Kuyang

1702 Kata
Sejak kecil aku sudah terbiasa mendengar kisah-kisah mengenai kuyang. Apalagi waktu itu di daerahku ada salah satu warga yang sempat di curigai memiliki ilmu hitam ini. Sebut saja nama beliau ibu Saudah. Ibu Saudah sekeluarga jarang sekali berbaur dengan warga setempat, sebagian anak-anak termaksud aku selalu merasa takut saat melewati rumah yang memang terlihat cukup aneh karena berbeda dari rumah lainnya. Rumah yang sekelilingnya dipagar tinggi, nyaris menutupi badan rumah dan semua di cat berwarna putih. Bukan hanya rumahnya yang aneh, setiap kali keluar rumah Bu Saudah selalu saja menggunakan syal untuk menutupi lehernya, katanya syal itu di pakai Bu Saudah untuk menutupi guratan di lehernya agar tak kelihatan. Bu Saudah juga suka memakai cilak tebal di bawah matanya, membuat tatapan beliau terkesan semakin menakutkan. Cerita tentang Ibu Saudah seorang kuyang itu membuat warga khususnya anak-anak seusia ku berpikir bahwa beliau memang benar seorang kuyang. Dan kisah itu benar-benar melekat jelas dipikiran ku hingga sekarang, hingga aku dewasa. Meski demikian aku tetap berpikir itu hanya sebuah legenda dan mitos saja. Aku tidak pernah melihat kuyang, tepatnya tak pernah melihat Ibu Saudah menjadi kuyang. menurutku cerita itu hanya ingin menakuti anak-anak kecil saja, agar saat malam hari tiba tak ada yang keluyuran bermain di luar rumah. Puluhan tahun berlalu. Saat itu aku sedang mengandung, kandungan ku sudah memasuki usia sembilan bulan, hanya tinggal menunggu hari saja. Dua minggu sebelumnya, Aku memang sudah terlebih dahulu mengambil cuti kerja. Jadi semua yang diperlukan untuk melahirkan nanti sudah dia persiapkan dengan sangat baik, tinggal menunggu waktunya saja. Menunggu kelahiran anak pertama itu penuh rasa was-was, kadang hari yang ditentukan tidak selalu tepat dengan perkiraan ku atau perkiraan Ibu Bidan. "Linn!! Jangan lupa ya, kalau malam cermin, gunting dan bulu landak yang mamak belikan itu, jangan kamu taruh jauh-jauh dari kamu, kalau kamu kemana-mana bulu landak itu kamu bawa saja." ucap mamak mengingatkan aku untuk yang kesekian kalinya tepatnya memperingati ku. "Iya Mak, selalu aku letakkan dekat bantal kok kalau aku mau tidur." sahutku sambil memegangi perutku yang aktif bergeraknya luar biasa." Mamak memang tidak bosan-bosan mengingatkan aku untuk tetap waspada, karena kata mamak, di sekitaran daerah tempat tinggal kami masih banyak orang yang menganut ilmu hitam ini. Sebenarnya aku masih menganggap bahwa kisah Hantu orang itu hanya legenda saja, kisah puluhan tahun lalu di saat usiaku masih kecil, tapi demi menjaga perasaan mamak, aku ikuti saja apa yang sudah mamak perintahkan, termaksud menusukan peniti ke pakaian dalam ku. "Ah! Mamak ada-ada saja." gumam ku. "Mas berangkat kerja dulu ya." pamit mas Yon yang bertugas lembur malam ini menggantikan temannya yang sakit. "Iya Mas." jawabku sambil mendapat ciuman telak di dahi oleh Mas Yon. "Ingat ya, jangan lupa berdoa!" timpalnya sebelum pergi. "Iya, Mas" jawabku sekali lagi sambil memandang Mas Yon yang perlahan pergi meninggalkan aku dengan kendaraan roda dua miliknya. Sebentar lagi waktu magrib hampir tiba, aku bergegas menutupi satu persatu jendela yang ada di rumah. Jika Mas Yon berangkat kerja, rumah jadi bertambah sepi, hanya ada aku dan kedua orang tua ku yang menjadi penghuni rumah yang cukup besar ini. Selesai makan malam, seperti biasa aku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar, jika tak menonton TV, ya mendengarkan musik. Hari ini terasa sangat panas sekali, padahal aku sudah menyetel volume kipas anginnya ke angka yang paling kencang, namun tak ada perubahan sama sekali, tetap saja saja aku merasa gerah. Hm ... mungkin ini bawaan hamil pikirku. Waktu bergulir ... sudah jam 1 malam, tapi aku belum juga bisa memejamkan kedua mataku. Sesekali aku terbangun, Hawa panas dalam kamarku benar-benar membuat aku gerah, di tambah dengan kandunganku yang juga tiba-tiba lebih banyak bergerak aktif dari biasanya. Aku benar-benar merasakan gerah dan kepanasan, hingga terlintas dipikiran untuk menanggalkan pakaianku dan menggunakan sarung saja. "Tidur ya Nak! Ini sudah larut, ibu sudah ngantuk." ucap ku pelan sambil mengelus-elus perutku dan mencoba berkomunikasi dengan si buah hati. Setelah mengucap itu, ternyata benar kandungan ku perlahan tenang, aku hanya tersenyum mengetahui bahwa calon buah hati ku bisa memahami apa yang aku sampaikan padanya. Akhirnya aku bisa terlelap, tapi itu tidak lama. Tiba-tiba saja Aku merasa kamarku bergoyang seperti ada gempa. Ruangan ku yang tadinya terang tiba-tiba jadi redup, hawa yang juga panas menjadi dingin. Aku tidak bisa bergerak, tubuhku tiba-tiba seperti mati rasa, posisi terlentang dengan kedua kaki di tekuk, hanya bisa memandang ke arah depan. Kain panjang berwarna putih itu tiba-tiba terulur memanjang membentuk pagar dan mulai mengelilingi tempat tidurku. Tentu saja aku mulai panik, kain putih itu bergoyang dan berkibar dengan sendirinya tanpa ada yang memegang. Semakin kencang hingga satu sosok muncul begitu saja di hadapanku. Sosok yang hanya berwujud kepala saja dengan organ tubuh bagian dalamnya menggelantung persis tepat di hadapan ku, melayang-layang dengan rambut panjang terurai, dua taring dengan mata merah melotot menatap tajam ke arahku. Di tambah ikat kepala yang melingkar dengan berhias batu merah di tengahnya. "Ya Allah, apa ini yang dulu biasa orang-orang ceritakan saat aku masih kecil. Hantu yang mereka sebut kuyang, yang selama ini hanya aku anggap mitos belaka." Spontan aku membaca setiap ayat pendek yang aku ingat. Tapi ada yang aneh, diantara rasa ketakutan, aku bisa melihat dengan jelas jika kuyang yang ada di hadapan ku ini wajahnya tidak asing bagiku dan dia bukan seorang perempuan seperti yang kebanyakan orang ceritakan, dia seorang laki-laki dan wajahnya sangat tak asing aku seperti mengenal wajah itu, meski rambut dan kedua taring itu menghias di wajahnya, dia adalah teman yang satu kerja denganku hanya beda divisi saja. Aku panik, bingung, takut namun berusaha untuk menggerakkan anggota badanku, tapi sulit sekali. Sosok menyeramkan yang ada di hadapanku itu berusaha mencoba mendekatiku tapi aku berusaha sekuat tenaga, memohon perlindungan pada Tuhan. Aku berusaha berteriak sekencang-kencangnya, agar kedua orang tuaku mendengar teriakan ku. Tapi tak satupun dari mereka yang mendengarnya. Percuma saja teriak, mamak dan bapak pasti tidak mendengar teriakan ku. "Allahuakbar!! Allahuakbar..!!" teriak ku sembari berusaha menggerakkan tubuh ku karena ku lihat jarak kuyang itu sedikit lagi mencapai tubuhku. "Allahuakbar ... Allahuakbar!! Aku tak henti-hentinya menyerukan kalimat itu," hingga tak sadar tanganku seperti ada yang gerakkan, aku teringat ucapan mamak soal benda-benda pelindung itu. Tubuhku berusaha bergerak mundur sambil mencari-cari benda-benda itu cermin yang di atasnya ada gunting dan bulu landak yang tadi aku letakkan di dekatku. Saat aku melihat kuyang itu terus berusaha mendekat, aku lemparkan satu persatu benda-benda itu tepat ke arahnya sambil berteriak ... Allahuakbar!! Allahuakbar!! Tubuh ku masih gemetar, aku menangis ketakutan, sambil memejamkan kedua mataku, sesaat aku takut untuk membukanya, namun perlahan aku memberanikan diri, perlahan aku buka, dan ternyata, Kuyang itu sudah tidak ada di hadapan ku, kain panjang yang memagari ku tadi juga sudah tak ada, bahkan lampu kamarku kembali terang seperti semula. Aku masih gemetar dan berusaha menenangkan diri. Aku takut keluar kamar, takut jika Kuyang itu ada di luar kamar ku. Aku bisa merasakan jika sarungku basah karena ngompol saat ketakutan tadi. Segera aku raih ponselku dan sempat melihat ternyata sudah hampir masuk waktu shalat subuh, aku segera menghubungi Mas Yon dan menceritakan apa yang baru saja aku alami. Tentu saja Mas Yon terkejut. "Maafin Mas ya sayang, Mas gak bisa pulang dan nemenin kamu sekarang." Terdengar suara Mas Yon sedikit agak khawatir. "Iya Mas, gak apa-apa, aku sudah lebih tenang sekarang, lagian azan subuh sudah berkumandang, gak mungkin kan Kuyang itu balik lagi." sahutku. "Iya, jangan lupa pesan mas ya, kamu jangan pernah lupa berdoa, ingat itu. Assalamualaikum ..." "Iya Mas. Wa'alaikumsalam .." balas ku sembari mematikan saluran telponnya. Beberapa hari setelah kejadian itu aku melahirkan secara cesar, Alhamdulillah semua berjalan dengan baik, aku melahirkan anak pertama dalam keadaan baik. Meski keinginanku melahirkan secara normal tak terwujud setidaknya kami berdua selamat dan sehat-sehat saja. Dua hari setelah sadar dari ruang operasi aku masih belajar bangun dan berjalan Karena ini pengalaman pertama jadi rasa sakitnya luar biasa. Siang itu saat mencoba terlelap dan memejamkan kedua mata aku masuk kesebuah tragedi, aku melihat sebuah truk mengalami kecelakaan, supir yang membawa truk itu meninggal di ruangan ini dengan bekas wajah dipenuhi luka oleh pecahan kaca. Tak ada masalah sebenarnya, sosok supir itu hanya muncul sesaat dan ingin di ketahui bahwa kematiannya karena tragedi tabrakan maut itu. Ah! Aku pikir aku di datangi kuyang itu lagi, trauma bertemu kuyang membuatku jadi seorang yang parno. Dua minggu setelah melahirkan Anak pertama, aku kembali masuk bekerja. Tak disangka aku berpapasan dengan temanku, temanku yang wajahnya mirip sekali dengan Hantu Kuyang malam itu. Biasanya, jika kami berpapasan saat di area pabrik, kami basa basi saling melempar senyum, terkadang dia memanggil nama ku, lalu tersenyum dan berlalu. Tapi kali ini terlihat dan terasa beda, dia hanya tertunduk. Jangankan memanggil tersenyum saja tidak. Itu jadi membuatku semakin bertambah yakin, tapi aku tidak bisa membuktikan apa-apa. Aku hanya diam dan berharap semoga Allah selalu melindungi aku dan juga teman-teman ku yang lain. Karena sejak mengalami kejadian ini tentu saja aku kepikiran saat mengetahui dan melihat beberapa teman yang sedang hamil yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba bermasalah. Aku bahkan jadi spontan menghubungkan beberapa kejadian yang pernah heboh sebelum-sebelumnya, karena ada teman yang tiba-tiba kehilangan janin dalam kandungannya padahal sudah terhitung bulan. Belum lagi yang mendadak keguguran dan itu bukan hal aneh karena aku beberapa kali kerap mendengar teman yang mengandung mengalami keguguran padahal dia tidak mengalami kecelakaan. Sejak mengetahui dia yang mirip dengan sosok Kuyang yang ku temui malam itu, aku lebih memperhatikan tingkah lakunya, jika dia berbaur dengan para karyawan borongan di kantin. Gerak-gerik nya memang tidak mencurigakan, dia memilih tempat duduk paling sudut dan hanya mengamati saja sambil menikmati segelas minuman yang dia pegang. Mungkin saja dia bisa menipu mata yang lain tapi sejak malam itu dia tidak akan pernah bisa mengelabui ku lagi. **** Kuyang adalah salah satu sebuah pesugihan yang terkenal di Kalimantan. Kuyang adalah salah satu Hantu Orang yang terkenal dan masih ada hingga sekarang. Sebagian orang mengatakan jika penganut Ilmu kuyang, biasa akan selalu terlihat awet muda dan kuat, itu salah satu yang aku dengar tapi entahlah mungkin saja itu benar bisa juga tidak, karena melihat temanku yang sudah berumur itu masih terlihat awet muda, bisa saja. Namun hal seperti sulit sekali untuk di buktikan, karena hingga sekarang tak ada satu orangpun yang aku ketahui benar-benar bisa menangkap mereka. baik dalam keadaan wujud manusia ataupun dalam keadaan menjelma sebagai Kuyang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN