Tuyul

1607 Kata
Apa yang dilakukan pak lek? Pria tua tetangga rumahku yang baru kami kenal belum sebulan itu tengah asyik sedang berdiri di depan beberapa pohon pisang, beliau mengamati sembari menaruh tangannya dibelakang, lalu beberapa saat kemudian mengelilingi pohon-pohon itu. Sekali, dua kali putaran setelah itu beliau duduk dan menggali tanah lalu kembali masuk ke dalam rumah. Aku tidak ingat sudah berapa kali kejadian ini aku dapati. Entahlah apa yang sebenarnya pak lek lakukan dengan dengan kegiatan itu. Oh iya pak lek dan bu lek pindahan dari kota dan buka cabang kios minyak di sini tepatnya di samping rumahku yang kebetulan rumah kami tepat di pinggir jalan besar jadi posisi yang pas untuk membuka usaha seperti berjualan. Pak lek memiliki tiga orang anak mereka dari keluarga yang baik dan ramah. Setiap kali berpapasan tidak pernah mereka lupa menebarkan senyum ramahnya kepada siapapun yang berpapasan dan yang menyapa mereka. Siang menjelang sore, dibalik kaca jendela hitam aku dengan leluasa melihat pak lek kembali melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Berdiri tepat di bawah pohon, diam sebentar, lalu kembali mengelilingi pohon pisang kemudian mengambil sesuatu dari dalam tanah. Entah kenapa aku hanya melihat, tak ada tak ada sedikitpun keinginanku untuk berpikir keras apa yang sebenarnya berlaku. Keasyikan memandang aku tidak sadar kalau pak lek sepertinya mengetahui jika ada seseorang yang memperhatikan dirinya dan beliau sempat melirik beberapa kali ke arah jendela ku. Aku jadi ngerasa gak enak "Duh!! Semoga saja pak lek tak mencurigai ku" Gerutu ku dengan suara kecil. Spontan aku reflek menggeser badanku sedikit, padahal aku tau pasti, pak lek gak mungkin melihatku karena kaca jendelaku jika dari luar gak akan keliatan kecuali menempeli wajah ke kacanya dari dekat. Tapi tetap aja aku ngerasa khawatir. Masih di hari yang sama, karena takut ketahuan aku tidak melanjutkan apa yang aku lakukan tadi, mengintai, eh! bukan mengintai, ya gak sengaja aja terlihat karena memang semu aktifitas keluarga pak lek jika di luar rumah itu sangat terlihat jelas olehku karena posisi jendela kamarku tepat di belakang rumah beliau. Jadi apapun yang mereka kerjakan aku pasti melihatnya dengan jelas. Aku lagi asik nonton TV bersama suamiku, tapi ada kejadian aneh, saat aku menonton berita yang menayangkan acara di satu wilayah sedang merayakan semacam iring-iringan untuk pengucapan rasa syukur. Banyak warga berkumpul di sepanjang pinggir jalan, menyaksikan iring-iringan tersebut yang sebagian pesertanya memakai pakaian adat, banyak sayur dan buah juga makanan lain yg diarak beramai-ramai, hingga tak sengaja mataku tertuju pada satu sosok yang berdiri tepat di depan sebagian warga yang menyaksikan, sosok itu mirip tuyul. "Yah! Liat gak nih anak kecil kayak tuyul." Kata ku ke suami sambil menunjuk dan bilang ke dia, apa dia melihat yang aku lihat, tapi dia bilang tak melihat apa-apa selain kerumunan masa. Beberapa menit kami berdebat soal apa yang aku lihat. Hm ... mungkin saja aku halu seperti kata nya Entahlah! Tapi aku gak mungkin salah liat karena menurutku beberapa menit itu cukup lama dan Inikan bukan perayaan Halloween kenapa orang itu berdandan seperti tuyul. ••• Aku periksa berulang-ulang dompet dan tempat aku menyimpan uang tadi. Aku coba ingat-ingat lagi, masa iya aku terlupa, rasanya sangat jelas selembar uang 20 ribu itu aku letak kan di dalam dompet yang aku simpan dalam laci. "Lagi-lagi duit aku hilang, sial!!" gumamku dalam hati. Mungkin saja aku lupa atau terjatuh, aku gak punya sasaran buat ku tuduh selain kelupaan ku. Tapi bagaimana mungkin aku bisa lupa, setiap kali kehilangan. dalam sebulan jelas ini aneh. Aku memang melihat kebiasaan pak lek yang aneh, dan aku pernah melihat tuyul meski bukan di areanya tapi itu masih di waktu yang bersamaan setelah aku melihat pak lek melakukan ritualnya. Mungkin kecurigaan ku salah Astaghfirullah!! Semoga saja aku keliru. Selama aku tidak melihat tuyul itu di dekat pak lek atau dia area rumah beliau, aku tidak akan berpikir dan berusaha menepis jauh-jauh pikiran buruk yang melintas di pikiranku bahwa pak lek memelihara tuyul. Cuma berjarak satu meter lebih, jarak aku bertetangga dengan mereka, mereka selalu tersenyum ramah setiap kami bertemu, tak satupun dari mereka yang aku temui itu tidak ramah, jadi mustahil buatku untuk berpikir buruk pada keluarga pak lek, apalagi istri beliau, baiknya itu luar biasa. Beliau suka memberi kami sesuatu apa saja buah, makanan dan lain-lain. Hari itu, mamak meminta aku mengantar kan sesuatu ke rumah bu lek, rumah yang di bangun secara dadakan yang dibuat seadanya oleh mereka. Mungkin karena mereka mendadak pindahnya. Meski bau kayu dinding rumah mereka tercium sangat kuat, ada hal yang berbeda saat aku ada di dalam rumah pak lek, entah apa aku tidak bisa menjelaskannya, yang jelas ketika berada di dalam rumah, aku merasakan energi yang lain, seperti ada sesuatu, tapi tidak tahu seperti apa menjelaskannya. Saat menemui bu lek dan memberi antaran yang mamak suruh aku langsung pamit, dengan senyum ramahnya Bu lek berkata .... "Makasih ya Nduk!" "Iya bu lek, sama-sama" jawabku disertai dengan senyuman. Pak lek masih sering melakukan kegiatan itu beberapa kali kegiatan yang ku sebut ritual, tapi aku sudah tidak tertarik memperhatikannya lagi sejak kejadian itu dan aku yakin pak lek tak mungkin seperti itu. ••• Waktu terus berjalan. Kami bertetangga selayaknya tetangga. Meski aku curiga ya hanya pikiran sepintas saja. Aku juga tidak mempersalahkan soal beberapa kali aku kehilangan selembar demi selembar uang 20 ribuan ku yang aku letakan di dalam di tempat yang sama. Lama tak terlihat, bu lek terlihat kurusan padahal sebelum-sebelumnya terlihat segar bugar, apa beliau sakit. Aku sering menyaksikan mereka dari jendela kamarku. Suara teriakan anak bu lek yang kedua terdengar cukup keras, dia berteriak disusul suara bu lek kemudian suara pak lek yang juga terdengar keras. Selama ini aku gak pernah mendengar mereka berteriak kasar satu sama lain seperti itu, hanya beberapa bulan belakangan ini. Aku mendengar obrolan mereka, meski mereka ngobrol menggunakan bahasa daerah, aku masih bisa mengerti sedikit demi sedikit apa yang mereka bicarakan. Sejak kapan anak lelaki kedua bu lek suka minum, sejak kapan rumah yang biasa sepi itu jadi sering terdengar gaduh. Aku juga melihat, ada anak terakhir bu lek datang, tumben gadis cantik itu ada di sini, biasa anak-anak bu lek ada di kota, mereka ditugaskan menjaga kios utama di sana, hanya menantu dari anak pertama, pak lek dan bu lek bergantian jaga di sini, itupun sebelum kedatangan anak pertama dan cucunya yang datang dari kampung. Anak perempuan pak lek sering terlihat di sini, Rumah mereka jadi bertambah ramai. Belum lama setelah kejadian itu, aku mendengar berita bahwa anak bu lek kecelakaan, gadis cantik itu meninggal, karena tertabrak truk. Bagaiman kejadian persisnya aku tidak tahu aku hanya mendengar kabar itu dari para tetangga yang melayat, kata mereka anak perempuan bu lek itu terseret lalu masuk ke kolong truk hingga tewas. Padahal aku baru beberapa kali melihatnya saat di sini. Di rumah pak lek terlihat sudah ramai para pelayat, bendera kuning yang diikat di batang kayu depan kios yang jadi satu dengan rumah itu berkibar oleh tiupan angin yang saat itu sedikit kencang. Aku bisa menyaksikan wajah bu lek dan pak lek terlihat sangat sedih, Mas Ris menantu pak lek yang menjaga kios juga terlihat sedih, Mas Ris itu gak jauh kalah ramahnya dengan mertua dan kerabat yang lainnya. Setiap bertemu kami, mas Ris selalu menyapa kami duluan disertai dengan senyumannya yang juga ramah. Kasihan, semua kerabat terlihat sangat terpukul dengan kepergian anak perempuan pak lek. Sejak kejadian di TV dan melihat ritual pak lek, Aku nggak berpikir apapun tentang keluarga itu, aku tetap berpikir positif, bahkan aku tidak menceritakan apapun kejadian yang aku saksikan pada siapapun kecuali ke suamiku soal kejadian penampakan tuyul yang ada di TV itu. Setelah beberapa minggu. Aku jarang melihat bu lek, hanya sesekali tapi terlihat berbeda. Bu lek terlihat kurus dan mulai sakit-sakit–an bahkan aku sering mendengar pertengkaran dari rumah itu. Aku juga tidak begitu memperhatikan lagi tapi yang jelas sejak keributan itu pak lek udah tidak pernah lagi terlihat melakukan ritual yang biasa dia lakukan. Dan beberapa bulan kemudian bu lek di kabarkan meninggal tentu saja mendengar itu kami para tetangga terutama aku sangat terkejut dan berduka cita. Padahal kabar sebelumnya tentang bule sakit itu memang benar tapi kemudian beliau kembali sehat, dan sempat terlihat melayani pembeli di kios nya. Aku juga sering meneriaki bu lek jika melihatnya di depan kios saat aku melintas. Bu lek tetap ramah jika bertemu dengan kami tapi serasa ada yang janggal, tapi lagi-lagi aku tidak bisa menemukan kata-kata yang pas untuk menjelaskannya. Dan begitu mendengar kabarnya bu lek meninggal ini cukup mengagetkan ada juga kabar yang bilang tekan darah bu lek tinggi beberapa saat setelah mengkonsumsi ikan kering. Entah apapun penyebab kematian bu lek dan anak perempuannya, semoga Husnul Khotimah. ••• Sejak kematian bu lek, rumah itu kembali sepi, aku jarang melihat pak lek, mungkin hanya sebulan aku melihat beliau menunggui kiosnya tapi setelah itu tidak ada, mungkin beliau menjaga kiosnya yang ada di kota. Kios yang di sini dia percayakan pada mantunya yaitu Mas Ris, yang kemudian dia membuka bengkel dan menjual alat-alat motor. Mas Ris adalah mantu dari anak pertama Pak lek, orangnya cukup ramah, baik, murah senyum dan cukup ganteng juga, dia menikah dengan anak perempuan pak lek yang cantik dan mereka memiliki seorang anak. Tapi beberapa tahun menikah dan beberapa bulan setelah kematian bule, keluarga mereka di hantam prahara, mas Ris yang baik hati itu selingkuh dan keributan pun kerap aku dengar kembali di rumah itu. Hingga terdengar kabar mereka pisah dan bercerai, dan aku mendengar kabar itu setelah kedua orang tuaku menjual kediaman kami dan pindah dari situ. Mas Ris masih menjaga kios dan bengkel meski kios lama udah di hancurkan dan sejak itu aku tidak tahu lagi bagaimana kabar pak lek dan anak-anaknya yang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN