Dirasuki Arwah PSK

2063 Kata
Hari menjelang sore. Aku harus bergegas pulang karena anakku segera harus aku jemput, setiap hari dia aku titipkan di rumah pamanku, yang dijaga oleh istrinya. Pekerjaan menuntut aku untuk menitipkan buah hatiku setiap harinya, kecuali ada waktu libur dari tempat aku bekerja. Sore ini kami berencana pergi ke Kota. Ada keperluan anakku yang juga harus aku beli. Waktu menunjukkan pukul 23.20. Saat pulang dari belanja kendaraan roda dua kami melewati jembatan yang sebelumnya tadi juga kami lewati sewaktu pergi dan saat pulang melewati itulah. Tanpa sengaja aku melihat perempuan cantik, terlihat seksi dengan dress mini sambil menenteng tasnya, seperti sedang menunggu sesuatu, tapi kemana kedua kakinya padahal dia terlihat sedang berdiri, tepatnya melayang. Aku hanya diam menatapnya sepanjang jalan saat melaluinya, apa yang dilakukan perempuan itu di jam seperti ini, berdiri di samping jembatan yang dipenuhi ilalang. Aku coba tenang, kupeluk erat tubuh anakku bahkan aku sengaja membuka percakapan dengan suamiku, bertanya padanya apa dia melihat perempuan yang aku liat tadi. Tapi suamiku malah balik bertanya. "Perempuan yang mana, dimana? Aku diam sesaat, percuma menjelaskan padanya, pasti akan memulai perdebatan yang panjang seperti biasanya, lagi pula dia memang gak akan bisa lihat, karena perempuan itu bukan manusia. Entah bagaimana bisa sepanjang perjalanan sosok perempuan itu memenuhi pikiranku, sekilas tentang dirinya terekam jelas di penglihatan hingga membawaku ke sebuah rumah kayu yang memanjang, terlihat cukup usang, mungkin karena warna cat rumah itu udah sedikit pudar atau karena suasana yang nampak buram dari penglihatan ku. Sesaat aku sudah berdiri tepat di samping meja mereka, di keremangan lampu yang temaram, perempuan cantik itu sedang asyik duduk bersama teman wanita lainnya dengan beberapa pria sedang menikmati minumannya. Perempuan itu lebih banyak diam dibandingkan dengan rekan-rekan wanitanya yang lain. Aku amati rumah ini dan sekitarnya, jelas rumah ini seperti rumah para PSK tempat para wanita-wanita itu menjajah kan tubuhnya. Gelak tawa terdengar bersamaan dengan suara musik yang terdengar sedikit nge-beat Perempuan itu mulai bangkit dari tempat duduknya sambil dipeluk pria separuh baya yang terlihat sedikit mabuk. Mereka menuju ruangan lain, dan meninggalkan teman lainya yang juga tengah asyik bercengkerama satu sama lain. Terlihat pria yang memeluk perempuan itu berjalan sedikit oleng saat menuju ke kamar. Aku masih terdiam hingga kurasakan gerakan tubuh anakku menyentuhku, rupanya dia terbangun dan aku nyaris terjatuh ke belakang karena kaget. "Hmm ... bukannya aku tadi di rumah bordirr itu, kenapa sekarang di motor, ahh!! bukannya aku memang tadi disini, apa aku tertidur?" Gumamku dalam hati. Menyadari sebentar lagi kami sampai aku berusaha tetap sadar, aku peluk anakku kembali, lembutnya angin malam menyapu wajahku, membuat aku kembali hanyut dan kembali ke rumah bordir tadi. Suara musik itu terdengar lebih nyaring. Aku susuri pelan-pelan satu persatu kamar yang ada di ruangan ini, aku menuju kamar yang dituju oleh pria tadi yang membawa perempuan itu. "Prang!! Bruk!!" Suara itu terdengar jelas diantara suara musik. Aku juga mendengar suara gelas, botol yang pecah, seperti di lempar. Suara gaduh itu membuatku penasaran, aku maju lebih mendekat ke arah suara itu. "Ada apa ya?" Pikir ku Terdengar Pria itu berteriak dengan kasar "Asuuu!! Dasar Pelacurr!!" Teriaknya mencaci maki Pria itu keluar sambil menyeret wanita itu. Kulihat dia memukuli perempuan itu sambil sempoyongan, perempuan itu hanya menutup wajahnya dengan kedua lengannya. Dia hanya menangis, sebagian dari rekan sekerjanya melerai dan menjauhkan dia dari pria bengis itu dan satu wanita lainnya memakinya habis-habisan. "Kenapa jualan kalo haid begoo, cari masalah aja kamu!! Yang pintar sedikitlah. Awas kalo pelangganku pada kabur yo!!" Teriak wanita itu geram. Sepertinya dia pemilik rumah bordir ini. Wajah wanita separuh baya itu terlihat sangat marah dan mengancam. Dia terus memaki, sambil meminta wanita lain untuk menggantikan posisi perempuan itu. Rupanya pria itu kecewa karena gagal b******a saat tahu perempuan itu sedang datang bulan dan tetap memaksa untuk dilayani, perempuan itu bersikeras menolak dan alhasil pria itu mengamuk membabi buta dengan menghajarnya. Saat suasana sudah mereda, kulihat wanita itu keluar sambil membawa tasnya. Dia sudah tidak menangis tapi masih terlihat wajah sedih dengan luka berdarah di bibirnya. Dia trus berjalan, menjauhi rumah panjang itu, di tengah malam begini mau kemana dia, suasana disini benar- benar sepi. Aku masih mengikutinya dari arah belakang dan kaget saat sebuah mobil laju menabrak tubuhnya hingga terlempar jauh, sepertinya dia sengaja melakukannya. Aku berlari mendekatinya, dia tak bergerak. Apa dia mati aku takut menyentuhnya. Aku bahkan tidak bisa berteriak minta tolong. Kulihat perlahan dia mulai bergerak, aku senang dia selamat tapi dia kesulitan berdiri, dia tidak bisa bangkit karena kedua kakinya sepertinya patah. Dia tersadar dan menangis kesakitan, aku tidak tahu harus berbuat apa sedari tadi aku hanya diam, aku tidak bisa menolongnya. "Bu sudah sampai" Teriak suamiku, suaranya yang tiba-tiba terdengar menarik ku kembali ke alamku. Aku kembali tersadar kali ini benar-benar tersadar. *** Apa yang terjadi semalam tidak aku ceritakan pada suamiku, meski aku tahu itu bukanlah mimpi. MENDADAK JATUH CINTA Sabtu ini aku pulang cepat, Aku bisa menikmati waktu lebih banyak bersama keluarga kecilku. Seperti biasanya, menghabiskan waktu bersama anak dan suami, menonton TV, ngemil bareng atau hanya sekedar bersenda gurau. Sesekali aku cek aplikasi chat ku, memastikan apa jualanku ada yang menarik para buyerku. Oh iya waktu itu aku juga berbisnis online menjual aneka barang seperti baju, tas, jam tangan, dan lain-lainnya. 'Ting!' Suara notifikasi dari ponselku berbunyi. Kubuka, ternyata dari Mas Wawan. Mas Wawan adalah teman yang baru ku kenal beberapa bulan lalu di sebuah sosmed yang kebetulan masih satu wilayah dengan ku. [Berapa harganya, boleh liat barangnya, ready gak?] Membaca notifikasi begitu tentu saja aku bersemangat, segera aku balas. [Ada mas] Balasku segera dengan mengirim gambar dan harga jam tangan tersebut. Setelah ngobrol beberapa saat sepertinya dia tertarik. Mas Wawan akhirnya memesan jam tangan tersebut. Deal!! keesokan harinya aku akan mengantar barang pesanan Mas Wawan, aku terpaksa harus mengantarnya di malam hari karena dari pagi hingga sore aku kerja. Kami janjian bertemu di suatu tempat setelah ijin suami dan menitipkan anakku di rumah saudaraku. Aku segera menaiki angkot. Dari posisiku menuju ke lokasinya, ya sekitar kurang lebih dua puluh menitan. Dalam angkot aku coba japri Mas Wawan dan bilang kalo aku sebentar lagi sampai dan benar di pinggir jalan aku sudah melihat Mas Wawan duduk menungguku di atas motornya. Aku berjalan menuju ke arahnya .... "Halo, mas Wawan ya," Sapa ku "Iya benar, Mbak May ya." jawabnya sembari balik bertanya "Iya," jawabku, sambil menyodorkan kotak jam tangan ke arahnya. Bukanya diterima tapi Mas Wawan malah menghidupkan motornya dan mengajakku untuk mencari warung makan. "Ayo Mbak kita cari warung, biar enak transaksinya". "Yahh, aku gak bisa lama-lama Mas soalnya anakku tak titipkan ke saudara tadi." "Gak lama kok Mbak sebentar aja." Aku diam sejenak ... yah karena terus memaksa aku menurut saja, hingga tiba - tiba aku merasa ada sesuatu, seperti hembusan angin yang masuk ke tubuhku saat aku menaiki motornya. Aku merasa aneh, aku seperti melihat perempuan itu di mataku. Ku peluk Mas Wawan dari belakang, aku cuma diam, sampai di warung pun aku hanya diam, tersenyum memberikan barang pesanannya dan mengambil uang pembayaran yang dia sodorkan padaku. Setelah itu aku tak banyak bicara, aku hanya tersenyum dan mengiyakan semua ucapan Mas Wawan, bahkan saat tangannya merangkul pundak ku, aku senang-senang aja, tapi tidak di bagian sisiku yang lain, aku menolak, ingin sekali ku tepis tapi tak bisa kulakukan. Gila! Apa yang sudah aku lakukan, aku berusaha sadar, berusaha keluar dari dalam yang bukan diriku. Mas Wawan beranjak, aku mengikutinya tapi mau kemana kami. Bodohnya aku tak bisa bertanya mau kemana, kami sudah ada di atas motor lagi, aku berusaha mengutarakan keinginanku untuk aku segera pulang, tapi tertahan di pikiranku saja. Mas Wawan malah memutar kendaraannya entah aku mau dia bawa kemana, pikirku apa mungkin dia mau membawaku ke rumahnya. Jalannya sangat sepi dan gelap, aku takut dan hanya bisa diam, rasanya mau loncat tapi gimana sepertinya ragaku tidak demikian, aku malah memeluk Mas Wawan. Hingga ada sebuah mobil di hadapan kami dan sorotan sinar lampunya membuyarkan pandanganku dan segera ku lepas pelukanku. "Loh Mas kita mau kemana, kok kita disini?" Segera ku pukul pundaknya. "Ayo antar aku ke depan aku mau pulang," Pinta ku. "Loh katanya mau lihat kontrakan?" Ucapnya dengan nada santai. " Ha!! Kapan aku bilang begitu, nggak mas, gak mau, aku mau pulang aja." Ucapku memaksa dia untuk berbalik arah. Untungnya dia gak nolak, dia putar balik dan aku segera bergegas turun dan menyetop angkot tanpa banyak bicara lagi. Mas Wawan pasti bingung dengan sikapku yang terlihat linglung. Ku tinggalkan mas Wawan dengan pandangan yang aneh ke arahku. Dalam angkot aku terus beristigfar, ya Allah apa yang sudah aku lakukan, kenapa jadi begini. Kenapa perempuan itu tiba-tiba muncul dan merasuk ke dalam tubuhku. Pasti Mas Wawan berpikir yang macam-macam tentangku. Berkali-kali aku mengutuk kebodohanku. Sejak kejadian itu mas Wawan tidak berhenti mengirimi aku teks, entah bagaimana bisa dia mengutarakan cintanya padaku, padahal dia tahu aku sudah berkeluarga. Pria berperawakan tinggi itu sepertinya sudah salah mengira dan berpikir aku juga menyukainya, padahal semua itu adalah ulah arwah perempuan PSK itu. *** Beberapa minggu kemudian "Tokkk!! Tokkk!! Tokkk!!" Suara pintu terdengar keras diketok. "Siapa malam begini bertamu, gak biasanya." Gumamku dalam hati. Aku menuju pintu dan pada saat membuka betapa kagetnya melihat Mas Wawan sudah berdiri tepat di hadapanku. "Mas Wawan, ada apa kemari, loh tahu alamatku dari mana?" Tanyaku sedikit kaget karena aku tidak pernah memberitahukan alamatku padanya. "Kalo cuma alamat, itu mah gampang di cari." Jawabnya singkat. "Kenapa Mas, apa jam tangannya rusak." Tanyaku sembari menawarinya masuk. "Ahh Nggak! Jam tangannya baik-baik aja kok." Ucapnya sambil menunjukkan jam tangan yang kebetulan dia pakai. "Apa kabar, kenapa gak pernah balas pesanku?" "Oh gak ada kuota Mas!" Jawabku dengan perasaan takut. Sumpah aku ketakutan banget, soalnya aku lagi sendirian di rumah malam itu. "Kamu itu kenapa sih? Sebentar bersikap manis, sebentar jutek, mau kamu apa." Tanyanya saat aku perlihatkan sikapku yang biasa aja. "Maaf mas soal kejadian malam itu, itu kesalahanku, aku gak seperti itu, anggap saja itu gak pernah terjadi ya." Kesalahan yang gak bisa ku jelaskan padanya bahwa itu bukan kesalahanku tapi kesalahan perempuan itu, tapi gimana menjelaskannya, pasti dia berpikir aku bohong. Panjang lebar kami ngobrol, akhirnya aku meminta Mas Wawan segera pulang meski dengan syarat dari nya agar aku tidak boleh mengabaikan pesannya lagi. Aku iyakan saja yang penting dia segera keluar dari rumahku. Aku jadi ketakutan sendiri, takut dia nekat akan datang lagi ke rumah, tapi aku gak peduli, yang aku takutkan jika perempuan arwah itu datang lagi, ahh!! pikiranku semakin kacau. Terpaksa No Mas Wawan aku blok! Aku harus tegas dan perempuan arwah itu gak boleh merasuki ku lagi. Kurang lebih Sebulan komunikasi kami benar-benar terputus, Syukurlah! Bukankah itu yang aku inginkan, mas Wawan juga tak ada datang ke rumah. Aku buka kembali jualan online ku tapi aku gak akan jual kalo yang nanya itu laki-laki, untuk sementara. Aku masih takut mengalami kejadian serupa. Malam itu Suamiku pulang dari rumah kawannya dan tak biasanya, aku menyambutnya dengan diam dan menungguinya hingga dia tidur. Sepanjang malam aku menatapnya saat tidur, aku begitu bahagia melihat dia, aku seperti sengaja menunggu saat dia terlelap, lalu mencumbunya dan tersadar saat pagi hari. Hal ini berlangsung hampir setahun dan korban nya gak cuman Mas Wawan, aku berusaha menghindari setiap kejadian saat arwah perempuan itu datang. Dan parahnya aku tidak punya tempat untuk menceritakan soal perempuan PSK itu pada siapapun. Malam itu aku pulang dari arah kota, waktunya sama persis dengan waktu saat aku melihat arwah perempuan itu di pinggir jalan. Saat melewati jembatan itu aku melihat dia sama seperti pertama kali aku melihatnya berdiri mengambang tanpa kedua kaki, memegang tas dengan wajah nya yang cantik dan pakaiannya yang sedikit terlihat seksi. Aku kembali ke masanya, masa dimana dia tertabrak mobil waktu itu Aku terus menatapnya, kami saling menatap, hingga terucap kata .... "Tolong berhenti mengikuti ku, berhenti mengganggu kehidupan ku, kesalahanku hanya satu karena bisa melihatmu. Aku tidak bisa membantumu tapi aku doakan semoga arwah mu tenang dan berhentilah menjadi PSK! Karena sebenarnya kamu tidak pernah ingin menjadi PSK,kan!" Kami masih saling menatap, aku hanya bisa melihatnya, air mata kami mengalir di pipi bersamaan. Hingga wajahku ke jedot helm suamiku. "Duh!! Pelan-pelan yah, sakit tahu!" "Iya maaf!!" Ucap suamiku, karena tak sengaja menabrak jalan berlubang, hingga membuat jidatku ke jedot helmnya dan menyadarkan ku dari perempuan itu. Aku tidak sempat mengenal lebih jauh siap perempuan itu, aku bahkan tidak mencari tau siapa namanya. Tapi sejak malam itu, dia sudah tidak pernah lagi merasuki aku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN