Pedatuan

1778 Kata
Jangan dikira berteman dengan buaya gaib dari khodam leluhur tidak memiliki resiko, tentu dan pastinya ada. Semua bermula dari mimpi. Mimpi di masa kecil Mimpi yang setelah dewasa aku sadari bahwa itu bukan hanya sekedar mimpi karena hingga sekarang mimpi itu tidak pernah terjawab kan. Mimpi di siang menjelang sore waktu itu, mimpi di gandeng mamak masuk ke dalam hutan lalu di terjang seekor buaya besar yang entah muncul begitu saja hingga aku terbangun karena kaget, aku terduduk dengan memegang telinga kiri ku yang menjadi lubang tempat anting aku itu robek terbelah jadi dua. Anting emas berbentuk cincin itu hilang entah kemana dan aneh nya robekan itu tidak luka, tidak berdarah sedikit pun, sakit pun tidak jadi seperti robekan terbelah yang udah tahunan. Aneh nya itu terjadi saat buaya besar itu menerjang ku hingga aku terduduk dengan Penuh kebingungan. Mimpi ini tidak pernah terpecahkan hingga sekarang. Di usia beranjak dewasa aku baru memberanikan diri bertanya soal siapa Kai Putih, sosok yang bisa berubah wujud menjadi manusia juga seekor buaya putih. Buaya putih yang cukup besar namun terlihat sedikit gelap mungkin karena usianya yang sudah cukup tua. Aku tidak pernah menyangka saat dulu saat sering kerasukan, aku mengalami banyak hal soal gaib. Diantara rasa takut, kebingungan dan semuanya, pelan-pelan aku pelajari setiap kejadian yang aku alami. Sebagian terjawab sebagian lagi tidak bahkan aku sempat menolak semua yang aku alami itu meski sudah aku lalui. Rasa penasaranku terjawab saat aku bertanya pada nenek soal kemalangan-kemalangan yang menimpaku, soal mimpi-mimpi ku, nenek menerangkan sedikit tapi buat ku itu sudah lebih dari cukup meski rasa penasaran soal siapa dan kenapa itu selalu terus muncul dipikiran ku. Orang tua dari mamaknya nenek memiliki kembaran hanya saja kembaran gaib seekor buaya yang bisa menjelma menjadi manusia dan dia adalah seorang pria, itulah kenapa di sebut Pedatu-an. Sejak itu di pelihara. Tiap tahun bahkan tiap ada perayaan keluarga nenek selalu mengadakan ritual melarung sajen yang isinya, pisang, ayam, telur ,gula merah dan yang lainnya, untuk di larung ke sungai atau laut yang ada dia sekitar dan kebiasaan ini juga dilakukan oleh mamak. Saat kecil aku tidak pernah melihat mamak melarung hanya keluarga saudara mamak yang melakukannya. Saat itu aku duduk di bangku sekolah pertama, aku melihat satu dari sepupu aku itu kerasukan dengan mata yang terlihat putihnya saja, dia berjalan masuk ke dalam laut dan hilang beberapa saat, anehnya tak ada kekhawatiran sama sekali pada kedua orang tuanya seolah hal ini adalah hal yang biasa. Kata mereka nanti juga muncul dan pulang sendiri. Aku bahkan pernah menyaksikan saat kami lagi asyik mandi dipinggir laut tiba-tiba saja dia terlihat pucat lalu matanya naik ke atas menyisakan warna putihnya saja terus masuk ke dalam air. Tapi anak seusiaku waktu itu hal-yang Al seperti itu tidak membuat kami shock dan heboh. Saat naik ke sekolah menengah tingkat atas, hubungan ku dengan Kai sempat hilang dalam beberapa tahun. Aku tak pernah melihatnya lagi, dan bisikan-bisikkan itu hampir sama sekali tak terdengar. Hingga aku memasuki usia 17 Tahun, penampakan para gentayangan mulai kembali muncul satu persatu entah aku yang melihat mereka atau mereka yang memperlihatkan sosoknya padaku, yang jelas semua terlihat seperti nyata. Aku bisa melihat mereka bukan hanya melihat tapi kami bisa berinteraksi. Awalnya mereka hanya menampakkan diri sama seperti Kai, awalnya hanya suara bisikkan tapi kemudian dalam wujud, dulu saat kecil aku memang sudah melihat sosok kai dan bisikkan nya tapi tak sejelas saat aku dewasa mungkin karena masih polos dan kurang pengetahuan. Dan saat Kai mengajak ku ke acara pesta perayaan bayi buaya yang baru lahir, kai menampakkan wujud lainnya yaitu manusia. Aku dan Kai kembali Akrab kalau dulu saat masih kecil Aku tak pernah berbalas interaksi dengan nya secara langsung, hanya melihat, mendengar dan mengikuti. Tapi sekarang tidak, aku dan Kai sudah berpetualang ke alam di mana para buaya itu tinggal dan bermukim dan aku melihat mereka semua dalam sebuah kawasan yang memiliki sebuah kerajaan. Dan kerajaan itu memiliki raja yang sangat sekali menyukai yang namanya perempuan untuk dia jadikan istri dan tujuan dari semua itu hanyalah untuk memperkuat sebuah ilmu yang dia anut. Aku adalah saksi dan korban dari kisah yang mungkin ini hanya dianggap halu sebagian orang tapi mereka ada dan percayalah selain dunia ada alam-alam lain yang tidak pernah diketahui keberadaannya dengan mata terbuka. Alam di mana yang tak ada di logika manusia, jika pun ada itu karena mengalaminya. Aku pikir setelah terpilih jadi penerus dari khodam leluhur yang berupa Pedatu-an, semua selesai, mengetahui lalu menjalankan ritual pelarungan, semua akan baik-baik saja karena tiap tahun di lakukan ya dan resikonya jika tak melarung karena lupa dan sebagainya resikonya adalah di ganggu. Ini adalah sebagian hal yang aku ketahui sebelum aku berpetualang ke alam mereka di temani kai. Ternyata gak seperti itu. Khodam dari leluhur itu melindungi bukan menyakiti siapa yang sedang dia dampingi, menuntun ke jalan yang benar bukan sebaliknya. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa marah hanya karena lupa di beri sajen. Jauh dari yang dikira makanan mereka disana itu udah tersedia dengan sendirinya lebih banyak dan lebih lengkap. Larung itu hanyalah perantara untuk menghormati dan mengingat mereka, jika tak ada ya tak apa, cukup dengan melalui doa. Ini lah yang di manfaatkan oleh oknum siluman-siluman buaya yang jahat. Sama halnya seperti manusia buaya-buaya itu juga ada golongan hitam dan putih, ada yang baik juga ada yang jahat dan alam di mana mereka tinggal itu sama persis seperti di alam dunia yang memiliki wilayah, perkampungan dan buaya-buaya yang berubah wujud jadi manusia. Seperti perkampungan mereka hidup layaknya seperti manusia, kebanyakan dari mereka bertani dan kampung mereka sangat subur dan dekat dengan air. Baik itu air dari sungai, kali ataupun laut, yang jelas kehidupan mereka tak jauh berbeda dengan kehidupan manusia pada umumnya. Hanya saja desa atau kampung itu bisa terlihat sangat ramai sekaligus bisa terlihat sangat sepi seperti tak berpenghuni. Seperti yang aku bilang ketika aku masuk ke dunia mereka aku melihat aku ada di tubuh lain yang mirip dengan ku namun terlihat lebih muda dari usiaku. Anehnya apa yang dia rasakan dan pikirkan aku juga merasakannya. Dan apa yang kami pakai juga berbeda perempuan itu hanya menggunakan kain berpadu kemban yang melilit di tubuhnya. Memang ada kemiripan jika aku memperhatikannya, terlebih jiwa kami satu menyatu. Ada waktu waktu tertentu dimana jamnya aku masuk ke dunia sebelah ke alam mereka dan mimpi adalah salah satu jembatan, begitu mata di pejamkan petualangan itu aku mulai. Diawal-awal kau mengajak ku tapi setelah beberapa kali memasuki alam tersebut, kai menunggu setelah aku masuk ke dalam. Mimpi hanyalah sebuah mimpi tapi tidak jika sudah menembus air dan melaluinya seperti pintu yang terbuka masuk ke dalam perkampungan dan Itu ada dibalik air laut yang membentang luas. Apa yang pernah aku liat di film-film tidak semuanya imajinasi ada beberapa kesamaan yang terlihat seperti sebuah ke haluan namun itu benar terjadi. Entah itu secara kebetulan atau sang penulis memasukkan kisah nyata itu ke dalam tulisan yang bukan dari cerita nyata, bisa saja namun aku tak peduli karena ketika memasuki dunia nyata semua sudah bukan candaan lagi. Aku mulai sering mengunjungi tempat yang sama berulang kali, tempat yang tidak pernah ada di dunia nyata ku. Dan sejak itu aku sering di kunjungi pria tampan namun aneh nya setiap kami bertemu tak jarang ada beberapa sosok leluhur dari kami yang selalu muncul. Siapa mereka? Aku menyebutnya para tetua, karena jika dilihat dari usianya, mereka lebih tua dari sebutan nenek, meski salah satu diantaranya juga ada. Aku menyebut kami itu karena disaat-saat tertentu tetua itu adalah kerabat dari pria itu. Aku bahkan tak mengenalinya sama sekali, dan anehnya pria itu menyatakan perasaan sukanya padaku. Bukan sekali atau dua kali aku terus saja menolak. Meski look-nya terlihat sangat menarik, aku tau bahwa semua itu hanya tipu daya jin saja. Aku sudah tidak menganggap apa yang terjadi ketika mataku terpejam atau ketika aku terlelap kisah yang ku lalui adalah mimpi, mimpi tidak mungkin berulang kali, mimpi tidak mungkin bisa keluar masuk lalu keluar dari mimpi tersebut. Ini berbeda dan aku harus mengikuti permainan ini. Permainan di mana aku harus menghindari tidur yang lama. Tepatnya aku tidak ingin tidur. Kalau pun tidur waktunya hanya yang kumiliki hanya 2 atau 3 jam saja. Aku sadar itu gak benar, bahkan aku bisa dipaksa ngantuk padahal siangnya aku sudah tidur dan malamnya sudah menyeruput beberapa cangkir kopi buat berjaga-jaga tetap ngantuk. Apa yang ku alami beberapa hari ini ingin sekali aku ceritakan pada seseorang tapi entah mengapa tak ada tempat yang pas untuk aku menceritakan semuanya kalaupun aku cerita hanya potongan-potongan saja tidak secara keseluruhan. Kai masih sering mengajakku bertemu meski demikian kai tidak pernah bercerita tentang apapun jika tidak aku yang tanya atau dalam keadaan urgen. *** Hari ini aku dan suami diajak temannya mengunjungi gurunya, habib Ma, tak ada niat khusus dengan ikutnya kami, hanya sekedar silaturahmi. Ketika sampai di sana tanpa bicara Habib sudah mengetahui tentang siapa aku. Kadang aku mikir luar biasa ya ilmu mereka bisa langsung tahu siapa di belakang dan yang dialami orang-orang yang ada di hadapannya. Bahkan Habib menceritakan kisah ku saat masih dalam kandungan, bahwa mereka sudah menandai aku, bahwa aku adalah yang terpilih dan aku memiliki tanda itu di tubuhku. Percaya tak percaya tapi apa yang beliau ceritakan nyaris semua benar. Aku sampai tertegun meski beliau bicara tangannya tak henti menggeser satu persatu biji tasbih yang sedari tadi di pegang nya. Meski mengetahui begitu aku tak serta Merta mengiyakan apa yang di ucapkan beliau, cukup aku ketahui saja bahwa apa yang dia katakan itu memang benar. Aku teringat ucapan nenek, yang menceritakan padaku saat mamak mengandung aku mamak sakit dan waktu dilahirkan pun, aku lahir tanpa bantuan siapa pun, setelah aku keluar baru Sanro makkiana datang. **** Sanro Makkiana adalah dukun beranak yang berasal dari suku Bugis, Sulawesi. **** Dan setelah beberapa minggu, mama sakit dan kerasukan hampir seluruh tubuh mamak, habis mamak gigiti. Kata nenek mama kerasukan siluman buaya. Nenek, mamak dan keluarga lain semua berpikir jika kerasukan itu adalah ulah dari khodam leluhur yang dimiliki oleh keluarga padahal sebenarnya tidak dan aku pun juga tadinya juga berpikir demikian dan setelah aku mengalami dan melaluinya sendiri aku baru mengetahui bahwa pelakunya adalah siluman buaya lain yang kejam dan jahat. kalaupun mereka merasuki biasa hanya untuk menyampaikan sesuatu atau menjadi penetralisir jika ada sosok lain yang mengganggu. Pernah terpikir bagaimana bisa leluhur memiliki kembaran dengan siluman atau memiliki ilmu dari siluman, untuk apa? Apakah untuk kekayaan, kekuatan atau awet muda. Apa pun alasannya meminta bantuan pada mereka adalah hal yang keliru karena pastinya akan ada perjanjian dan perjanjian yang mereka buat itu harus sampai ke anak cucu dan entah kapan terputusnya. Tapi karena para leluhur dulu tak memikirkan itu generasinya lah yang harus merubah semua itu pelan-pelan tanpa meninggalkan tradisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN