Kinanti

2173 Kata
Berawal dari mimpi, ketika aku tak sengaja menjadi bagian dari kedua orang tuanya yang di dalam mimpi itu mereka sedang berkelahi dan dikejar oleh siluman lain, aku menyaksikan itu dan membantu mereka, awalnya sih nggak! Karena aku pikir tadinya kedua orang tuanya jahat, ternyata aku keliru. Sejak beberapa kali bertemu di mimpi aku tidak menganggap ada hubungan khusus karena kehidupan di duniaku waktu itu sedikit rumit, ya hanya ku lalui saja dengan diam. Hari berlalu .... Suatu malam, tepatnya tengah malam, entah kenapa suasana tiba-tiba hening, dengan memejamkan mata sesaat, lalu semua bergerak pelan adalah pertanda pergantian waktu dari alam nyata ke alam gaib dan aku sudah beberapa kali melalui itu. Aku sudah berada di satu tempat, tempat yang jauh dari yang namanya keramaian. Aku berdiri tepat di depan sebuah gubuk, gubuk sederhana yang terbuat dari tembikar dengan perpaduan batang bambu dan kayu. Tepat di belakang sisi kananku berdiri seorang perempuan cantik dengan sanggul serta pakaian yang dia gunakan sejenis kebaya. Perempuan itu cantik tapi cacat fisik karena ku lihat dia tak memiliki kedua kaki. Dia hanya diam dan menatap ke arah gubuk itu seperti diriku. Saat itulah aku dikagetkan dengan sosok ular besar yang muncul tiba-tiba, tentu saja aku kaget dan berusaha mengusirnya dengan mengucap "Allahuakbar" "Hush! Hush!!' Sambil mengusirnya dengan tanganku. Aku pikir dia ingin menyakitiku ternyata nggak. Ular itu bukan di lantai ataupun di tanah tapi posisi dia mengambang menghadap ke arah kami. Setelah beberapa saat, ular itu hanya diam lalu menghilang dan masuk menembus gubuk. Anehnya aku bisa melihat semuanya dengan sangat jelas. Aku juga bisa mengetahui apa yang ular besar itu pikirkan. Dalam gubuk itu aku melihat dia mengeluarkan seekor ular bukan berupa telur tapi seekor anak ular. Ular besar itu sengaja membawaku ke sini agar aku menyaksikan itu dan dia Ingin aku menyampaikan ke perempuan berkebaya itu bahwa anak yang baru saja dia lahir kan, itu adalah saudara yang akan menjaga dia dari kekurangannya. Yahh ... karena perempuan itu ada disitu langsung saja aku sampaikan sama persis seperti yang ular besar itu ucapkan. Aneh saja kenapa harus aku jelas lagi padahal perempuan itu kan juga lihat seperti yang aku lihat. Setelah menyampaikan semuanya, seperti biasa aku tersadar di tengah-tengah keremangan di ruang tidurku. **** Setelah kejadian itu, aku tak pernah bermimpi ular itu lagi. Tapi sebulan kemudian, aku melihat seekor ular yang menjelma menjadi perempuan cantik yang datang menghampiriku, tak lama hanya beberapa menit, dia sempat memperkenalkan diri bahwa namanya adalah Kinanti. Perkenalan yang singkat diantara kami. Setelah itu Kinanti sering hadir di kehidupan ku, ada kisah di mana saat aku pernah tanpa sengaja masuk ke satu tempat, karena saat itu lagi ngobrol dengan teman, yang tiba-tiba spontan masuk ke alam bawah sadar. Ternyata sosok dibalik orang itu mendatangi aku balik dan ingin merasuk ke tubuhku, tapi Alhamdulillah dengan kuasa Tuhan dan hadirnya Kinanti aku bisa baik-baik saja dan kembali sehat dari sakit yang mendadak karena di hampiri sosok yang tak sengaja terlihat olehku. Kinanti tidak hanya menampakkan dirinya padaku, tapi juga ke suamiku. Suami ku beberapa kali di datangi ular besar berwarna hijau. Aku sudah pastikan bahwa itu adalah Kinanti karena apa yang aku lihat sama dengan yang suami aku lihat. Kinanti menjadi bagian dari kisah misteri yang aku lalui. Aku gak menyangka aja, ular kecil yang sebulan lalu aku lihat dilahirkan secara gaib itu secepat itu sudah menjadi perempuan dewasa yang cantik. Terkadang aku beberapa kali masuk ke dunia gaib dari orang-orang yang sedang aku ajak ngobrol dan itu pasti membawa dampak tersendiri untukku, salah satunya ya mendadak berubah mood dan sakit. Tapi tetap aku lalui, mau gak mau karena semua terjadi secara spontan tanpa aku ingini. Saat itu Kai dan Kinanti sekeluarga adalah sosok gaib yang dekat denganku. Sementara yang lain hanya lalu lalang saja. Ini sebelum aku kenal dengan si M. PERKAWINAN DUA SILUMAN. Dulu ... Kai selalu datang mengajakku jalan-jalan dan salah satunya jika ada perayaan di dunia sebelah, dunia buaya aku menyebutnya. Saat aku sedang bekerja Kai selalu datang dan membuat aku tertidur alias pingsan, saat itulah Kai mengajakku ke sebuah acara ,seperti biasa Kai dengan berwujud buaya membopong aku diatas badannya kami melewati aliran air yang luas, pokoknya serasa terbang diatas air, meski dulu pertama kali aku sangat ketakutan tapi karna biasa rasa takut itu jadi hilang dengan sendirinya. Sebelumnya aku udah cerita apa yang kami lakukan dalam gua yang di penuhi oleh para buaya dengan begitu banyak makanan. Iya sedang ada perayaan atas lahirnya buaya kecil. Kai mengajakku dan aku sangat excited! Pemandangan yang tak kan pernah bisa aku temui di dunia nyata, aku bersama dalam satu ruangan dengan puluhan buaya, hanya aku dan Kai yang berwujud manusia. Tak ada rasa takut sama sekali, mungkin karena aku di dampingi oleh Kai, kami duduk di atas batu besar. Goa yang kupikir gelap ternyata terang entah dari mana sumber cahayanya, di tengah-tengah gua di hadapan kami ada aliran air seperti di pinggiran kali dengan bebatuan dan beberapa buaya ada didalamnya. Itu adalah kisah dimana pertama kali Kai mengajakku ke acara atau perayaan yang ada di dunia sebelah. SEKARANG .... Malam ini .... Mana Kai ?!Kenapa aku berjalan sendiri kenapa aku tiba-tiba berada di atas air kemana mereka akan menuntunku, bagaimana bisa aku berada diatas air tanpa beliau. Kenapa mereka semua datang, mereka pada mau kemana? Ada sedikit rasa takut campur bingung, tiba-tiba saja aku ada di dalam air dengan beberapa ekor buaya dan mereka berbaris mengarah ke satu tempat. Apa mereka sengaja berbaris sepanjang itu agar aku mudah melewati air. Seketika aku jadi teringat kisah si kancil dan buaya tapi ini tidak untuk di pijak, jadi aku seperti berada diatas salah satu mereka dan ikut berbaris menuju ke satu tempat. Dalam hitungan detik aku tersadar, pasti aku sedang bermimpi, segera aku baca doa tidur berkali-kali, Yaa Allah lindungi aku. Meski suasana kamar minim penerangan. Mataku masih bisa mengawasi, aku sentuh selimutku menariknya hingga menutupi sebagian tubuhku. Fath, anakku juga masih ada di samping ku. Namun secepat kedipan mata sekejap aja aku sudah kembali bersama mereka. Beningnya air sangat jelas terlihat olehku. Buaya-buaya itu berbaris panjang menuju sebuah tempat dan apa ini!! rasanya tadi tak ada, aku memegang beberapa batu yang berwarna sebesar telur puyuh tapi lebih lonjong sedikit. Ingin aku lepaskan tapi aku tak merasakan tanganku, kenapa aku bisa melihat batu-batu tapi tak merasakan tanganku menggenggamnya. Mereka masih berbaris seperti orang mengantre, buaya-buaya muda dengan ukuran yang sama bergerak menuju kesana, kesana mana? Kami hanya menyusuri aliran air hingga kami tiba di pinggir sungai, laut, entahlah karna aku tak tahu ini sungai apa laut. Aku melihat sebuah rumah di atas air yang penuh dengan keramaian manusia, tiba-tiba saja aku mendengar suara yang menjelaskan padaku .... "Ini adalah acara pernikahan dan sedang diadakan lamaran." "Ha!! siapa melamar siapa?!!" Saat aku lihat mereka naik menyentuh penyanggah kayu untuk naik ke rumah tersebut saat itulah sebagian dari mereka berubah wujud menjadi manusia. "Siapa yang akan menikah? "Lihat saja nanti kamu akan tahu" Hanya itu jawaban dari suara itu, suara yang aku nggak tahu itu suara siapa, apa itu Kai?? Ada apa sebenarnya, kenapa Kai tak menampakkan dirinya seperti dulu?. Sepertinya ada masalah dalam acara lamaran itu, entahlah! Itu yang aku tangkap dari apa yang aku lihat. Saat aku mencoba melangkah naik ke atas rumah dan mencari tahu, tiba-tiba! Aku terduduk dan tersadar kembali di keremangan malam suasana kamarku, Kemana rumah tadi?!! Astaga !!kepalaku sakit sekali, ditambah suara mengorok suamiku yang terdengar berisik, aku coba bangun kan dia agar dia merubah posisi tidurnya tapi dia tak menanggapi segitu nyenyak nya padahal dia bergerak. Ahh!!aku tutupi bantal saja kepalaku biar suara ngorok dia gak kedengaran tapi tetap aja kedengaran, aku masih mengulang membaca doa tidur juga masih menyebut nama Allah berkali-kali untuk memohon perlindungan. Saat ku pejamkan mataku .... Aku kembali lagi dan masih di atas air tapi kemana buaya-buaya lainnya, kemana mereka pergi, apa mereka semua sudah menjelma jadi manusia, sementara di tempat acara tadi sepertinya sudah agak sepi hanya ada seekor buaya dan diatas kepalanya ada seekor ular. "Apaa!!...Mereka pasangan itu!!." "iya mereka pasangannya!" Sahut suara yang dari tadi membalas pertanyaanku. Buaya itu membawa pergi pasangannya tiba-tiba seperti ada desiran dan kilatan yang menyapu kami kembali dan aku mengiringi mereka ke tempat dimana pertama kali para buaya menggiringku. Aku melihat mereka sampai ketepian, buaya itu seperti mempersilahkan ular itu turun dari atas kepalanya ada yang aneh pada ular itu, aku tak melihat ekornya, apa dia ular itu ?!! "Nanti juga kamu tahu?" Apa pernyataan suara itu ingin bilang kalau ular itu adalah Kinanti. Kinanti kan siluman ular bagaimana bisa dia menikah dengan siluman buaya. Gak masuk di akal. Rasanya mustahil bahkan mengalami kejadian ini juga mustahil, aku juga teringat dengan batu-batu yang berwarna-warni yang ada di tangan ku. Kemana batu-batu itu? Aku sama sekali tak melepaskannya. Saat itu bersamaan aku ingin menutup wajahku tapi ya Allah rasanya tak bisa bergerak, kedua tanganku serasa beku, keram aku bahkan bisa mengingat dengan jelas merasa tak menindih kedua tanganku, kenapa bisa begini mungkin karna aku sakit, aku tersadar saat subuh tiba dan Alhamdulillah aku tak balik lagi *** Selang berapa bulan dari acara pernikahan itu. Ragaku sakit namun jiwaku berpetualang hingga kemana-kemana, hingga bertemu dengan Anna dan Si M alias Marliani hingga aku di tangkap lalu kabur. Iya kisah yang ini pernah aku singgung di kisah ku yang sebelumnya di 'Marliani Bukan Kunti' kisah dimana aku di tangkap oleh orang-orang yang hidup di jaman primitif yang masih memuja dewa. Saat itu aku di tangkap dengan kedua tangan terikat menyaksikan pemandangan yang tidak pernah aku pikirkan bisa berada di situasi yang sangat dekat dengan mereka. Menatap wajah-wajah mereka, datar tanpa mimik namun berbanding terbalik dengan sikap dan apa yang mereka lakukan. Mereka menangkapi orang-orang yang bukan bagian dari mereka untuk di jadikan tumbal sebagai penghormatan pada dewa matahari yang mereka sembah. Tiang-tiang menjulang tidak hanya satu tapi ada beberapa Dan saat itu setelah diseret masuk ke kampung mereka aku di lempar jadi satu dengan beberapa tubuh tanpa busana hanya potongan kain-kain yang menutup daerah kemaluan. Tergeletak dan tak sadarkan diri. Kecuali aku, aku berpura-pura tak sadar mengamati apa yang mereka lakukan setelah itu. Ketakutan yang begitu besar tak aku tampakkan, meski berada di alam lain tetap saja aku bisa merasakan bagaimana kuatnya jantungku berdetak saat melihat mereka menyeret satu dari mereka ke tiang persembahan. Beruntungnya Kinanti dan suaminya muncul sebelum giliran ku tiba. Mereka membantuku kabur dari acara persembahan itu. Meski kami hampir ketahuan tapi kami tetap berhasil keluar, keluar dari kampung primitif itu. **** Di dunia sebelah waktu berlalu dengan cepat tapi berjalan sangat pelan. Kinanti yang pertama kali ku lihat saat dilahirkan hanya hitungan Minggu sudah menjelma jadi perempuan cantik dan beberapa bulan kemudian sudah melangsungkan pernikahan, waktu yang sangat cepat untuk tumbuh besar. Pernah satu malam tepatnya jam 12 malam, saat itu aku sangat gelisah tak bisa memejamkan mata jadi aku alihkan dengan bermain ponsel, tiba-tiba kakiku ngilu sebelah, perasaan ku gak enak dadaku sesak, serasa ada energi negatif yang mau masuk ke dalam raga. Suami ku ada di sebelahku. Dia baring sambil sesekali memejamkan mata tapi gak tidur. "Yah!! Kenapa ya kakiku kok tiba-tiba gak enak, serasa ngilu dan sakit!" Ceritaku sambil memukul-mukul kakiku. Rasa sakit dan ngilu berlangsung beberapa menit, lalu aku teringat apa yang di sampaikan teman, jika perasaan gak enak dan ngalamin hal aneh yang secara tiba-tiba segera ambil air wudhu terus zikir. Segera aku bangkit namun seperti ada yang menahan, aku sadar dan ini bukan mimpi karena aku tidak sedang tidur. Aku terus aja berzikir "Ada ular besar, baru saja melintas dan kulitnya cantik berwarna hijau." Sahut suamiku yang tiba-tiba membuka matanya dan bersuara. Anehnya usai dia bilang begitu rasa sakit di kakiku hilang secara tiba-tiba juga. Ciri-ciri ular yang dia sebutkan tadi sama persis seperti ciri-ciri Yang ada pada Kinanti, apa benar tadi Kinanti datang. Aku bahkan tak merasakan keberadaannya, apa karena ada seseorang berusaha menggangguku lalu dia datang menghalang. Yang terjadi emang di luar nalar tapi aku mengalaminya dan itu adalah pengalaman yang luar biasa karena di waktu yang bersamaan aku bisa ada dua alam. Yang secara logika itu gak masuk diakal. Sejak sakit lama aku tak bertemu Kinanti, entah dia dimana? Mungkin sudah bahagia bersama pasangannya, sejak itulah aku mengenal Anna dan si M. Lama menanti kabarnya hingga kami bertemu kembali dalam mimpi. Aku melihat Kinanti. Aku ada di dirinya dan kami menyatu hingga aku bisa terus mengetahui dan mengikutinya menyusuri jalan. Yang ada dipikiran waktu itu adalah harus mencari dan menemukan air, dia harus masuk ke dalam air. Sementara satu-satunya air yang dia maksud adalah air laut di bawah jembatan di sekitar tempat tinggal ku. Aku terus mengikuti dia hingga kami sampai di tujuan lalu kami terjun ke dalam air, beberapa saat kemudian kami kembali ke atas jembatan tapi saat keluar dari air laut Kami tidak sendirian tapi bersama dua ekor lagi ular yang sama besarnya seperti dia, kami berjalan beriringan menuju asal di mana tempat semula kami datang. Kedua ular itu adalah anak-anak Kinanti, tak terasa waktu di alam gaib begitu sangat cepat, Kinanti sudah memiliki dua orang anak dan mereka juga tumbuh dengan cepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN