinya tinggal satu rumah dengannya. Tidak." Rea kembali menggelengkan kepala.

