Alam Buaya Gaib.

1935 Kata
Mendengar kalimat Keturunan Buaya atau Pedatu-an atau kembaran adalah Ilmu turun temurun dari leluhur. Ilmu yang tidak pernah diminta atau diinginkan, tapi merekalah yang memilih. Itu kalimat yang pernah kudengar saat dulu aku diobati oleh seorang yang juga dari keturunan ilmu itu. "Dari banyak saudara dia yang terpilih." Kata pria yang mengobati ku waktu itu. Alasan kenapa dipilih, pria itu tidak menjelaskan dan aku tidak tahu tepatnya apa, tapi alasan mengira-ngira adalah dari yang ku ketahui mereka juga memiliki sifat baik dan buruk, hitam dan putih bahkan mereka juga berkelompok dan berkonflik layaknya seperti manusia lainnya. Sebelumnya aku pernah cerita soal Kai Putih, Pedatu-an dari leluhur keluargaku. Dari sekian banyak kejadian Kai Putih lebih banyak membantu ku dengan seizin Tuhan tentunya. Dari kecelakaan kendaraan, dari bisnis yang menipu, dari jahatnya sosok suruhan manusia, dan banyak lagi. Kai selalu menemaniku bahkan disaat aku dimasa-masa sulit. Kai adalah buaya putih yang baik. Dia selalu menyarankan aku untuk berbuat hal yang baik, beribadah yang baik. Kai tidak pernah menyarankan aku untuk melakukan hal yang buruk. Dulu sebelum kami akrab aku selalu berusaha untuk menghindari kai. Aku berobat kesana sini, hingga akhirnya aku menyadari bukan hanya kai yang bersamaku tapi ada sosok siluman buaya lain dan dia sangat jahat seperti yang aku ceritakan di sebelumnya, yang sampai sekarang berusaha menyakiti ku karena menolak keinginannya dan kai selalu melindungiku. Aku tidak hanya sekedar tahu, tapi aku sudah menanyakan hal itu ke beberapa orang yang berniat mengobati ku. Menurutku Kesurupan itu ada dua kesurupan yang tak disadari sama sekali dan kesurupan yang di saat bersamaan sadar tapi tetap dikendalikan oleh sosok yang merasuki. Entah sudah berapa kali aku mencoba untuk terjun kelaut dan kai selalu menyelamatkanku. Jika dulu telur itu aku makan tapi saat ini aku hanya membuangnya ke laut. Dan kai memperbolehkan itu. Entah cara ini benar apa tidak. Inti sebenarnya adalah mereka ingin kami mengingatnya dan cara itu hanyalah sebuah syarat atau tanda. Yaa!! mungkin jika sekarang sudah masuk ke adat dan tradisi yang sebagian orang berpikir itu adalah perbuatan yang menyekutukan Tuhan padahal tidak seperti itu. Terakhir ketemu kai, aku diajak ke sungai, setelah itu lama aku tak melihat nya. Aku hanya merasakan kehadirannya juga bisikkan nya. Entah kenapa? Mungkin karena saat itu aku sedang sakit. Ada sosok siluman buaya lain yang berusaha mendekat dan berusaha menguasai aku. Mungkin itu yang membuat aku sakit-sakitan. Sejak terhubung dengan semua itu aku mulai terpengaruh. Aku sakit dan disaat sakit aku lebih peka. Jika biasa cuma merasakan kini semua terlihat lebih jelas, semakin jelas dari biasanya. Aku berobat medis juga non medis, hasil medis aku gangguan pernafasan tapi non medis katanya sosok buaya itu akan menjadikan aku istrinya dan akan membawa ku ke alamnya. Mendengar itu tentu saja aku takut, gimana gak stress, perlahan aku terpengaruh, untungnya suamiku selalu ada dan beri suport agar aku berusaha melawan setiap bisikkan yang datang menggangguku yang mempergunakan kai sebagai tipu dayanya. Aku pernah cerita di sebelumnya, bahwa setiap kai habis menemui ku, aku baru bisa sadar usai memakan telur mentah. Dulu kenapa disebut ilmu turunan aku juga gak paham bahkan aku dulu sempat mencari tahunya hingga sekarang. Aku ingat pertama kali waktu berobat, aku ditanya. "Keluarga kamu punya ilmu keturunan buaya ya?" Sontak saja aku jawab, nggak!! Karena saat itu aku memang tidak tahu apa pun mengenai itu. Tapi akhirnya aku tahu dari orang tuaku bahwa nenek buyut dulu punya, turunan atau kembaran yang aku sendiri masih gak tahu banyak soal itu. Kami para keturunan mereka hanya bisa menerima tradisi, adat istiadat yang sudah berlaku sejak lampau dan parahnya kami tidak bisa menolak. ** Akhir tahun adalah masa yang selalu jadi sesuatu yang parno untukku. Karena tiap tahun selalu saja ada hal aneh yang terjadi kalau tak sakit ya meninggal. Dan saat itu aku memang sedang sakit, gangguan pernafasan sampai di sebut asma akut, aku kesulitan bernafas dan serasa seperti ada pasir di tenggorokan. Aku terus ter–batuk dan akhirnya sesak nafas. Suamiku mengajak ku pergi ke rumah kesehatan terdekat, karena di sana alatnya tidak memadai aku di rujuk ke rumah sakit besar, tiba di UGD setelah beberapa saat kemudian aku mendapat pengobatan, aku kembali baik dan boleh pulang. Kejadian seperti ini berlangsung beberapa kali, hingga hari itu aku kembali sakit, seperti yang aku bilang ketika sakit kepekaan ku lebih tajam bahkan aku seperti orang yang ngelantur kata suamiku. Semua yang aku lihat aku katakan padahal aku tak dalam keadaan tertidur. Saat itu aku menolak di bawa ke rumah sakit. Sebentar sadar sebentar nggak! Cukup melelahkan, benar-benar melelahkan berada di dua tempat dalam waktu bersamaan. Ketika aku sadar suami cerita. Kalau tadi pas aku gak sadar, aku ada menyebut tiga angka, saat itu dia tanya itu angka apa, tapi aku gak jawab karena keburu sadar. Disaat batuk tanpa henti aku kesulitan bernafas untuk yang kesekian kalinya, akhirnya aku dibawa lagi ke rumah kesehatan terdekat. alat bantu pelega nafasku sudah tidak berfungsi, karena sudah aku semprotkan tetap saja aku kesulitan bernafas. Lagi-lagi petugas di sana menyarankan aku untuk ke rumah sakit besar. Akhirnya suami dan keluarga membawaku ke rumah sakit. Disaat medis jalan non medis pun berlanjut karena dari awal ada yang janggal. Di perjalanan ke rumah sakit aku merasa berada di dua alam. Sesekali aku melihat suami dan keluargaku yang panik melihat keadaanku, sesekali aku melihat sosok lain tapi aku selalu mendengar bisikkan kai .... "Istighfar Cu! Istighfar .... Allahuakbar! Allahuakbar!" Tentu saja itu sangat membantu ku. Kadang terucap di mulut, di hati, kadang aku juga mendengar suara-suara yang gak jelas entah berasal dari mana. Aku sadar keluargaku ada di dekatku, tapi mereka gak paham dengan semua yang ku ucapkan. Sesampainya kami di rumah sakit aku masih sadar nafasku masih sesak padahal sudah pake oksigen. Aku juga sadar aku diperiksa dokter tapi saat itu aku gak perduli. Hasil medis aku baik-baik saja kata mereka. Ha! Bagaimana bisa!! "Tekanan darah nya normal, paru-paru juga baik." ucap dokter yang dia sampaikan ke suamiku dan aku juga sempat mendengarnya tadi. Karena hasil pemeriksaan semua baik-baik saja, aku dipulangkan padahal keadaanku masih sama saat masuk tadi. Saat dibawa pake kereta menuju ke mobil aku tiba-tiba teriak saat melewati ruangan yang ku lihat dipenuhi bayi yang bersimbah darah. Aku teriak ke arah suster, ke suami, ke semua orang yang ada di situ bahwa yang mereka pijak itu adalah bayi. banyak mayat bayi, banyak darah. Aku didorong menuju ke mobil dan dibawa ke tempat teman suamiku yang selama ini ikut mengobati aku secara non medis. Selama perjalanan dari rumah sakit menuju ke rumah Mas G, aku masih kesakitan dan setengah tak sadarkan diri. Sampainya di rumah Mas G, dia coba mengobati ku. Bukan cuma suami yang mengantar tapi keluarga pun ikut, bahkan salah satu sahabat ku waktu itu juga datang dengan keluarganya, untuk melihat keadaanku. Di sana aku coba diobati tapi entah katanya aku sudah dibawa ke alam sebelah. Saat itu aku masih merasa berada di dua alam, bahkan di situ aku masih menyebutkan hal yang tidak masuk diakal. Aku melihat buaya, banyak buaya, seperti berada di perkampungan mereka. Aku merasa semua akan berakhir. Sebentar aku kembali ke duniaku setelah itu aku balik lagi ke dunia sebelah, ke wilayah mereka. Rasa lelah, rasa sakit semuanya bercampur jadi satu, bisikkan Kai dan semuanya yang mengajak aku untuk terus berzikir terdengar samar-samar aku seperti berada di dalam tempat yang hanya bisa mendengar tapi tidak bisa di dengar. Suara-suara bisikkan itu kadang jelas kadang tidak. Masih dengan nafas yang sesak, perlahan aku mulai tidak mengenali sebagian orang-orang yang ada di dekatku, bahkan sahabatku Tica, tak kulihat lagi berwujud dia, dia bukan dia tapi sosok yang ada di badannya. Aku ingat diantara nafasku yang terputus putus sesekali aku berteriak ke suamiku. "Tolong Yah! tolong Yah!! Dia terus mengajak ku untuk ber Istighfar. Tak ada jeda istirahat padahal dari siang hingga malam keadaanku masih sama. Keluarga dan temanku pulang tinggal suami dan mas G beserta istrinya yang bersamaku. Malam semakin larut tak ada yang berubah aku masih sama seperti sebelumnya malah tambah parah. Aku sampai muntah lumpur, buang air besar, hingga mengencingi diri sendiri. Mas G dan suamiku berusaha menolong ku tapi mereka tak bisa melakukan hal yang lebih untuk mengakhiri penderitaan ku waktu itu. Malam sudah sangat larut, keadaan ku semakin memburuk dengan nafas yang bertambah sesak luar biasa, sesekali aku ber Istighfar, sesekali kembali berucap minta tolong. " Tolong Yah!! Tolong aku gak mau! Aku lelah" Kalimat itu berulang kali aku ucapkan, saat itu aku seperti berada dalam kubangan air, lumpur. Sementara Mas G sedang bersemedi mencoba memasuki alam yang sedang ada aku di dalamnya. Semua cerita yang diluar kesadaran ku diceritakan oleh suamiku kembali saat aku sehat. Hingga diujung kelelahan aku ingat aku sadar sambil menarik nafas perlahan dan berat .... "Yah aku sudah gak kuat, aku lelah, aku capek!" Tapi suamiku mengingatkan aku untuk terus ber Istighfar. " Istighfar sayang, dilawan yaa, di sini ayah dan Mas G bantu doa yah." "Aku sudah gak kuat yah." Lalu terdengar bisikkan kai membimbingku mengucap syahadat. "Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah". Ucapku dan berakhirnya ucapan itu aku total hilang kesadaran. Kata suami .... Malam itu untung ada tamu Mas G yang kebetulan juga teman dan pasiennya. Dia datang dengan kendaraan roda empat miliknya. Di daerah Mas G yang namanya angkot itu susah luar biasa, gak seperti sekarang yang bisa dihubungi langsung via online. Karena aku sudah hilang kesadaran mereka segera membawaku ke rumah sakit besar, namun ditolak karena peralatannya yang tidak memadai. Suami cerita jika malam itu sekujur tubuhku sudah membiru, napas ku juga udah satu-satu. Aku dibawa ke rumah sakit yang lain sampai disana aku langsung ditangani dokter Suamiku sudah dimintai tanda tangan yang isinya jika terjadi sesuatu bukan kesalahan rumah sakit. Aku di pindahkan dari ruang ICU keruangan yang khusus. Aku koma kurang lebih 4 hari. Selama itu lah keluargaku mengira aku sudah mati padahal tak ada yang boleh mendahului kehendak Allah kan. Mungkin karena panik jadi pikiran mereka dipenuhi hal yang macam-macam. Semua keluarga dihubungi. Aku sempat mengalami sedikit perjalanan spritual dan di saat aku koma aku melihat diriku sendiri sedang tertidur di lorong yang gelap dengan satu titik cahaya dan kai membangunkan aku. meraih tangan ku, dan mengajak ku pulang disaat itulah entah itu pagi, siang apa malam aku kemudian tersadar. Perlahan ku buka mataku, berusaha menyadarkan diri dengan keadaan yang masih kurang jelas terlihat. Dengan tangan diikat kain ke besi tempat tidur, mulut dan hidung tersumpal selang dan peralatan lainnya yang menempel di tubuhku. Tut!!Tut!! Terdengar suara mesin peralatan di sekitarku. Sakitnya luar biasa. Tubuhku terasa kaku. Kulihat suamiku di sampingku, dia terlihat seperti sedang menangis. "Selamat datang kembali sayang." Bisiknya pelan dengan sedikit senyum dibalik wajah sedih sekaligus bahagia dengan sadarnya aku. Aku hanya bisa merespon dengan air mataku. Perjuangan ku tidak hanya sampai disitu. Bergantinya tahun aku kembali masuk ke ruang ICU lagi, Dengan sakit dan masalah non medis yang sama bahkan aku hampir kehilangan anak kedua yang aku kandung saat itu tapi atas seizin Allah SWT, Kai Putih, suami dan semua doa-doa dari teman-teman dan kerabat akhirnya aku bisa menulis semua yang aku alami ini kembali. Sang raja dan pengawalnya tidak akan membiarkan aku begitu saja, dari cerita suami yang aku dengar, malam itu Mas G berhasil masuk ke alam mereka untuk menarik aku kembali, dia masuk ke dalam goa dengan aroma anyir yang luar biasa dan melihat aku beserta beberapa pengawal raja, mereka bahkan sempat bertarung. Aku sudah berada di singgasana untuk melangsungkan acara pernikahan. Singgasana yang megah itu yang aku lihat namun yang di lihat Mas G adalah hanya beberapa gedebok pisang yang mengapung. Aku berhasil kabur dan keluar dari sana dalam keadaan sekarat dan tersadar setelah beberapa hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN