Cinta Sejati Adrian - 5

2361 Kata
"Jika memang kau merasa pernikahan ini adalah penjara bagimu, maka aku akan dengan senang hati melepaskannya." Rea menatap Adrian dengan raut ketakutan. Ia menggeleng kuat-kuat. Dihampirinya Adrian dengan tatapan memohon. "Tidak, Adrian. Aku mohon jangan lakukan itu. Aku menyesal membuatmu mendengar hal menyakitkan itu, tapi aku mohon jangan lakukan ini padaku. Aku masih membutuhkanmu demi orangtuaku." Adrian tertawa mengejek. "Apa maksudmu sekarang, bukankah kau sendiri sangat membenci orangtuamu? Seharusnya kau senang dengan keputusan ini, setidaknya itu akan membuat keluargamu menderita." "Tidak, Adrian, aku mohon jangan lakukan itu. Aku membenci mereka bukan untuk menjatuhkan mereka. Bahkan aku rela melakukan ini semua karena aku menyayangi mereka. Aku tidak bisa melihat perusahaan papa hancur, aku tidak mungkin membiarkan hidup kedua orangtuaku terlantar dan kekurangan." Adrian lagi-lagi tertawa meremehkan. "Kau aneh. Kau membenci orangtuamu tapi kau juga menyayanginya. Apa kau tidak tahu kalau kebencian dan kasih sayang tidak bisa menyatu." Mulut Rea seketika terkunci rapat. Ia tidak bisa membalas ucapan Adrian barusan. "Baiklah...aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi padamu, tapi satu hal yang harus kau ketahui sekarang..." Adrian sengaja menggantungkan kalimatnya. Membuat Rea yang sejak tadi tertunduk mulai mengangkat wajahnya demi melihat raut wajah Adrian yang sepertinya akan mengatakan sesuatu yang....buruk. "Aku menyesal," lanjut Adrian dengan suara serak. Sejak tadi Adrian lebih banyak berteriak hingga suaranya hampir habis. "Aku menyesal karena sudah bersedia menikah denganmu." Hati Rea mencelos mendengar kalimat Adrian barusan. Ia membeku di tempatnya sementara Adrian sudah memutuskan untuk pergi setelah mengucapkan kalimat terakhirnya itu. Jika memang Rea harus berlutut didepan Adrian, ia akan melakukannya asalkan Adrian tidak membencinya seperti sekarang. Ia masih membutuhkan Adrian sebagai suaminya atau jika tidak semua pengorbanan dan pengkhianatan ini akan sia-sia saja, tidak ada artinya sama sekali.  Tidak, ini tidak boleh terjadi. Jika Adrian menceraikannya sekarang, semuanya akan hancur, dirinya akan hancur dan orangtuanya juga akan hancur. Mungkin Adrian benar, kebencian dan kasih sayang tidak bisa disatukan. Ia mungkin tidak benar-benar membenci orangtuanya, melainkan hanya kecewa, karena jauh dilubuk hatinya, Rea sangat menyayangi kedua orangtuanya melebihi apapun. Bahkan melebihi kebahagiaannya sendiri yang lebih memilih menikah dengan Adrian dibanding kabur ke Swiss dan menemui Vino.  Baiklah. Rea harus melakukan sesuatu untuk merubah keputusan Adrian. Memang benar saat ini Adrian sangat membencinya, dan Rea harus melakukan sesuatu untuk menghapus kebencian itu. Bagaimanapun caranya, ia harus melakukannya. Adrian tidak boleh menceraikannya sekarang, meski ia tidak mencintai laki-laki itu, tapi ia membutuhkan laki-laki itu, demi kedua orangtuanya.  Rea menguatkankan kakinya untuk mengejar Adrian. Ia akan melakukan sesuatu. Kakinya melangkah dengan pasti menuju tempat yang sudah ia putuskan. Begitu sampai di tempat yang dimaksud, Rea menghirup napas dalam-dalam lantas menghapus sisa airmata yang masih menempel di ujung matanya. Dengan satu dorongan kuat jemari tangannya, pintu yang tidak terkunci itu pun terbuka. Untuk sesaat, napas Rea tercekat di tenggorokan, saat melihat didalam ruangan sana begitu banyak perabotan yang tidak berada pada tempatnya, Adrian pasti meluapkan perasaan marahnya dengan mengacaukan isi kamarnya sendiri. Terlebih saat Rea melihat, Adrian sedang menatapnya penuh kebencian. "Kenapa kau kesini, aku sama sekali tidak ingin melihatmu sekarang," ungkapnya dengan intonasi meninggi. Rea bergeming, wajahnya pias tapi ia sudah bertekad untuk tidak akan berbalik. Ia sudah berhasil berada di dalam kamar Adrian sekarang. "Kenapa kau diam saja, cepat pergi. Keluar dari kamarku sekarang juga!" bentak Adrian kasar. Rea jelas mengetahui kalau Adrian sangat membenci dirinya sampai-sampai tidak ingin melihatnya lagi. Dan inilah satu-satunya cara untuk menekan kebencian Adrian. Bukannya berbalik, Rea justru semakin melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar Adrian. Satu butir airmata kembali jatuh diatas pipinya yang pucat. Saat langkahnya sudah sampai didepan Adrian, Rea pun mulai berkata. "Aku akan memberikan tubuhku sekarang." Seketika saja, tubuh Adrian terlonjak dari atas ranjang. Ia berjalan menghampiri Rea dan menatapnya penuh kebencian. "Omong kosong macam apalagi ini?" "Tidak, aku serius. Sentuhlah aku sekarang. Aku akan memberikan tubuhku asalkan kau tidak menceraikanku." "Apa kau gila? Kenapa aku harus membutuhkan tubuhmu. Apa sekarang kau bermaksud benar-benar menjual tubuhmu padaku?" Suara Rea tercekat, ia tidak bisa langsung menjawabnya. Tapi ia sudah bertekad untuk melakukan ini. "Benar, aku sedang menjual tubuhku padamu." Adrian tertawa mengejek. "Dengan kemarahanku sekarang, apa kau pikir aku akan tertarik?" "Jika kau tidak tertarik, aku akan memaksa." Rea hampir tidak berekspresi saat mengatakan kalimatnya. Ia sudah pasrah apapun yang terjadi. Jika artinya hidupnya harus hancur, akan ia lakukan asalkan kedua orangtuanya tidak ikut hancur. "Kau benar-benar gila. Keluar sekarang, aku tidak membutuhkanmu, dan aku sama sekali tidak ingin melihatmu," perintah Adrian seraya mengacungkan telunjuk kirinya kearah pintu keluar. Rea masih bergeming. Ia sudah merontokkan urat malunya, dan semua harapannya bertumpu pada apa yang dilakukannya sekarang. Ia tidak bisa kembali. Dengan pandangan kacau, Rea langsung merobek bajunya sendiri. Membuat Adrian yang berdiri di depannya begitu tersentak. Dengan cepat, ia menghentikan apa yang sedang dilakukan Rea. "Apa yang kau lakukan? Apa kau gila, sudah ku bilang aku tidak akan menyentuhmu." "Aku tidak peduli," Rea berontak, tangisnya pecah. "Kau tidak boleh menceraikanku sekarang, aku sangat membutuhkanmu." "Kembalilah ke kamarmu, kau sangat kacau sekarang," suara Adrian terdengar lebih pelan. "Tidak, sebelum kau berjanji tidak akan menceraikanku, aku tidak akan pergi dari ruangan ini." "Kita bicarakan itu besok, kau harus kembali ke kamarmu sekarang." Adrian meraih bahu Rea dan mulai menuntunnya keluar. Dengan gesit Rea melepaskan diri, ia berlari ke sudut ruangan dimana banyak benda-benda berserakan akibat amukan Adrian. Lalu entah dengan keberanian darimana, tiba-tiba saja Rea sudah menggenggam bongkahan kaca dari bingkai yang Adrian lempar, dan mengacungkannya ke depan. Jika dengan memberikan tubuhnya tidak berhasil, maka tidak ada lagi yang bisa Rea lakukan. Ia tak mungkin sanggup menghadapi kenyataan itu besok pagi. Akan lebih baik baginya jika saat ini juga ia mati. "Rea, apa yang kau lakukan sekarang?!!" teriak Adrian panik melihat Rea menggenggam kaca itu dengan erat sampai membuat jemarinya berdarah. "Aku tidak bisa menghadapi ini semua, aku tidak sanggup," Rea menggeleng-gelengkan kepalanya dengan airmata berlinang. Adrian berusaha mendekat tapi Rea tidak mengijinkan, ia semakin mempererat genggaman kaca itu di tangannnya, membuat Adrian menjadi semakin was-was. "Lebih baik aku mati saja, Adrian. Semuanya akan berakhir mudah jika aku mati. Aku tidak akan melihat orangtuaku hancur, karena aku sudah mati." "Rea, tenanglah. Sadarlah. Kau sedang tidak bisa berpikir jernih. Aku mohon, jauhkan kaca itu dari tanganmu." Adrian berusaha untuk menenangkan Rea. "Tidak, kaca inilah yang akan menjadi perantaraku menuju kedamaian. Selamat tinggal Adrian." "Aku tidak akan menceraikanmu!" Kalimat Adrian diucapkan tepat sebelum kaca itu menyentuh urat leher Rea. Gerakan Jemari Rea yang penuh darah terhenti. Rea tertawa getir, "Kau bohong, kau hanya ingin membuatku berhenti melakukan ini. Kau hanya tidak ingin ikut terlibat dalam kematianku ini." "Tidak, Rea. Aku bersumpah demi nama Tuhan, aku tidak akan menceraikanmu," tegas Adrian yang membuat Rea terpaku untuk sesaat. Benarkah apa yang Adrian katakan barusan, tidak berbohongkah dia? Rea merasa bimbang. "Sekarang aku minta...jauhkan kaca itu dari lehermu," pinta Adrian sepenuh hati. Beberapa detik kemudian, Adrian melihat gerakan pelan Rea saat kaca yang ia pegang mulai diturunkan kebawah. Seketika saja, Adrian mendekat, meraih kaca itu dan membuangnya sembarangan. Cepat-cepat dipeluknya wanita itu, tangisnya mulai keluar. Rea membeku dalam dekapan Adrian. Ia merasa mati rasa. Entah apa yang baru saja diperbuatnya tapi itu sudah cukup membuat ketakutannya memuncak. Tak bisa dipungkiri kalau sebenarnya Rea sangat ketakutan. Dan kali ini, ia bisa merasakan pelukan erat dari Adrian, bahkan ia mendengar suara tangis keluar dari mulut Adrian. Rea memejamkan mata, ia teramat lelah dengan apa yang terjadi hari ini. Semua tenaganya terkuras habis. Entah apa yang terjadi kemudian, tiba-tiba saja pandangan matanya gelap dan tubuhnya seketika melemas. *** Adrian kembali membawa Rea ke rumah sakit. Meskipun Rea tidak jadi mengiris urat lehernya sendiri tapi jemari tangan Rea yang menggenggam kaca itu dipenuhi darah. Ia merasa begitu ketakutan. Kebencian yang menggebu-gebu tadi membuatnya merasa sangat bersalah. Ia tidak seharusnya menekan Rea sampai seperti itu, membuat wanita itu tidak punya pilihan. Bahkan lihatlah pakaian Rea sekarang, beberapa kain sudah robek dibagian bahu tapi untunglah tidak terlalu parah karena Adrian dengan cekatan berhasil menghentikan aksi Rea yang di luar kendali itu. Entah berapa waktu terlewat, sampai kemudian Adrian melihat dokter yang menangani Rea keluar dengan wajah cerah. "Pasien tidak apa-apa, hanya sedikit mengalami syok. Luka ditangannya juga tidak parah, hanya mengalami sedikit luka sayatan di jari-jari tangan, tapi kami sudah mengobatinya dan memberinya perban. Untuk saat ini dia dalam pengaruh obat penenang dan akan sadar beberapa jam lagi," dokter itu berkata tenang. Adrian menghela napas lega. "Terima kasih, Dok." Dokter mengangguk, lantas berlalu meninggalkan Adrian. Buru-buru Adrian melangkahkan kakinya ke ruang perawatan. Ia melihat Rea tertidur dengan tenang, meski wajah sendunya masih terlihat. Tapi syukurlah Rea baik-baik saja. Adrian tentu tidak akan pernah memaafkan dirinya jika sesuatu yang buruk menimpa wanita itu. "Aku berjanji tidak akan melakukan itu lagi padamu, Rea," lirih Adrian mengatakan itu saat dirinya sudah duduk di samping ranjang Rea. Di elusnya rambut Rea dengan lembut dan penuh kasih. Semua kebencian yang beberapa saat lalu menguasai dirinya sudah menghilang entah kemana, berganti perasaan bersalah dan penuh kasih. Tak bisa dipungkiri kalau Adrian memang kecewa pada Rea, tapi perasaannya untuk wanita itu masih ada. Jauh di lubuk hatinya ia berharap kalau Rea akan mencintainya meskipun ia tahu itu tidak mungkin. Rea membutuhkannya untuk alasan lain, bukan karena mencintainya. *** Jemari Rea mulat berkedut. Adrian yang sejak tadi terus menjaga Rea tanpa sekalipun tertidur menampakkan wajah cerah. Diusapnya kepala Rea dengan lembut. "Rea..." panggilnya lirih. Meski kelopak mata Rea belum terbuka tapi Adrian tahu kalau kesadaran Rea mulai pulih. Terlihat dari gerakan-gerakan kecil juga deru napasnya yang mulai terdengar berat. Perlahan tapi pasti, Rea membuka matanya dan mendapati wajah pertama yang ia lihat adalah...wajah lelah Adrian. Menatapnya dengan lembut dan senyum penuh kelegaan. "Syukurlah kau sudah sadar." Rea belum bereaksi. Matanya masih menatap Adrian namun tidak ada reaksi apapun dari raut wajah itu. "Kau tidak akan menceraikanku ‘kan?" lirih sekali Rea menanyakan itu. "Tidak, Rea. Aku sudah berjanji padamu. Aku tidak akan menceraikanmu sebelum kau sendiri yang memintanya." Segurat senyum kelegaan muncul di wajah Rea. Beberapa detik kemudian, senyum itu menghilang begitu tahu ia ada dimana sekarang. Di rumah sakit, lagi. "Aku mau pulang," pintanya kemudian. "Tapi kau baru sadar, dokter mungkin tidak mengijinkan." "Aku mau pulang, Adrian," ulangnya lagi, kini sebutir airmatanya merembes keluar. Melihat itu, Adrian cepat-cepat bersuara. "Baiklah, Rea. Kita akan pulang sekarang!" *** Rea kembali membaringkan tubuhnya, hanya saja sekarang di kamarnya sendiri. Setengah jam yang lalu, Adrian langsung mengurus kepulangan Rea. Tak butuh waktu lama, keduanya langsung menuju rumah. Adrian dengan hati-hati menuntun Rea menuju kamar, walaupun Rea sempat menolak. Rea merasa dirinya tidak apa-apa, hanya tangan kanannya saja yang terasa sedikit sakit. Tapi demi melihat kekhawatiran di wajah Adrian, Rea menyerah, membiarkan Adrian mengantarnya sampai ke kamar. "Kau lebih baik istirahat saja, aku akan membuatkan makanan," ucap Adrian saat tubuh Rea sudah terbaring sempurna. Tanpa menunggu jawaban Rea, Adrian sudah pergi. Seperginya Adrian, Rea kembali diingatkan dengan apa yang terjadi hari ini. Berkomunikasi kembali dengan Vino, kedatangan ibunya yang tiba-tiba, pertengkarannya dengan Adrian, hingga sampai keputus-asaannya yang menyebabkan tangan kanannya terluka. Hari ini benar-benar terasa berat dan melelahkan bagi Rea. Beberapa menit kemudian, Adrian sudah kembali dengan membawa nampan kecil dengan semangkuk bubur dengan uap mengepul. "Kau belum makan sejak tadi, jadi aku buatkan makanan ini," ucap Adrian seraya membangunkan Rea dari pembaringannya. Rea tak bersuara, ia hanya menatap Adrian dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah perasaan terima kasih atau malah rasa bersalah. "Atau mau aku suapi?" tawar Adrian, menggoda. Rea menggeleng lemah. Ia meraih bubur yang Adrian bawa, kemudian mulai menyendokkannya dengan perlahan. Adrian menatapnya dari samping. Kali ini, ia akhirnya bisa melihat Rea makan, menggantikan posisi Rea yang sudah dua kali hanya melihatnya makan. "Kau tidak ikut makan?" tanya Rea ragu-ragu, setelah tiga suapan bubur sukses berada di mulutnya. Adrian menggeleng. "Nanti saja, kau makanlah sampai habis, aku masih belum lapar," jawab Adrian. Hening. Rea kembali menyendokkan bubur ke mulutnya sampai kemudian telinganya menangkap bunyi sesuatu. Astaga, itu suara perut Adrian. Rea menolehkan wajahnya cepat. Sinar matanya seolah mengisyaratkan sebuah pertanyaan, "suara apa itu? Kau bilang kau belum lapar." Adrian meringis mendapati tatapan Rea. Ia memegang perutnya sendiri. "Baiklah, kau habiskan makananmu. Aku akan mengambil makanan untukku sendiri." Adrian bangkit dari duduknya lantas berlalu meninggalkan kamar Rea. Tak sampai lima menit Adrian sudah kembali ke kamar Rea membawa semangkuk bubur dengan segelas air putih. Ia memamerkan senyum manisnya pada Rea. "Ini dia....selamat makan," seru Adrian setelah kembali duduk di samping Rea. Rea ikut memamerkan senyum manisnya. Keduanya makan bubur dengan lahap. Setelah acara makan bubur selesai, Adrian tak kunjung meninggalkan Rea. Ia masih menemani Rea dengan santai. Bahkan saat ini, ia sedang menonton televisi dari atas ranjang, dengan Rea berada di sisinya. "Adrian..." panggil Rea lirih. Adrian hanya menjawab 'hem' tanpa mengalihkan tatapannya dari layar televisi. "Aku minta maaf..." ujar Rea masih selirih sebelumnya. Adrian menoleh. Mendapati wajah Rea sedang menatapnya. Sejenak keduanya beradu pandang. Ada desiran halus yang Adrian rasakan saat mata mereka bertemu. "Aku juga," singkat saja Adrian bersuara, lantas mengalihkan tatapannya ke depan. Ia tidak sanggup berlama-lama bertatapan dengan Rea. "Dan...terima kasih..." Adrian sengaja tidak menolehkan wajahnya lagi. Ia tahu Rea sedang menatapnya, jadi Adrian pura-pura saja bersikap biasa meskipun hatinya sedang bergejolak. "Terima kasih sudah menyelamatkanku, meskipun aku sudah membuatmu marah." Rea memberi jeda untuk kalimat selanjutnya. "Dan terima kasih sudah mau menerimaku kembali, meskipun aku sudah membuatmu kecewa. Juga...terimakasih sudah bersedia menikahiku, meskipun pernikahan ini hanya sebatas status, tapi aku bersyukur mendapatkan suami seperti dirimu." Adrian tidak langsung menjawab. Matanya menatap kedepan, tapi bukan untuk menonton televisi melainkan sedang memikirkan kalimat apa yang akan ia ucapkan. "Setidaknya aku sudah tahu sedikit tentang dirimu," akhirnya Adrian menemukan kalimat itu. Rea tertunduk mendengarnya, seharusnya bukan dengan cara seperti ini Adrian mengenalnya. Ada banyak hal baik yang bisa Adrian ketahui darinya. "Aku minta maaf..." suara Rea hampir tidak terdengar. Ia merasa begitu tidak berguna sekarang, hanya bisa mendapat belas kasihan dari Adrian. "Kenapa kau meminta maaf lagi?" "Karena...seharusnya kau tidak perlu mendengar semua kalimat menyakitkan itu." "Tidak, sekarang aku sadar kalau itu tidak menyakitkan bagiku. Itu membuatku memahami apa yang kau rasakan selama ini." "Tapi..." "Tidak apa, Rea. Aku bahkan menyesal sudah bersikap semarah itu padamu. Sekarang, lupakanlah kejadian itu. Kita bicarakan hal lain saja." "Kenapa kau begitu baik, Adrian. Aku semakin merasa bersalah jika kau sebaik ini." Adrian tersenyum. "Mungkin inilah salah satu ikatan baik yang bisa dijalin suami pada istrinya." Keduanya terdiam. Suasana menjadi hening. "Rea...apa aku boleh bertanya sesuatu?" Adrian mulai bersuara kembali setelah terdiam cukup lama. "Apa?" "Saat kau harus menikah denganku, apakah yang membuatmu terluka adalah karena kedua orangtuamu yang mengkhianatimu atau memang ada hal lain lagi?" Deg. Rea tersentak mendengar pertanyaan Adrian. Itu sama artinya dengan membuat Adrian mengetahui tentang Vino. Jika Adrian membutuhkan jawaban jujur darinya, maka tentu alasannya menangis bukan hanya dikarenakan pengkhianatan orangtuanya saja melainkan juga karena kecintaannya pada Vino yang harus ia korbankan. Bersambung ... AdDina Khalim
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN