Aku akan ceritakan tentang kejadian di mana sebelum aku dekat dengan mas Yono ada seorang pria yang kebetulan teman dari pacar Mbak Rin yang berprofesi sama dengannya yaitu seorang angkatan.
Namanya Bang Ed.
Dia sering berkunjung ke kost an Mbak Rin, waktu itu aku memang sedang dalam keadaan putus asa, selain karena habis putus cinta ditambah pikiranku yang juga dikacaukan dengan hal-hal gaib. Intinya waktu itu aku kacau dan aku tidak peduli dengan apa yang aku ucapkan juga yang aku pikirkan.
Bang Ed memang tidak pernah menyatakan perasaannya tapi dari gelagatnya kata Mbak Rin dia menyukai aku.
Makanya dia suka datang ke kost an.
Waktu itu Bang Ed pernah nanya apa aku sudah punya pacar atau belum.
Yaa, karena waktu itu aku masih kecewa dengan masalah percintaan, aku jawab saja kalo aku udah gak mau pacaran lagi, malas pacar-pacaran cuma bikin hati sakit, mending langsung nikah saja.
Siapa sangka ternyata hal itu di tanggapi dengan serius oleh Bang Ed.
Pantas saja dia terus bersikap manis, tapi aku biasa aja jika dia datang berkunjung dan ngajak ngobrol.
Hingga satu sore dia datang dan bilang kalo dia mau ke rumah, mau bertemu dengan ke dua orang tua aku.
Tentu saja aku kaget.
"Loh! Abang mau ngapain, ke rumah?" tanyaku dengan nada santai padahal sebenarnya ada rasa was-was juga.
"Yaa mau ketemu keluarga kamulah, kan kamu yang bilang kalo mau langsung nikah saja tanpa pacaran." ucapnya dengan wajahnya yang terlihat serius.
Mendengar ucapannya seperti itu, tentu saja aku kaget dan spontan menolak keinginan dia untuk datang ke rumah ku.
Bagaimana bisa?! Aku bahkan tidak tahu Bang Ed itu orangnya seperti apa, keluarganya bagaimana, gimana aku mau nikah dengannya.
"Jangan! Abang nggak boleh datang ke rumah, waktu itu aku gak serius ngomongnya, Abang kan tahu aku habis putus dengan pacarku, jadi pikiran aku kacau, asal ngomong aja waktu itu." ucapku dengan nada serius.
"Pokoknya Abang jangan ke rumah!"
"Nggak, pokoknya aku mau ke rumah kamu, aku sudah cerita soal kamu, soal kita ke ibuku."
Mendengar ucapan Bang Ed membuat aku bertambah kaget lagi, ternyata dia benar-benar serius menanggapi ucapan aku yang waktu itu.
"Bagaimana bisa Abang cerita ke ibu Abang, sementara aku gak tahu apa-apa, lagian selama ini kitakan hanya berteman. Kalo Abang mau ke rumah, terserah! tapi sampai Abang benaran datang aku gak akan pulang ke rumah." ucapku sedikit mengancam dan menunjukkan padanya bahwa yang aku ucapkan itu memang serius.
Terlihat jelas wajahnya kecewa mendengar ucapan ku barusan, Bang Ed hanya diam dan pergi meninggalkan aku sendirian tanpa berkata apa pun.
Aku memang salah, mestinya aku tidak melontarkan kata-kata itu hingga membuatnya berpikir bahwa aku memberinya harapan, tapi tak ada yang mencolok kami memang hanya berteman.
Beberapa hari setelah pertemuan itu, Bang Ed datang lagi berkunjung, katanya sih dia mau balikin novel yang dia pinjam ke Mbak Rin.
Mbak Rin sedang ngobrol dengannya, di kamar yang berukuran 3x4 itu memang sekaligus jadi ruang tamu, maklum anak kost an, sementara aku, aku sedang membuatkan teh untuk Bang Ed atas perintah Mbak Rin.
Tak terlihat wajah keselnya seperti hari itu, raut wajahnya terlihat biasa saja, seperti tak pernah ada kejadian kemarin. mungkin dia sudah menyadari ucapan ku hari itu.
Tapi terlihat Bang Ed mengacuhkan ku.
"Minum Bang," tawar ku pelan memotong pembicaraan mereka. Tak lama Mbak Rin malah meninggalkan kami berdua.
"Sekali lagi aku minta maaf ya Bang, aku gak bermaksud mempermainkan Abang dengan omongan ngawur ku hari itu." ucap ku merasa sedikit bersalah.
Bang Ed meraih gelas cangkir berisi teh yang aku buat dan menyeruput nya perlahan.
"Kalo kau bukan adiknya Mbak Rin, mungkin teh panas ini, sudah aku siramkan ke wajahmu."
Upss!!
Kalimatnya pelan namun membuat aku kaget dan gak menyangka dengan apa yang Bang Ed katakan barusan.
"Kok! kayak gitu Bang! Akukan sudah minta maaf. Iya aku mengaku salah, tapi bukan berarti abang bisa putusin sesuatu begitu saja. Ayo siram! kalo memang itu bikin Abang puas. Lagian kita gak mungkin tiba-tiba nikah, kita kan baru aja kenal, Abang bahkan gak tahu aku orangnya gimana begitu juga sebaliknya, kalo aku setuju, kita nikah terus kita pisah di tengah jalan, gimana?!! Abang gak mikirin itu kan!"
Nikah itu bukan hal yang bisa dijadikan bahan percobaan." ucapku dengan nada sedikit tinggi.
Bang Ed hanya diam tertunduk.
Akhirnya aku beranjak mendatangi Mbak Rin yang sedang duduk di teras depan dan ninggalin Bang Ed sendirian. Mbak Rin sepertinya memahami situasi ku.
Beberapa saat kemudian Bang Ed muncul di hadapan kami, kemudian dia pamit pulang ke Mbak Rin tanpa bicara apa pun padaku.
•••
Beberapa hari ini aku memang nginap di kost an Mbak Rin, sebenarnya bukan hanya beberapa hari, tapi aku memang kerap tidur di kost an nya. Entah mengapa tidak seperti biasanya, serasa ada sesuatu yang berbeda tapi aku abaikan saja.
Saat jam tidur aku lebih memilih tidur di karpet dari pada di kasur, baik itu di siang atau malam hari.
Mbak Rin selalu bertanya kenapa aku tiba-tiba gak mau tidur se_kasur dengan nya, setiap kali dia meminta.
Aku selalu menolak dan bilang kalo tidur di kasur itu panas dan masih banyak lagi alasan yang ku berikan padanya agar dia berhenti memintaku tidur di kasurnya.
Biasanya kami memang selalu tidur bersama diatas satu kasur. Tapi entah mengapa ini jadi masalah yang serius yang kami besar-besarkan.
Aku juga gak tahu kenapa, tapi memang selalu ada bisikkan yang meminta aku untuk tidak tidur di kasur itu.
Hingga berapa hari kemudian kejadian aneh menimpa Mbak Rin yang tiba-tiba mengalami gatal-gatal, tadinya hanya di bagian kaki, betis lama-lama sampai ke wajah
Aku jadi kasihan melihat diri nya.
Beberapa hari Mbak Rin mengalami itu. Bahkan karena penyakit yang mendadak itu membuatnya tidak masuk bekerja.
Seluruh tubuhnya sudah di penuhi gatal-gatal merah yang jika semakin digaruk menjadi koreng, awalnya kami menanggapi itu mungkin karena Mbak Rin alergi sesuatu karena salah makan atau air sumur yang biasa dia pake untuk mandi.
Tapi sempat juga ada kepikiran soal aku dan Mbak Rin menghubungkan masalah ini dengan kedatangan Bang Ed waktu itu. Tapi kami berusaha menepisnya, tapi karena semakin parah Mbak Rin mulai memikirkannya dan sempat marah kepadaku. Tapi setelah aku jelaskan dan aku mengaku salah dan syukurnya dia bisa memahami ku.
•••
Hari ini hari Jum'at, bertepatan usai azan Shalat zuhur.
Kata Mbak Rin hari ini pacarnya dan beberapa temannya termaksud Bang Ed akan berangkat dan akan di kirim keluar pulau untuk melaksanakan tugasnya.
Kami sengaja duduk di teras hanya untuk menunggu dan menyaksikan kepergian mereka.
Beberapa saat kemudian yang kami tunggu akhirnya lewat Truk Kompi yang membawa banyak prajurit akhirnya melewati teras kost an Mbak Rin.
Mbak Rin terlihat sedih sambil melambaikan tangannya ke arah Truk yang membawa kekasihnya pergi. Setelah truk lewat dia tak henti melambaikan tangannya dan menangis!
Melihat dia bersedih aku juga sedih tapi aku berusaha menghiburnya dengan petikan gitarku dan berhasil.
Beberapa saat setelah itu kami kembali ke kamar mbak Rin. Aku iseng membuka bedak padat yang biasa ku taruh dalam tas. betapa kagetnya saat aku berkaca perlahan bedak padat itu retak lalu melebur jadi bedak tabur, aku sempat memakainya sambil melihat wajahku di cermin, terasa ada yang aneh.
Masih berpikir positif, aku berusaha mencoba mengingat-ingat apa tas ku ada terjatuh sehingga membuat bedak padat ini jadi hancur seperti itu, tapi rasanya tak ada.
Kemudian entah bagaimana bisa tiba-tiba wajah ku terasa gatal, gatalnya sangat luar biasa, tidak berhenti ku garuk hingga memerah. Aku lihat lagi pakai cermin yang bedaknya lebur tadi.
Aku masih gak habis pikir, bagaimana bisa padahal seingat ku, bedak ku gak ada jatuh, aku berlari kearah Mbak Rin yang lagi asik ngobrol dengan Mbak Ris, aku ceritakan kronologisnya dari awal tapi mendadak Mbak Rin malah ikut-ikutan merasakan gatal yang sama.
Aku mulai panik, karena gatalnya kurasa semakin parah, bukan cuma aku yang panik, tapi kami semua panik, Mbak Ris yang memiliki ilmu tenaga dalam mencoba membantu kami, tapi rasa gatal itu semakin menjadi-jadi. Aku Mulai menggaruknya, Mbak Rin juga, rasanya malah semakin gatal, wajahku juga sudah mulai, semakin memerah karena ku garuk.
"Udah Linn jangan digaruk lagi, nanti luka!" sahut Mbak Ris sambil menahan lenganku.
Hingga bersamaan aku merasa bahwa Kai akan datang, diantara kepanikan ku, aku merasa tubuhku ringan bak mengambang dan itu benaran terjadi seketika aku pingsan dan kesurupan lagi, tapi kali ini kesurupannya berbeda, tak ada sosok lain yang merasuki ku, aku kerasukan Kai dan Kai memberitahu ke mereka bahwa teman Mbak Rin yang aku tolak yaitu Bang Ed sudah mengguna gunai aku.
Bang Ed menaruh sesuatu pada buku yang dia pinjam hari itu, dan buku itu sering dibaca Mbak Rin saat asyik membacanya di tempat tidur.
Itulah kenapa aku yang tiba-tiba selalu menolak untuk tidur bersamanya. Hingga mantra itu mengenai dirinya.
Kai juga memberitahukan apa yang harus dibaca dan dilakukan untuk mengakhiri guna-guna itu.
Setelah Mbak Rin dan Mbak Ris mengikuti apa yang Kai bilang akhirnya aku dan Mbak Rin gak ngerasain gatal-gatal itu lagi.
Bedak itu di bakar lalu dibuang oleh Mbak Ris sesuai arahan Kai termaksud buku yang dipinjam oleh Bang Ed.
Dan soal Bang Ed setelah kejadian itu kami sempat bicara di telepon.
Dia kaget bagaimana aku bisa tahu soal itu dan dia menyesalinya dan meminta aku untuk memaafkannya.
Meski agak lama, akhir nya aku bisa memaafkan dia, karena aku sadar aku juga bersalah dalam kasus ini, dan kejadian ini menjadi satu pelajaran untukku, agar jika sedang bermasalah jangan pernah memutuskan sesuatu. mungkin saja ucapan yang aku anggap satu candaan tapi bisa jadi hal yang serius untuk orang lain, dan kejadian ini membuat aku lebih berhati-hati lagi dalam menyampaikan sesuatu, karena kesalahanku aku nyaris mengorbankan orang lain. Luka di raga bisa diobati tapi luka di hati itu adalah hal yang tersulit untuk di sembuhkan dan butuh waktu lama untuk mengobatinya.
Sejak kasus itu hubunganku dengan Bang Ed baik-baik saja. Aku pernah bertemu sekali dengannya saat dia sudah kembali pulang dari daerah yang menjadi tempat mereka di kirim. Waktu itu acara nonton bola di lapangan tempat dimana dia bertugas. Semua berjalan seperti semula seperti kejadian itu tidak pernah ada.
Aku dan Mbak Rin baik-baik saja, tapi setelah kasus itu Bang Ed tidak pernah lagi menampakkan wajahnya di Kost an Mbak Rin.