Hubunganku dengan Mas Yon semakin dekat, Apalagi setelah kami saling mengunjungi rumah dan saling berkenalan dengan keluarga satu sama lain.
Keluarga Mas Yon cukup ramah menerima kehadiranku, keluargaku pun demikian.
Meski kami berteman cukup lama lalu kemudian jadian, aku sudah mengatakan pada nya bahwa jika tidak ingin ke hubungan yang serius, lebih baik tetap berteman saja, aku tidak ingin menjalin status pacaran lama-lama seperti yang sebelum-sebelumnya.
Selain tidak banyak bicara Mas Yon juga pria yang penyabar dan perhatian. Usia kami terpaut 2 tahun
Melihat keseriusannya tentu saja aku tidak mempedulikan perasaanku, apakah aku cinta atau tidak, karena saat itu aku berpikir hampir dua tahun aku menjalin cinta dengan yang dulu tapi hubungan kami berakhir begitu saja, padahal saling cinta.
Mas Yon itu selalu ada di masa-masa aku sulit, selalu ada ketika di perlukan. Itu yang membuat aku memilihnya tanpa memperdulikan perasaan ku.
Yang terpenting sekarang adalah Kami sudah saling mengenal keluarga jadi itu cukup bagiku.
Cinta itu bukan hal yang utama dalam sebuah hubungan.
Karena jika kita saling serius maka cinta itu akan tumbuh dan terbentuk dengan sendirinya.
•••
Malam minggu Mas Yon berkunjung ke kost an Mbak Rin, dia berencana mengajakku jalan-jalan ke seputaran taman di kota. Biasanya aku, Mas Yon, Mbak Rin ngumpul di kost an menghabiskan waktu, bercanda tawa sambil ngopi bareng bersama yang lainnya, tapi malam ini kami semua punya rencana masing-masing.
Sebenarnya aku senang bisa menikmati malam minggu di luar berduaan dengan Mas Yon, hanya saja biasanya aku tidak nyaman pada saat di acara jalan-jalan kami aku harus bertemu dengan mereka, para gentayangan, mahkluk tak kasat mata yang suka menampakkan dirinya padaku.
Awalnya sulit menahan diri untuk bersikap diam.
Karena setiap melihat kehadiran mereka aku spontan menunjukan rasa ketakutan ku atau mengatakan langsung apa yang aku lihat.
Seperti malam itu kami melintas di jalan yang memutari taman kota.
"Awas hati-hati Mas, itu ada orang besar duduk di pinggir jalan." ucapku ke Mas Yon, sembari menyipitkan kedua mataku agar orang besar itu tak sadar jika aku melihatnya.
Karena begitu besarnya hingga kedua kakinya melintang menutupi jalan, yang seolah-olah jika Mas Yon atau orang lain yang tidak peka akan melihat itu adalah Akar kayu yang menyerupai polisi tidur.
Orang besar dengan wajah abstrak itu mirip boneka. Dia sedang duduk bersandar di batang pohon sambil menjulurkan kakinya. Dan itu gak cuma satu tapi ada di beberapa pohon sepanjang jalan itu di huni oleh sosok yang sama besarnya termaksud si mata merah di pohon beringin yang tak rimbun namun terlihat angker.
"Mana?" tanya Mas Yon, melirik ke arah yang aku maksud.
"Sudah jalan saja Mas, nanti saja aku ceritakan." ucapku.
Taman yang di tuju Mas Yon memang banyak di datangi para muda-mudi yang berpasangan seperti kami.
"Kenapa mereka betah ya Mas duduk di tempat yang gelap, sudah banyak nyamuk ada hantunya lagi."
"Ya mereka kan gak tahu, kalo tahu mereka pasti milih tempat terang."
Kami hanya berkeliling memutari taman lalu singgah di salah satu rombong bakso, di situ aku sempat menceritakan soal penampakkan sosok tadi dan selesai menghabiskan bakso dan teh hangat, kami lanjut pulang.
Kebiasaan yang sering aku alami dan lakukan setiap melihat sosok mereka akhirnya mulai dipahami oleh Mas Yon.
Aku yang awalnya merasa malu dan takut, takut karena bisa saja dia menjadikan ini sebagai alasan untuk menjauhiku. Aku takut kalo dia menganggap aku perempuan yang aneh.
Tapi tidak, seiringnya waktu aku tahu Mas Yon berbeda, dia bisa memahami dan mengerti keadaanku dan yang terpenting dia bisa menerima ku dengan keadaan yang seperti itu.
Jika usai melihat penampakkan-penampakkan itu, aku pasti mengacaukan suasana yang ada, karena biasanya aku menangis ketakutan, mendadak demam dan akhirnya acara kami yang mesti menyenangkan jadi sebaliknya. Berjalan tidak sesuai yang kami harapkan.
Beberapa minggu kemudian ..
Tepatnya malam minggu kami berencana akan ke pasar malam, aku dan Mas Yon mau nonton atraksi yang sedang ramai saat itu.
Saat di parkiran dan hendak memarkir roda dua miliknya, aku meneriaki mas yon dan memintanya segera memindahkan motor yang baru saja di parkirnya.
Tentu saja dia kaget,
"Kenapa?"
"Cepat Mas, mundurkan motornya, jangan parkir di situ!"
Teriak ku panik.
"Iya, tapi kenapa ?!!"
" Pindahin dulu, Itu ada Ibu ama anaknya Mas tindih dengan ban motor, masa Mas gak lihat sih! kasihan mereka." ucapku dengan mata berkaca-kaca.
Ku lihat ban depan motor Mas Yon sudah menindih ibu itu. Posisi ibu itu sedang duduk bersila di tanah yang sedikit berumput sambil memangku anaknya, ibu itu hanya tertunduk, dia pasti kesakitan. Kebayangkan gimana sakitnya jika ketindihan ban motor.
"Cepat Mas pindahkan!" pintaku sekali lagi memohon.
Akhirnya Mas Yon menghidupkan motornya tapi gak bisa nyala dan di coba berulang-ulang dan tetap gak bisa.
Akhirnya aku bantu menarik motornya mundur lalu Mas Yon parkir di sebelah motor lainnya.
Lokasi parkiran ini di pinggir jalan besar, kendaraan yang lewat bisa dihitung dengan jari. Suasananya memang sangat sepi, maklum, itu karena rumah atau bangunan masih sangat langka masih satu-satu dengan jarak yang cukup jauh.
Jika hanya ada keramaian saja akan ramai, jika tidak ada, pasti suasananya kurang lebih seperti di kuburan.
Aku melihat Ibu itu sedang memeluk anaknya, jarak kami cukup dekat. Aku lalu berucap maaf pada wanita itu atas kejadian yang menimpanya.
"Maaf ya bu, temanku gak liat Ibu duduk di sini."
Wanita itu mengangguk tanpa berucap sepatah katapun.
Aku berusaha melihat wajah mereka yang setelah ku perhatikan baik-baik, mereka seperti tak punya wajah.
Aku berusaha melihat lebih dekat, bisa saja aku salah karena penerangan yang minim.
Apa mungkin Ibu itu kaget hingga tak bisa berkata-kata dan hanya diam.
"Ayo." ajak Mas Yon yang sedikit mengagetkan aku.
Aku berpaling dan mengikuti Mas Yon dari belakang.
Kami menyebrang jalan menuju pasar malam dan meninggalkan Ibu dan anak itu.
"Ibu, apa sih!" tanya Mas Yon.
"Mana ada Ibu Ibu di situ." ucapnya lagi.
"Ada Mas! Masa Ibu segede gitu gak mas lihat, Ibu itu lagi meluk anaknya loh. Tapi Ibu tadi kok gak kesakitan ya? atau sakit, tapi dia tahan." ucapku sambil terus memikirkan keadaan Ibu tadi.
Kami hanya sebentar di pasar malam, kami bahkan gak jadi nonton Atraksinya, seperti rencana kami di awal tadi.
Kami hanya sibuk memperdebatkan soal Ibu tadi. Aku yang merusak suasana, aku yang minta cepat pulang soalnya aku terus kepikiran ibu itu dan perasaan aku juga mendadak gak enak dan tiba-tiba sedih.
Sewaktu balik ke parkiran Ibu itu sudah gak ada.
Sepanjang pulang yang kami bahas ya masih soal yang sama.
Perasaanku benar-benar gak nyaman dan rasanya ingin menangis, ada rasa bersalah tapi ... entahlah!
Suhu badanku mulai naik turun, aku masih terus memikirkan Ibu itu, merasa bersalah.
Kenapa ya tadi aku nggak liat sebelum mereka ke tindihan ban motor Mas Yon.
Aku sempat berdebat kecil dengan Mas Yon.
"Sudah gak usah di pikirin, Ibu itu pasti gak akan kenapa-napa, lagi pula itukan tidak disengaja dan kita sudah minta maaf."
Aku diam dan menangis. Mungkin apa yang di bilang Mas Yon benar. Tapi meski Mas Yon sudah berkata demikian tetap saja aku masih ke pikiran.
Ngapain sih, Ibu itu duduk di tempat gelap seperti itu
Penglihatan ku spontan menelusuri hingga muncul seketika satu kejadian di mana Ibu itu menyebrang jalan menggendong anaknya yang masih balita.
Tiba-tiba ada motor yang melaju sangat kencang tak sempat mengerem dan mengelak, motor itu menabrak tubuh mereka hingga terlempar tepat di posisi dia duduk.
Ibu itu kesakitan gak ya?
Apa iya, mereka kan hantu?
Tapi kenapa?
Banyak pertanyaan yang memenuhi pikiranku.
Karena kejadian malam itu, aku harus menikmati dua hari meriang di tempat tidur. Gak ada yang serius sih, paling sehabis minum obat panas dingin semua akan kembali normal seperti semula dan soal Ibu itu, aku sudah tak memikirkannya lagi setelah keadaanku membaik.
•••
Hubunganku dengan Mas Yon berakhir di pelaminan, Alhamdulillah kami sah sebagai pasangan suami istri.
Hari-hari kami lalui dengan keadaanku yang sudah dipahami oleh Mas Yon, jadi setiap aku mengalami kesurupan atau melihat hal-hal di luar nalar Mas Yon sudah tak kaget lagi.
Bukan hanya memahami dia juga banyak membantuku. Mengarahkan aku untuk tetap mengingat Tuhan, padahal aku tahu Mas Yon tidak se_taat itu tapi dia memang luar biasa. Bersyukur sekali aku bisa menikah dengannya.
Pria gagah dengan postur tubuh yang tinggi dan atletis itu pandai menarik hati dan sangat perhatian.
Mas Yon cerita jika malam di mana sehari kami akan menikah dia bermimpi di datangi buaya besar yang datang dari arah laut yang airnya berwarna biru bercampur kehijauan dengan pantainya yang terlihat sangat indah, kata Mas Yon, dia belum pernah melihat laut pantai yang seindah itu disini.
Bukan hanya ada sosok buaya tapi juga ada kedua orang tuaku saat itu. Kata Mas Yon mereka tak mengatakan apa pun. Kai hanya muncul sebentar keluar dari dalam air setelah di ketahui keberadaannya Kai berjalan mundur kembali masuk ke dalam air.
Artinya Kai sudah mengenal calon suamiku, dengan mimpi itu Kai menyampaikan jika dia merestui kami.
Hingga pernikahan ku dengan Mas Yon berjalan dengan baik dan lancar hingga saat ini.
Semenjak sembuh dari sakit yang panjang aku sudah tidak pernah lagi kesurupan, Kai juga tidak pernah lagi muncul untuk mengajakku traveling ke sungai atau pun ke laut.
Tapi aku masih bisa komunikasi dengannya dan buaya jahat yang pernah aku ceritakan, dia dan pengawalnya masih mengintai ku dari kejauhan, dia menunggu saat aku oleng, saat aku sakit dan saat aku terjebak di alamnya.
Setiap kali membicarakan mereka dan hal gaib lainnya, sebagian tubuhku ada saja yang merinding cukup lama, kadang hingga sampai ke ubun-ubun. Aku sudah bertanya kemana-mana soal ini tapi tak ada satu pun yang membuatku puas dengan jawaban yang mereka berikan. kebanyakan mereka menjawab sama bahwa saat aku koma dan mengalami perjalanan masuk ke alam sebelah saat itulah penyebab aku mengalami ini.