Rea selesai mandi dua puluh menit kemudian. Tatapan matanya langsung ia arahkan ke tempat tidur. Adrian masih belum sadarkan diri. Rea duduk di tepian ranjang, mengelus wajah Adrian dan entah kenapa perasaannya kembali berdesir. Cepat-cepat Rea menarik tangannya dan mulai berdiri menjauh dari ranjang. Tepat saat itu, daun telinga Rea mendengar suara dering telepon rumah. Rea bergegas keluar meski tadinya ia ingin melarikan diri dari perasaan anehnya barusan. "Hallo..." Rea langsung bersuara saat gagang telepon sudah menyentuh telinganya. "Ini Papa, Sayang," jawab suara di seberang sana. Rea tersentak mengetahui orang yang meneleponnya ini adalah papanya sendiri. Tapi Rea tidak berniat menutup telepon. Karena ia tahu, jika papanya menelepon, pasti ada hal penting yang akan disampaikannya.

