Yang namanya liburan itu selalu dinantikan apalagi jika liburannya beserta keluarga yang lain. Pastinya seru dan menyenangkan. Termaksud aku dengan keluarga besar ku.
Hari ini aku beserta keluarga, berencana berlibur ke luar kota. Kami akan mendatangi tempat-tempat yang katanya memiliki tempat bersejarah di kota tersebut.
Kendaraan roda empat yang di kendarai Adik ipar ku melaju dengan kencang, melewati banyak pepohonan yang tinggi menjulang di sepanjang jalan.
Matahari pasti kesulitan untuk menembus dan menyapa kami. Karena sedari tadi aku tak menemukan sinarnya karena tertutup oleh rimbunnya dedaunan, padahal nampak mengintip kami dari balik dedaunan.
Lantunan musik terdengar pelan, membuat anak-anak tertidur pulas, kendaraan masih melaju kencang hingga ..
“Hoeeek ... Hoeeek ... “ Tiba-tiba si kecil Fath, terbangun karena muntah, padahal dia sedang tertidur pulas tadi. Terpaksa mobil dihentikan dan menepi sejenak. Aku kemudian turun dan membersihkan tubuh Fath. Begitu juga dengan dalam mobil yang terkena muntahannya.
Aku membersihkannya, sebagian dari kami turun, sekedar menghirup udara segar dijalan yang teramat sepi ini.
Ku bentangkan kedua tanganku menikmati angin yang menyapa lembut wajah ku.
Jalanan ini benar-benar sepi namun terasa sangat sejuk. Rasanya ingin berlama-lama saja di sini.
Tapi itu gak mungkin karena kami harus segera melanjutkan perjalanan.
Setibanya di kota yang di tuju, kami langsung mengelilingi satu tempat yaitu sebuah Museum bersejarah.
Sampainya di museum pengunjung terlihat ramai.
Awal memasuki area dan sampai di halaman semua biasa aja, begitu menaiki tangga masuk kepala tiba-tiba terasa berdenyut, tapi itu hanya sesaat.
ASSALAMUALAIKUM ....
Aku mengucap nya begitu masuk dan melewati pintu museum. Ternyata tak ada yang berubah banyak, masih tetap sama di bagian depannya, pikiranku tiba -tiba kembali ke masa lalu teringat saat bapak mengajak kami kesini sewaktu liburan.
Aku dan yang lain masih mengamati satu persatu peninggalan sejarah para leluhur, semua masih terawat dengan baik padahal sudah ratusan tahun.
Aku bersama anak pertamaku sedang mengamati miniatur candi dalam kaca, sementara suamiku dan Fath yang berusia 2 Tahun lebih bersama dengan keluarga yang lainnya.
Kami berdua berjalan menyusuri jalan menuju ruangan yang selanjutnya, memasuki sebuah ruangan yang penuh etalase kaca yang di dalamnya ada beberapa manekin yang menggunakan pakaian adat pada masa kerajaan waktu itu. Kami berpindah dari satu ruangan ke ruangan yang lain, begitu di tengah lorong langkahku terhenti seperti mendengar bisikkan, ada yang memintaku untuk menoleh ke belakang, tentu saja aku menoleh tapi tidak ada siapa-siapa pun di belakangku kecuali pandangan ku yang tertuju pada sebuah bayangan hitam terlihat seperti anak kecil .
Tubuhnya hanya terlihat separuh, karena dia bersembunyi dibalik dinding bangunan yang terhubung membentuk lorong yang aku lalui. Bayangan hitam tanpa muka terlihat seperti mengintip ku dari kejauhan.
"Neng, tunggu ya, itu seperti adikmu."
Aku memintanya untuk menunggu. Aku berbalik arah dan melangkahkan kaki menuju bayangan hitam
Anak kecil itu.
"Bukan Bu! Itu bukan Fath, aku lihat dia sama ayah udah di depan!"
Ucapnya meyakinkan aku.
Aku masih melihat anak kecil itu berdiri disitu masih memandangku dan berharap aku menghampirinya.
"Nggak Neng itu adik mu!"
Tegas ku meyakinkan dia balik bahwa apa yang kulihat itu benaran adiknya.
Jarak kami tidak begitu jauh, dia seperti mengajakku untuk bermain petak umpat.
Rasa penasaranku semakin besar.
"Dia benaran adikmu!"
Bukannya mendengar ucapan ku , neng malah pergi keruangan lain dan meninggalkan ku.
Aku berbalik kembali dan melangkahkan kakiku menuju anak kecil itu. Ras penasaranku ingin tahu apakah itu benar anakku Fath atau bukan, semakin ku dekati wajahnya sudah tak terlihat hanya sedikit lengan bajunya yang nampak.
Sekitar tiga langkah lagi aku tiba namun terhenti saat terdengar suara bisikkan yang mengatakan ....
"Berhenti!! Jangan!! Dia bukan anakmu!!"
Mendengar itu aku sempat terdiam sesaat, dan bayangan anak itu sudah tak terlihat lagi. Spontan aku membalikkan tubuhku lagi dan mendatangi anak perempuanku, saat menemuinya kami masih berdebat soal yang tadi, sambil menyusuri jalan menuju ruangan lain dan ternyata benar kami bertemu dengan suamiku dan Fath di ruangan lain yang jauh dari lorong tadi.
"Tuh!! Benarkan, yang ibu liat tadi bukan adik."
Sahut Anakku.
Aku hanya terdiam dan berpikir jika anak kecil tadi itu bukan Fath lalu dia siapa?
Kami masih melanjutkan melihat semuanya dan sempat mengabadikannya dengan mengambil beberapa foto.
Kemudian kamu menuju ke lantai bawah, namun saat menuruni tangga ke bawah aku merasakan desiran angin dan terasa sejuk mengalir ke tubuhku. Aura gaib terasa kental di area ini, entahlah aku tak ingin hanyut bisa-bisa aku merusak suasana liburan kami. Aku terus berzikir dalam hati, zikir hati andalan ku yang selalu aku ucapkan jika berada di situasi yang membuatku merasakan sesuatu yang berbeda.
Waktu berkunjung kami berakhir di Museum ini ketika kami sampai di bawah yang mengarahkan kami ke pintu keluar yang langsung menuju ke parkiran.
Karena waktu tak cukup untuk mendatangi tempat-tempat yang lain, maka kami berencana menginap di salah satu Hotel yang ada di tengah kota tersebut.
Aku dan anak-anak istirahat sebentar di Lobi, sementara para pria memesan kamar. Beberapa menit kemudian kami menuju kamar masing-masing. Menempati Room 22, sementara adik ipar beserta keluarga kecilnya di Room 21, Kamar mereka saling berhadapan.
“Ah!! Rasanya lelah juga jalan seharian.”
Keluhku sambil menengok jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam 6 sore. Segera kami mandi lalu bersiap-siap menantikan Shalat magrib.
Kamar yang di pesan itu cukup besar. Satu kamar dengan dua tempat tidur, beserta perabotan yang lengkap seperti lemari, kulkas, dan lain-lain, di tambah satu lukisan vas bunga yang cantik.
Meski begitu tetap saja aku merasa ada sesuatu yang aneh, saat pertama kali memasuki ruangan itu, seperti ada yang mengamati diriku, tapi entah lah, mungkin hanya karena perasaan lelah saja jalan seharian.
Selesai Shalat, bergegas mereka keluar untuk makan malam. Namun saat akan keluar, aku seperti menangkap sesuatu dari lukisan, tapi entahlah, aku abaikan saja dan segera bergegas keluar menyusul yang lain.
Merasakan hal-hal yang aneh sudah biasa bagiku termaksud jika berada di tempat yang belum pernah aku kunjungi, meski aku bukan seorang Indigo tapi aku bisa merasakan kehadiran mereka, yang memang mereka sendiri yang menginginkannya. Dan kali ini, aku tidak memperdulikan, meski sempat mendengar kalimat.. 'kita pasti ketemu'.
Setelah selesai makan malam, kami mampir sebentar ke Mall, tidak lama, hanya mengajak anak-anak nonton dan setelah itu, kembali ke Hotel.
Sesampainya di kamar, aku segera mengambil air wudhu dan melaksanakan Shalat isya. Begitu pula dengan suami dan kedua anak ku yang sibuk bermain ponsel hingga tertidur pulas.
Waktu menunjukkan jam 23.30. Suamiku sudah terlelap menyusul kedua buah hati kami.
Ku seduh kopi Nescafe yang ada di meja putih bernuansa vintage. Menyeruput secangkir kopi di waktu hening begini adalah suasana yang begitu sangat aku sukai. Kopi adalah kecintaan ku menyenangkan diri.
Aku baringkan tubuh ku mencoba untuk tidur juga, namun aku merasa sulit memejamkan kedua mataku. Entah kenapa tiba-tiba saja merasa gelisah.
Aku alihkan dengan bermain ponsel, berharap mataku lelah kemudian tertidur. Aku masih saja merasa ada seseorang yang mengamati ku.
“Ah!! Sudahlah, kalau memang Ada sesuatu pasti muncul juga”
Gumamku dalam hati.
Aku masih berusaha memejamkan kedua mataku sambil berzikir. Akhirnya aku bisa terlelap juga, namun jam 24.10 aku terbangun kembali dan melihat baterai Ponselku berwarna merah dan segera minta di charge. Karena tiba-tiba saja aku merasa takut, aku bangunkan suamiku.
“Yah!! Ayah ... bangun!!”
Suamiku yang tertidur pulas sontak terkejut saat menyentuh lengannya.
“Iya, kenapa?”
Jawab dia yang masih menutup kedua matanya.
“Bangun sebentar Yah ... temani aku ambil charge HP.”
Suami ku bangun, dan setelah melihat ku memegang benda tersebut, dia langsung kembali tidur lagi.
Segera ku pasang alat tersebut, setelah memastikan terisi. Kembali ku baringkan tubuhku dan perlahan aku mulai terlelap. Tapi tiba-tiba kedua mataku terbuka. Masih dalam keadaan terlentang, aku kaget melihat wajah perempuan tepat di hadapan muka ku. Perempuan itu tergantung dengan posisi kaki di atas, jadi wajah kami saling menatap.
Ah sial! Aku tidak bisa menggerakkan badan ku, tiba-tiba aku di bawah ke pemandangan yang sangat menyedihkan. Perempuan itu berusaha memberontak dan minta tolong, orang-orang yang sama sekali tidak dia kenal itu bergantian memperkosaanya.
Dia masih berteriak, Namun aku hanya bisa melihat dengan linangan air mata, sambil menutup mulutku menahan tangis. Padahal ingin sekali aku berteriak dengan lantang.
Saat mereka meninggalkan perempuan itu sendiri di tengah hutan dalam keadaan kritis. Aku melihat dengan sisa tenaganya, perempuan itu merobek-robek pakaiannya, lalu dia sambung satu persatu hingga membentuk kain panjang, kemudian menggantungkan dirinya disalah satu pohon tersebut.
Aku berusaha menghentikannya, aku bahkan mencoba mengajak perempuan itu bicara, dengan menanyakan, siapa namanya, tapi belum sempat dijawab aku keburu sadar.
Aku yang tadi dalam keadaan posisi berbaring, kemudian bangkit dan terduduk di sisi tempat tidur. Kedua mataku terus menatap lukisan yang ada di hadapanku. Suasana kamar dengan lampu yang diganti lebih redup, menambah suasana kamar jadi terasa sangat sejuk dan tenang, hening yang berbeda dari biasanya.
“Kamu siapa, kenapa kamu bersembunyi di dalam lukisan itu?”
Tanya ku.
“Aku sudah mengenalkan diriku padamu dan terima kasih karena sudah membawaku ke lukisan ini.”
"Membawamu, sudah mengenalkan diri Maksudnya apa, kapan??"
Aku sama sekali gak ngerti, karena setelah itu tak ada jawaban dari apa yang aku pertanyakan.
Entah apa yang merasuki ku, aku bangkit lalu mengambil pena dan note kecil yang ada di atas nakas, kemudian aku kembali ke posisi semula, menatap lukisan vas bunga yang ada perempuan itu di dalamnya, sambil melukis bayangan tentang bagaimana perempuan itu memilih jalan mengakhiri dirinya tepat di sekitar tempat saat kendaraan kami berhenti waktu membersihkan muntahan Fath. Dia mengakhiri dirinya dengan cara menggantung dirinya. Bagaimana mungkin tak ada seorangpun yang menemukan jasadnya hingga habis di tiang gantungan bahkan rangkanya pun hancur di hantam berkali - kali oleh panas dan hujan.
Tak terasa air mataku jatuh, sungguh tragis Bahkan aku sampai terlupa menanyakan siapa namanya.
Aku menyelesaikan lukisan ku dan tersadar saat subuh. Aku bergegas membangunkan suami dan melaksanakan Shalat subuh dan pagi hari nya aku memperlihatkan gambar yang aku lukis itu ke suami. Anehnya, suami ku malah menceritakan padaku bahwa semalam dia bermimpi ada seorang perempuan yang meminta tolong, dia mati bunuh diri karena di Perkosaa.
Tak di sangka dia bukan hanya menampakkan dirinya kepadaku tapi juga ke suamiku.
Sayangnya aku dan suamiku tak bisa membantunya lebih banyak lagi, setidaknya dia menemukan tempat yang dia inginkan yaitu berada di lukisan vas bunga itu.
***
Paginya saat berbenah, aku menatap lukisan yang ada di hadapanku itu. Aku menyentuh dan sempat berfoto bersama lukisan itu sebagai kenang-kenangan sebelum aku keluar dari Hotel itu untuk selamanya.
“Kamu di sini aja ya, ingat! Jangan pernah mengganggu siapa pun yang menginap di sini.”
Ucap ku sambil berlalu meninggalkan Room 22 itu.